NovelToon NovelToon
Return Apocalypse Zombie

Return Apocalypse Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Hari Kiamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alu feed

Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.

dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASTER PISAU TERBANG PELEDAK

Rian mengingat hari itu dengan sangat jelas.

Tanggal 3 Juni.

Hari ketika para zombie mengalami evolusi pertama mereka.

Di dahi setiap zombie kini tertanam sebuah kristal berwarna abu-abu. Kristal itu bukan sekadar benda aneh yang muncul setelah mutasi. Di masa depan, kristal tersebut akan menjadi mata uang utama untuk bertransaksi dengan para pedagang misterius yang tersebar di berbagai zona aman.

Pada tahap awal kiamat, setiap kristal memiliki nilai yang sangat tinggi.

Di tengah cuaca musim panas yang aneh, hujan masih turun tanpa henti membasahi kota yang telah berubah menjadi neraka.

Di atas rooftop rumah, Rian berdiri sambil menatap lautan zombie yang memenuhi jalanan di bawah.

"Rian, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan."

Ridho melangkah mendekat.

"Kau ingin menggunakan skill Master Pisau untuk membersihkan mereka."

Ia menggeleng pelan.

"Masalahnya, kemampuan milikku tidak cocok digunakan dalam situasi seperti ini."

Rian menoleh.

Ridho melanjutkan.

"Ledakan dari pisaunya memang kuat, tapi suara yang dihasilkan juga besar. Kalau aku mulai meledakkan mereka satu per satu, seluruh zombie di sekitar sini pasti akan berdatangan."

"Dan saat itu terjadi, kita semua yang ada di rumah ini akan berada dalam bahaya."

Rian tersenyum tipis.

"Kalau begitu, kenapa harus menyerang dari atas?"

"Hah?"

Ridho mengernyit.

Rian menunjuk ke bawah.

"Kalau bisa langsung turun ke tengah mereka."

Senyumnya semakin lebar.

Di mata orang lain, itu adalah lautan monster.

Namun di mata Rian, itu adalah lautan kristal.

Dan kristal berarti kekuatan.

Kristal berarti sumber daya.

Kristal berarti kesempatan.

Budi yang berdiri di sampingnya langsung memahami maksud tersebut.

Aura merah menyala perlahan muncul di tubuhnya.

"Jadi itu rencanamu."

Budi menyeringai.

"Aku suka."

Tanpa menunggu lebih lama, Budi dan Rian melompat dari rooftop.

"HEI!"

"RIAN!"

Rahma dan yang lainnya langsung terkejut.

Dua sosok itu jatuh tepat di tengah kerumunan zombie.

BRAKK!

Tanah bergetar saat mereka mendarat.

Para zombie yang berada di sekitar langsung berbalik dan menyerbu.

Namun yang terjadi berikutnya benar-benar di luar dugaan.

BOOM!

Seekor zombie terlempar hingga menghantam tembok.

BRAKK!

Zombie lain kehilangan kepalanya akibat pukulan Budi.

Aura hijau kehitaman menyelimuti tubuh Rian saat ia bergerak seperti bayangan.

Setiap kali ia melintas, satu atau dua zombie langsung roboh ke tanah.

Ridho yang menyaksikan dari atas menggertakkan giginya.

Perasaan tidak berdaya kembali muncul.

Sejak awal kiamat dimulai, adiknya selalu berada di garis depan.

Sementara dirinya hanya bisa menyaksikan dari belakang.

Tangannya perlahan mengepal.

Lalu ia mengeluarkan dua pisau dari penyimpanan sistem.

Satu pisau biasa.

Satu lagi pisau es yang diberikan Rian.

Ridho menarik napas panjang.

"Kalau begitu..."

"Aku juga akan bertarung."

SWOOSH!

Pisau pertama melesat turun.

Menancap tepat di tubuh seekor zombie yang hendak menyerang Rian.

BOOM!

Ledakan keras langsung menghancurkan tubuh zombie tersebut.

Rian menoleh ke atas.

Tatapannya bertemu dengan Ridho.

Kakaknya itu hanya mengangkat jempol.

Rian tersenyum kecil.

Tak lama kemudian, pisau es juga ikut dilemparkan.

BOOM!

Ledakan kedua terjadi.

