Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ailen dan Teknik Melarikan Diri yang Ajaib
Setelah sesi makan mie instan tengah malam yang emosional, Leon benar-benar menepati janjinya untuk membawa Ailen ke panti asuhan. Namun, perjalanan yang seharusnya menjadi kunjungan nostalgia yang tenang berubah menjadi zona tempur saat sekelompok tentara bayaran dari sisa-sisa aliansi Black Cobra dan pengikut setia Donovan melakukan serangan mendadak di tengah kemacetan jalanan pinggiran kota.
Mobil Rolls-Royce antipeluru Leon dihujani tembakan dari tiga arah. Marco mencoba melakukan manuver, namun sebuah truk besar sengaja menabrak bagian depan mobil, mengunci mereka di posisi yang sangat sulit.
"Tuan, kita terjebak! Tim Alpha terhambat dua blok di belakang karena sabotase lampu lalu lintas!" lapor Marco sambil membalas tembakan melalui celah kecil di jendela.
Leon mengeluarkan pistol Glock-17 miliknya, wajahnya kembali menjadi topeng es yang mematikan. "Ailen, merunduk di bawah kursi. Jangan keluar sampai aku katakan aman."
Ailen, yang saat itu sedang asyik memakan keripik pisang, justru tidak terlihat panik. Ia memperhatikan situasi di luar. Ada sekitar sepuluh orang bersenjata lengkap yang mulai mendekat.
"Mas Leon, kalau kita cuma nunggu di sini, mobil ini bakal jadi kaleng kerupuk yang dipanggang," ucap Ailen. "Saya punya ide. Mas percaya nggak sama teknik 'Melarikan Diri Ajaib' ala anak panti?"
Leon menoleh sekilas. "Ini bukan waktunya bercanda, Ailen!"
"Saya nggak bercanda! Mas liat tuh, di sebelah kanan ada gang sempit yang cuma muat satu orang. Kalau kita keluar sekarang dan lari ke sana, mereka nggak bakal bisa ngejar pake mobil," Ailen menunjuk sebuah celah di antara bangunan toko tua.
"Terlalu berisiko, mereka akan menembak kita saat kita membuka pintu," sahut Leon.
"Nggak kalau kita punya pengalih perhatian!" Ailen merogoh tas ranselnya yang selalu ia bawa. Isinya bukan lagi senjata kimia, melainkan perlengkapan "survival" versinya sendiri.
Ailen mengeluarkan dua botol plastik besar yang sudah diisi campuran tepung maizena dan bubuk deterjen konsentrat. "Mas, buka pintu sedikit saja, saya bakal kasih mereka kabut stroberi versi 2.0!"
Leon, yang mulai memahami bahwa logika Ailen seringkali berhasil di tengah kekacauan, mengangguk pada Marco. Marco melemparkan granat asap asli ke arah kiri, sementara Ailen melemparkan botol plastiknya ke arah kanan.
Brak!
Botol itu pecah dan tepung maizena yang sangat halus menyebar di udara, menciptakan awan putih pekat yang menyesakkan. Saat para penyerang mencoba menembus kabut asap, deterjen di dalamnya mulai bereaksi dengan kelembapan udara (dan keringat mereka), membuat mata mereka perih luar biasa dan lantai jalanan menjadi sangat licin.
"SEKARANG, MAS! LARI!" teriak Ailen.
Leon menarik tangan Ailen, keluar dari mobil dengan gerakan cepat. Mereka berlari menuju gang sempit tersebut. Tembakan terdengar di belakang mereka, namun karena pandangan musuh terhalang oleh "kabut maizena," peluru-peluru itu hanya menghantam aspal.
Di dalam gang sempit, mereka menemukan diri mereka berada di area pemukiman padat penduduk yang dipenuhi dengan jemuran warga yang melintang di mana-mana. Suara langkah kaki musuh yang mengejar mulai terdengar mendekat.
"Mereka masuk ke gang! Cari mereka!" teriak salah satu pengejar.
