NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Sempurna

Tujuh dentuman lonceng perunggu bergema berturut-turut di seluruh penjuru Gunung Qingyun, menyapu lautan awan yang mengelilingi puncak sekte. Di Sekte Pedang Awan Mengalir, tujuh dentuman adalah nada duka dan peringatan darurat. Itu menandakan adanya kematian murid elit dalam jumlah besar dan ancaman bahaya dari luar.

Di Alun-Alun Awan Tembaga, suasana terasa sangat mencekam. Ratusan murid sekte luar berbaris dalam keheningan yang menakutkan. Di tengah alun-alun, terbaring lima mayat murid luar yang telah mengering bagai mumi—korban dari panah darah Xue Sha—yang berhasil dibawa pulang dengan susah payah. Di samping mereka, belasan murid lainnya duduk bersila dengan wajah pucat pasi, masih mencoba menstabilkan luka dalam mereka.

Namun, pemandangan paling menyedihkan ada di sudut pelataran. Wang Hao, pemuda yang beberapa hari lalu masih melenggang sombong layaknya penguasa kecil, kini terbaring tak berdaya di atas tandu kayu darurat. Dantian-nya telah hancur menjadi bubuk, tulang rusuknya remuk, dan matanya menatap kosong ke langit kelabu. Ia masih hidup, tapi jiwanya telah mati.

Berdiri di undakan panggung batu, memancarkan aura tekanan yang membuat udara terasa membeku, adalah Tetua Penegak Hukum Lu, seorang kultivator Alam Pembentukan Fondasi Awal. Matanya yang tajam bagai elang menyapu sisa-sisa rombongan ekspedisi.

"Kultivator Iblis Alam Pengumpulan Qi Tingkat Kedelapan," suara Tetua Lu bergemuruh, mengandung amarah yang tertahan. "Dan dia berani memburu murid-murid di wilayah pinggiran kita. Su Yue, ceritakan kembali dengan tepat apa yang terjadi!"

Su Yue melangkah maju. Gaun putihnya ternoda darah kering, dan wajahnya masih memancarkan kepucatan akibat luka dalam, namun posturnya tetap tegak dan dingin. Ia menangkupkan kedua tangannya memberi hormat.

"Melapor kepada Tetua Lu. Kami disergap oleh kabut darah beracun. Musuh menyebut dirinya Tetua Xue Sha. Kultivasinya terlalu tinggi, barisan kami hancur dalam satu tarikan napas," Su Yue memulai laporannya dengan nada datar yang tenang, seolah ia menceritakan kejadian yang menimpa orang lain.

"Ketika dia hendak menangkap saya untuk dijadikan tungku kultivasinya, saya tidak punya pilihan lain. Saya memicu Jimat Teratai Es Penghancur Jiwa yang diberikan oleh Guru secara diam-diam. Kultivator iblis itu terlalu meremehkan saya dan tidak membangkitkan perisai Qi-nya sepenuhnya. Jimat itu meledak dalam jarak dekat, membekukan darah dan meridiannya seketika, sebelum akhirnya menghancurkan tubuhnya menjadi debu es."

Keheningan melanda alun-alun. Mata para murid melebar penuh rasa takjub. Membunuh kultivator Tingkat Kedelapan, meskipun menggunakan jimat, membutuhkan perhitungan waktu dan mental yang luar biasa.

Tetua Lu mengerutkan kening, mencoba mencari kejanggalan. Ia melompat turun dari panggung dan berjalan mengitari Su Yue. Auranya yang berat menekan Su Yue, mencoba melacak fluktuasi kebohongan.

Di barisan belakang para pelayan fana, Lin Ye sedang berlutut menundukkan kepala, tubuhnya bergetar pelan menirukan pelayan yang ketakutan. Namun, di balik jubah lusuhnya, pendengarannya menajam. Ia memantau detak jantung Su Yue.

Gadis ini sangat luar biasa, batin Lin Ye dengan sedikit kekaguman. Detak jantung Su Yue bahkan tidak melompat setengah ketukan pun. Dia berbohong di hadapan kultivator Pembentukan Fondasi dengan ketenangan mutlak.

