NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

‎Aruna tersentak sedikit, namun dia tidak berusaha melepaskan diri. Justru tatapannya semakin menatap tajam ke dalam manik mata cokelat yang kini berkilat marah itu. Dia bisa merasakan genggaman di pinggangnya semakin kuat, menegaskan betapa besarnya rasa cemburu dan amarah yang meledak di dada pria di hadapannya ini.

‎‎Dia mengangkat kedua tangannya perlahan, meletakkannya di dada bidang Zeffrano.

‎‎"Memohon?" ulang Aruna pelan, suaranya rendah namun tegas, tanpa sedikit pun rasa takut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh arti. "Apakah aku terlihat seperti sedang memohon, Zeff?"

‎‎Dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, wajahnya kini hanya berjarak satu inci dari wajah pria itu, napas mereka saling bersentuhan.

‎‎"Kamu pikir aku datang kesini demi dia? Kamu pikir aku rela berdiri di hadapanmu, menyebut nama yang bahkan membuatku mual hanya untuk membantunya mendapatkan apa yang dia inginkan?" tanya Aruna lagi, matanya menatap lekat, menembus lurus ke dalam sanubari Zeffrano. "Kalau aku benar-benar ingin membantunya, aku tidak akan berdiri sedekat ini denganmu."

‎‎Aruna menghela napas panjang, lalu tangannya naik perlahan menyentuh pipi Zeffrano, ibu jarinya mengusap rahang keras yang masih mengeras karena emosi.

‎‎"Zeff, dengarkan aku baik-baik..." bisiknya lembut namun tegas, berusaha menenangkan badai yang bergolak di mata pria itu. "Aku datang bukan karena aku masih peduli padanya. Tapi justru karena aku ingin menghancurkannya. Dan dalam hal ini aku membutuhkan bantuanmu,"

‎‎Dia menjeda ucapannya, menatap bibir Zeffrano sesaat sebelum kembali menatap matanya yang perlahan mulai melembut, meski masih menyimpan sisa-sisa kemarahan.

‎‎"Dan soal konsekuensi itu..." Aruna tersenyum lebih lebar, senyum yang menantang sekaligus menggoda, "Katakan saja... apa konsekuensinya, Tuan Zeffrano? Apakah kamu akan menghukumku? Kalau begitu lakukanlah. Asalkan hukuman itu artinya kamu tidak akan pernah melepaskanku lagi, aku akan menerimanya dengan senang hati,"

‎‎Keheningan tebal menyelimuti ruangan itu sejenak. Rasa marah, cemburu, dan ketegangan yang tadinya melingkupi Zeffrano perlahan meleleh, tergantikan oleh rasa kagum yang makin besar dan keinginan yang membara mendengar ucapan berani wanita itu.

‎‎Zeffrano menggeram pelan, genggamannya di pinggang Aruna semakin erat seolah ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu. Dia menundukkan wajahnya dengan cepat, menempelkan keningnya ke kening Aruna, matanya menatap tajam namun penuh kelembutan yang menggebu-gebu.

‎‎"Kamu benar-benar wanita yang berbahaya, Aruna..." bisiknya parau, suaranya berat dan terdengar menggema di dada wanita itu. "Kamu tahu betapa mudahnya kamu membuatku marah, dan betapa mudahnya juga kamu bisa meredakan amarah itu hanya dengan satu kalimat saja."

‎‎Dia menggelengkan kepalanya pelan, napasnya memburu.

‎‎"Kalau begitu katakan, kali ini kamu ingin aku membantu bagaimana?"

‎‎Aruna tersenyum puas melihat perubahan di mata pria itu, jari-jarinya bergerak lebih lembut menyusuri garis rahang yang tegas itu, seolah sedang menikmati momen dimana pria sedingin dan sekeras ini sepenuhnya berada dalam genggamannya.

‎‎"Biarkan mereka bermimpi, Zeff," ucap Aruna pelan, bibirnya nyaris menyentuh kulit pria itu saat berbicara. "Biarkan Rafael berpikir bahwa aku sudah berhasil membujukmu. Biarkan mereka merasa yakin bahwa kerjasama itu ada di depan mata, bahwa kekayaan dan kekuasaan yang mereka dambakan sudah tinggal selangkah lagi."

