Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sania melangkah maju sedikit, matanya menyapu sekeliling tempat parkir itu dengan cemas. Ia berjalan ke sana ke mari, memastikan benar-benar tidak ada kendaraan milik ayah dan ibunya. Hati Sania seketika mencelos ke dasar bumi. Ia sadar betul apa artinya ini.
Ayahnya, Pak Joko, dan ibunya, Bu Ratna , pasti sudah pulang duluan. Setelah kejadian memalukan di dalam sana, setelah Bu Ratna dipermalukan, dan mungkin setelah pertengkaran hebat yang terjadi di luar sana yang tidak mereka ketahui Pak Joko pasti sudah tidak sanggup lagi tinggal di tempat itu semenit pun, dan langsung membawa ibunya pergi meninggalkan Sania dan yang lainnya.
Wajah Sania berubah semakin pucat pasi. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu menatap Bapak Pratama dengan tatapan takut dan gugup.
"Apa?!" seru Bapak Pratama kaget sekaligus marah. "Pulang duluan?! Masa sih?! Terus kau mau pulang naik apa?! Mereka tega sekali meninggalkanmu di sini dalam situasi seperti ini?! Dasar keluarga aneh! Semuanya aneh dan tidak tahu aturan!"
Ibu Pratama langsung mendengus kasar, wajahnya penuh rasa tidak suka dan ketidaksabaran. Ia melirik tajam ke arah Sania seolah gadis itu adalah beban berat yang kini harus mereka pikul.
"Sudah diduga! Sudah diduga dari dulu! Keluarga macam apa itu?! Kalau senang saja diambil, kalau susah langsung ditinggalkan! Dasar keluarga tidak punya rasa tanggung jawab! Cepatlah masuk ke mobil kita! Kita tidak bisa berdiri di sini selamanya, jadi bahan tontonan lagi!" perintah Ibu Pratama dengan nada ketus.
Tanpa banyak bicara lagi, Bapak Pratama membuka pintu mobil sedan hitam milik keluarga mereka yang terparkir di sebelahnya. Ia masuk ke kursi pengemudi dengan wajah masam. Ibu Pratama masuk duduk di sebelahnya di kursi depan. Sementara itu, mau tak mau Yogie dan Sania harus masuk ke kursi belakang yang luas namun kini terasa begitu sempit dan penuh ketegangan.
Begitu pintu belakang tertutup rapat dan suara mesin mobil menderu halus, suasana di dalam kendaraan mewah itu seketika berubah menjadi ruang tertutup yang penuh dengan gas amarah, rasa malu, kekecewaan, dan kepahitan yang siap meledak kapan saja. Tidak ada suara musik, tidak ada percakapan ringan, hanya ada napas berat dan tekanan udara yang terasa menyesakkan dada.
Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan area parkir, bergerak menjauhi gedung megah itu yang kini terlihat semakin kecil di balik kaca jendela. Namun, di dalam mobil, badai besar sedang bersiap meledak.
Orang pertama yang membuka suara dan memecah keheningan yang menegangkan itu adalah Ibu Pratama. Wanita itu memutar tubuhnya sedikit ke belakang, menatap tajam ke arah Yogie dan Sania bergantian, matanya menyala penuh api kemarahan yang sudah lama ditahannya.
" kenapa semua ini jadi berantakan , Kita harusnya bisa berkumpul dengan partai bisnis sukses di dalam , tapi nyatanya kita dipermalukan di dalam ." geram Bu Pratama .
Yogie hanya diam menundukkan wajah dalam-dalam, kedua tangannya mencengkeram lututnya sendiri dengan kuat hingga buku jarinya memutih. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah ibunya. Mulutnya terasa terkunci mati. Apa yang harus ia jelaskan? Bahwa ia bodoh? Bahwa ia buta? Bahwa ia terlalu percaya pada kata-kata manis Sania dan ibunya? Bahwa ia telah membuang berlian demi kaca yang berkilau palsu? Semua itu terlalu menyakitkan dan terlalu memalukan untuk diucapkan.
Melihat anaknya diam saja, Ibu Pratama semakin geram. Ia berbalik menatap tajam ke arah Sania yang duduk di pojok kursi, berusaha menjauh.