Namun kali ini sesuatu yang aneh terjadi.

Pisau es itu tidak hancur.

Pisau tersebut kembali melayang dan jatuh ke tangan Ridho.

Ridho membelalakkan mata.

"Masih utuh?"

Ia menatap pisau itu dengan tidak percaya.

Biasanya setiap pisau yang digunakan untuk meledak akan langsung hancur.

Tetapi senjata pemberian Rian tetap bertahan.

Artinya kualitasnya jauh berada di atas senjata biasa.

Senyuman perlahan muncul di wajah Ridho.

"Kalau begitu..."

"Aku bisa terus menggunakannya."

BOOM!

BOOM!

BOOM!

Ledakan demi ledakan mulai menggema.

Puluhan menit kemudian.

Jalanan yang sebelumnya dipenuhi zombie kini berubah menjadi medan penuh mayat.

Pertarungan akhirnya berakhir.

Rian melambaikan tangannya ke arah rooftop.

"Semuanya turun saja! Sudah aman!"

Mereka pun segera turun.

Di depan rumah.

Budi kembali ke wujud manusianya.

"Kak Ridho."

Budi menepuk bahunya.

"Ledakanmu lumayan keren tadi."

Ridho tertawa kecil.

"Setidaknya aku tidak cuma jadi penonton."

Rahma yang sedang memunguti kristal di jalan ikut tersenyum.

"Benar juga."

"Untuk pertama kalinya kau terlihat berguna."

"Hei!" protes Ridho.

Indah yang berada di dekat mereka tiba-tiba menahan tangan Rahma.

"Tunggu dulu."

"Kita belum tahu apakah kristal ini aman disentuh atau tidak."

Rahma langsung menghentikan gerakannya.

Rian mengangguk.

"Indah benar."

"Kalian boleh mengambil kristal abu-abu."

"Tapi jangan pernah menyentuh kristal yang bagian dalamnya berwarna merah."

Semuanya langsung menoleh.

"Itu kristal meteor."

"Dan benda itu bisa mengubah manusia menjadi zombie."

Mendengar penjelasan tersebut, semua orang menjadi lebih berhati-hati.

Mereka hanya mengambil kristal yang aman dan sengaja meninggalkan kristal merah di tempatnya.

Namun tiba-tiba...

Rian mengangkat telunjuknya.

Memberi isyarat agar semua orang diam.

Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Tap...

Tap...

Tap...

Langkah kaki itu semakin mendekat.

Wajah Rian langsung berubah serius.

"Semuanya."

"Pegang aku sekarang."

Tidak ada yang bertanya.

Mereka langsung memegang pundak dan lengan Rian.

WHOOSH!

Dalam satu gerakan, Rian melompat ke atap gedung di seberang jalan.

Mereka bersembunyi di balik sebuah toren air besar.

Beberapa detik kemudian.

Sekelompok orang muncul di jalan.

Jumlah mereka sekitar lima belas orang.

Mereka mengenakan hoodie hitam dengan lambang ular hitam di bagian punggung.

"Aku tidak salah dengar."

"Sumber ledakannya memang dari sini."

Salah satu dari mereka berbicara.

Kemudian matanya menemukan sesuatu.

Kristal.

Banyak kristal berserakan di jalan.

Mata seluruh kelompok langsung berbinar.

"Hahaha!"

"Jackpot!"

"Mereka pasti kabur sebelum sempat mengambil semuanya!"

Tanpa curiga, mereka mulai memunguti kristal-kristal yang tersisa.

Termasuk kristal meteor berwarna merah.

Di atas gedung.

Budi mengintip dari balik toren.

"Apa kita perlu menghentikan mereka?"

Rian menatap kelompok itu tanpa ekspresi.

Satu per satu kristal merah masuk ke dalam tas mereka.

Lalu Rian menggeleng pelan.

"Tidak perlu."

"Mereka baru saja mengambil hukuman mati mereka sendiri."

Angin dingin berembus pelan.

Sementara itu, kelompok berlogo ular hitam masih tersenyum puas.

Mereka sama sekali tidak menyadari bencana yang sedang mereka bawa pulang.

1
Yofu
pendek banget babnya
Alu feed: tapi bagusan di panjangin apa nggak kak , kasih aku saran 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!