"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus
Keesokan harinya, sore mulai turun perlahan di sekitar taman yang cukup jauh dari area kampus. Langit jingga tampak redup tertutup awan tipis, sementara angin berembus pelan menerbangkan dedaunan kering di sekitar taman.
Di sebuah bangku yang letaknya agak menepi ke dalam taman—cukup jauh dari jalan utama—dua insan duduk berdampingan dalam diam.
Mereka sengaja memilih tempat sepi.
Bukan karena ingin berduaan seperti pasangan lain, melainkan karena tidak ingin hubungan mereka diketahui keluarga ataupun orang-orang yang mengenal mereka.
Kafa duduk dengan kedua tangan saling bertaut. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kacau.
Ia gugup. Sangat gugup.
Ada sesuatu yang terasa berat untuk diucapkan, meski ia tahu keputusan ini memang harus diambil.
“Dek...” panggilnya pelan.
“Iya, Kak?” Zaskia menoleh perlahan.
Sama seperti Kafa, gadis itu sebenarnya juga sedang menyimpan banyak hal di dalam hati. Beberapa minggu terakhir sejak menjalin hubungan diam-diam, rasa bersalah terus menghantuinya.
Ia teringat kedua orang tuanya yang selalu percaya padanya.
Teringat nasihat Kakeknya. Dan teringat ceramah Gus Abidzar semalam yang membuat dadanya sesak sampai sekarang.
Nyatanya, hubungan yang awalnya terasa membahagiakan itu justru membuat hati Zaskia tidak tenang.
"Menurut kamu, gimana seandainya kalau kita putus?"
Apa yang Zaskia tunggu akhirnya tiba. Gadis itu menghela napas sembari menatap Kafa yang menatapnya sendu. Meski berat, Zaskia tetap harus melakukan dan mengikuti kata hatinya.
"Mungkin memang lebih baik kalau kita putus. Jujur, selama kita pacaran, Kia terus merasa bersalah sama Ayah, Bunda, dan juga Kakek. Kia gak tenang walaupun Kia suka sama kakak."
Kafa mengangguk, ia paham akan keresahan gadis itu lantaran ia juga memiliki keresahan yang sama.
"Yaudah kalau gitu kita putus aja ya?" Kafa berucap lembut. Mata laki-laki itu memerah.
Zaskia turut merasa sedih. Ia menundukkan wajah lalu mengangguk. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba jadi tidak ikhlas. Bukankah momen ini yang ia tunggu?
"Kakak gapapa?"
"Kalau kamu?"
"Berat, tapi harus tetap dilakuin."
"Iya. Kakak ikut sama keputusan kamu."
Zaskia bergeming. Ia sama sekali tak mengangkat wajahnya ketika berbicara dengan Kafa yang kini telah resmi menjadi mantan kekasihnya.
"Terus habis ini gimana? Apa kakak masih mau memperjuangkan Kia?"
"Masih. Kalau waktunya udah tepat dan siap dalam segala hal. Kakak akan melamar kamu."
Ucapan itu akhirnya membuat Zaskia mengangkat wajah menatap Kafa yang tersenyum lembut padanya.
"Kakak gak bohong kan? Kia tunggu ya."
"Memangnya kalau di lamar sekarang udah siap? Bukannya kamu gak mau menikah muda dan mau lulus kuliah dulu terus jadi presenter?"
Zaskia tertawa. Ucapan Kafa terdengar menggodanya.
"Iya sih. Masih lama banget kalau nunggu Kia lulus. Kakak yakin sanggup?"
"Ya kenapa enggak?"
"Halah, palingan nanti kalau nemu yang lebih cantik, Kia dilupain."
"Insya Allah enggak." Kafa mengusap ujung kepala Zaskia yang terbalut kerudung. Hal yang membuat rona merah singgah di antara tulang pipi gadis itu.
"Yakin banget?" Zaskia membuang muka. Tatapan Kafa yang kerap kali lembut menyorotnya membuat ia seakan melayang.
"Beneran, dek."
Zaskia membalikkan senyumnya ke bawah guna mengalihkan rasa tersipu yang masih tersemat di balik dadanya.
"Ya udah pulang yuk, kak."
"Kia."
"Hem?" Zaskia yang tadi sibuk melihat segala arah tanpa sedikit pun menoleh pada Kafa, sekarang jadi terpaksa menoleh pada laki-laki itu.
"Boleh gak kalau kakak cium kamu sebagai tanda perpisahan kita?"
Pandangan Zaskia membulat. Apa ia tidak salah dengar?
"Ci-cium?"
Kafa mengangguk. "Tapi, kalau kamu merasa keberatan. Gapapa, gak usah, dek."