"Mas Leon, copot jas Mas! Terlalu mencolok!" perintah Ailen.
Ailen dengan lincah mengambil dua daster motif bunga-bunga yang sedang dijemur (ia bergumam "Maaf ya Bu, nanti diganti sama Mas Leon") dan melemparkan satu ke arah Leon.
"Pakai ini, Mas! Cepat!"
"Aku tidak akan memakai daster, Ailen," desis Leon, merasa martabatnya sebagai Don berada di ujung tanduk.
"Mau pake daster atau mau mati ketembak? Pilih mana?!" tantang Ailen sambil sudah mengenakan daster biru di atas pakaian taktisnya.
Dengan berat hati, Leon Vancort, pria paling ditakuti di dunia bawah tanah, mengenakan daster merah motif dahlia di atas kemeja mahalnya. Mereka kemudian berdiri di balik barisan jemuran sprei yang panjang, berpura-pura sedang sibuk mengangkat jemuran.
Para penyerang berlari melewati mereka. Mereka melihat dua "wanita" yang sedang sibuk dengan jemuran, satu bertubuh mungil dan satu lagi bertubuh sangat tinggi dan kekar dengan bahu yang tampak aneh untuk ukuran seorang ibu rumah tangga.
"Heh! Liat ada pria tinggi dan gadis cantik lari lewat sini nggak?!" tanya salah satu penyerang pada Leon.
Leon menegang, tangannya sudah siap menarik pistol di balik dasternya. Namun Ailen segera menyela dengan suara yang dibuat melengking.
"Oh, itu tadi lari ke sana Mas! Ke arah pasar burung! Buruan, mereka bawa lari dompet saya juga!" teriak Ailen sambil menunjuk ke arah yang berlawanan.
Penyerang itu tidak curiga (mungkin karena mereka terlalu fokus pada target "pria berjas hitam") dan langsung lari menjauh.
Setelah para penyerang menjauh, Leon segera melepas daster itu dengan wajah yang sangat masam. "Jangan pernah ceritakan hal ini pada Marco, atau siapapun."
"Hehe, tergantung sogokan martabaknya ya, Mas," goda Ailen.
Namun, pengejaran belum berakhir. Kelompok penyerang lain menyadari tipuan itu dan mulai kembali. Leon dan Ailen terdesak ke sebuah gudang penyimpanan alat dapur di ujung gang.
"Kita terjebak, Mas. Pintunya dikunci dari luar," ucap Ailen sambil memeriksa pintu besi.
Leon memeriksa senjatanya. "Aku punya sisa satu magasin. Aku akan menahan mereka, kau cari jalan keluar melalui jendela atas."
"Nggak usah baku hantam dulu, Mas. Kita pake teknik 'Seluncur Es Dadakan'," Ailen menunjuk ke arah tumpukan kaleng minyak goreng curah yang ada di pojok gudang.
Ailen membuka keran-keran kaleng minyak tersebut, membiarkan cairan kuning itu membanjiri lantai gudang yang miring ke arah pintu masuk. Ia kemudian mengambil seonggok sabun batangan dan memarutnya dengan cepat menggunakan pisau kecilnya, menyebarkannya di atas minyak.
"Mas Leon, naik ke atas meja itu!"
Tepat saat para penyerang mendobrak pintu besi dan merangsek masuk dengan senjata terhunus...
Sreeeeeet... BRAK!
Mereka tidak bisa menjaga keseimbangan sama sekali. Lantai itu sudah berubah menjadi area paling licin di dunia. Para penyerang terpeleset, saling bertubrukan, dan senjata mereka terlempar ke segala arah. Salah satu penyerang bahkan meluncur sejauh lima meter dan kepalanya bersarang di dalam ember cucian kosong.
Leon, dari atas meja, dengan tenang menembak kaki mereka satu per satu untuk memastikan mereka tidak bisa mengejar lagi.
"Teknikmu... sangat tidak ortodoks, Ailen," ucap Leon sambil turun dari meja setelah situasi aman.