Tentu saja Su Yue tenang. Di dalam benaknya, ia tidak merasa berbohong demi kejahatan; ia sedang melindungi seorang "Senior Tertinggi" yang sedang mengasingkan diri. Baginya, ini adalah tugas suci.

"Debu es..." gumam Tetua Lu. Ia menoleh ke arah murid-murid lain yang selamat. "Apakah ada di antara kalian yang melihat langsung kejadian tersebut?"

Para murid yang terluka saling pandang, lalu menggeleng pelan. "Kami... kami terlempar oleh bentrokan energi, Tetua. Saat kami sadar, musuh sudah tidak ada, dan udara dipenuhi oleh kabut es yang sangat pekat," jawab salah satu murid senior.

Penjelasan itu sangat masuk akal. Su Yue adalah murid kesayangan dari Tetua Puncak Es di sekte dalam. Wajar jika ia dibekali jimat penyelamat nyawa tingkat tinggi. Dan dampak ledakan es sangat sesuai dengan unsur kultivasi Su Yue.

"Baiklah," Tetua Lu mengangguk, auranya sedikit mereda. "Kau bertindak dengan berani, Su Yue. Membunuh iblis itu telah mencegah malapetaka yang lebih besar. Aku akan melaporkan jasamu kepada Pemimpin Sekte. Sekte akan memberimu hadiah seribu Batu Spiritual dan izin memasuki Paviliun Kitab Lapis Kedua."

"Terima kasih, Tetua," Su Yue membungkuk pelan. Saat ia kembali ke barisannya, sudut matanya melirik sekilas ke arah kerumunan pelayan fana. Ia melihat punggung Lin Ye yang masih bergetar ketakutan. Su Yue diam-diam menarik napas panjang. Akting Senior benar-benar melampaui batas surgawi. Dia bahkan mengelabui Tetua Lu seolah-olah dia benar-benar sampah tanpa meridian.

Tiba-tiba, sebuah jeritan marah memecah suasana.

"Tidak mungkin! Ini pasti persekongkolan licik!"

Seorang pria paruh baya berjubah hitam berlari menerobos kerumunan menuju tandu tempat Wang Hao terbaring. Dia adalah Diaken Wang, paman dari Wang Hao. Wajah pria itu berkerut menahan amarah dan duka saat ia meraba perut keponakannya.

"Dantian-nya hancur total! Meridiannya putus! Keponakanku, satu-satunya harapan keluarga Wang, telah menjadi orang cacat!" Diaken Wang menoleh dengan mata merah menyala ke arah Su Yue. "Su Yue! Kau adalah pemimpin ekspedisi! Bagaimana bisa kau membiarkan seekor babi hutan tingkat rendah menghancurkan keponakanku sementara kau selamat?!"

Udara seketika menjadi dingin. Su Yue menatap Diaken Wang dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.

"Jaga bicaramu, Diaken Wang," ucap Su Yue dingin. "Keponakanmu mencoba menggunakan seorang pelayan fana sebagai tameng daging karena kepengecutannya sendiri. Sayangnya, monster itu tersandung bebatuan dan mengubah arah serangannya tanpa disangka. Itu adalah karmanya sendiri karena panik dan memecah barisan. Jika dia tetap berada di posisinya, dia hanya akan menderita luka ringan."

"Kau—!" Diaken Wang menunjuk Su Yue dengan jari gemetar, berniat melampiaskan amarahnya.

"Cukup!" bentak Tetua Lu. Hawa kultivasi Pembentukan Fondasinya meledak, menekan Diaken Wang hingga pria itu mundur dua langkah sambil terbatuk. "Kejadian di Hutan Darah Besi sangat kacau. Kematian dan cedera adalah hal lumrah dalam jalur kultivasi. Menyalahkan pemimpin ekspedisi atas kebodohan individu adalah pelanggaran aturan sekte! Bawa keponakanmu pergi. Sekte akan memberikan santunan seratus Pil Darah, tapi dia tidak lagi memiliki kualifikasi sebagai murid resmi."

Kalimat itu adalah hukuman mati di mata dunia persilatan. Wang Hao, yang mendengar putusan itu dari atas tandunya, tiba-tiba memuntahkan seteguk darah hitam. Matanya membelalak menatap langit, lalu kesadarannya tenggelam dalam kegelapan. Ia telah diusir. Dari naga yang arogan, ia kini resmi menjadi serangga yang bahkan lebih rendah dari pelayan fana.

