Yt : Aam Aminah
IG : Aamaminah45
Aurin dan Nanda menjalin hubungan asmara sejak SMA sementara keluarga nanda tidak setuju karna aurin anak dari seorang pelacur karna dijual ayahnya.
ibunya bekerja di Bar sementara ayah nya pemabuk dan selalu menyakiti Aurin serta ibunya kehidupan yang menderita sering Aurin rasakan ditambah kisah cinta Asmaranya.
Suatu ketika ayahnya Aurin menjualnya saat itu Raka ketua Mafia sedang ada disitu saat itu Aurin meminta tolong ke Raka orang asing tapi karna keadaan mendesak aurin dengan sangat ceroboh nya meminta bantuan dengan orang asing tidak lain Raka.
Raka pun membantu aurin dengan syarat tanpa berfikir lagi aurin menyetujui persayaratanya.
Padahal Raka dan Nanda musuh sementara Nanda tidak tau Aurin dijual.
akan kah aurin bertahan dengan siksaannya atau malah bertahan dengan keganasan Raka yang setiap saat menyiksanya tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aam aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Rapat para Mafia
Pagi hari hujan turun dengan deras begitu juga petir menyambar nyambar sementara di gedung Raka sedang menatap tajam Anggota Mafia nya satu persatu dengan mata meneliti sikap dari mereka sementara yang di tatap Raka mengalihkan pandangan nya dia tau siapa orang yang duduk dikursi singasana itu.
Sementara Max dia menatap anggota itu dengan mata penuh curiga dia begitu bodoh sampai Alex bisa memberontak padahal dia sudah sangat hati hati tapi tetap saja masih kecolongan.
Brakkk.
Raka mengebrak meja semua para lelaki itu menunduk dia tau kalo pria dihadapannya sedang emosi dan marah terlihat dari sorot matanya menakutkan.
"Aku gak nyangka disini masih ada aja tikus gemuk." ucap Raka sedikit senyum tapi menakutkan semua nya menunduk.
"Cuihh." Raka meludah dia benar benar sangat bosan dengan para muka munafik itu.
"Lucky." ucap Raka menatap sahabat dekat nya Rangga dia begitu percaya pada Rangga dan David berbeda dengan Lucky dan Alex.
"Kau tau Alex memberontak." ucap Raka menatap Lucky sementara Lucky mengangguk.
"Apa kau juga diam diam mengikuti jejaknya." ucap Raka lagi matanya masih beradu tajam.
Rangga menatap David sepertinya akan ada badai itu perkataan dari sorot matanya kini David pun membalasnya lewat telepatinya.
"Berhenti mencurigai ku Raka, kita sama sama membangun Dragon Black ini dari nol dan tolong sedikit saja mempercayaiku." ucap Lucky menatap Raka dia tidak mau dikambing hitamkan atas berontaknya Alex.
"Hahahaha dikambing hitam kan." ucap Raka tertawa seolah olah lucu.
Kini Lucky menatap Raka dia benar benar terpojok dengan keadaan ini seberapa Lucky menjelaskannya Raka masih mencurigainya.
"Aku tau apa yang kau pikirkan." ucap Raka membuang foto sebagai tanda bukti Lucky dan Alex bertransaksi sementara mata Lucky memandangi foto itu.
"Masih mau tak mengaku." ucap Raka masih dengan nada bicara sedikit tinggi.
"Lucky, apa artinya Dragon Black buat mu hanya tempat menambah uang." ucap Raka tajam dia benar benar marah kini Lucky hanya terdiam.
"Max, berikan si tikus gemuk ini makan yang kenyang karna bentar lagi dia akan diracun tikus." ucap Raka berdiri sementara Lucky menatap foto itu mengutuki dirinya karna kebodohannya.
Harus nya aku tak percaya Alex. Lucky.
Rangga dan David memandangi Lucky dia benar benar tak habis pikir dengan sikap nya Lucky.
"Ternyata teman mu membawa kotak mayat ya." ucap Rangga menatap tajam Lucky mata mereka beradu.
"Kau." ucap Lucky tak terima dia benar benar emosi dengan ucapan Rangga barusan.
"Pikir otak sebelum kenyangi perut." ucap Rangga berdiri mengikuti Raka begitu juga dengan David.
Lucky memandangi Mereka yang pergi satu persatu hatinya benar benar risau dia pikir gue hewan di samain dengan seekor tikus gemuk.
Kini di ruangan itu ada Raka Rangga David serta Max mereka membicarakan tentang masalah yang menimpa Lucky.
