NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasukan Kecil Yang Penuh Semangat

Siang itu, matahari bersinar terik menyinari halaman Sekolah Dasar tempat Dika menuntut ilmu. Jam dinding di ruang kelas baru saja berdentang dua belas kali, tanda bahwa jam pelajaran telah usai. Anak-anak satu persatu bergegas membereskan buku dan alat tulis mereka, wajah mereka berseri-seri membayangkan istirahat dan permainan di rumah. Dika pun tidak kalah cepat, ia melipat buku tulisnya dengan rapi, memasukkannya ke dalam tas ransel kecil berwarna biru kesayangannya, lalu berjalan keluar kelas mengikuti arus teman-temannya.

Sesampainya di depan pagar sekolah, Dika tidak langsung pergi. Ia berdiri di tempat yang paling biasa digunakan ibunya untuk menjemput, tepat di bawah pohon mangga tua yang rindang. Matanya yang bening itu menatap lurus ke arah jalan setapak yang menjadi satu-satunya jalan masuk ke sekolah. Ia tahu, sebentar lagi sosok yang paling ia cintai akan muncul dari sana.

Banyak anak lain yang sudah dijemput oleh orang tua mereka. Ada yang diantar ayahnya naik sepeda motor besar, ada yang dibonceng ibunya, ada juga yang berjalan berpegangan tangan dengan kakek atau neneknya. Dika melihat ke sekeliling, sesaat teringat ucapan teman-temannya soal lomba besok, namun pikiran itu ia singkirkan sejenak saat matanya menangkap bayangan yang sangat ia kenal.

Dari kejauhan, terlihat motor matic tua milik ibunya mulai muncul perlahan. Mesinnya terdengar bersahutan, dan saat jarak mereka makin dekat, senyum lebar langsung merekah di wajah Dika. Jantungnya berdebar senang, apalagi saat ia mendengar suara melengking namun penuh kerinduan yang memanggil namanya.

"Kak Dika... Kak Dikaaa!"

Itu suara Naya, adiknya yang baru berumur tiga tahun. Si kecil itu duduk manis di bagian depan motor, tepat di antara kedua lengan ibunya yang memegang setang. Begitu melihat kakaknya berdiri di depan pagar, Naya melambaikan tangan kecilnya sekuat tenaga, mulutnya tak henti memanggil nama kakaknya dengan suara cempreng yang terdengar sampai ke telinga Dika. Wajah mungil Naya berseri-seri, rambutnya yang dikepang dua berkibar terkena angin perjalanan.

Rania pun memperlambat laju motornya hingga berhenti tepat di depan Dika. Ia tersenyum lembut, keringat sedikit membasahi pelipisnya karena terik matahari siang itu, namun tatapannya tetap hangat dan penuh kasih sayang.

"Dika Sudah lama menunggu ya?" sapa Rania lembut sambil membetulkan rambutnya yang kusut, lalu menurunkan Naya dengan hati-hati sebelum membantu Dika menaikkan tasnya ke atas motor.

"Belum kok, Bu. Baru sebentar," jawab Dika riang, lalu ia mengusap kepala adiknya yang langsung berlari memeluk kakinya dengan erat. "Hai, Naya... pintar sekali sudah nunggu Kakak ya."

Naya hanya tertawa renyah, lalu segera naik kembali ke pangkuan ibunya saat diajak, bersiap untuk pulang. Perjalanan pulang terasa singkat dan menyenangkan. Dika duduk di belakang, memeluk pinggang ibunya erat-erat, sementara di depan Naya sesekali bernyanyi lagu anak-anak yang baru saja ia hafal. Bagi Dika, momen duduk dibonceng ibunya sambil ditemani adiknya adalah kebahagiaan paling sederhana namun paling berharga di dunia.

