Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam semakin larut, namun suasana di Kota Awan Melayang sama sekali tidak tenang. Justru, ketegangan menggantung semakin berat di udara. Obor-obor masih menyala terang di setiap sudut jalan, pasukan patroli masih berlarian ke sana kemari memeriksa setiap sudut kota, dan seluruh warga hidup dalam rasa was-was. Di kediaman Tetua Mo Feng, di ruang pertemuan utama, Mo Feng sendiri masih duduk diam di kursi kebesarannya. Wajahnya semakin berkerut, matanya menatap kosong ke arah pintu masuk, menunggu kabar dari Bai Long yang sudah pergi memimpin pencarian berjam-jam yang lalu.
Di dalam hatinya, kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi. Semakin lama berlalu tanpa hasil, semakin kuat firasat buruk yang menekan dadanya. Ia masih teringat jelas rasa dingin yang ia rasakan saat menyentuh luka Empat Harimau Awan tadi. Energi itu terlalu murni, terlalu kuno, dan terlalu berbahaya. Di dalam benaknya, nama Ye Chen terus muncul dan menghilang bergantian, membuatnya gelisah luar biasa.
"Tidak mungkin... dia pasti sudah mati. Tidak ada manusia yang bisa bertahan hidup di sana, apalagi bangkit menjadi sekuat itu..." Mo Feng terus mengulang kalimat itu di dalam hatinya, berusaha meyakinkan diri sendiri, namun kegelisahannya tak kunjung hilang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat dan tergesa-gesa terdengar mendekat dari luar aula. Suara itu disertai napas terengah-engah dan bunyi benturan senjata yang tidak teratur. Pintu besar aula terbuka lebar dengan kasar, dan sosok Bai Long muncul di sana.
Namun, pemandangan yang dilihat Mo Feng sama sekali bukan pemandangan yang ia harapkan.
Bai Long yang biasanya selalu tampil rapi, bersih, berwibawa, dan penuh senyum sombong, kini tampak mengenaskan. Jubah putih kebanggaannya kotor berdebu dan kusut masai. Rambutnya yang biasanya disisir rapi kini berantakan menutupi dahinya yang penuh keringat. Wajahnya yang tampan kini merah padam, matanya melotot penuh darah karena marah dan kelelahan, dan napasnya keluar masuk dengan keras seolah habis berlari sejauh ribuan li. Di belakangnya, para pengawal dan murid elit yang ikut serta dalam pencarian juga tampak kelelahan, ketakutan, dan menundukkan kepala tak berani menatap ke arah Tetua mereka.
Tanpa mengucapkan salam atau sopan santun sedikit pun, Bai Long melangkah masuk dengan langkah gemetar, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Ia berhenti tepat di tengah ruangan, dan menatap Mo Feng dengan pandangan yang campur aduk antara marah, takut, dan keputusasaan.
"Long'er... apa yang terjadi?" tanya Mo Feng, bangkit berdiri perlahan, suara beratnya terdengar tegang. "Apakah kau menemukan jejak orang itu? Atau ada hal buruk lain yang terjadi?"
Kalimat terakhir itu keluar dari mulut Mo Feng dengan rasa takut yang samar. Ia bisa merasakan gelombang emosi yang mengerikan memancar dari tubuh murid kesayangannya itu.
Bai Long tidak langsung menjawab. Ia seolah kesulitan untuk berbicara. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar, menunjuk ke arah dirinya sendiri, lalu suaranya meledak sekeras-kerasnya hingga menggetarkan seluruh dinding aula.
"DIA SUDAH KE SANA! DIA SUDAH BERADA DI TEMPATKU! DIA... DIA MENGHANCURKAN SEGALANYA!"
Mo Feng tertegun, matanya membelalak kaget. "Apa maksudmu? Tenangkan dirimu, Long'er! Bicaralah dengan jelas!"
