NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

POV: Nara

"Leon," panggilku dengan suara kecil, ia langsung menoleh.

"Baju gantinya mana?" tanyaku, namun pria itu tidak langsung menjawab, matanya menatapku dari bawah hingga atas.

"Di sana." Lalu matanya menoleh ke arah ranjang.

"Tolong ambilkan dong!" perintahku, aku masih berada di ambang pintu kamar mandi.

Dia tertawa sinis, "ambil sendiri."

Aku berubah kesal, apa salahnya minta tolong? Aku kan malu jika harus keluar dalam keadaan seperti ini. Aku menghela nafas sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi dengan ragu dan rasa malu. Tanganku memegangi erat handuk yang melingkar di tubuhku.

Langkahku bergerak dengan cepat, ku raih baju milik Leon yang berada di atas ranjang lalu bergegas kembali lagi ke kamar mandi, tanpa menoleh ke arah Leon sedikit pun.

...***...

POV: Leon

Dia menyuruhku untuk mengambilkan baju ganti yang sudah ku siapkan di atas ranjang. Aku sengaja tidak mau, karena ingin membuatnya kesal, mungkin, atau sebenarnya aku punya niatan lain.

Saat dia berjalan tergesa untuk mengambil baju itu, dengan handuk mini milikku yang melingkar di tubuhnya—mataku memperhatikannya tanpa ingin berkedip sedetik pun. Dadaku lagi-lagi berpacu tidak beraturan setiap kali menghadapi momen seperti ini.

Tubuh perempuan ini terlalu sempurna, apakah semua wanita memang seperti itu? Atau hanya Nara yang memilikinya? Beruntung sekali pria yang bisa memilikinya.

Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang mampu menarik senyumku lagi, setelah barusan ngos-ngosan karena harus mengatur degup jantungku sendiri. Ia memakai kaos oversize milikku, dan celana bokser pendek di atas lutut. Dia lebih mirip seperti orang-orangan sawah.

"Kenapa?" tanyanya heran.

"Kamu walaupun sekarang kayak orang-orangan sawah, tapi tetep aja cantik," kataku sambil terkekeh.

Dia memutar bola matanya, lalu ikut duduk denganku di sofa. "Aku lapar," rengeknya kemudian.

"Aku pesanin siomay di depan, mau?"

"Yeeey... mau." Tangannya terangkat ke atas, dia sangat antusias mendengar kata siomay.

Aku bergegas turun untuk membelinya lalu kembali dengan dua porsi siomay. Nara makan dengan begitu lahap seperti orang yang tidak makan selama tiga hari.

"Kamu lapar apa kelaparan?"

"Apa bedanya?" Mulutnya masih penuh siomay, bahkan saus kacang sedikit belepotan di sudut bibirnya.

Aku reflek mengusap sudut bibirnya dengan jempolku, dia membeku menatapku, sebelum akhirnya melanjutkan makannya.

"Kamu tahu, apa yang bikin aku jatuh cinta sama kamu?"

Kalimatku membuatnya berhenti.

"Kamu beda dari perempuan lain yang pernah aku kenal. Kamu bisa menyesuaikan diri di keadaan apa pun. Kadang kamu bisa tiba-tiba kelihatan anggun banget, tapi beberapa menit kemudian berubah jadi manusia aneh yang lari-larian di pantai, ngomel karena layangan nggak bisa terbang, terus bahagia cuma gara-gara siomay."

Dia mengangkat kepalanya menatapku.

"Tapi itu bikin aku bingung, mana kamu yang sebenarnya?"

Tiba-tiba dia tertawa kecil, "aku aja bingung sama diri sendiri."

"Terus, kamu suka yang mana?" lanjutnya.

"Aku suka ketika melihat mu tertawa lepas tangan beban."

"Kalau begitu, buat aku agar selalu tertawa."

Aku mendekatkan wajahku padanya, membelai rambutnya yang masih lembab. "Nanti kamu dikira gila."

Plak! Tangan kecilnya langsung mendarat di keningku.

