NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Lompatan Kanuragan (Penyelamatan Dramatis)

Tirai hujan yang ditumpahkan dari langit Jakarta malam itu seolah ingin menenggelamkan seluruh kesombongan kota. Air bah dari angkasa menghantam permukaan aspal dengan hantaman yang konstan, menciptakan kabut air tipis yang membatasi jarak pandang manusia. Di atas trotoar beton yang basah dan licin, beberapa ratus meter sebelum bentang jembatan raksasa, Citra melangkah beriringan bersama Kirana. Mereka baru saja menyelesaikan giliran kerja paruh waktu di sebuah toko serba ada dekat perbatasan kampus, berlindung di bawah payung yang tangkainya sudah mulai berkarat.

"Gila, Cit! Hujannya gak nyangka bakal gede banget! Ini kalau kita gak cepetan jalan, bisa-bisa besok kita masuk angin berjamaah," keluh Kirana setengah berteriak, mencoba mengalahkan deru air yang memekakkan telinga sembari merapatkan jaket parasutnya.

Citra tidak menyahut. Langkah kakinya tetap ritmis, tegap, dan mantap tanpa terpengaruh oleh genangan air yang mulai setinggi mata kaki. Namun, tepat saat mereka menginjak undakan pertama bentang jembatan yang melintasi aliran sungai utama, sepasang mata bulat milik Citra mendadak menyipit tajam.

Insting purba Nyai Kencana, indra keenam seorang pengawal ring satu yang telah dilatih selama belasan tahun di bawah tekanan intrik berdarah masa lalu, menangkap sebuah anomali visual di antara remang pencahayaan lampu merkuri jembatan yang sekarat.

Sepuluh depa di depan mereka, di atas pagar pembatas beton sisi luar yang langsung menghadap ke palung arus sungai, berdiri sesosok siluet tubuh pria yang basah kuyup. Pria itu menunduk, melepaskan cengkeraman tangannya, dan membiarkan tubuhnya condong ke depan untuk jatuh bebas meluncur menuju kegelapan bawah jembatan.

Melalui kilatan petir yang membelah angkasa selama satu persekian detik, Citra mengenali rahang tegas dan potongan pakaian dari raga yang baru saja melompat itu. Elang Dirgantara.

"ASTAGA, CIT! ITU ADA ORANG LOMPAT!! YA TUHAN, BUKANNYA ITU SI ELANG!!" Kirana berteriak histeris, tangannya menutup mulut dengan tubuh yang bergetar hebat demi menyaksikan adegan mengerikan tersebut.

Sebelum Kirana sempat memproses kepanikannya lebih jauh, Citra telah melepaskan pegangan tangannya pada gagang payung. Payung itu terlepas, terbang terkoyak angin badai dan lenyap dalam kegelapan. Wajah Citra seketika mengeras bagai ukiran batu candi purba. Sepasang manik matanya berkilat dingin, tajam, dan terkunci penuh pada satu titik fokus spiritual mutlak.

Di dalam rongga dadanya, getaran sumpah mati yang ia rapalkan di hadapan Sanghyang Tunggal berabad-abad lalu di Lapangan Bubat laksana terpelatuk oleh palu gaib. Ikatan takdir yang mengunci jiwanya bergolak hebat, mengirimkan perintah absolut yang membakar setiap sel saraf di tubuh barunya: Aku tidak akan pernah membiarkan raga ini kehilangan nyawa karena sebuah kelengahan di depan mataku. Tidak untuk kedua kalinya!

Citra melesat maju. Gerakannya tidak lagi menyerupai manusia modern; ia berlari dengan kecepatan gila yang memotong resistensi air hujan, mengubah langkah kakinya menjadi serangkaian lompatan pendek yang nyaris tak menyentuh tanah, sebuah manifestasi murni dari teknik Meringankan Tubuh (ilmu Sastra Pinandita masa lalu) yang telah terintegrasi dengan kepadatan otot barunya.

Saat mencapai tepi pagar pembatas jembatan tempat Elang melompat, Citra langsung menumpukan kaki kanannya pada beton pembatas, lalu melakukan satu tolakan ekstrem ke udara. Tubuhnya meluncur vertikal membelah tirai hujan, terjun bebas menyusul raga Elang yang telah lebih dulu ditelan kegelapan palung sungai.