Zaskia dilema. Selama mereka berpacaran, Kafa tidak pernah meminta apapun. Ia sangat menjaga Zaskia dan tidak pernah meminta gadis itu untuk melakukan kemauan nafsunya. Sehingga ketika Kafa tiba-tiba meminta seperti ini, ia jadi bingung harus bagaimana.
Jika tidak memikirkan dosa, tentu Zaskia akan langsung memberikannya.
"Jangan dipikirin. Yuk pulang." Ajak Kafa bersiap hendak berdiri.
"Kak, tunggu!"
"Ya?"
"Kia mau."
Pada akhirnya ia tidak tega. Selama ini Kafa sudah sangat baik padanya. Mungkin, tidak masalah jika mengizinkan laki-laki itu untuk menciumnya sekali sebagai tanda perpisahan, sebelum nantinya mereka akan benar-benar menjaga jarak.
Kafa yang akan bangkit, jadi duduk kembali. Menatap kaget pada Zaskia yang kini sudah memejamkan mata.
"Dek."
"Lakuin sekarang, kak."
"Kamu yakin? Kalau kamu gak mau, kakak gak-"
"Kak, please. Ayo, buruan."
Kafa menghela nafas resah. Ia mendadak salah tingkah. Kemudian, ia menggeser bokongnya agar lebih dekat dengan keberadaan Zaskia. Pelan tapi pasti, ia mulai mencondongkan wajahnya. Bibirnya hampir mendekati bagian pipi gadis itu.
Zaskia menunggu dengan cemas. Ia gugup setengah mati sekaligus takut. Menyadari ketidaknyamanan gadis tersebut, bibir Kafa yang nyaris sedikit lagi menyentuh permukaan pipi Zaskia pun tiba-tiba mundur. Tidak jadi menicumnya.
"Pulang yuk, Dek."
Zaskia kaget. Kenapa ia tidak merasakan sesuatu menyentuh wajahnha padahal ia merasakan Kafa mendekatinya?
Membuka mata, Zaskia mendapati Kafa sudah berdiri di depannya sambil tersenyum hangat.
"Kak, kok..."
"Nanti aja kalau udah halal. Yuk!"
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Zaskia terasa lega.
Ia segera bangkit berdiri sambil menahan senyum kecilnya sendiri.
“Ayo Kakak antar.”
“Nanti Bunda dan Ayah curiga, Kak.”
“Gapapa.” Kafa terkekeh kecil. “Bilang aja kita gak sengaja ketemu.”
Zaskia akhirnya mengangguk pelan.
Dan sore itu, mereka berjalan berdampingan meninggalkan taman.
Bukan lagi sebagai sepasang kekasih.
Melainkan dua orang yang sedang belajar mencintai dengan cara yang benar.
Keduanya mulai berjalan pelan menyusuri trotoar taman. Tidak ada lagi obrolan panjang seperti biasanya. Sesekali hanya terdengar tawa kecil yang dipaksakan untuk mencairkan suasana yang terasa canggung setelah keputusan besar yang mereka ambil sore itu.
Meski telah sepakat mengakhiri hubungan mereka, nyatanya hati keduanya masih belum benar-benar siap.
Tak lama kemudian mereka tiba di area parkir tempat motor milik Kafa berada.
“Udah?” tanya Kafa sambil menyerahkan helm.
“Udah.”
Zaskia menerimanya pelan lalu mengenakan helm itu.
Beberapa detik kemudian, motor matic milik Kafa mulai melaju membelah jalanan sore yang perlahan ramai menjelang magrib. Angin menerpa lembut wajah mereka sepanjang perjalanan.
Namun berbeda dari biasanya, kali ini Zaskia sengaja memberi jarak saat duduk di belakang Kafa. Gadis itu bahkan meletakkan tas selempangnya di antara mereka sebagai pembatas.
Kafa menyadarinya.
Dan entah kenapa, hal kecil itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kata putus yang tadi mereka ucapkan.
Tak ada lagi candaan sepanjang perjalanan.
Hanya keheningan dan perasaan yang sama-sama mereka tahan.
Motor itu akhirnya memasuki area kompleks rumah Zaskia.
Namun sialnya, tepat saat Kafa menghentikan motor di depan pagar rumah, sebuah mobil hitam baru saja terparkir di halaman.
Zhafran turun dari mobilnya.
Laki-laki paruh baya itu sempat mengernyit kecil ketika melihat putrinya turun dari motor bersama seorang laki-laki yang tentu sangat ia kenal.
Kafa.
Anak angkat sahabatnya sendiri, Azzam.
Jantung Zaskia langsung berdegup cepat. Sementara Kafa berusaha tetap tenang meski dalam hati ikut panik.
“Assalamu’alaikum, Om,” sapa Kafa sopan setelah memarkirkan motornya.
“Wa’alaikumussalam.” Zhafran menatap keduanya bergantian sekilas. “Kenapa bisa pulang bareng?”
Zaskia refleks menunduk gugup.
