Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XVIII
Setelah kejadian itu, Mu Chen dan Anran pun membawa Luna pulang ke rumah mereka. Anran menuntun Luna duduk di kursi, lalu berkata dengan lembut, “Mulai hari ini, kau tinggal saja bersama kami. Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi.”
Namun Luna segera bangkit berdiri, wajahnya penuh rasa takut untuk merepotkan orang lain. “Tidak… aku tidak bisa. Aku tidak ingin menyusahkan kalian berdua lagi,” ucapnya lirih, lalu berniat melangkah keluar.
Belum sempat kakinya bergerak lebih jauh, suara berat Mu Chen terdengar menghentikannya. “Berhenti..”
Luna menoleh, melihat Mu Chen berdiri tegak dengan raut wajah yang masih dingin namun nadanya tak terbantahkan. “Aku masih mampu menafkahi satu orang lagi di rumah ini. Jadi diamlah di sini dan jangan berpikir yang macam-macam. Kau tidak perlu sungkan atau merasa berhutang budi, anggap saja sebagai ganti… karena kau sudah menolong adikku waktu itu.”
Akhirnya, Luna pun mengangguk pasrah dan menerima keputusan itu. Mulai saat itu, mereka berempat hidup bersama di bawah satu atap.
Awalnya, Lulu masih sangat takut pada Luna. Setiap kali melihat wanita itu, anak kecil itu selalu bersembunyi di balik punggung Anran, teringat betapa mengerikannya sosok yang dulu pernah dilihatnya. Melihat itu, Anran lalu berjongkok di depan adiknya itu, menjelaskan pelan, “Lulu sayang, jangan takut ya. Sekarang Kak Luna itu orang yang baik. Dan dia juga tidak akan menyakiti siapa pun lagi.”
Lulu menatap Luna ragu-ragu, matanya berkedip-kedip takut. Anran pun menggandeng tangan anak itu, membawanya mendekat perlahan. “Ayo, sapa Kak Luna. Jangan takut, coba lihat, dia tersenyum.”
Dengan gemetar dan hati-hati sekali, Lulu maju selangkah, lalu jari-jarinya menyentuh dan menggenggam ujung pakaian Luna. Ia menunduk takut, lalu bersuara sangat pelan namun jelas terdengar, “Kakak…”
Mendengar panggilan itu, mata Luna seketika terbelalak. Ia perlahan berlutut menyamakan tingginya dengan anak itu, kemudian membalasnya dengan senyuman hangat.
Kehidupan mereka berempat berjalan damai dan penuh kehangatan. Namun suatu hari, Anran jatuh sakit dan terserang flu yang cukup berat. Tabib menyarankannya untuk banyak beristirahat dan tidak boleh banyak bergerak. Biasanya Mu Chen akan pergi ke kedai, bekerja seharian, lalu pulang kembali ke rumah hanya untuk mengantarkan makanan. Melihat kakak beradik itu sibuk dan kerepotan, Luna pun berinisiatif menawarkan diri.
"Biarkan aku saja yang mengambilkan makanan dari kedai dan membawanya ke sini. Kau cukup tetap di sana dan menjaga usaha saja, biar tidak bolak-balik," ucap Luna lembut.
Anran segera menggeleng, wajahnya tampak tidak enak hati. "Tidak perlu, Luna. Jangan menyusahkan dirimu, biarkan saja Kak Mu Chen yang mengantarnya."
Namun Mu Chen tiba-tiba memotong pembicaraan itu dengan nada datar namun tegas. "Biarkan saja dia. Kalau dia memang ingin berbuat sesuatu, biarkan saja, anggaplah sebagai bantuan darinya. Tidak ada salahnya kan.."
Mendengar itu, Anran pun akhirnya mengangguk setuju dan membiarkan Luna membantu. Sejak saat itu, selama Anran masih sakit, Luna rutin membawa perbekalan makanan dari kedai ke rumah, persis seperti yang biasa dilakukan Anran. Di kedai itu sendiri, ada dua orang juru masak dan dua pelayan yang cukup cekatan melayani pembeli, jadi Mu Chen tidak pernah merasa kewalahan meski hanya sendiri di sana.
Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Luna dan Mu Chen makin terjalin erat dan kuat. Luna perlahan mulai terlibat lebih banyak di kedai itu. Ketika Mu Chen pusing menghitung uang serta catatan pendapatan, Luna yang ternyata sangat pandai dalam berhitung akan datang membantunya.
"Ah, kepalaku sakit sekali," keluh Mu Chen sambil mengusap keningnya.
Luna tersenyum tipis lalu duduk di sisinya. “Sini, biar aku bantu. Dulu aku juga sering diajari berhitung. Ayo kita kerjakan sama-sama.”
Tak hanya itu, saat Mu Chen kerepotan menidurkan Lulu yang sedang rewel, Luna akan datang dan mengambil alih dengan sabar, menenangkan anak kecil itu hingga terlelap. Ia juga sering membantu melayani pembeli atau menyiapkan pesanan di kedai, bekerja dengan rajin membantu Mu Chen.
Lama-kelamaan, benih-benih cinta perlahan tumbuh di hati Mu Chen. Ia sendiri sering menyangkalnya dan berusaha keras menyembunyikan perasaannya, namun jauh di lubuk hatinya, ia mulai berharap semoga Luna juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.
Sementara itu, Luna berubah menjadi wanita yang jauh lebih baik, lembut, dan penuh perhatian daripada sebelumnya. Keadaan Anran pun perlahan membaik, dan kini ia sudah bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.
Suatu hari, Luna datang membawa sejumlah harta simpanannya, harta yang dulu ia kumpulkan bersama ayah dan paman angkatnya.
"Mu Chen, ambillah ini. Gunakanlah untuk kebutuhan kita dan memperbesar kedai makan ini," ucapnya sambil menyodorkan kantong berisi emas dan perak.
Mu Chen menatap benda itu ragu dan langsung menolak. "Aku tidak bisa mengambilnya. Ini kan harta yang tahu asal-usulnya. Aku tidak mau memakai uang begini untuk usahaku." tegas Mu Chen.
Anran pun segera bersuara seraya menyodorkan kembali emas dan perak itu ke tangan Luna, “Sebaiknya kau simpan saja ini untuk keperluan mendesak. Kami tidak berniat menggunakannya untuk keperluan pribadi, apalagi mengembangkan kedai ini, karena kami masih sanggup berusaha dengan kemampuan kami sendiri.”
Mu Chen pun menyetujuinya. Akhirnya, Luna menyimpan kembali harta itu, sementara Mu Chen dan Anran tetap bertekad memajukan usaha tersebut lewat kerja keras mereka sendiri, tanpa bantuan siapapun.
Suatu hari, saat Luna sedang sibuk melayani pembeli, datanglah seorang pemuda muda yang sangat tampan. Ia bermata hitam tajam, berhidung mancung, bibir merah alami, berkulit cerah, dan berwajah ramah. Saat Luna menyajikan makanan, pemuda itu mengucapkan terima kasih dengan sopan. Namun begitu menatap wajah Luna, matanya melebar kaget. Wanita di hadapannya ini sangat mirip dengan seseorang yang pernah ia temui, namun ia tak ingat pasti siapa.
Awalnya ia hanya ragu dan tak yakin, namun dengan gerakan cepat ia langsung menarik tangan kiri Luna untuk melihatnya. Saat itu juga ia melihat jari kelingking wanita itu yang sudah hilang. Luna segera melepaskan tangannya dengan kasar dan penuh ketidaksukaan.
Ternyata pemuda itu adalah Pangeran Haoran. Raut wajah Haoran berubah gembira luar biasa, ia langsung memeluk tubuh Luna erat-erat. "Aku selalu mencarimu ke mana-mana... akhirnya aku menemukanmu juga!" serunya penuh haru.