‎‎Dia menjeda sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap itu.

‎‎"Kamu akan mengirimkan undangan resmi. Katakan bahwa kamu bersedia menerima penawaran mereka, bersedia mendengarkan presentasi proyek mereka secara langsung. Berikan mereka harapan setinggi langit dan perlakuan yang seolah-olah kamu sangat tertarik dengan kerjasama ini."

‎‎Tangan Aruna perlahan turun kembali ke dada bidang Zeffrano, jari-jarinya meremas ringan kain kemeja mahal yang menempel disana.

‎‎"Buat mereka lengah. Buat mereka berpikir bahwa segalanya berjalan sesuai keinginan mereka. Dan saat mereka sudah melangkah masuk terlalu jauh, saat itulah kamu akan menjatuhkan mereka. Kamu akan menolak mereka dengan cara yang paling menyakitkan, membuat mereka sadar bahwa mereka hanyalah boneka yang sedang kita mainkan."

‎‎Aruna tersenyum dingin, namun matanya kembali melembut saat menatap wajah Zeffrano.

‎‎"Aku ingin mereka merasakan betapa sakitnya berharap pada sesuatu yang tidak akan pernah mereka dapatkan. Tidak ada yang boleh mempermainkan perasaanku lagi, dan tidak ada yang boleh menggunakan namamu untuk kepentingan kotor mereka. Bisakah kamu melakukan itu untukku, Zeff? Bisakah kamu berpura-pura tertarik hanya untuk membuat kejatuhan mereka terasa jauh lebih pahit?"

‎‎Zeffrano mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Aruna dengan saksama. Senyum tipis perlahan terukir di wajahnya, senyum yang sama dinginnya, sama berbahayanya, namun juga sama kagumnya. Dia menggelengkan kepalanya pelan, seolah tak percaya betapa wanita yang di hadapannya ini telah berubah menjadi sosok yang cerdas dan penuh strategi.

‎‎"Kamu benar-benar tidak lagi gadis yang dulu aku kenal, ya?" bisik Zeffrano parau, suaranya terdengar bangga. Dia mengangkat satu tangannya, menyelipkan helai rambut di telinga Aruna, lalu mengusap pipi halus itu kembali. "Tapi aku suka. Aku sangat suka sisi dirimu ini, Aruna."

‎‎Dia mencondongkan wajahnya lebih dekat, napasnya membelai bibir Aruna.

‎‎"Permintaanmu itu terlalu mudah, Aruna. Memainkan orang-orang serakah dan bodoh seperti mereka adalah hal yang paling mudah bagiku. Aku akan melakukan seperti yang kamu minta. Aku akan membuat mereka mabuk dengan harapan palsu, sampai mereka tidak sadar bahwa mereka sedang berdiri di tepi jurang yang sudah kita siapkan."

‎‎Genggamannya di pinggang Aruna semakin erat, menarik wanita itu agar semakin menempel padanya, seolah ingin menyatu.

‎‎"Bagaimana? Apa kamu puas dengan jawabanku ini?"

‎‎Aruna tersenyum lebar, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Zeffrano, menarik wajah pria itu sedikit lebih dekat lagi hingga tak ada jarak sedikit pun yang tersisa di antara mereka.

‎‎"Puas?" ulang Aruna berbisik, suaranya terdengar mendesah lembut namun penuh kepuasan. "Lebih dari puas, Zeffrano. Kamu selalu tahu cara membuatku merasa aman, merasa kuat, dan merasa... dimiliki sepenuhnya."

‎‎Dia menjeda sejenak, menatap lekat-lekat manik mata cokelat gelap yang kini memantulkan bayangan dirinya. Matanya berbinar, bukan lagi berbinar karena rasa sakit atau air mata, melainkan karena tekad yang membara dan rasa percaya yang tak tergoyahkan.