Sesampainya di rumah yang sederhana itu, suasana menjadi tenang. Seperti kebiasaan mereka sehari-hari, setelah selesai mengganti pakaian dan mencuci tangan, Rania menggendong Naya masuk ke kamar. Si kecil biasanya akan tidur siang agar tidak rewel saat sore tiba. Rania berbaring di samping putri bungsunya, mengusap pelan punggung dan rambut halusnya, sambil bersenandung pelan. Tak butuh waktu lama, mata Naya yang berat itu perlahan terpejam, napasnya teratur dan halus, tanda ia sudah terlelap dalam mimpi indah.

Setelah memastikan Naya tidur nyenyak dan tertutup selimut dengan baik, Rania berjalan keluar kamar menuju ruang tengah tempat Dika sedang duduk diam. Ia menyiapkan piring berisi nasi hangat dan lauk masakan dari warung yang sengaja dia simpan tadi siang, lalu meletakkannya di meja kecil.

"Ayo, Nak. Makan dulu ya, biar kuat badannya. Tadi pasti capek belajar dari pagi sampai siang," ucap Rania lembut sambil menuangkan air minum ke dalam gelas.

Dika mengangguk patuh, lalu duduk bersila di depan meja. Ia mulai menyendok nasi ke dalam mulutnya dengan tenang, namun terlihat ada sesuatu yang sedang ia simpan dan ingin ia sampaikan. Rania yang peka melihat perubahan kecil pada raut wajah putranya. Ia tidak bertanya dulu, membiarkan Dika yang mengatakannya sendiri saat sudah siap.

Dan benar saja, setelah beberapa suapan, Dika meletakkan sendoknya pelan. Ia menatap wajah ibunya dengan tatapan polos namun serius.

"Ibu... Dika boleh tanya sesuatu nggak?" tanyanya pelan.

Rania tersenyum, mengusap kepala putranya. "Boleh dong, Nak. Mau tanya apa? Katakan saja sama Ibu."

Dika menarik napas pendek, lalu mulai bercerita. "Tadi di sekolah, Bu Guru bilang kalau besok ada acara Hari Ayah. Akan ada banyak lomba seru, dan semua teman-teman disuruh bawa Ayah mereka masing-masing buat ikut lomba. Tapi... teman-teman ada yang bilang Dika nggak bakal bisa ikut karena Dika nggak punya Ayah..."

Hati Rania seketika terasa disayat sesuatu. Ia diam sejenak, menahan rasa haru yang tiba-tiba menyergap dadanya. Ia tahu, ini adalah hal yang pasti akan datang. Ia tahu, suatu saat anak-anaknya akan bertanya, akan merasakan perbedaan keadaan dengan anak-anak lain. Namun, apa yang Dika ucapkan selanjutnya membuat air mata hampir jatuh dari matanya.

"Tapi Bu Guru bilang, kalau Ayah nggak ada, Dika boleh bawa Ibu saja," lanjut Dika dengan wajah ceria kembali, matanya berbinar penuh semangat. "Jadi... besok Ibu mau kan nemenin Dika ke sekolah? Kita ikut lomba ya Bu? Dika mau banget ikut, biarpun cuma sama Ibu. Bagi Dika, Ibu kan sama hebatnya kayak Ayah, bahkan lebih hebat lagi karena Ibu bisa ngurus Dika dan Naya sendirian."

Mendengar kalimat polos namun begitu dalam itu, Rania merasa dadanya penuh sesak oleh rasa bahagia dan bangga yang luar biasa. Di tengah keterbatasan hidup dan ketiadaan sosok suami yang entah berada di mana atau bahkan masih ada atau tidak di dunia ini, ternyata anaknya tumbuh menjadi anak yang kuat, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Dika tidak merasa kurang, tidak merasa malu, ia tetap ceria dan antusias. Rania menelan ludah, menahan haru agar tidak membuat anaknya sedih. Ia mengangguk mantap, lalu meremas tangan kecil Dika.