"Kau, Sania! Kau yang Ibu tanya! Dulu kau yang selalu datang ke rumah, selalu cerita kalau Salwa itu gadis tidak berguna, kalau Salwa itu gadis pembawa sial, kalau Salwa itu gadis yang jahat dan tidak tahu diri! Kau bilang kau yang disakiti, kau bilang kau yang menderita! Tapi apa kenyataannya sekarang, hah?!"
Ibu Pratama berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk menahan emosinya yang meluap, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin tajam dan penuh penghakiman.
"Kenyataannya ternyata kaulah, ibumu, dan ayahmulah yang jahat! Kaulah yang serakah! Kaulah yang merebut apa yang bukan hakmu! Kaulah yang memutarbalikkan fakta! Dan sekarang lihat akibatnya! Nama kami, nama suamiku, nama anakku, nama keluarga Pratama yang sudah kami jaga bersih bertahun-tahun... kotor seketika gara-gara ulah kalian! Gara-gara ulahmu!"
Sania mengangkat wajahnya perlahan, matanya sudah berkaca-kaca namun bukan karena rasa bersalah, melainkan karena amarah yang tersulut. Ia tidak terima disalahkan sendirian. Ia tidak terima dituduh sebagai satu-satunya penyebab bencana ini. Baginya, semua ini terjadi karena Salwa, karena keberuntungan Salwa, karena kejahatan takdir, bukan karena kesalahannya.
"Bu... Ibu bicara apa sih?!" bantah Sania dengan suara bergetar tinggi, air matanya mulai menetes namun dengan cepat ia hapus kasar. "Apa salah saya?! Apa kesalahan saya?! Saya tidak tahu apa-apa! Saya tidak tahu kalau Salwa ternyata anak kandung Pak Ardiansyah! Siapa yang menyangka?! Siapa yang mengira gadis miskin, kotor, dan tidak punya apa-apa itu ternyata anak orang kaya raya?! Itu bukan salah saya! Itu murni kebetulan! Dan lagian... Mas Yogie juga mau-mau saja mendengarkan saya! Mas Yogie juga punya mata dan telinga sendiri! Kalau memang dia tidak mau, saya tidak akan bisa apa-apa!"
Sania langsung melemparkan kesalahan itu kembali ke pundak Yogie, berusaha melindungi dirinya sendiri sekuat tenaga. Ia merasa kalau saja Yogie tidak jatuh hati padanya, kalau saja Yogie tidak mudah percaya, semua tidak akan terjadi.
Mendengar itu, Yogie yang sedari tadi diam langsung mendongak, menatap Sania dengan pandangan benci dan kekecewaan yang mendalam.
"Kau berani bilang begitu, Sania?!" seru Yogie dengan suara parau karena marah. Matanya menatap tajam wanita yang beberapa jam lalu masih ia puja-puja itu. "Kau berani bilang bukan salahmu?! Kau lupa apa yang kau lakukan dulu?! Kau lupa bagaimana caramu mendekatiku saat aku masih suami Salwa?! Kau lupa bagaimana kau selalu datang, selalu menangis, selalu mengadu bahwa Salwa jahat padamu, bahwa Salwa sombong, bahwa Salwa menghina keluargaku?! Kau lupa betapa manisnya bicaramu, betapa indahnya janji-janjimu?! Kau racuni pikiranku hari demi hari, Sania! Kau buat aku benci padanya! Kau buat aku merasa dia musuhku! Dan sekarang kau berani bilang aku yang salah karena mendengarkanmu?!"
Yogie menarik napas panjang, merasa dadanya sesak luar biasa. Ia tertawa kecil, tawa yang kering, dingin, dan penuh kepahitan.
"Aku memang bodoh... aku akui aku bodoh sekali. Aku terlalu percaya padamu, aku terlalu buta melihat sifat aslimu. Aku kira kau gadis baik, gadis lembut, gadis yang tulus mencintaiku. Ternyata... kau sama saja dengan ibumu. Sama-sama licik, sama-sama bermulut manis tapi hati busuk, sama-sama hanya mengejar harta dan kedudukan. Kau tidak pernah mencintaiku, Sania! Kau hanya mencintai siapa aku, apa yang aku punya, dan apa yang bisa kau ambil dariku! Dan sekarang saat semuanya hancur, saat aku kehilangan segalanya... kau malah melempar semua kesalahan kepadaku?!"
bersambung ,,,