‎‎"Karena sejak awal hatiku sudah sepenuhnya milikmu," sambung Aruna dengan suara rendah namun tegas, penuh ketulusan yang mendalam. "Tidak ada lagi ruang untuk masa lalu, tidak ada lagi tempat untuk keraguan. Semua yang ada padaku, tubuhku, jiwaku, dan seluruh hidupku sudah menjadi milikmu sejak detik aku memutuskan untuk berani berdiri di sisimu."

‎‎Dia mengusap pelan garis rahang tegas pria itu, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah.

‎‎"Apa sekarang kamu sudah percaya dengan perasaanku, Zeff?"

‎‎Zeffrano tidak menjawab, dia hanya menatap lekat-lekat wajah wanita yang berdiri begitu tenang dan berani di hadapannya itu. Tanpa jeda lagi, Zeffrano menundukkan wajahnya dengan cepat namun lembut, lalu menyambar bibir Aruna dalam satu ciuman yang dalam, lapar, dan penuh ketegasan.

‎Aruna sama sekali tidak menolak. Dia membalas ciuman itu dengan segala keberanian dan perasaannya, melingkarkan tangannya makin erat di leher Zeffrano, membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya dalam dekapan yang begitu aman dan membuatnya terlena.

-

-

-

Suasana pagi itu terasa mendung dan penuh kecemasan. Sudah beberapa hari sejak Rafael menemui Aruna dan memintanya untuk membantunya, namun belum ada kabar apapun dari pihak Mahesa Group. Rasa gelisah mulai merayap di hati Tuan Hendrawan, Rafael, maupun Tania. Mereka saling tuding dan bertanya-tanya, apakah rencana mereka gagal? Apakah Aruna tidak berdaya membujuk Zeffrano?

"Sudah hari keempat..." gumam Tuan Hendrawan pelan, suaranya terdengar berat dan penuh kekhawatiran. "Apa mungkin Tuan Zeffrano berubah pikiran? Atau... apakah Aruna belum sempat menyampaikan maksud kita? Atau mungkin dia bicara, tapi tidak cukup meyakinkan?"

‎‎Rafael mengangkat kepalanya, meski hatinya sendiri sudah mulai dihantui keraguan, dia tetap berusaha tampil percaya diri. "Tenang saja, Paman. Aruna sudah berjanji, dan aku tahu dia tidak akan berani mengecewakanku. Dia pasti sedang berusaha sekuat tenaga membujuk Tuan Zeffrano. Orang sekeras dia memang butuh waktu lama untuk luluh."

‎‎Belum sempat Rafael melanjutkan ucapannya, suara dering telepon kantor yang keras dan nyaring tiba-tiba memecah keheningan ruangan. Ketiganya serentak menoleh, menatap benda itu seolah itu adalah makhluk asing yang baru mendarat. Dering itu terus berbunyi, panjang dan jelas, membuat jantung Tuan Hendrawan seakan berhenti berdetak sesaat.

‎‎Dengan langkah gemetar namun tergesa, Tuan Hendrawan menghampiri meja, tangannya terulur ragu-ragu sebelum akhirnya menyambar gagang telepon itu. Napasnya ditarik dalam-dalam, berusaha menata suara agar terdengar berwibawa, meski matanya sudah membelalak karena gugup.

‎‎"Halo... dengan Tuan Hendrawan?"

-

-

-

Bersambung...

1
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
🔥Violetta🔥: Kangen belaian plus belalai dia kak ,🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
nikah aja dah.. mending mereka nikah biar gak jadi masalah setelahnya
〈⎳ FT. Zira
puas puasin dah mau ngapain aja gak ada yg larang
〈⎳ FT. Zira
nampar doang mah napa gak berani
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan🤧🤧
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
makin berani aruna🤣
🔥Violetta🔥: Biar Zeff meleleh' 😂😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
percaya saja pada kemampanmu, ada Zef yg siap berdiri di garda depan ini
W I 2 K
sok suci banget Rafael... lah km aja peluk sana peluk sini sm cewek lain loh...
W I 2 K: du du du.... ngalamat viral nanti lipen gosong.... 🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!