Di balik kerumunan pelayan, Lin Ye menyembunyikan senyum tipisnya. Pembalasan dendam pertamanya telah tuntas dan bersih tanpa meninggalkan noda sedikit pun di tangannya.

Malam harinya, di dalam gubuk kayu yang reyot.

Lin Ye duduk bersila di atas ranjang jeraminya. Jendela gubuknya tertutup rapat. Ia telah melepaskan penyamarannya. Hawa panas yang sangat kental dan murni menguar dari tubuhnya, membuat udara di dalam gubuk terasa seperti di dalam tungku pembakaran.

Kulit Lin Ye memancarkan kilau perunggu yang sangat solid. Jika seseorang memukul dadanya dengan palu besi seberat seratus kati, palu itu akan memantul dan melukai tangan pemukulnya.

Di dalam Dantian-nya, Kuali Penelan Bintang telah berubah. Kuali yang tadinya berkarat hijau kusam kini terlihat lebih bersih. Pola-pola purba yang menyerupai pusaran bintang dan binatang buas yang sedang mengaum mulai terlihat samar di permukaan perunggunya.

Esensi kehidupan dari Xue Sha—seorang kultivator Tingkat Kedelapan yang telah membakar darah aslinya—amatlah berlimpah. Kuali itu telah menggiling racun darah dan kebencian iblis Xue Sha, mengubahnya menjadi tetesan cairan emas energi fisik yang kini mengalir di pembuluh darah Lin Ye.

"Puncak Alam Pengumpulan Qi Tingkat Ketujuh," gumam Lin Ye, membuka matanya yang memancarkan cahaya setajam pedang. "Kekuatan fisikku kini setara dengan sepuluh ribu kati. Otot, tulang, dan organ dalamku telah ditempa layaknya senjata spiritual tingkat menengah."

Namun, Lin Ye tidak berpuas diri. Ia merasakan sebuah penghalang besar di depannya.

"Tingkat Kedelapan adalah batas perubahan wujud Qi bagi kultivator biasa," batin Lin Ye menakar kekuatannya. "Bagi praktisi Bina Tubuh sepertiku, Tingkat Kedelapan berarti 'Transformasi Darah'. Aku membutuhkan energi yang sepuluh kali lipat lebih besar dari tubuh Xue Sha untuk membersihkan darah fanaku sepenuhnya."

Dari mana ia bisa mendapatkan energi sebesar itu? Pil limbah tingkat rendah di Paviliun Alkimia sudah tidak berguna baginya, ibarat memberi makan gajah dengan sebutir beras. Hutan Darah Besi wilayah pinggiran juga tidak lagi menyimpan ancaman yang memadai.

Tiba-tiba, suara langkah kaki ringan terdengar di luar gubuk, disusul dengan ketukan pelan di pintu.

Lin Ye seketika menekan auranya. Hanya dalam hitungan detik, kulit perunggunya memudar menjadi pucat, hawa panasnya lenyap, dan Dantian-nya kembali tampak kosong melompong. Ia kembali menjadi pelayan fana yang lemah.

Ia berjalan tertatih dan membuka pintu.

Berdiri di balik pintu, tersembunyi dalam jubah hitam besar yang menutupi wajah cantiknya, adalah Su Yue.

Melihat "pelayan" yang membuka pintu, Su Yue langsung membungkuk hormat hingga hampir rata dengan tanah, sangat berhati-hati agar auranya tidak bocor keluar gubuk.

"Junior datang untuk menghadap Senior," bisik Su Yue dengan nada penuh hormat yang akan membuat seluruh murid pria di sekte luar gila karena cemburu jika melihatnya.

Lin Ye menatapnya dengan wajah datar. Ia sengaja memancarkan sedikit, hanya setipis benang laba-laba, aura kuno dari Kuali Bintang ke udara.

Su Yue berjengit pelan merasakan tekanan purba itu. Ia semakin yakin bahwa pria di depannya ini adalah monster tua yang sedang bermain-main dengan dunia fana.

"Masuk," ucap Lin Ye dengan nada seraknya yang diubah menjadi dalam dan berat.