"Tentu saja mau, Nak! Ibu pasti ikut. Ibu bakal jadi pendamping setia Dika besok. Kita bakal jadi tim yang paling hebat, ya! Kita tunjukkan sama semua orang kalau Dika dan Ibu itu tim yang paling kompak dan paling semangat," jawab Rania dengan suara bergetar namun tegas.

Malam itu, Rania tidur dengan perasaan campur aduk, namun ia bertekad kuat. Besok, ia akan hadir. Ia akan membuktikan bahwa meski ia seorang ibu tunggal, ia mampu menggantikan dua peran sekaligus demi kebahagiaan anak-anaknya.

Keesokan paginya, sekolah dasar itu tampak sangat ramai dan meriah. Bendera-bendera warna-warni dipasang mengelilingi lapangan utama, suara musik pengiring acara terdengar ceria memenuhi udara, dan ratusan orang memenuhi halaman sekolah. Sebagian besar dari mereka adalah para ayah, berbadan tegap, tampak gagah mengenakan pakaian bebas namun rapi, bersiap untuk mengikuti berbagai perlombaan. Suara tawa, sorakan, dan obrolan akrab terdengar di mana-mana, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.

Di antara lautan kerumunan itu, hanya ada satu sosok yang tampak berbeda namun berdiri tegak penuh percaya diri. Itu Rania. Ia berdiri di samping Dika yang berseragam rapi, dan di sebelahnya ada Naya yang sudah dibangunkan pagi-pagi agar bisa ikut menyaksikan, digendongnya sambil memegang selembar kain merah kecil.

Beberapa orang mungkin memandang sekilas, ada yang berbisik pelan, namun Rania tidak peduli. Ia tersenyum, menggenggam tangan Dika erat-erat.

"Siap ya, Nak? Kita mulai ya!" seru Rania semangat.

Lomba pertama dimulai. Ada lomba balap karung, lomba memasukkan paku ke dalam botol, hingga lomba estafet kelereng. Di setiap perlombaan, pasangan ayah dan anak berlari dengan cepat, kuat, dan lincah. Sementara itu, Rania berusaha sekuat tenaga. Saat lomba balap karung, ia melompat sambil memegang tangan Dika agar anaknya tidak jatuh. Napasnya terengah-engah, keringat membasahi wajahnya, namun ia tidak pernah berhenti tersenyum dan menyemangati putranya.

Hasilnya memang bisa ditebak. Di hadapan kekuatan fisik para ayah yang gagah, tentu saja Rania dan Dika sulit bersaing. Di setiap lomba yang mereka ikuti, mereka selalu berada di urutan paling belakang. Tidak ada satu pun piala, tidak ada hadiah yang mereka bawa pulang. Namun, anehnya... wajah Dika justru terlihat paling bahagia dibandingkan anak-anak lainnya.

Setelah acara selesai dan pengumuman pemenang dibacakan, Dika malah berlari memeluk ibunya dengan sangat erat. Matanya berbinar bangga, bukan karena menang, tapi karena kehadiran ibunya.

"Ibu hebat sekali! Dika bangga banget punya Ibu! Ibu sudah lari kencang sekali tadi, Dika senang sekali," ucap Dika riang, membuat lelah yang terasa di sekujur tubuh Rania seketika lenyap tak berbekas.

Tak kalah seru, si kecil Naya yang sedari tadi digendong atau digandeng, tidak henti-hentinya berteriak memberi semangat. Walaupun kata-katanya masih belepotan, kadang tidak jelas apa yang diucapkannya, atau malah menyemangati peserta lain juga, tapi suara kecil itu menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Rania.

"Horeee... Kak Dika... Ibu... hebaaat!" teriak Naya sambil bertepuk tangan riang, membuat orang-orang di sekitarnya ikut tersenyum terhibur melihat kelucuan si kecil.

