Ketika Aisyah terjebak di Shanghai sebagai seorang imigran gelap, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah karena dua bersaudara dari keluarga Lin.
Lin Zhao memberinya rasa aman dan cinta yang tak pernah ia duga.
Sementara Lin Chou justru memberinya ancaman, kebencian, dan luka.
Namun siapa sangka, di balik semua kebencian itu tersimpan rahasia masa lalu yang mampu menghancurkan segalanya.
Tentang cinta yang tertinggal.
Tentang janji yang gagal ditepati.
Dan tentang seorang perempuan... yang memilih pergi setelah diam-diam menyelamatkan keluarga yang telah menyakitinya.
Di antara dua negara, dua budaya, dan dua hati yang dipertemukan takdir.
apakah cinta cukup kuat untuk melawan luka masa lalu?
Atau justru penyesalan akan datang... saat semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Lin Zhao terdiam untuk sejenak,dadanya yang tadi merasa sesak kini terasa sangat ringan. Seolah dia telah datang ditempat yang tepat.
Semua orang pun menatap kearah Lin Zhao yang duduk di pojok masjid. Dia menyadari mungkin kehadirannya akan membuat semua orang merasa tidak nyaman terlebih lagi dia bukalah seorang muslim seperti yang lainnya.
Namun diluar dugaan Lin Zhao,semua orang yang menatapnya pun tersenyum seolah memberikan hormat kepadanya.
Dia merasa sangat tersanjung,bukan karena dia adalah adik dari ketua mafia tapi untuk pertama kalinya dia merasakan dihargai oleh orang banyak.
Setelah semua orang selesai melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah Ustadz Yusuf pun mengutarakan niat Lin Zhao datang kesana. Dan semua orang pun setuju untuk mendoakan Xioyi. Lin Zhao duduk diantara orang orang yang tengah menghafalkan Al-Qur'an dia menitikkan airmata.
Lin Zhao menatap orang-orang yang sedang berdoa dengan khusyuk.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia ingin memahami apa yang selama ini diyakini Aisyah.
Ia tidak mengerti semua yang mereka ucapkan.
Namun ketenangan yang ia rasakan saat itu begitu nyata.
Untuk pertama kalinya airmatanya jatuh tanpa diminta. Dia merasakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan dia menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari dalam dirinya. Ketenangan.
***
Di tempat yang berbeda.
Aisyah masih duduk sendiri,dia sedang melamun menatap bunga mawar yang mekar telihat indah.
"Ya Allah aku rindu orang tuaku. Aku rindu rumahku."
"Disini adalah tempat yang nyaman tapi aku tahu bahwa tidak seharusnya aku berada disini. Berada diantara orang-orang yang mungkin salah paham padaku. Dan ini bukanlah tempatku."
Aisyah pun menangis. Dia merindukan keluarganya.
Merindukan Kakanya yang telah tiada.
Dan merindukan perhatian Lin Zhao yang kini semakin menjauh darinya.
Aisyah merasa bahwa dia sudah harus mengambil keputusan. Dia ingin pergi dari keluarga Lin.
Bukan karena ia membenci mereka.
Justru karena ia terlalu menyayangi mereka.
Aisyah mulai percaya bahwa kepergiannya mungkin akan membuat hidup semua orang menjadi lebih tenang.
Mungkin diluar sana akan sangat berbahaya untuknya bahkan nyawanya mungkin saja bisa terancam. Namun Aisyah juga tidak mau berdiam diri seolah lari dari kenyataan bahwa dia hanya membuat masalah untuk keluarga Lin.
"Kak Lin. Maafkan aku jika aku harus pergi. Aku tidak mungkin selalu berada ditempat yang sekarang terasa sangat asing. Biarkan semuanya kembali seperti dulu, seperti saat kamu belum mengenal diriku."
Dengan sisa tenaganya Aisyah pun masuk kedalam rumah. Dia mulai mengemasi barang-barangnya. Keputusannya sudah bulat dia ingin pergi dari keluarga Lin.
Aisyah tidak ingin pergi secara diam-diam. Dia ingin berpamitan dengan Lin Zhao namun sepertinya sudah tiga hari berlalu Lin Zhao belum juga kembali.
"Mungkin Kak Lin kecewa kepadaku. Tapi aku tidak melakukan kesalahan apapun. Dan aku sendiri saja belum pernah bertemu dengan Mr.Wang. Aku hanya melihatnya dari belakang dia memakai topi dan masker kala itu. Dan video itu jelas saja itu editan AI namun aku tidak memiliki bukti untuk sekedar membersihkan namaku."
Aisyah pun bingung dengan hatinya sendiri. Jujur ini kala pertamanya dia merasakan sakit yang tak ada sebabnya. Dia sudah mulai menaruh hati dan kepercayaan kepada Lin Zhao namun kini justru hubungan mereka merenggang karena kesalahan yang tidak Aisyah buat.
"Waktu itu Tuan Chou melihat aku berasa didepan markas Mr.Wang. Dan dari sana aku menyadari bahwa apapun yang aku katakan dan aku jelaskan mereka tidak akan pernah percaya." Aisyah pun duduk dilantai sembari memegang lembut cincin pemberian Lin Zhao kala itu.
"Kak Lin. Aku tidak pernah menyalahkan kamu. Aku tahu ini semua pasti akan terjadi. Diantara kita ada jurang yang sangat dalam. Dan aku bahagia dan senang bisa mengenalmu."
Tak terasa airmata Aisyah pun jatuh. Mau sekuat apapun dia menahannya dia pun tak sanggup lagi. Aisyah menangis mencoba melepaskan semua rasa sakit yang dia rasakan selama ini.