JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Gemercik air hangat dari shower yang membasahi lantai kamar mandi marmer itu perlahan mulai mereda. Haura melangkah keluar dengan lilitan handuk putih tebal di tubuhnya dan handuk yang lebih kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Langkahnya membawa tubuh ramping itu berdiri tepat di depan cermin besar riasannya.
Di bawah siraman lampu LED yang terang, Haura menatap pantulan dirinya sendiri. Pandangannya otomatis jatuh pada belah bibirnya yang kini sudah bersih total dari sisa lipstik marun, namun warnanya masih tampak jauh lebih merah dari biasanya—dan sedikit membengkak.
Haura perlahan menaikkan jari telunjuknya, menyentuh permukaan bibirnya yang terasa agak berdenyut. Kilasan adegan di teras beberapa jam lalu kembali berputar di otaknya seperti proyektor film otomatis: bagaimana tangan kekar Marco merangsek ke pinggangnya, bagaimana aroma parfum maskulin cowok itu mengunci indranya, dan bagaimana pagutan brutal yang penuh tuntutan itu meruntuhkan seluruh akal sehatnya.
"Anak itu... bener-bener ya..." bisik Haura, suaranya bergetar halus.
Detik berikutnya, ia langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, memukul kedua pipinya sendiri dengan pelan. "Haura, sadar! Kamu kenapa sih?! Dia itu cuma mahasiswa baru yang tengil! Dia asisten magang keponakan kamu! Please, come on, jangan gila!" Haura meraup wajahnya dengan frustrasi. Perbedaan usia delapan belas tahun di antara mereka seharusnya menjadi dinding pembatas yang tebal, namun entah mengapa malam ini, dinding itu terasa seperti kertas yang siap robek kapan saja jika Marco kembali menariknya.
Sementara itu, di tempat lain, ketenangan rumah keluarga Permana pecah seketika begitu pintu utama diketuk dan dibuka. Marco baru saja melangkah masuk ke dalam ruang tengah, masih melonggarkan kerah kemeja putihnya yang terasa mencekik. Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh anak tangga pertama, langkahnya dihentikan oleh suara pekikan melengking yang penuh amarah.
"Ngomong apa kamu sama Haura?! Kenapa dia bisa tahu tentang urusan dalam rumah ini?! Jawab, Marco!"
Anggun menghadang jalur jalan Marco dengan wajah yang memerah padam menahan sisa rasa malu dari kejadian di Mansion Widjaja tadi. Di belakangnya, Andi Permana berdiri dengan wajah yang tidak kalah keras, menatap putranya seolah-olah Marco baru saja melakukan tindak kriminal besar.
Marco menghentikan langkahnya, menatap ibu tirinya dengan pandangan malas yang sangat kentara. Ia menghela napas panjang, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. "Apa lagi sih, Tante? Berisik banget malam-malam. Aku cuma cerita sama cewek aku, kenapa emang? Masalah?"
"Cewek kamu?!" Pekikan Anggun naik satu oktav, matanya melotot tidak percaya mendengarnya. "Kamu bilang Haura Widjaja itu cewek kamu?!"
Andi Permana langsung melangkah maju, memotong jarak di antara mereka, suaranya menggelegar dipenuhi nada otoriter yang berat. "Gila ya kamu, Marco! Sadar tidak kamu dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?! Haura itu umurnya tiga puluh delapan tahun! Dia adik kandung dari kolega bisnis terbesar Papa, Elang Widjaja! Umur dia itu hampir sama dengan Tante Anggun! Bisa-bisanya kamu membuat lelucon sampah seperti ini?!"
"Aku nggak lagi bercanda, Pa," sahut Marco, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin, berat, dan stabil. Ia tidak memundurkan langkahnya satu senti pun saat berhadapan langsung dengan sang papa. "Aku nggak peduli mau umur dia tiga puluh delapan tahun, empat puluh tahun, atau berapa pun. Aku sayang sama Haura, Pa. Dan dia... malam ini udah jadi urusan aku."
"Marco!! Jaga mulut kamu!!" bentak Andi Permana, tangannya mengepal kuat menahan diri agar tidak melayangkan tamparan ke wajah putranya yang dianggap sudah kehilangan kewarasan. "Dia itu wanita matang yang status sosialnya jauh di atas kamu! Kamu itu cuma mahasiswa DKV yang belum menghasilkan apa-apa! Mau ditaruh di mana muka Papa kalau Pak Elang dan Pak Anggara tahu anak laki-laki saya mengincar putri bungsu mereka dengan cara murahan begini?!"
"Murahan?" Marco mendengus sinis, seulas senyum pahit namun menantang terukir di bibirnya. "Yang murahan itu cara Papa nuntut aku buat jadi boneka bisnis Papa, tapi giliran aku nemu satu-satunya orang yang bisa dengerin aku, Papa sebut itu murahan? Terserah Papa mau mikir apa. Hubungan aku sama Haura nggak ada urusannya sama kontrak investasi Papa dengan keluarga Widjaja."