Di tengah keramaian saat pembubaran acara, saat Rania sedang mengelap keringat di dahinya dan merapikan pakaian Dika yang sedikit kusut, pandangannya tak sengaja tertuju pada seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Sosok itu berdiri di pinggir lapangan, mengenakan kemeja rapi berwarna biru dongker yang kemarin juga ia pakai. Ia berdiri tegak sambil memegang sebuah buku catatan, tampak sedang mengamati suasana acara. Wajahnya yang ramah dan berwibawa itu... adalah pria yang kemarin singgah di warungnya, orang baru di desa ini yang katanya adalah guru baru di sekolah ini.

Pria itu seolah merasakan ada yang memperhatikannya, lalu menoleh ke arah Rania. Mata mereka kembali bertemu untuk kedua kalinya. Kali ini lebih lama dan lebih jelas dibandingkan pertemuan singkat kemarin di warung makan.

Pria itu melihat Rania yang tampak lelah namun bahagia, berdiri di antara kedua anaknya yang tampak sangat menyayangi ibunya. Ia melihat senyum bangga di wajah wanita itu, senyum seorang ibu yang telah berjuang habis-habisan demi buah hatinya.

Pria itu tersenyum, senyum yang sama ramah dan sopan seperti kemarin, namun kali ini ada rasa hormat yang jauh lebih dalam terpancar dari tatapannya. Ia sedikit menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan yang tulus, mengakui betapa hebatnya perjuangan wanita muda di hadapannya itu.

Rania pun membalas senyuman itu dengan sopan dan malu-malu, lalu ikut sedikit menundukkan kepala. Di dalam hatinya, ia merasa tenang. Ia tidak tahu siapa pria itu sepenuhnya, atau bagaimana takdir akan mempertemukan mereka lagi ke depannya. Namun, untuk saat ini, ia bersyukur. Hari ini ia telah membuktikan sesuatu yang paling penting: bahwa kasih sayang seorang ibu cukup untuk menggantikan segalanya, dan bahwa ia serta kedua anaknya adalah tim yang tak terkalahkan, penuh cinta, dan tak akan terpisahkan oleh apa pun.

1
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Dika kagum sama pak Sandi ya
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Pasti uang hasil jualan Rania di tabung ya
@Me and You Married
Dika ayo semangat kerjakan soal ujian ya supaya naik kelas
@Me and You Married
Rania alhamdulilah warung kamu semakin laris ya beda jauh saat dulu sehari baru buka warung
@Yayang Risa Couple Happy
Dika kamu di beri semangat oleh pak Sandi
@Yayang Risa Couple Happy
Rania pasti punya banyak uang
Ya Ris Tak Terpisahkan
Dika jadi semangat lagi setelah di semangati pak Sandi
Ya Ris Tak Terpisahkan
Enak semua menu buatan Rania pantas laris manis ya
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Kamu hidup enak tanpa memikirkan keluarga yg kamu tinggalkan Bara setidaknya kirim lah uang sedikit untuk keperluan mereka sehari-hari bukan keluarga baru mu saja yg kau perhatikan
@ Yayang Risa Selamanya
Pak Sandi anda di kagumi oleh Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Rania menu makanan kamu lezat dan enak semua
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Pak Sandi menyemangati Dika supaya semangat
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Rania memang ramah dalam melayani pembeli makanya banyak pelanggan
Risa Yayang Cinta Sejati
Dika semangat kerjakan soal karena ingat perjuangan ibunya buat Dika dan Naya
Risa Yayang Cinta Sejati
Menu makanannya tambah lagi dong Rania
@Yayang Suami Ris4
Dika merasa ibunya berjuang buat dia dan Naya pasti dia bakal berusaha kerjakan soal
@Yayang Suami Ris4
Semua menu gorengan di warung Rania enak semua ya
Suamiku Paling Sempurna
Ayo Dika semangat kerjakan soal dengan baik
Suamiku Paling Sempurna
Bakwan, tahu isi, tempe mendoan, pisang goreng semua enak banget ya apalagi di tambah teh panas atau kopi
Yayang Lop3♡ Risa
Dika kamu pasti bisa naik kelas deh semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!