"Dia masuk ke kediamanku, Tetua!" teriak Bai Long lagi, air mata marah hampir menetes di pipinya. Suaranya parau dan pecah. "Saat aku sedang sibuk memimpin pasukan mencari dia di luar sana... dia diam-diam masuk ke dalam rumahku! Dia melewati dua belas pengawal elit yang aku tinggalkan seolah mereka tidak ada! Dia masuk ke ruang penyimpanan harta karunku... dan dia mengambil semuanya! Semua batu roh, semua pil obat, semua senjata berharga yang aku kumpulkan bertahun-tahun... semuanya hilang!"
Mo Feng terhuyung mundur satu langkah, wajahnya menjadi pucat seketika.
"Hancur... hilang..." gumam Mo Feng tak percaya. "Kau yakin itu orang yang sama? Ada buktinya?"
"Bukan hanya hilang, Tetua! Bukan hanya itu!" Bai Long berjalan maju selangkah, tangannya meremas dadanya sendiri seolah ada rasa sakit yang tak tertahankan. "Dia tidak hanya mengambil apa yang dia mau... dia membekukan sisa barang-barang yang tidak dia ambil! Seluruh ruangan bawah tanah itu kini berubah menjadi gua es raksasa! Dindingnya, lantainya, rak-raknya... semuanya tertutup lapisan es tebal yang aneh dan dingin menyengat. Obat-obatanku rusak, senjataku retak, perhiasanku hancur... energi dingin itu merusak segalanya!"
Bai Long berhenti sejenak, lalu mengeluarkan sepotong pecahan kayu yang ia bawa dari belakang punggungnya. Ia melempar benda itu ke lantai keras-keras di depan kaki Mo Feng.
"Dan lihat ini... lihat apa yang dia tinggalkan untukku!"
Mo Feng berjongkok perlahan, mengambil potongan kayu itu. Itu adalah serpihan dari meja kerja indah yang biasa ada di kamar tidur utama Bai Long. Di permukaannya, terlihat jelas sisa ukiran tulisan yang dalam dan kasar. Mo Feng membacanya pelan, dan semakin ia membaca, semakin pucat wajahnya, semakin dingin pandangannya, dan semakin berat rasa takut yang menghimpit jantungnya.
"Barang yang kau ambil, aku ambil kembali... Ingatlah rasa ini... Bayangan Masa Lalu..."
Tangan tua Mo Feng gemetar hebat. Potongan kayu itu jatuh kembali ke lantai dengan bunyi nyaring.
Bayangan Masa Lalu...
Kalimat itu berputar terus di kepalanya. Kata-kata itu, gaya bahasanya, nada ancamannya... semuanya begitu akrab, semuanya mengarah ke satu orang yang paling ia takuti namun ia yakini sudah mati.
"Tetua... siapa dia?" tanya Bai Long, suaranya kini berubah menjadi bisikan ketakutan. "Siapa orang yang berani berbuat begini? Dia tahu persis letak ruanganku, dia tahu apa saja yang aku miliki, dia tahu persis apa yang paling menyakitkan bagiku... dan tulisan itu... 'Barang yang kau ambil, aku ambil kembali'... apa maksudnya, Tetua? Apakah... apakah dia orang yang pernah kita rugikan di masa lalu?"
Mo Feng tidak menjawab. Ia berdiri diam, matanya menatap kosong ke udara, pikirannya berkecamuk hebat. Semua potongan teka-teki mulai menyusun dirinya sendiri. Teknik energi dingin murni... pengetahuan tentang kediaman sekte... dendam tentang barang yang diambil... kekuatan yang tumbuh begitu cepat...
Ye Chen... Pasti dia! Hanya dia satu-satunya orang yang memiliki alasan, kebencian, dan hubungan dengan teknik energi dingin kuno itu! Dia tidak mati! Dia selamat dari Lembah Ratapan! Dan sekarang dia kembali... kembali untuk mengambil semuanya!
Kesadaran itu menghantam Mo Feng bagaikan palu godam raksasa. Rasa bersalah, rasa takut, dan rasa marah bercampur menjadi satu. Ia tidak lagi ragu. Orang yang mereka cari, orang yang mempermalukan anak buahnya, orang yang merampas harta Bai Long... itu adalah Ye Chen. Anak yang ia buang, anak yang ia khianati, anak yang ia kira sudah menjadi bangkai.