Mereka keluar dari pintu belakang gudang dan menemukan sebuah jalan raya kecil. Di sana, seorang sopir bajaj sedang tertidur pulas di dalam kendaraannya.
"Mas Leon, kita pinjam ini ya!" Ailen membangunkan sopir bajaj tersebut dengan sopan namun terburu-buru.
"Pak, darurat! Pinjam bajajnya ya, ini uang sewanya!" Ailen memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu (yang ia ambil dari saku jas Leon sebelumnya).
Sopir bajaj yang kaget melihat tumpukan uang langsung memberikan kunci bajajnya. "Silakan Neng! Bawa sekalian sama rodanya juga boleh!"
Leon duduk di kursi penumpang yang sempit, sementara Ailen mengambil alih kemudi.
"Kau bisa mengendarai ini?" tanya Leon ragu.
"Dulu di panti, saya sering bantuin Bang Jago nganter jemput sayur pake beginian, Mas! Pegangan yang kenceng!"
Ailen menarik gas. Bajaj oranye itu melesat dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, meliuk-liuk di antara gang-gang sempit pemukiman kumuh yang tidak mungkin bisa dilalui oleh mobil SUV milik para pengejar. Leon harus memegangi atap bajaj agar kepalanya tidak terbentur saat Ailen melakukan manuver "drift" di tikungan tajam.
"Ailen! Pelankan sedikit!" teriak Leon.
"Nggak bisa Mas! Ini namanya Fast and Furious versi kearifan lokal!" sahut Ailen sambil tertawa lepas.
Setelah berputar-putar selama dua puluh menit, mereka akhirnya sampai di sebuah titik aman di mana tim Alpha sudah menunggu dengan helikopter dan pengawalan ketat. Marco berlari mendekat, wajahnya penuh kecemasan yang langsung berubah menjadi kebingungan saat melihat bosnya keluar dari sebuah bajaj oranye dengan sisa-sisa benang daster merah di kerah kemejanya.
"Tuan... Anda baik-baik saja?" tanya Marco ragu.
Leon merapikan kemejanya, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah tercabik-cabik oleh daster dan bajaj. "Aku baik-baik saja. Pastikan semua penyerang di gang tadi diamankan."
Ailen turun dari kursi kemudi bajaj, melakukan gerakan peregangan otot. "Seru juga ya, Mas! Kapan-kapan kita kencan pake bajaj lagi ya, tapi yang warnanya pink kalau ada."
Leon menatap Ailen. Kekagumannya pada gadis ini tumbuh ke level yang baru. Di saat semua protokol keamanan canggihnya gagal, teknik-teknik "ajaib" Ailen yang berasal dari kerasnya hidup di jalanan justru menyelamatkan nyawa mereka.
"Kau benar-benar luar biasa, Ailen," ucap Leon pelan saat mereka berjalan menuju helikopter. "Mungkin aku harus mengganti kurikulum pelatihan pengawalku dengan teknik 'Jemuran Berjalan' milikmu."
"Boleh Mas! Nanti saya jadi instrukturnya. Gajinya cukup dibayar pake voucher belanja daster seumur hidup," sahut Ailen riang.
Saat helikopter mulai lepas landas, Leon melihat ke bawah, ke arah kota yang begitu luas dan penuh bahaya. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi membutuhkan pasukan ribuan orang untuk merasa aman. Selama ia memiliki gadis semprul dengan tas ransel penuh tepung dan kreativitas tanpa batas ini, sang Iblis merasa ia bisa melarikan diri dari neraka sekalipun.
"Mas Leon?"
"Ya, Ailen?"
"Daster merah tadi... sebenernya cocok lho di Mas. Bikin aura mafia Mas jadi lebih... fresh."
Leon hanya bisa memejamkan mata, mencoba menahan diri untuk tidak melempar Ailen keluar dari helikopter. Namun di balik wajah datarnya, Leon tersenyum. Sebuah senyuman yang menandakan bahwa ia telah benar-benar menyerah pada kegilaan gadis yang paling ia cintai ini.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