NovelToon NovelToon
SCHATTEN UND DUFT

SCHATTEN UND DUFT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.

Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.

Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar yang Wangi dan Buku yang Terbuka

Suara derai hujan di luar berganti menjadi ketukan konstan yang ritmis pada kaca jendela lantai dua. Kamar Rebecca adalah sebuah kontradiksi yang indah dari usianya; ruang itu tidak dipenuhi poster idola remaja atau pernak-pernik yang penuh warna, melainkan tertata dengan presisi yang menenangkan. Dindingnya dicat dengan warna putih pualam, dipadukan dengan gorden linen tebal berwarna abu - abu arang yang menjuntai hingga menyentuh lantai parket kayu jati. Di sudut ruangan, sebuah meja rias kayu bergaya neoklasik dipenuhi oleh puluhan botol kaca kecil dengan berbagai bentuk beberapa di antaranya memiliki pipa tetes berskala, tempat ia mengisolasi ekstrak minyak atsiri buatannya sendiri. Udara di dalam kamar itu pekat oleh aroma sandalwood (cendana) yang hangat, berpadu dengan semburat manis dari ekstrak vanila Madagaskar yang ia seimbangkan dengan minyak bergamot untuk menjaga kesegaran ruangannya.

Rebecca mendorong pintu kamarnya menggunakan pinggul, karena kedua tangannya repot membawa sebuah nampan kayu. Di atas nampan itu, dua mangkuk sup ayam kampung jahe yang masih mengepulkan uap tipis bersanding dengan dua gelas teh melati hangat tanpa gula. Pakaian rajut krem yang dikenakannya tampak sedikit longgar di bagian bahu, namun menempel ketat di bagian dada dan pinggangnya, menciptakan siluet tubuh yang sangat kontras dan matang bagi seorang gadis berumur delapan belas tahun.

Di atas tempat tidur king-size yang dilapisi seprai katun Mesir abu - abu muda, Naufal sudah telentang dengan nyaman. Pemuda itu telah mengganti kaus kutang hitamnya dengan kaus oblong putih longgar, namun celana pendek olahraga abu - abunya masih memperlihatkan otot-otot paha dan betisnya yang kokoh. Di sekeliling tubuhnya berserakan buku diktat Fisika Dasar kelas dua belas, beberapa buku catatan bergaris, dan sebuah kalkulator ilmiah.

"Mas Naufal, pindahkan kakimu. Jangan di atas bantal kepala," ujar Rebecca datar. Ia meletakkan nampan kayu tersebut di atas meja belajar minimalisnya yang bersih, lalu berjalan mendekati tempat tidur.

Naufal membuka satu matanya yang tajam, menatap adiknya yang berdiri tegak di sisi ranjang. Dari posisi tidurnya, ia bisa melihat bagaimana proporsi tubuh adiknya memang menyerupai boneka porselen koleksi galeri seni wajah yang terlalu kecil dan halus, kontras dengan lekukan tubuh yang sangat penuh. Tanpa sepatah kata pun, Naufal menggeser tubuh kekarnya ke samping, menyisakan ruang kosong di tengah kasur dan menepuknya dua kali.

"Makan dulu supnya selagi panas. Ibu bilang jahenya bagus untuk menghangatkan badan setelah Mas kehujanan waktu latihan tadi sore," kata Rebecca sembari menyerahkan satu mangkuk sup beserta sendoknya kepada sang kakak.

Naufal bangkit dan duduk bersila. Ia menerima mangkuk itu, membiarkan jemarinya yang kasar berpapasan sesaat dengan jemari Rebecca yang halus dan dingin. "Kau memang selalu tahu cara menjinakkan perutku, Re. Bau jahe bakarnya pas, tidak terlalu menyengat seperti buatan Ibu kalau sedang terburu - buru." Ia menyendok kuah sup yang bening kekuningan itu, lalu menghirupnya dengan suara pelan. Rasa hangat, gurih, dan sedikit sensasi pedas dari jahe langsung menjalar di tenggorokannya, mengusir sisa dingin khalayak hujan kota yang melekat di pori - pori kulitnya sejak sore.

Rebecca mengambil mangkuknya sendiri, memilih untuk duduk di kursi belajar yang berputar, menghadap langsung ke arah tempat tidur. Poni depannya yang tipis sedikit terbelah, memperlihatkan dahi putihnya yang mulus saat ia menunduk untuk meniup kuah supnya. Gerakannya lambat dan anggun, sangat kontras dengan Naufal yang menghabiskan setengah isi mangkuknya hanya dalam tiga suapan besar.