Tanpa menunggu makian lanjutan dari ayahnya atau jeritan histeris dari Anggun, Marco berbalik dengan sentakan cepat. Ia melangkah lebar-lebar menaiki anak tangga, mengabaikan teriakan Andi yang terus memanggil namanya dengan penuh amarah.
BRAK!
Marco menutup pintu kamarnya dengan keras dan langsung menguncinya dari dalam. Ia melemparkan jas hitamnya ke atas kursi belajar, lalu menjatuhkan tubuh jangkungnya ke atas kasur. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak oleh sisa emosi perdebatan tadi. Namun, begitu ia merogoh ponsel dari saku celananya, bayangan wajah judes Haura yang memerah saat memiting Arlo langsung menggantikan seluruh rasa penat di kepalanya.
Marco membuka aplikasi WhatsApp, mencari kontak bernama "Tante Sayang 🦖". Dengan senyum miring yang perlahan kembali ke wajah tampannya, jarinya mulai mengetik pesan teks.
Tukang Minta Sumbangan:
Gimana bibirnya, Tan? Udah aman dari sisa-sisa kelakuan brutal 'bocah tengil' lo ini?
Di kamarnya, Haura yang baru saja selesai memakai gaun tidurnya dikejutkan oleh getaran ponsel di atas kasur. Ia meraihnya, dan begitu membaca nama pengirimnya, jantungnya kembali melakukan lompatan kecil yang menyebalkan.
Haura:
Marco! Kamu bener-bener gak kapok ya! Bisa gak stop bahas kejadian di teras tadi? Saya hampir jantungan gara-gara temen kamu yang kurang ajar itu ngintip!
Tukang Minta Sumbangan:
Hahaha si Arlo emang minta digetok, besok di ruko biar gue yang urus anak itu. Tapi jujur, Tan... tadi lo keren banget pas nge-skakmat mak tiri gue di ruang tengah. Gue gak nyangka lo bakal bawa-bawa omongan gue tentang 'produk gagal' buat ngehajar harga diri dia.
Haura:
Saya cuma gak suka liat orang tua yang gak bisa menghargai anaknya sendiri, Marco. Dan itu bukan berarti saya ngebela kamu ya! Jangan kepedean kamu. Saya cuma meluruskan hak saya yang diusik sama Ibu tiri kamu.
Tukang Minta Sumbangan:
Iya deh, terserah Ratu Jastip mau ngeles kayak gimana. Tapi di mata gue, tindakan lo tadi itu fix bentuk pertahanan seorang cewek buat cowoknya. Makasih ya, Haura.
Haura terpaku menatap layar ponselnya. Panggilan nama Haura tanpa embel-embel dari Marco selalu berhasil membuat pertahanan dirinya yang berumur 38 tahun ini terasa goyah. Ia menggigit bibir bawahnya, mengetik balasan dengan perasaan campur aduk.
Haura:
Terserah kamu mau mikir apa. Oh ya, satu hal lagi. Kamu tadi pulang jam berapa? Di rumah gak ada masalah kan gara-gara kejadian di meja makan tadi?
Tukang Minta Sumbangan:
Ciye... perhatian banget. Baru juga beberapa jam pisah udah nanyain kabar rumah gue.
Haura:
Marco, saya serius! Papa kamu keliatannya marah banget tadi pas di ruang tengah.
Tukang Minta Sumbangan:
Aman, Tan. Cuma ada perang dunia ketiga dikit tadi di bawah. Mak tiri gue jerit-jerit, bokap gue ngamuk pas gue bilang ke mereka kalau lo itu cewek gue dan gue sayang sama lo.
DEG. Ponsel di tangan Haura nyaris saja terlepas ke atas karpet. Matanya membelalak membaca baris kalimat terakhir dari Marco. Cowok ini... bener-bener nekat?! Dia ngaku ke orang tuanya kalau aku...
Haura:
KAMU GILA YA MARCO?! Kamu ngomong begitu ke Papa kamu?! Kamu tahu kan konsekuensinya kalau Kak Elang atau Papa aku denger hal ini?! Hubungan kita itu gak ada apa-apanya, kita cuma... kita cuma ketidaksengajaan di teras tadi!
Tukang Minta Sumbangan:
Ketidaksengajaan yang bikin lo merem-melek pas gue lumat, Tan? 😉 Gak usah panik. Gue udah bilang, lo tinggal duduk manis jadi Ratu Jastip lo yang anggun. Biar gue yang hancurin semua aturan dan batasan sampah yang ada di antara kita. Selamat istirahat, Tante Sayang. Jangan lupa mimpiin masa depan kita.
Haura menelungkupkan ponselnya di atas kasur dengan wajah yang sudah sepenuhnya memanas hingga ke daun telinga. Ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, mencoba meredakan debaran dada yang kian menggila. Di dalam kegelapan kamarnya, Haura menyadari satu hal yang menakutkan: langkah nekat Marco malam ini telah resmi menariknya masuk ke dalam lingkaran badai yang tidak akan pernah bisa ia hindari lagi.
***
Menurut kalian sejauh ini cerita ini gimana? Ngebosenin nggak? 🙃🫠
semangattt