“Ahh... sakit tahu” Aku refleks mengusap kening sambil meringis.

Dia menepis tanganku, tangannya terangkat mengelus-elus keningku. Aku memperhatikannya dengan lekat, sialnya jarak di antara kami terlalu dekat, sayang untuk diabaikan.

Tanganku menyentuh tengkuk lehernya, mendorongnya hingga wajahnya menempel padaku. Bibir kami saling bertabrakan, aku mulai mengecupnya perlahan, dan—

Rasa siomay.

Mungkin aku terlalu terbawa suasana, aku tidak sadar tanganku sudah berada di bawah menyentuh bagian dadanya—tunggu, dia tidak memakai bra kan? Mana mungkin dia memakai bra-nya yang basah, lagi pula aku juga tidak memberinya bra tadi. Argh sial, pikiranku kemana-mana, bahkan mungkin dia juga tidak memakai celana dalam.

Kenapa tiba-tiba jantungku berdegup sangat cepat, sampai aku sendiri kesulitan mengatur nafasku. Seolah aku tidak bisa mengendalikan tanganku sendiri, tiba-tiba aku meremasnya, dan benar saja tanganku langsung bisa merasakan boba di sana.

Nara langsung menghentikan kecupannya, wajahnya mundur perlahan. Matanya menatap tanganku yang masih berada di dadanya, ia langsung menurunkan tanganku. Aku menelan ludah, gugup.

"Kenapa?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.

"Kita... tidak seharusnya seperti ini, kan?

"Nggak masalah kalau dua orang itu saling menyukai."

Dia menunduk.

"Masalahnya, perempuan yang di hadapanku sekarang, mencintaiku atau nggak?"

Wajahnya terangkat menatapku. "Aku..."

"Katakan saja yang yang sejujurnya, Nara! Apa yang membuatmu selama ini diam? Itu bikin aku bingung. Kamu mau di cium, kamu selalu terlihat bahagia setiap kali bersamaku, tapi kamu nggak pernah sekalipun ngomong jujur soal perasaan kamu.”

Hening.

"Nara," aku meraih tangannya. "Apa salahnya katakan tentang perasaanmu? Apa yang kamu takutkan? Kalaupun kamu tidak pernah mencintaiku, it's okay, gak masalah. Dan aku nggak akan benci, aku tetap akan ada." Desakku.

...***...

POV: Nara

Tiba-tiba dia mendorong kepalaku ke wajahnya membuat bibir kami saling menempel. Dia mengecupku, perlahan. Bibirnya terasa hangat di saat tubuhku merasakan dingin setelah mandi. Aroma soda yang ia tenggak tadi masih terasa, rasa manisnya masih menempel. Tunggu—aku baru sadar jika aku belum minum apapun sehabis makan siomay tadi. Jangan-jangan?

Argh... aku tidak peduli jika memang mulutku rasa siomay. Entah sejak kapan, aku terlalu tenggelam dalam kecupan ini, terlalu nyaman untuk buru-buru menjauh. Jujur saja rasanya berbeda. Sangat berbeda dari yang selama ini kurasakan bersama Devandra.

Leon selalu bergerak pelan, seolah takut membuatku tidak nyaman. Bahkan saat keadaan mulai terlalu dekat, ia masih bisa berhenti hanya karena aku meminta. Tidak pernah memaksa, tidak pernah membuatku merasa harus menahan napas. Sedangkan bersama Devandra, semuanya terasa seperti sesuatu yang harus kuikuti. Selalu tentang apa yang ia mau, apa yang ia rasa, apa yang ia inginkan.

Kadang aku sampai lupa seperti apa rasanya diperlakukan dengan lembut. Dan itu yang paling membuatku takut. Karena semakin lama bersama Leon, semakin aku sadar mungkin selama ini aku terlalu terbiasa bertahan di tempat yang salah.

Aku tahu ini salah, tidak seharusnya aku melakukan ini, apalagi posisiku saat ini adalah istri orang. Tidak, tidak! Aku benci menyebut diriku sendiri sebagai istri, lagipula aku tidak pernah menginginkannya.