"Jadi," Naufal meletakkan mangkuknya yang baru setengah kosong di atas nakas sebelah ranjang, lalu meraih buku paket Fisika bercover biru tua. "Di mana bagian yang membuat otak bonekamu ini macet? Guru fisikamu yang botak itu memberi tugas tentang Termodinamika lagi?"

"Bukan Termodinamika, Mas. Aku bingung di bagian Gelombang Elektromagnetik dan pergeseran Wien," jawab Rebecca. Ia meletakkan mangkuknya yang baru tersentuh sedikit ke atas meja, lalu menarik kursinya mendekat ke tepi ranjang, mengambil sebuah buku catatan yang sampulnya ia beri wewangian aromaterapi buatannya sendiri.

Naufal mendekat, merangkak sedikit di atas kasur hingga jarak di antara mereka hanya tersisa se jengkal. Ketika ia bergerak, embusan angin kecil membawa aroma tubuh Rebecca yang khas.perpaduan antara wangi alami kulitnya yang bersih, sisa uap sup rempah, dan wangi minyak rambut melati yang digunakannya setelah mandi sore. Aroma itu selalu berhasil membuat Naufal merasa tenang, betah berlama-lama di dalam ruangan ini meskipun ia harus memeras otak untuk mengajari adiknya materi sekolah yang terkadang membosankan.

"Sini, lihat nomor empat belas," Naufal menarik buku catatan Rebecca, jemarinya yang besar memegang pulpen gel hitam dengan mantap. "Rumus dasarnya itu sederhana,

C\=f⋅λ. Kau hanya perlu berhati-hati dengan konversi satuannya. Kalau panjang gelombangnya dalam nanometer, kau harus mengubahnya ke meter dulu sebelum dimasukkan ke dalam rumus hukum pergeseran Wien. λmax × T \= b. Kau sering lupa di bagian pangkat minusnya, Re."

Rebecca memperhatikan ujung pulpen Naufal yang bergerak lincah di atas kertas, mencoret - coret grafik hubungan antara intensitas radiasi dan panjang gelombang. Konsentrasinya penuh, mata abu-abunya yang langka berkedip perlahan, memancarkan ketenangan yang tidak biasa bagi seorang remaja yang sedang menghadapi tekanan ujian kelulusan. Di bawah lampu belajar yang temaram dan bernuansa kuning hangat, fitur wajah Rebecca tampak semakin tidak nyata hidungnya yang kecil namun lurus, serta bibir alaminya yang tampak basah oleh sisa teh hangat, menciptakan impresi visual yang sangat kuat di mata Naufal.

"Kenapa diam saja? Mengerti tidak?" Naufal mengetukkan ujung pulpennya agak keras ke dahi Rebecca, tepat di atas poninya.

"Sakit, Mas," protes Rebecca pelan, tangannya yang kecil spontan mengusap dahinya yang tidak benar-benar sakit. "Aku mengerti. Jadi nilainya harus selalu dikalikan dengan konstanta Wien yang 2,898 \times 10^{-3}$ itu, kan?"

"Pintar," Naufal tersenyum, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di kepala ranjang, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, membuat otot-otot lengannya yang kekar menonjol di bawah lipatan kaus putihnya. "Kalau kau bisa menyelesaikan lima soal latihan di halaman berikutnya tanpa salah satu angka pun, aku akan membelikanmu botol kaca penetes yang baru dari toko kimia langgananku hari Sabtu nanti. Bagaimana?"

Rebecca menatap abangnya dengan binar ketertarikan yang jarang ia tunjukkan. Botol kaca borosilikat dengan presisi tinggi adalah barang yang sedang sangat ia butuhkan untuk meracik formula parfum terbarunya yang berbasis minyak mawar murni. "Janji? Jangan bohong seperti bulan lalu saat berjanji membelikan Dabo makanan basah rasa tuna premium."

"Kapan aku pernah berbohong untuk urusan laboratorium rahasiamu itu, Tuan Putri?" Naufal terkekeh, tangannya terjulur untuk mengacak rambut hitam bergelombang adiknya hingga beberapa helai keluar dari ikatan cepolannya. Rebecca mendengus pelan, namun tidak menjauh. Di tengah gemuruh hujan yang kian menderu di luar jendela, ruang kamar itu bertransformasi menjadi sebuah tempat perlindungan yang aman, di mana rumus - rumus fisika yang rumit berbaur dengan kehangatan sup jahe, aroma cendana yang menenangkan, dan ikatan persaudaraan yang tak terucapkan namun terasa sangat nyata.

1
Manman
love🫧🪻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!