SPLASH!!

Hantaman tubuh Citra dengan permukaan air sungai yang sedang meluap gila-gilaan memicu cipratan ombak yang tinggi. Dinginnya air sungai yang pekat, berlumpur, dan bercampur sampah kota seketika membungkus raganya, menekan gendang telinganya dengan tekanan hidrostatik yang berat. Arus bawah sungai bergerak laksana ribuan tangan raksasa yang mencoba memutar balik, menyeret, dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam dasar lumpur yang mematikan.

Namun, Nyai Kencana adalah seorang kesatria yang telah akrab dengan jerit maut. Di dalam air yang gulita, ia membuka sepasang matanya tanpa ragu. Ia mengaktifkan teknik pengaturan napas spiritual Pajajaran, menahan pasokan oksigen di dalam rongga dadanya menggunakan sirkulasi energi tenaga dalam yang hangat, membentengi organ dalamnya dari dingin yang membekukan.

Citra menggerakkan kedua lengan dan kakinya dalam ritme mendayung yang teramat presisi dan bertenaga. Ia berenang di tengah derasnya arus, meliuk di antara pusaran air. Tiga depa di depannya, di balik kegelapan air yang keruh, ia melihat siluet tubuh Elang yang mulai tenggelam dengan pasif, terbawa oleh arus bawah yang mengarah ke pintu air utama.

Citra menambah akselerasi tendangan kakinya, memeras seluruh sisa energi kanuragan dari sumsum tulangnya. Dengan satu sentakan tangan kanan yang cepat, ia berhasil menjangkau dan mencengkeram kuat kerah kaos oblong putih milik Elang yang sudah tak sadarkan diri.

Momentum tarikan arus mendadak terasa dua kali lebih berat saat raga Elang berada di dalam dekapannya. Pakaian Elang yang basah kuyup bertindak sebagai jangkar yang menarik mereka berdua ke dasar sungai. Citra melingkarkan lengan kirinya di bawah ketiak dan dada Elang, mengunci tubuh pemuda itu dengan dekapan yang tak tergoyahkan.

Menggunakan tangan kanannya untuk membelah air dan mengandalkan kekuatan dorongan kaki kanannya yang dipenuhi aliran tenaga dalam, Citra bertarung habis-habisan melawan pusaran air yang mematikan. Ia berenang miring, mengarahkan jalur gerak mereka menjauh dari tengah sungai menuju ke arah tepian dangkal yang dipenuhi oleh batuan kali sharf di bawah kolong jembatan beton.

Setiap jengkal pergerakan adalah pertaruhan nyawa, di mana kekuatan fisik modern dipaksa tunduk pada keteguhan batin sang pengawal kuno.

Hah! Hah!

Citra berhasil menyembul ke permukaan air, menghirup pasokan oksigen malam dengan napas yang memburu berat. Dengan sisa-sisa tenaga luar biasanya, ia menyeret raga Elang yang terasa teramat berat keluar dari bibir air, membaringkannya di atas hamparan tanah berlumpur dan kerikil tajam di bawah kolong jembatan yang remang-remang. Tubuh Citra sendiri gemetar, kaos hitamnya melekat ketat dan rambut panjangnya basah kuyup menutupi sebagian wajahnya.

Elang terbujur kaku di atas tanah. Wajahnya yang tampan kini tampak memutih pucat dengan semburat membiru di sekitar bibir ranumnya. Tidak ada pergerakan di dadanya; napasnya telah berhenti seutuhnya setelah meminum air sungai yang beracun dalam jumlah banyak.

Kirana tiba di lokasi kolong jembatan beberapa saat kemudian setelah berlari memutar melewati jalan setapak lereng jembatan. Napasnya megap-megap, dan air matanya mengalir deras berbaur dengan sisa air hujan di wajahnya.

"Cit! Ya Tuhan, Cit! Dia... dia masih hidup, kan?! Jangan bilang dia mati, Cit!!" ratap Kirana histeris, tubuhnya lemas hingga terduduk di samping Elang.

"Diam, Kirana! Jaga kesadaranmu!" bentak Citra, suaranya jernih, berat, dan memancarkan wibawa komando yang seketika mengunci tangisan Kirana.