Luna segera melepaskan pelukan itu dengan kasar, matanya menatap tajam. “Apa maksudmu? Jaga juga sikapmu itu! Jika kau berani bersikap kurang ajar lagi, jangan salahkan aku kalau aku bertindak kasar padamu,” ucapnya dengan nada dingin dan tegas.
"Kak, ini aku, Haoran! Waktu aku kecil, Kaulah yang menolongku, tidakkah Kakak ingat padaku?" kata Haoran dengan wajah penuh harap.
"Kau pasti salah orang," jawab Luna singkat, lalu berbalik hendak pergi. Namun Haoran kembali menahan dan menggenggam tangan kiri Luna, jari-jarinya menyentuh jari kelingking Luna yang hilang itu.
"Luka ini... semua ini terjadi karena dulu Kaulah yang berusaha melindungi dan menolongku. Aku tidak salah kenal, Kak," ucap Haoran dengan suara bergetar.
Luna hanya diam terpaku, menatap pemuda itu dalam-dalam, mencoba menelusuri ingatan masa lalunya yang kelam. Belum sempat Luna menjawab, sebuah pukulan keras tiba-tiba mendarat di wajah Haoran hingga membuat sudut bibirnya berdarah. Ternyata Mu Chen yang melihat kejadian itu dari jauh langsung datang dan memukulnya dengan amarah yang meluap.
"Berani-beraninya kau menyentuhnya di sini?!" bentak Mu Chen dengan kemarahan, dan siap memukul lagi.
"Mu Chen, cukup! Hentikan!" Luna segera menahan tubuh pria itu agar tidak memukul kembali.
Tanpa banyak bicara, Mu Chen langsung menarik tangan Luna membawanya masuk, meninggalkan Haoran yang masih terdiam di tempatnya. Begitu sampai di dalam, Mu Chen langsung menatap Luna dengan mata yang menyala marah.
"Kenapa kau hanya diam saja saat dia memegang dan memelukmu?! Siapa dia sebenarnya?! Kenapa kau tidak langsung mengusirnya?!" tanyanya bertubi-tubi, nada suaranya tinggi dan penuh emosi.
Luna hanya diam menatap wajah Mu Chen yang tampak tegang dan penuh amarah. Di dalam hatinya, ia masih bertanya-tanya dengan rasa penasaran: Apakah pemuda itu benar-benar anak yang dulu pernah kuculik dan kutolong?
Namun melihat ekspresi Mu Chen yang begitu cemburu dan marah, tiba-tiba senyum tipis terlihat di bibirnya.
“Kau ini… apakah kau cemburu?” tanyanya pelan dengan nada menggoda, seraya menatapnya dengan mata berbinar jenaka.
Wajah Mu Chen seketika memerah karena kaget dan malu mendengar pertanyaan itu. Ia tak sanggup lagi menatap Luna yang tersenyum manis, lalu berbalik pergi meninggalkannya.
Haoran pun tak menyerah. Ia kembali menghampiri Luna, lalu bertanya dengan penuh harap, “Bolehkah aku mengetahui namamu? Dan… maukah kau ikut bersamaku?”
Luna menatapnya dingin dan menjawab singkat, “Namaku Luna. Tapi maaf, aku sama sekali tidak tertarik untuk ikut denganmu.” Ia pun berbalik hendak pergi.
Namun Haoran dengan sigap menahan pergelangan tangannya, menatap mata wanita itu dalam-dalam, lalu tiba-tiba melontarkan pertanyaan tak terduga.
“Kak… maukah kau menikah denganku?”
Mata Luna melebar karena kaget, tubuhnya kaku tak percaya mendengar ucapan itu. Tak jauh dari sana, Mu Chen yang sedang mengawasi mereka pun seketika terdiam terpaku, matanya juga melebar karena terkejut, seolah tak dapat mempercayai apa yang baru saja didengarnya.