Dan yang paling mengerikan... anak itu kini memiliki kekuatan yang setara, bahkan mungkin melampaui dirinya sendiri.
"Ye Chen..." gumam Mo Feng pelan, suara itu penuh kebencian dan ketakutan yang mendalam. "Jadi kau masih hidup... kau benar-benar masih hidup..."
Bai Long yang berdiri di dekatnya mendengar gumaman itu. Matanya membelalak lebar tak percaya. Ia melangkah maju dengan gerakan kaku, menatap wajah gurunya.
"Ye... Ye Chen? Tetua... apa maksud Anda? Anda bilang dia sudah mati! Anda bilang dia hancur di lembah itu! Apakah... apakah orang yang mengerikan ini... dia? Dia yang kita anggap sampah itu?!"
Mo Feng mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang tua kini bersinar dengan kilatan kejam dan niat membunuh yang pekat. Ia tidak lagi menyembunyikan apa pun di depan murid kesayangannya. Bahaya sudah ada di depan mata, dan sekarang bukan saatnya lagi untuk menyembunyikan rahasia.
"Ya, Long'er... itu dia," jawab Mo Feng dengan suara dingin dan berat. "Orang yang kita hina, orang yang kita buang, orang yang kita rampas hak warisannya... dia tidak mati. Dia selamat, dia mendapatkan keajaiban, dia menguasai teknik kuno yang dulu dicari-cari ayahnya... dan sekarang dia kembali sebagai musuh terbesar kita."
Wajah Bai Long berubah menjadi putih bersih, seolah darahnya tersedot habis dari tubuhnya. Kakinya lemas, ia hampir jatuh berlutut. Ketakutan yang selama ini tersembunyi di sudut hatinya kini menjadi kenyataan. Sosok yang dulu ia injak-injak, yang dulu ia tertawakan, yang dulu ia anggap debu... kini bangkit dengan kekuatan yang bisa menghancurkan seluruh kehidupannya.
"Dia... dia begitu kuat..." bisik Bai Long gemetar. "Dia mengalahkan Empat Harimau Awan dalam sekejap... dia melewati pengawalku seperti angin... dia mengambil semua hartaku... dan dia menulis pesan itu... dia tidak takut pada kita sedikit pun..."
"Tentu saja dia tidak takut!" bentak Mo Feng tiba-tiba, amarahnya meledak kembali menutupi rasa takutnya. Ia berjalan mondar-mandir cepat di ruangan itu. "Dia sudah mencapai ranah Foundation Establishment, Long'er! Dia punya kekuatan yang sama denganku, ditambah teknik kuno yang jauh lebih hebat dari apa yang kita miliki! Dia percaya diri! Dia sombong! Dan dia ingin kita menderita sebelum dia membunuh kita berdua!"
Mo Feng berhenti berjalan, berbalik menatap Bai Long dengan pandangan tajam dan mematikan.
"Tapi ingat ini, Long'er... dia hanya sendirian. Kita punya seluruh kekuatan Sekte Azure Cloud di belakang kita. Kita punya ratusan murid, puluhan tetua, dan sumber daya yang melimpah. Dia kuat, tapi dia tidak bisa melawan seluruh dunia sendirian. Dia licik, tapi dia masih muda dan kurang pengalaman. Dia ingin kita panik, dia ingin kita takut, dia ingin kita saling curiga... tapi kita tidak akan memberinya kepuasan itu!"
Wajah Mo Feng berubah menjadi sangat dingin dan kejam. Ia mengangkat tangannya dan memberi perintah tegas.
"Panggil semua tetua inti, panggil semua pemimpin cabang, kerahkan seluruh kekuatan militer sekte ke sini SEKARANG! Tutup seluruh Kota Awan Melayang rapat-rapat! Tidak ada jalan keluar, tidak ada jalan masuk. Ubah seluruh kota ini menjadi penjara raksasa! Kita akan mencari dia sampai ke lubang tikus sekalipun!"
Suara Mo Feng bergema mengerikan.
