NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Asisten Pribadi

Darren berdiri dengan pedenya di hadapan cermin besar sebuah toko pakaian di pusat perbelanjaan kelas menengah. Jas hitam yang dia pakai itu sungguh menyedihkan lantaran sudah mulai mengkilap di bagian siku, sementara bahan wol kasarnya memberikan sensasi gatal yang tidak nyaman di leher. Padahal dulu saat pertama kali menemui Seo yeon di kafe Kuningan, dirinya merasa pakaian ini sudah cukup pantas. Namun, setelah menyadari bahwa wanita itu adalah pewaris dinasti konglomerat, jas ini mendadak terasa seperti kain lap yang tidak berharga.

Penjaga toko yang berdiri tidak jauh dari sana melirik Darren dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh keraguan meski Darren tidak mempedulikannya. Dia segera memilih dan mencoba beberapa setelan jas premium dengan potongan yang sangat mahal. Seluruh pilihannya jatuh pada warna-warna gelap yang memancarkan kesan berwibawa.

“Tolong hitung semuanya,” kata Darren sembari menunjukkan tumpukan barang pilihannya.

Penjaga toko itu pun terkejut, tidak percaya. “Maaf? Anda bermaksud mengambil semua setel jas dan aksesori yang sudah dipilih ini?”

“Iya, semuanya tanpa kecuali,” jawab Darren.

Total belanjaan itu mencapai angka Rp18 juta. Rekening Sistem miliknya berpendar untuk memberikan validasi atas transaksi itu tanpa hambatan sedikit pun. Satu jam kemudian, Darren melangkah keluar dari mal dengan menenteng enam kantong besar. Saat dirinya sudah berada di dalam taksi, ponsel di saku celananya tiba-tiba saja bergetar. Layar menampilkan nama Rina, membuat jantung Darren berdetak lebih kencang.

Darren tidak segera mengangkat panggilan itu. Pikirannya melayang pada kejadian di Bekasi, saat dirinya melihat Alvino menggendong Cello dengan penuh kehangatan yang palsu. Rina juga tersenyum lebar di sana, sementara sang ibu mertua memeluk bahu pria kaya itu dengan bangga. Tentu saja Darren merasa perih karena dialah yang sebenarnya menanggung seluruh beban biaya rumah sakit, namun dirinya justru terasingkan di balik pagar rumah mantan mertuanya.

Belakangan ini, Cello mulai sering menyebut nama Om Alvino di setiap panggilan video mereka. Anak itu bercerita tentang sepeda baru yang diterimanya, sementara Rina selalu berbisik di sampingnya. Darren teringat saat Cello bertanya apakah Om Alvino jauh lebih kaya daripada ayahnya sendiri. Darren hanya bisa tersenyum pahit menanggapi itu. Dirinya tidak menyimpan amarah pada sang anak, melainkan merasa sangat kecewa karena harus bersaing dengan pria yang sebenarnya memiliki tujuh wanita simpanan itu.

Ponsel itu masih terus saja bergetar saat Darren menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak emosinya sebelum akhirnya menekan tombol hijau.

“Mas Darren, aku mau ngomong serius tentang masa depan Cello,” suara Rina terdengar tegang di seberang sana.

“Ngomong saja, Rina. Apa lagi sekarang?” tanya Darren sembari menatap ke luar jendela taksi.

“Aku mempertimbangkan untuk membawa Cello keluar dari Jakarta. Mungkin kami akan pindah ke Singapura. Suasana di sini sudah gak sehat bagi tumbuh kembangnya,” jelas Rina.

“Kau tahu aku gak mungkin memberikan izin bagi Cello untuk dibawa ke luar negeri tanpa persetujuan dari pengadilan, Rina!” Darren membalas tanpa ragu.

“Jangan berdebat dulu, Mas. Aku cuman mau bilang terima kasih atas semua uang yang sudah Mas keluarkan untuk rumah sakit Cello dan sebelum-sebelumnya. Tapi sekarang ada pria lain yang bersedia melindungiku. Pokoknya kami akan berangkat besok lusa,” sela Rina.