Sementara Kafa buru-buru menjawab, “Maaf Om, tadi gak sengaja ketemu Kia di perpustakaan umum. Jadi yaa sekalian bareng aja... takut keburu magrib.”
Zhafran mengangguk pelan. “Oh, oke...” Tatapannya masih terlihat tenang seperti biasa. “Kafa mau masuk dulu gak?”
“Gak usah, Om.” Kafa tersenyum kecil sopan. “Kafa langsung pulang aja.”
“Yaudah.” Zhafran menepuk pelan pundak pemuda itu. “Terima kasih ya udah nganter Kia.”
“Sama-sama, Om.”
Kafa sempat melirik Zaskia sekilas sebelum kembali menaiki motornya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Motor itu perlahan menjauh meninggalkan rumah Zaskia.
Sementara gadis itu masih berdiri kaku di tempat dengan jantung yang belum tenang.
Zhafran yang sedari tadi diam akhirnya menatap putrinya lembut. “Kamu habis dari perpustakaan?”
“I-iya, Yah...” jawab Zaskia pelan.
“Sendiri?”
Pertanyaan itu membuat Zaskia menegang sesaat.
Namun sebelum ia sempat menjawab, Zhafran justru tersenyum kecil lalu mengusap kepalanya pelan.
“Hati-hati dijaga ya, Nak.”
Deg!
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Zaskia terasa sesak.
Karena tanpa perlu dimarahi, ia tau ayahnya sedang mempercayainya sepenuhnya.
Zaskia baru saja hendak melangkah masuk ke dalam rumah ketika tiba-tiba seseorang menghadang jalannya.
“Eh.”
Zaskia langsung mendecak kesal. “Apa sih, Zaid? Minggir gak!”
Adik laki-lakinya yang terpaut empat tahun darinya itu malah menyandarkan tubuh santai di dinding sambil melipat tangan di dada.
Wajahnya terlihat penuh kemenangan.
“Kakak bohong sama Ayah kan?” tuduhnya santai. “Bilangnya dari perpustakaan... taunya dari taman.”
Deg!
Mata Zaskia langsung membulat panik. Refleks ia buru-buru menutup mulut adiknya.
“DIEM gak!” bisiknya setengah mengancam.
Zaid malah tertawa di balik tangan kakaknya.
“Kakak pacaran kan sama Bang Kafa?” tanyanya begitu tangan Zaskia lepas.
“Udah putus!” balas Zaskia cepat. “Jadi stop ember mulut kamu.”
“Walaupun udah putus tetep aja pernah pacaran.”
“Ih!” Zaskia melotot gemas. “Nyebelin banget sih! Sebutin mau apa kamu!"
Zaid terkekeh puas melihat kakaknya panik sendiri. “Bilang aja...” katanya santai. “Kakak mau nyogok aku kan?”
Zaskia langsung melirik tajam. “Gak usah jual mahal.”
“Hehehe...” Zaid menyeringai lebar. “Tiga ratus ribu aja.”
“MAHAL BANGET!”
“Yaudah aku bilang aja sama Ayah.”
Zaskia langsung mendesis kesal sambil buru-buru membuka dompet. “Nih!”
Tiga lembar uang seratus ribu langsung berpindah ke tangan Zaid dengan cepat.
Wajah bocah remaja itu langsung bersinar bahagia. “Mantap.” Ia mencium uang itu dramatis. “Kakak terbaik sedunia.”
“Najis banget,” gerutu Zaskia sambil memutar bola mata malas.
Namun beberapa detik kemudian, senyum jahil tiba-tiba muncul di wajahnya.
“Za...” panggilnya santai.
“Hm?”
“Jadi kamu sukanya Azel atau Andara?”
Zaid langsung salah tingkah sepersekian detik sebelum kembali memasang wajah santai.
“Kenapa harus milih kalau bisa dua-duanya?”
Zaskia langsung melotot tidak percaya. “SONGONG banget ya bocil!” Ia menjitak kepala adiknya gemas. “Belum juga punya KTP!”
“Cowok ganteng bebas.”
“Muntah gue.”
Zaid ngakak puas sambil memasukkan uang hasil ‘pemerasannya’ ke saku celana.
“Azel cantik,” katanya santai sambil mulai berjalan mundur. “Tapi Andara imut.”
“Dasar buaya kecil.”
“Ngikutin siapa coba?”
“Bukan Kakak!"
Zaid tertawa makin keras lalu buru-buru kabur menaiki tangga sebelum Zaskia sempat menjitaknya lagi.
Sementara Zaskia hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum.
Adiknya memang kadang menyebalkan.
Tapi tetap saja... Rumah terasa lebih hidup kalau ada Zaid.
