Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Wen Tianren
Wang Chan masih berdiri di tengah arena yang hancur. Tidak ada penantang lain yang berani maju.
Beberapa orang yang tadinya terlihat siap naik kini memilih diam di tempat, menunduk, atau berpura-pura sibuk dengan tali sepatu mereka sendiri.
Dengan kata lain, Wang Chan berhasil menang.
Ia menghela napas pelan. Tangannya turun di samping tubuhnya, jari-jarinya rileks, dan bahunya sedikit melorot.
Ini tidak begitu sulit baginya. Bahkan tanpa Mata Immortal pun, ia yakin masih bisa menang, mungkin hanya butuh sedikit lebih banyak usaha.
Tapi tetap saja, rasa lega menyertainya. Tidak ada luka. Tidak ada cedera. Hanya keringat tipis di pelipis dan sedikit pegal di pundak.
Di balkon lantai atas, Wen Tianren akhirnya bergerak.
Ia melangkah ke udara, tubuhnya naik perlahan seperti ditopang oleh bantal tak terlihat.
Kekuatan spiritualnya menyapu area sekitar, menciptakan gelombang tekanan yang membuat beberapa orang di baris depan menghalangi wajah mereka dengan lengan.
Angin berputar di sekelilingnya, rambutnya yang panjang berkibar, dan matanya yang tajam menatap lurus ke arah Wang Chan.
Dalam sekejap, ia sudah berdiri di udara tepat di atas arena.
Dari ketinggian itu, ia menatap Wang Chan dari atas, seperti elang yang mengamati mangsanya.
"Bocah. Kau memiliki kemampuan yang bagus."
Wang Chan hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada, sebuah penghormatan kecil yang sopan namun tidak tunduk.
Membungkuk tidak terlalu dalam, tidak terlalu dangkal. Cukup untuk menunjukkan rasa hormat, tapi tidak sampai merendahkan dirinya sendiri.
"Sungguh terhormat bisa dipuji oleh Tuan Muda Wen," jawabnya dengan suara datar.
Wen Tianren tertawa kecil. Tawa yang pendek, hampir seperti dengusan, tapi ada sedikit pengakuan di dalamnya.
"Kau cukup paham."
Ia melangkah ke samping sedikit, memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk berpikir.
Matanya tidak lepas dari Wang Chan.
"Karena sudah menang, bagaimana kalau bergabung dengan Keluarga Wen?" Suaranya santai, seolah menawarkan semangkuk sup di hari hujan.
Wang Chan menunduk.
Matanya menatap lantai arena yang retak-retak, bekas pertarungan tadi.
Di dalam kepalanya, ia cepat-cepat merumuskan kata-kata yang tepat.
Ia tidak bisa bergabung, atau lebih tepatnya tidak mau bergabung.
Tujuannya sejak awal hanya ingin bertarung. Hanya ingin menguji seberapa jauh kekuatannya setelah berlatih dengan Nuan Shuang.
Tidak ada niat untuk terlibat dengan Keluarga Wen, apalagi menikahi putri mereka.
"Maaf," ucapnya, masih dengan kepala tertunduk. "Tapi aku hanya mengikuti ini untuk mencoba kekuatan. Sama sekali tidak ada niat untuk bergabung dengan Keluarga Wen."
Bisik-bisik langsung menyebar di antara kerumunan seperti api di padang rumput kering.
Orang-orang terkejut. Beberapa membuka mulut, beberapa saling pandang, beberapa lainnya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
Pernyataan Wang Chan barusan sama saja dengan menolak menikah dengan Wen Xiang.
Dan menolak pernikahan dengan putri Keluarga Wen, di depan umum, di hari perhelatan kompetisi, adalah sebuah penghinaan yang tidak kecil.
Di balkon, Wen Xiang perlahan mendekat.
Tubuhnya yang anggun melayang di udara, jubah biru mudanya berkibar lembut, dan rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di punggung.
Ia berhenti tepat di samping Wen Tianren.
Wajahnya yang biasanya lembut dan teduh kini terlihat sedikit berbeda.
Matanya menatap Wang Chan tanpa ekspresi yang mudah dibaca.
"Tuan Muda, orang ini terlihat biasa saja. Jika dia tidak mau, biarkanlah."
Ia melirik Wang Chan sekilas, lalu menambahkan dengan suara yang sedikit lebih dingin dari biasanya.
"Lagipula dia hanya orang tidak dikenal, mana mungkin akan berguna untuk kita."
Beberapa orang terkejut mendengar nada bicara Wen Xiang yang biasanya lembut tiba-tiba berubah seperti itu.
Ada yang berbisik bahwa Wen Xiang marah karena ditolak. Ada yang mengatakan bahwa Wen Xiang hanya menjaga harga diri keluarganya.
Ada pula yang hanya mengangkat bahu, tidak peduli.
Tapi Wang Chan tahu.
Dari tatapan Wen Xiang, sekilas saat mata mereka bertemu, ia bisa melihat bahwa wanita itu tidak marah.
Matanya tidak membara, bibirnya tidak gemetar, dan napasnya tidak memburu.
Wen Xiang hanya membantu Wang Chan. Memberinya jalan keluar.
Membuatnya seolah ditolak oleh pihak keluarga, bukan sebaliknya.
Dengan cara itu, Wang Chan bisa pergi dengan selamat tanpa harus dianggap menghina Keluarga Wen.
Wang Chan menghela napas lega dalam hati. Wanita ini lebih baik dari yang ia kira.
Wen Tianren mengabaikan komentar adiknya.
Matanya masih tertuju pada Wang Chan, menatapnya dengan saksama, seperti mencoba membaca sesuatu dari balik wajah pemuda itu.
"Bagaimana? Kau benar-benar tidak ingin bergabung?"
Sekali lagi, Wen Tianren bertanya. Suaranya kali ini tidak terlalu santai.
Ada nada peringatan di sana, seperti geraman kecil sebelum badai.
Wang Chan menyatukan kedua tangannya sekali lagi.
Kali ini penghormatannya sedikit lebih dalam, tapi tetap tidak tunduk.
"Benar-benar tidak ada niat untuk bergabung," ucapnya tegas.
Wen Tianren akhirnya menghela napas. Panjang. Perlahan.
Seperti orang yang baru saja memutuskan sesuatu yang tidak ingin ia putuskan.
Ia sempat berpikir bahwa Wang Chan juga tidak akan begitu berguna untuknya.
Pemuda ini mungkin kuat, tapi kekuatannya belum teruji. Belum terbukti. Tidak ada gunanya memaksakan seseorang yang tidak mau.
"Sudahlah."
Ia sudah setengah berbalik. Kakinya mulai bergerak, tubuhnya mulai berputar menjauhi arena.
Wen Xiang hampir bernapas lega.
Hampir.
"Tunggu sebentar."