Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman yang setimpal
Setelah skandal fitnah yang keji itu berhasil dibongkar, tidak ada lagi ampun bagi Om Darmo, Tante Sari, dan Bu Ratna. Mereka sudah melanggar batas berkali-kali, dan kali ini Adel tidak lagi bermurah hati.
Dengan bantuan tim hukum dari perusahaan Arga dan dukungan penuh Pak Budi, proses hukum berjalan sangat cepat.
Pagi itu, suasana di gang sempit tempat tinggal Om Darmo masih biasa saja. Mereka sedang berpikir cara licik baru untuk mengelak, tiba-tiba terdengar suara sirine polisi menderu keras.
Tuuut... Tuuut...
Beberapa mobil polisi berhenti tepat di depan rumah mereka. Petugas turun dengan seragam lengkap dan borgol.
"OM DARMO, TANTE SARI, DAN BU RATNA! KAMI DATANG UNTUK MENANGKAP KALIAN ATAS DUGAAN PEMERASAN, PENGANIAYAAN, DAN PENCEMARAN NAMA BAIK SECARA MASAL!" teriak petugas dengan lantang.
Wajah ketiga orang itu pucat pasi. Mereka mencoba lari lewat pintu belakang, tapi sudah dikepung.
"JANGAN! KAMI TIDAK BERSALAH! ITU SEMUA BENAR! SI ADEL ITU JAHAT!" teriak Tante Sari histeris.
"BUKTI SUDAH JELAS! SILENCE! JANGAN BICARA DI DEPAN SAKSI!" seru polisi tegas.
Jepret! Jepret!
Mereka diborgol dan diseret masuk ke mobil polisi di depan mata seluruh warga. Warga yang dulu ikut-ikutan membenci Adel, kini melihat dengan mata kepala sendiri betapa jahatnya keluarga itu.
"GILA YA! BERANI-BERANINYA FITNAH SEKEJAM ITU!"
"PANTAS KITA DIPUTAR BALIKKAN OTAKNYA! DASAR PENJAHAT!"
Akhirnya, kebenaran terang benderang. Om Darmo, Tante Sari, dan Bu Ratna masuk sel tahanan dengan tangan terikat dan harga diri hancur lebur.
Di dalam penjara, hidup mereka benar-benar menjadi neraka.
Nasib Om Darmo & Tante Sari:
Karena kasus mereka melibatkan banyak hal dan dilaporkan oleh orang berpengaruh, hukuman mereka sangat berat. Mereka divonis penjara bertahun-tahun. Uang yang dulu mereka serakah habis untuk membayar pengacara dan denda, tapi tetap saja kalah.
Rumah mereka disita bank karena tunggakan hutang. Anak mereka yang dulu mereka banggakan benar-benar menceraikan pasangannya dan pergi meninggalkan mereka, malu punya orang tua seperti itu.
Di sel, mereka tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejam mata, terbayang wajah Adel yang sukses dan bahagia, sementara mereka membusuk di dalam jeruji besi.
"Kenapa jadi begini... kenapa..." rengek Tante Sari sambil menangis darah di dalam hati. Mereka sadar, semua ini akibat ulah tangan mereka sendiri. Mereka menanam duri, kini tertancap di kaki sendiri.
Nasib Bu Ratna:
Penyakit yang dideritanya makin parah. Tidak ada yang mau merawat, tidak ada yang mau mengobati. Di tahanan, ia hanya bisa merintih kesakitan sambil memaki nasib. Ia melihat anaknya sendiri yang ditangkap polisi karena narkoba, dan kini ia ikut masuk penjara. Karma yang sangat pahit.
Sementara musuh-musuhnya merasakan panasnya penjara dan penyesalan, kehidupan Adel dan Ibu berjalan sangat indah.
Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan. Adel dan Arga mengadakan acara Lamaran yang sangat megah dan sakral.
Acara dihadiri oleh keluarga besar Arga, rekan bisnis, pejabat, dan tentu saja Ibu Adel, Pak Budi, serta Ibu Rita.
Ibu Adel tampil sangat anggun dan bahagia. Wajahnya bersinar melihat putri semata wayangnya akan menikah dengan pria yang sangat baik dan kaya raya.
"Kamu cantik sekali, Nak..." bisik Ibu Adel sambil membetulkan gaun pengantin Adel yang mewah bak putri raja.
"Semua ini karena doa Ibu..." jawab Adel tersenyum bahagia.
Arga melamar Adel dengan cincin berlian yang sangat indah.
"Dengan nama Allah Yang Maha Baik, aku berjanji akan menjaga, melindungi, dan menyayangi Adel dan Ibu sampai akhir hayatku."
Suasana haru, tepuk tangan dan doa restu bergema di seluruh ruangan.
Di tengah kemeriahan itu, Adel sempat terdiam sejenak. Ia teringat masa lalu.
Dulu, aku dan Ibu tidur di teras mushola, disuruh cuci piring, diusir, difitnah...
Tapi lihat sekarang... Tuhan ganti air mata kita dengan tawa, ganti hinaan dengan pujian, dan ganti kemiskinan dengan kekayaan yang melimpah.
"Om, Tante, Bu Ratna... Kalian boleh memenjarakan tubuh kami dulu, tapi kalian tidak bisa memenjarakan mimpi kami. Dan sekarang, giliran kalian yang merasakan pahitnya penjara karena kejahatan kalian sendiri."
"Semoga di dalam sana kalian bisa bertobat. Karena dunia ini sudah adil bagi kami."
Kini, Adel bukan lagi gadis kecil yang menangis. Ia adalah wanita sukses, dicintai, dan dihormati oleh seluruh dunia.
Masa depan terbuka lebar penuh kebahagiaan.