***
Kafa akhirnya tiba di apartemen tepat setelah adzan magrib hampir berkumandang. Begitu membuka pintu unit, suasana tampak cukup sepi. Lampu ruang tamu sudah menyala, menandakan Aryan sudah pulang, tetapi motor Arshaf belum terlihat di parkiran bawah.
Berarti laki-laki itu masih mengajar di TPQ.
Kafa mengembuskan napas pelan sebelum berjalan masuk menuju kamar. Entah kenapa ia masih merasa canggung setelah kejadian kemarin dengan Aryan.
Saat pintu kamar terbuka, Aryan terlihat baru selesai mandi. Laki-laki itu sedang berdiri di depan cermin sambil mengenakan baju koko hitam dan merapikan rambutnya. Sepertinya ia hendak pergi ke masjid seperti biasanya.
Kafa menutup pintu perlahan lalu berdiri kikuk di sana.
“Yan...”
"Hm." Aryan hanya berdeham kecil tanpa menoleh.
“Gue udah putus sama Zaskia.”
Kalimat itu membuat gerakan tangan Aryan terhenti sesaat. Tatapannya beralih dari cermin menuju Kafa yang kini tersenyum canggung.
“Kapan?”
“Beberapa menit yang lalu,” jawab Kafa pelan. “Di taman dekat kampus.”
Aryan diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis lalu kembali menghadap cermin.
“Baguslah.” Ia menyisir rambutnya santai. “Semoga gak ada drama balikan ya.”
“Enggak.” Kafa menggeleng cepat. “Gue emang sayang sama dia... tapi gue lebih gak mau kehilangan sahabat sekandung gue ini.”
Kafa berjalan mendekat lalu merangkul pundak Aryan seperti biasa. Karena sedari kecil hubungan mereka memang sudah sedekat sepertj saudara sendiri. Kafa adalah anak angkat Om Azzam—paman Aryan dan Arshaf—jadi mereka tumbuh bersama cukup lama meski tidak satu sekolah bareng.
Aryan meliriknya lewat pantulan cermin lalu tersenyum kecil.
“Maafin gue ya, Yan.” Kafa menunduk sebentar sebelum melanjutkan, “Awalnya gue cuma iseng nyoba nembak dia... eh gak taunya diterima. Karena gue emang udah ada rasa, jadi ya gue gas aja. Apalagi pas tau ternyata dia juga punya rasa yang sama ke gue.”
Aryan kembali diam.
Ada bagian kecil di hatinya yang terasa perih mendengar kalimat terakhir itu.
Bahwa Zaskia memang benar menyukai Kafa.
Namun laki-laki itu segera mengembuskan napas pelan, mencoba melapangkan dadanya sendiri.
“Minta ampun sama Allah, Kaf,” ucapnya tenang.
“Iya, itu pasti.” Kafa mengangguk cepat. “Tapi gue mau minta maaf dulu sama lo karena udah ngelanggar komitmen kita.”
Aryan tersenyum pahit. “Gak apa-apa.” Ia menepuk pelan tangan Kafa di pundaknya. “Semua orang pernah khilaf. Yang penting lo mau memperbaiki diri dan gak ngulang kesalahan yang sama.”
Tatapan Aryan mulai melunak. “Gue gak punya alasan buat gak maafin lo, Kaf.” Sudut bibirnya terangkat kecil. “Apalagi lo sahabat gue. Orang yang hubungannya paling dekat sama gue selain Arshaf.”
Wajah Kafa langsung berbinar. “Thanks banget, bro!” serunya heboh. “Lo emang terbaik. I love you so much! Muacchh!”
Cup!
Tiba-tiba saja Kafa mencium pipi Aryan dengan keras dan penuh drama.
Aryan langsung melotot kaget.
“WOI—!”
Sebelum singa ngamuk, Kafa sudah kabur sambil ngakak menuju kamar mandi.
Brak!
Pintu kamar mandi langsung terkunci rapat.
“Kafa! Najis banget tau gak!” teriak Aryan murka sambil mengusap pipinya kasar.
Tawa Kafa terdengar dari balik pintu.
“Refleks gue, Yan! Ke masjid bareng ya! Tungguin gue! Atau kalau enggak lo gue kokop lagi!”
“Gila lo!” Aryan masih sibuk menggosok pipinya dengan wajah jijik setengah mati seolah bekas bibir Kafa masih menempel di sana.
Walaupun mereka sudah seperti saudara sendiri, tetap saja Aryan merasa risih. Apalagi sekarang mereka sudah sama-sama dewasa. Menurutnya, cium-ciuman antar laki-laki itu aneh.
Untung saja tadi terjadi di dalam kamar.
Kalau sampai ada orang lain melihat, bisa-bisa mereka dikira pasangan absurd yang kabur dari rumah sakit jiwa.
Sementara dari balik pintu kamar mandi, suara tawa Kafa masih terdengar puas karena berhasil membuat Aryan kehilangan ketenangannya untuk pertama kali hari itu.