Lantas Darren tertawa getir sembari menggelengkan kepala. “Alvino Chandra, kan? Aku udah tahu semuanya kok.”

“Dari mana Mas tahu?”

“Itu tidak penting. Aku hanya berharap Alvino memperlakukan Cello dengan baik dan semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Tapi ingat satu hal, jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu selamanya,” Darren memperingatkan dengan begitu dingin.

“Kamu selalu saja begitu, Mas! Setelah semua pengorbanan yang kulakukan untuk Cello, kamu masih menganggap aku ibu yang buruk? Aku yang melahirkannya, bukan kamu! Kamu tidak pernah berubah, tetap saja egois!” bentak Rina sebelum memutus sambungan secara sepihak.

Darren menatap layar ponsel yang kini sudah gelap. Ada hasrat besar untuk membanting perangkat itu ke lantai taksi. Kendati demikian, dirinya mencoba menahan diri sembari memejamkan mata.

“Gue harus bisa ngelepasin semuanya kalau mau naik kelas,” gumam Darren dalam hati sembari berusaha mengatur detak jantungnya.

Taksi akhirnya berhenti di depan gedung perkantoran yang dibangun dari fasad kaca hitam yang menjulang tinggi ke angkasa. Gedung ini adalah milik penuh keluarga Han, sebuah simbol kekuasaan yang nyata di tengah kota.

“Satu gedung ini saja mungkin nilainya sudah jauh melampaui seluruh aset yang dimiliki si Alvino itu,” gumam Darren mengerjapkan mata beberapa kali.

Dia turun dari mobil, hanya membawa diri dan ponselnya. Darren melangkah masuk ke lobi dengan hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang. Adapun dua petugas keamanan yang berjaga di depan lift menatapnya dengan pandangan merendahkan.

“Maaf, mau ke mana? Ada keperluan apa di gedung ini?” tanya salah satu petugas dengan sangat tidak ramah.

“Aku mau ketemu sama Nona Seo yeon. Aku asisten pribadinya yang baru,” jawab Darren sembari menatap balik kedua pria itu.

Petugas pertama pun mengamati penampilan Darren dengan sinis. “Hah? Asisten pribadi katamu? Kau yakin tidak salah lantai? Kami sering sekali menerima tamu yang mengaku-ngaku sebagai orang dekat pemilik gedung.”

“Mungkin Bapak ini sedang melamar kerja dan salah masuk pintu. Kalau mau daftar, silakan ke HRD di lantai lima,” tambah petugas kedua sembari tertawa mengejek.

“Aku tidak sedang mengaku-ngaku. Aku diundang langsung oleh Nona Han Seo yeon ke sini,” Darren berujar dengan tenang. Namun, kedua petugas itu justru semakin terbahak setelah mendengar nama wanita berstatus tinggi dan cantiknya luar biasa itu disebut-sebut.

Semua itu sampai tawa mereka terhenti saat pintu lift khusus di bagian belakang berdenting. Seo yeon keluar dengan langkah yang sangat tegas. Sementara tatapan matanya langsung menemukan keberadaan Darren di tengah lobi.

Kedua petugas keamanan itu pun seketika mengubah ekspresi mereka. Tubuh mereka tegak sempurna sembari memberikan anggukan hormat yang sangat dalam. Seo yeon sama sekali tidak menoleh ke arah mereka. Dia langsung berjalan mendekati Darren.

“Maaf ya, aku terlambat. Tadi ada rapat darurat yang tidak bisa ditinggalkan,” kata Seo yeon sembari menatap Darren.

Dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada kedua petugas keamanan. “Untuk Pak Darren, mulai sekarang tidak perlu ada pemeriksaan lagi. Dia asisten pribadiku.”

Wajah kedua petugas itu langsung berubah pucat layaknya mayat hidup. “B-baik, Nona Han. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” jawab mereka dengan terbata-bata.