Citra tetap tenang di bawah tekanan psikologis yang mematikan. Ia segera berlutut di samping kanan dada Elang. Berdasarkan kombinasi ingatan CPR modern dari memori Citra asli dan pengetahuan anatomi tubuh dari ilmu pengobatan kuno, Citra meletakkan tumit telapak tangan kanannya di tengah dada Elang, menguncinya dengan jemari tangan kiri.

Satu, dua, tiga, empat...

Citra melakukan kompresi dada dengan ritme yang stabil dan tekanan yang dalam, memanfaatkan berat tubuhnya. Di setiap tekanan yang ia berikan, Citra diam-diam menyalurkan sisa hawa murni tenaga dalamnya melalui pori-pori telapak tangannya, menembus dinding dada Elang untuk memicu dan menghangatkan kembali otot jantung pemuda itu yang mulai membeku akibat trauma dingin.

"Bangun, Kesatria Muda... Jangan biarkan jiwamu menyerah pada takdir yang sehina ini!" bisik Citra dengan penekanan yang menusuk batin.

Ia mencondongkan tubuhnya, membuka jalur napas Elang, lalu memberikan dua kali bantuan napas buatan secara intim dari bibirnya ke bibir Elang yang dingin, sebelum kembali melanjutkan kompresi dada dengan kecepatan konstan.

Ketegangan di bawah kolong jembatan itu terasa begitu pekat, berpacu dengan waktu yang kian menipis.

Uhuk!! Oweeegh!

Tubuh Elang mendadak tersentak hebat. Matanya tidak terbuka, namun rahangnya merekah, memuntahkan air sungai bercampur busa dalam jumlah banyak dari dalam tenggorokannya. Dada Elang mulai naik-turun secara tidak beraturan; napasnya kembali berembus meskipun masih teramat lemah, pendek-pendek, dan tubuhnya seketika didera oleh demam tinggi yang membuat seluruh persendiannya menggigil hebat.

Ia kembali jatuh ke dalam pingsan yang dalam, namun jiwanya telah berhasil ditarik kembali dari pintu gerbang kematian.

Di saat yang bersamaan, suara deru mesin sepeda motor matik terdengar mendekat dari arah jalan setapak kolong jembatan, memotong kegelapan malam dengan sorot lampu utamanya yang terang. Ternyata, saat Citra sedang bertarung di dalam air tadi, Kirana yang panik sempat mengirimkan pesan darurat berulang kali kepada Surya, satu-satunya orang terdekat Elang yang mereka ketahui.

Surya melompat turun dari motornya sebelum kendaraan itu berhenti sempurna. Wajah ramahnya kini dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa. Ia berlari mendekat, matanya membelalak syok melihat kondisi Elang yang terkapar bersimbah lumpur dan Citra yang basah kuyup.

"Ya Allah, Elang!! Iki ono opo, Rek?! Kok bisa sampai kayak gini?!" seru Surya dengan suara pecah, langsung berlutut di samping sahabatnya.

Citra Kencana perlahan bangkit berdiri, menepis sisa lumpur yang menempel di celana olahraganya dengan gerakan yang tegap dan anggun. Aura kewaspadaan seorang pengawal kuno kembali menyelimuti sosoknya.

"Dia telah melewati titik nadirnya, Surya," ucap Citra, suaranya terdengar datar tanpa ekspresi, namun memiliki intonasi yang memotong seluruh pertanyaan Surya. "Bawa raga ini ke tempat aman. Hangatkan tubuhnya, dan jangan biarkan dia menyentuh air dingin lagi malam ini. Urusanku di sini telah selesai."

"Tapi, Mbak Citra... kamu kok bisa…"

Sebelum Surya yang linglung sempat mengajukan pertanyaan lebih banyak mengenai bagaimana seorang mahasiswi beasiswa mampu menarik tubuh pria dewasa dari amukan arus sungai terdahsyat, Citra telah menyambar pergelangan tangan Kirana dengan kuat. Ia membalikkan badannya secara anggun, melangkah cepat menerobos kegelapan malam dan tirai hujan yang masih menderu keras di luar kolong jembatan. Sosoknya bergerak dinamis, menyusup di antara bayang-bayang pepohonan liar sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya dari lokasi kejadian tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!