"Kalo aku boleh kasih saran jangan dulu gegeabah membunuh Lucky tapi buat Lucky menderita." ucap David sementara Raka sedang berfikir dia memikirkan ucapan David.
"Vina." ucap Raka senyum nya mengembang tau arah pembicaraan David.
"Max, bawah Vina kesini." ucap Raka dengan sedikit tersenyum.
"Ternyata kau pintar juga Vid." ucap Raka menepuk punggung David.
Saat Lucky masih menatap foto itu dia sedang berfikir sepertinya jalan untuk kabur dari sini tidak memungkinkan.
Saat itu pintu terbuka masuk Raka dan yang lainya di belakang nya sudah ada Vina mata Lucky menatap Vina tajam.
"Ternyata Vina manis juga." ucap Raka mengelus pipi Vina dengan pisau tajam kecil miliknya sementara Lucky menatap tajam Raka tangan nya mengepal ingin meninju Raka.
"Berhenti membuat nya takut." ucap Lucky tak tahan melihat orang di cintainya menderita karna dirinya.
Raka pun mengores Vina di pipinya dengan Pisau itu darah pun keluar kini Lucky berdiri ingin memukul Raka tapi Lucky di hadang Rangga dan David.
"Sepertinya aku akan bersenang senang sedikit dengan wanita mu." ucap Raka masih memainkan pisau itu tiba tiba dia merobek baju Vina hingga terlihat Vina hanya menangis.
Bug.
Lucky menendang Rangga dan David hingga terjatuh karna tak waspada kini dia menatap tajam Raka tangan nya gatal ingin meninju nya.
"Kau tidak lihat di tangan ku ada pisau cantik kalo sedikit saja kau melangkah pisau cantik ini akan Ternoda dengan darah." ucap Raka matanya tak menatap Lucky lebih ke Vina.
"Sayang sekali yah kau harus merasakan sakit karna ulah orang kau cintai." ucap Raka saat dia ingin menusuk Vina tiba tiba wajahnya membayangkan Aurin dia pun terdiam.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki." ucap Lucky menatap tajam Raka sementara dia menatap Vina membayangkan dia Aurin di situ.
"Aku akan memberi mu kesempatan ini pertama dan terakhir." ucap Raka lalu pergi dari situ sementara Rangga dan David menatap Raka aneh dengan sikap nya tidak biasanya Raka melepaskan penghianat dengan mudah.
Lucky berlari menuju Vina dia pun memeluk Vina kencang air mata nya terjatuh sementara Vina dia membalas pelukan Lucky lelaki yang sangat dia cintai.
Max mengikuti Raka saat Raka sudah di dalam mobil dia melihat raut wajah Raka cemas entah apa yang dipikirkannya.
Mobil melaju meninggalkan Markasnya Raka memegang pelipisnya sedikit pusing mata Max menatap Spion dia melihat Raka.
"Tuan, ada apa." ucap Max sementara Raka tak menjawab dia bahkan fokus dengan pikirannya.
Perjalanan pun sangat panjang mobil itu sudah sampe di depan rumah Raka mata Raka menatap Rumahnya saat sudah berhenti Raka turun dari mobil sebelum Max membukanya dia pun mencari Aurin.
Saat melihat Aurin sedang memasak di dapur dengan Rara sambil sedikit berbincang Raka berlari dan memeluk Aurin dia takut kehilangan Aurin sementara yang di peluk nya kaget heran dengan sikap Raka semua pelayan menatap majikannya.
"Tuan." ucap Aurin berusaha melepaskan pelukan Raka tetapi Raka malah mengeratkannya.
"Kamu sedang membuat apa." ucap Raka sambil meluk Aurin sementara Aurin berusaha tenang.
"Membuat Puding." ucap Aurin
"Tuan, bisa lepaskan pelukanya aku tak bisa mengaduknya." ucap Aurin lagi kini Raka benar benar melepaskan Aurin.
Dia pun duduk di kursi makan itu sambil melihat Aurin memasak Rara hanya terdiam membeku.
"Kalian boleh pergi dari sini aku ingin berdua dengan istriku." ucap Raka menatap para pelayan nya mereka pun pergi termasuk Rara.
Saat sudah pergi Raka berdiri dia tiba tiba mencium Aurin dengan cepat mereka cukup lama berciuman.
Saat sudah puas Raka melepaskan Aurin menghirup udara dengan sesak dia menatap punggung Raka yang pergi menjauh darinya.
Dia kenapa sih seperti orang bodoh. Aurin.