"Dan berikan perintah ini ke seluruh pasukan: Temukan pemuda bernama Ye Chen, atau pemuda misterius berwajah asing yang menggunakan teknik es. Siapa pun yang bisa menangkapnya hidup atau mati... akan kuberikan hadiah terbesar dalam sejarah sekte. Siapa pun yang melindunginya... akan kubunuh satu keluarga besarnya! Dan jika dia berani muncul lagi... aku sendiri yang akan turun tangan. Kali ini aku tidak akan membiarkannya hidup satu detik pun lebih lama!"
Bai Long mendongak, rasa takutnya perlahan berubah menjadi kebencian yang membara. Rasa malu, rasa sakit hati, dan rasa kehilangan itu berubah menjadi api pembalasan dendam yang besar.
"Ya, Tetua! Kita akan tangkap dia! Kita akan potong-potong tubuhnya! Kita akan buat dia menyesal seumur hidupnya karena berani kembali mengganggu kita!"
Bai Long berbalik berjalan keluar aula dengan langkah mantap namun penuh amarah. Di luar sana, teriakan-teriakan perintah baru yang jauh lebih keras dan mengerikan segera terdengar bergema ke seluruh penjuru kota. Suara terompet perang ditiup panjang dan nyaring, menandakan bahwa situasi sudah berubah menjadi keadaan darurat mutlak.
Seluruh Kota Awan Melayang kini dikepung total. Jaring raksasa sudah ditebarkan, lebih rapat, lebih kuat, dan lebih mematikan dari sebelumnya. Mo Feng dan Bai Long bertekad mati atau hidup untuk menemukan dan menghancurkan Ye Chen.
Namun, di tempat tersembunyi yang aman, jauh di balik dinding-dinding tebal dan lorong-lorong rahasia yang hanya diketahui sedikit orang, Ye Chen duduk bersila dengan tenang. Ia mendengar suara terompet itu, ia merasakan gelombang energi yang bergerak semakin banyak dan semakin gencar di luar sana. Ia tahu bahwa pesannya sudah diterima dengan sangat baik oleh musuh-musuhnya.
Di dalam benaknya, suara Yue-Jian terdengar penuh puas.
"Lihatlah, Ye Chen... mereka menggigit umpan itu dengan sangat rakus. Mo Feng sudah yakin sekarang bahwa itu kau. Dia marah, dia takut, dia panik, dan dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia menutup seluruh kota... tapi dia lupa satu hal penting."
Ye Chen membuka matanya, kilatan dingin dan senyum tipis terlihat di bibirnya.
"Ya, Guru... dia lupa... bahwa aku tidak pernah berniat lari dari kota ini."
Ye Chen berdiri tegak, matanya menatap ke arah kompleks inti sekte yang kini penuh dengan cahaya obor dan kegaduhan.
"Dia mengira dengan menutup kota, dia bisa mengurungku dan menangkapku. Dia mengira aku akan berusaha kabur. Dia salah besar..."
Ye Chen mengepal tangannya erat, energi dingin berwarna biru pekat berputar tenang namun dahsyat di dalam tubuhnya.
"Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini, di tengah-tengah jaringnya. Dan semakin dia mengerahkan pasukannya keluar, semakin dia mengosongkan pertahanan intinya... semakin mudah bagiku untuk bergerak menuju langkah berikutnya."
Ye Chen melangkah maju, kembali menghilang menyatu dengan bayangan gelap.
"Nikmati permainan pengejaran ini, Mo Feng, Bai Long... karena semakin keras kalian mencari, semakin jauh kalian berjalan... semakin dekat aku menuju ke tempat yang paling kalian lindungi: Arsip Rahasia Sekte. Di sanalah letak kebenaran, dan di sanalah langkah besar kita selanjutnya dimulai."
Di luar sana, ketegangan memuncak. Jaring sudah tertutup rapat. Musuh sedang mengamuk hebat. Namun di tengah badai itu, sosok bayangan hitam itu justru bergerak semakin dalam, semakin dekat ke inti kekuasaan, membawa rencana yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.