Setelah Su Yue masuk dan menutup pintu dengan hati-hati, ia mengeluarkan sebuah kantong sutra berhiaskan benang emas dari balik jubahnya.

"Junior bermaksud memberikan laporan, dan membawakan sedikit persembahan. Tetua Penegak Hukum telah percaya sepenuhnya pada cerita yang kita... yang Junior karang. Tidak ada yang mencurigai keberadaan Senior di sini," lapor Su Yue. Ia lalu menyerahkan kantong sutra itu. "Ini adalah seribu Batu Spiritual tingkat rendah dari hadiah sekte. Junior tidak berani menerima hadiah yang bukan milik Junior."

Lin Ye melirik kantong itu. Batu Spiritual tingkat rendah. Bagi kultivator luar, itu adalah kekayaan yang bisa digunakan untuk membeli senjata atau pil bermutu. Tapi bagi Kuali Penelan Bintang, batu spiritual biasa terasa sangat hambar karena terlalu mudah menguap dan kurang mengandung keliaran hukum alam.

Meski begitu, ia tidak menolaknya. Harta tetaplah harta di dunia fana. Ia mengambil kantong itu dengan satu tangan tanpa ekspresi.

"Kau cerdas. Tidak heran kau bisa mencapai Tingkat Keenam di usia muda," ucap Lin Ye dingin. "Namun, aku tidak membutuhkan batu-batu remeh ini. Katakan padaku, apa yang terjadi di sekte bulan depan? Aku merasakan gejolak formasi besar sedang disiapkan di puncak utama."

Su Yue terkesiap. Senior benar-benar maha tahu! Formasi itu bahkan belum diumumkan secara resmi ke sekte luar!

"Senior memiliki persepsi surgawi," puji Su Yue tulus. "Benar, Senior. Menyusul kematian Xue Sha, sekte menyadari bahwa Pegunungan Seratus Ribu Binatang Iblis sedang bergolak. Oleh karena itu, Pemimpin Sekte memutuskan untuk mempercepat pembukaan Makam Pedang Awan Jatuh bulan depan."

Mata Lin Ye sedikit menyipit. Makam Pedang Awan Jatuh. Ia pernah mendengarnya dari gosip para pelayan. Itu adalah sebuah Ranah Rahasia yang ditinggalkan oleh leluhur sekte, dipenuhi oleh senjata kuno, tanaman herbal berusia ratusan tahun, dan binatang iblis yang telah bermutasi menjadi buas.

"Hanya seratus murid luar terbaik dari Turnamen Besar minggu depan yang diizinkan masuk untuk mencari peluang. Junior juga akan berpartisipasi," lanjut Su Yue. Ia menunduk ragu, lalu menambahkan, "Jika... jika Senior membutuhkan sesuatu dari dalam Makam Pedang, Junior bersedia menjadi pelayan Senior untuk mencarikannya."

Lin Ye terdiam sejenak. Pikirannya berputar tajam layaknya pedang yang diasah.

Ranah Rahasia. Tanaman herbal kuno. Binatang iblis ganjil tingkat tinggi. Itu adalah meja perjamuan raksasa yang sangat ia butuhkan untuk menembus Tingkat Kedelapan, dan mungkin Tingkat Kesembilan!

Masalahnya, sebagai pelayan fana, ia tidak mungkin bisa masuk. Formasi pintu masuk pasti dijaga oleh para Tetua. Ia tidak bisa menyelundup masuk. Ia butuh identitas yang sah, atau...

Lin Ye menatap Su Yue. Sebuah rencana licik namun sangat berbahaya terbentuk di kepalanya.

"Turnamen Besar..." gumam Lin Ye perlahan. "Aku tidak tertarik dengan barang rongsokan di makam itu. Namun, bermain-main di dalam Ranah Rahasia mungkin bisa menghilangkan kebosananku selama masa keterikatan fana ini."

Lin Ye melangkah maju mendekati Su Yue, menatap wanita dingin itu dengan intimidasi mutlak.

"Su Yue, persiapkan dirimu. Bulan depan, kau tidak akan masuk ke Makam Pedang sendirian. Kau akan membawaku bersamamu."

1
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
Aman Wijaya
memendam amarah pada Wang Hao
Aman Wijaya
kasian Lin ye yang di seret
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!