Jadi, apakah yang kulakukan ini salah?

Di tengah kecupan itu, tiba-tiba aku merasakan dadaku diremas, reflek aku menghentikan aktivitasnya. Lalu dia menanyakan tentang perasaanku padanya. Leon benar, aku tidak pernah mengungkapkan apapun padanya, tentang apa yang kurasakan selema ini.

Andai saja semudah itu. Bahkan sampai sekarang aku masih tidak benar-benar tahu, apakah rasa nyaman ini bisa disebut cinta? Atau aku hanya terlalu lelah hingga tanpa sadar mencari tempat untuk bernafas? Aku takut, takut jika ternyata aku keliru. Takut kalau semua yang kurasakan ini bukan benar-benar cinta, melainkan sekadar rasa nyaman sesaat karena hubunganku dengan Devandra sedang tidak baik-baik saja.

Bagaimana jika aku hanya sedang mencari pelarian? Aku tidak ingin menyakiti Leon lagi.

Dia terlalu baik untuk dijadikan tempat persinggahan dari kekacauan hidupku sendiri.

"Nara," suaranya mengagetkan lamunanku.

"Leon... aku mencintaimu tapi, kita nggak mungkin bersama kan." Sial, kenapa aku malah mengatakan itu?

"Kenapa nggak bisa? Karna kamu udah menikah dengan Dev?"

Aku mengangguk.

Dia tertawa kecil, "itu bukan pernikahan yang kamu pilih."

Mataku terbelalak, kenapa dia berkata seperti itu?

"Aku tahu dia memaksamu."

"Leon... aku—"

Jemarinya terangkat menyentuh bibirku, menghentikan ku. "Aku tidak peduli apapun, tidak peduli dengan perasaan Devandra, dan tidak peduli kamu istrinya atau bukan! Aku hanya mencintaimu, Nara!"

Tangannya menyentuh wajahku. "Dan aku tahu kamu juga mencintaiku, kamu nggak bisa menutupinya."

Aku diam membisu, tidak tahu harus berkata apa. Hingga dia mencoba mengetesku dengan,

"Nara, aku bakal cium kamu sekali lagi. Kalau kamu nggak nolak, aku anggap itu jawaban, kalau kamu juga mau kita jadi lebih dari sekadar sahabat.”

Wajahnya mulai mendekat perlahan, detak jantungku kini tidak beraturan. Nafasnya mulai bisa kurasakan, aku memejamkan mataku dan bibirnya kini menyentuh bibirku lagi.

Aku menyerah, kali ini.

Mungkin memang benar, aku mencintainya. Dia mendekap tubuhku erat. Ciuman kami semakin intens, semakin dalam. Kami tenggelam dalam suasana, dan malam ini menjadi awal sebuah hubungan yang tidak seharusnya ada.

Apa salahnya mencoba? Mungkin aku hanya perlu memberi diriku waktu. Menimbang setiap rasa nyaman, setiap ketenangan yang hadir saat bersama seseorang. Bukankah rumah bukan sekadar tempat untuk tinggal, tapi tempat yang membuatmu ingin pulang? Jadi siapa yang paling mampu membangun rasa aman itu, mungkin di sanalah akhirnya aku akan memilih untuk menetap.

Siapa sangka malam yang kupikir akan menjadi awal dari sesuatu yang membahagiakan, justru berubah menjadi awal sebuah musibah. Semua terasa begitu baik beberapa menit yang lalu, sampai aku lupa bahwa ketenangan dalam hidupku tidak pernah bertahan lama.

Brak!

Pintu terbuka kasar hingga nyaris terlepas dari engselnya.

“Sialan!” Suara itu menggelegar seperti petir di tengah malam. Seketika tubuhku membeku.

Wajah yang berdiri di ambang pintu itu, berubah menjadi sesuatu yang terlalu kukenal. Bukan Devandra yang biasa, melainkan monster yang selalu kutakuti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!