Seo yeon memberikan anggukan singkat, lalu mengajak Darren masuk ke dalam lift khusus. Di dalam lift yang bergerak cepat menuju lantai paling atas, Darren hanya mampu membisu.

“Jangan dimasukkan ke hati. Mereka cuma menjalankan prosedur,” kata Seo yeon.

“Iya, nggak masalah buatku,” jawab Darren, meski lidahnya masih sedikit kaku menggunakan kata ‘aku’ kepada wanita di sampingnya.

Ruangan kerja Seo yeon ternyata sangat luas dan mewah. Di tengah ruangan terdapat meja kayu besar dengan tumpukan dokumen yang terlihat sangat berat.

“Duduk dulu, Darren,” perintah Seo yeon.

Darren pun duduk di kursi tamu. Sedangkan Seo yeon segera mengambil setumpuk dokumen setinggi hampir setengah meter dari rak, lalu meletakkannya di hadapan Darren.

“Ini materi yang harus kamu kuasai. Mulai dari hukum bisnis sampai profil tujuh perusahaan yang jadi target kita. Aku kasih waktu tiga hari buat kamu pelajari semuanya,” jelas Seo yeon seperti tidak menerima bantahan.

Tentu saja Darren menatap tumpukan kertas itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. “Tiga hari buat semua ini? Kau serius?”

“Iya, tiga hari. Aku ada urusan di ruangan sebelah. Kamu bisa mulai sekarang,” kata Seo yeon sembari berjalan menuju pintu di ujung ruangan.

Setelah Seo yeon menghilang, Darren segera mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.

“Gila ya, tiga hari disuruh baca ginian semua. Dia pikir otak gue memori komputer apa?” Batin Darren sembari menarik napas panjang.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Darren masih terduduk di kursi yang sama. Matanya mulai memerah akibat terlalu lama menatap layar laptop dan tumpukan kertas. Sementara kepalanya terasa sangat penuh dengan istilah-istilah bisnis yang rumit.

Kemudian suara pintu terbuka membuat Darren menoleh. Seo yeon baru saja keluar dari kamar mandi pribadinya. Rambut hitam panjangnya yang basah terurai bebas, sementara tubuhnya hanya tertutup oleh mantel handuk berwarna putih yang longgar. Darren langsung dibuat membeku di posisinya.

“Duh, cobaan apa lagi ini? Jangan lihat, Darren! Fokus ke laptop!” Darren segera memalingkan wajahnya kembali ke arah layar. Di dalam benaknya, dia mulai merapalkan teks Pancasila dan lagu-lagu nasional demi mengalihkan fokusnya yang mulai buyar. Belum lagi matematika! Ya! Berhitung bisa mengalihkan torpedonya yang terasa siap meluncur.

Adapun wanita bernama Seo yeon itu berjalan mendekati jendela besar, lalu mulai mengikat rambutnya. “Kalau kau lapar, pesan saja makanan dari restoran di lantai sepuluh. Aku mau istirahat sekarang.”

Darren mengerjapkan mata. “Eh, tunggu. Jam berapa biasanya aku boleh pulang kalau sudah selesai?”

Seo yeon pun menoleh sembari memiringkan kepalanya sedikit. “Sepertinya kau salah paham. Asisten pribadiku nggak punya jadwal pulang. Kau tinggal di ruangan sebelah mulai sekarang.”

Darren menatap Seo yeon dengan ekspresi tidak percaya. “Maksud kamu... aku harus tinggal di sini?”

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, wanita itu masuk ke ruangan pribadinya dan menutup pintu, meninggalkan Darren yang masih menatap tumpukan dokumen di depannya, lalu menatap pintu kamar Seo yeon.

“Kayaknya gue bener-bener masuk perangkap, tapi tuh cewek memang cantik bukan main. Bahaya nih. Tapi dokumen-dokumen ini... ah... bangsat.... .” keluh Darren dalam hati sembari kembali membuka dokumen hukum bisnis di hadapannya.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!