NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Jauh di Tokyo sana , seorang wanita asing itu sedang berada di rumah sakit ,karena dua bulan sejak malam bersama Arlan ia merasa tubuhnya mengalami perubahan yang signifikan.Hari ini ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan .

Farah duduk dengan gelisah di kursi tunggu rumah sakit di pusat kota Tokyo. Aroma antiseptik yang tajam biasanya membuatnya tenang, namun hari ini aroma itu justru memicu rasa mual yang luar biasa. Jemarinya terus meremas ujung blus yang ia kenakan, sementara matanya tak lepas dari pintu kayu berwarna putih di depannya.

Dua bulan telah berlalu sejak malam di hotel mewah itu. Malam yang ia pikir hanyalah sebuah misi "pesanan" untuk menjatuhkan seorang pengusaha besar Indonesia bernama Arlan Dirgantara. Namun, perubahan pada tubuhnya siklus bulanan yang terhenti dan rasa lelah yang ekstrem memaksanya datang ke sini.

"Farah-san?" panggil seorang perawat dalam bahasa Jepang yang sopan.

Farah berdiri dengan kaki yang terasa lemas. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan serba putih itu. Seorang dokter paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya menyambutnya dengan senyum tipis.

"Silakan duduk, Farah-san. Hasil tes darah dan pemeriksaan ultrasonografi Anda sudah keluar," ujar dokter itu sambil menatap layar monitor.

Farah menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga sendiri. "Bagaimana hasilnya, Dokter?"

Dokter itu mengarahkan layar ke arahnya. Di sana, terlihat sebuah titik kecil yang nampak tenang, namun sangat berarti. "Selamat, Anda sedang mengandung. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu kedelapan."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Farah. Kalimat itu terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh rencana hidupnya. Minggu kedelapan itu tepat dihitung sejak malam panas yang ia habiskan bersama Arlan di kamar hotel nomor 1204 itu.

"Apa... apa Anda yakin?" suara Farah bergetar, ia merasa tenggorokannya mendadak kering.

"Sangat yakin. Janinnya sehat dan posisinya sangat baik," dokter itu menjelaskan detail lainnya, namun suara itu hanya terdengar seperti dengungan di telinga Farah.

Farah keluar dari ruang praktik dengan langkah gontai. Di tangannya, ia memegang selembar foto hitam-putih hasil USG pertama yang menunjukkan kehidupan baru di dalam rahimnya. Ia duduk di salah satu kursi di koridor rumah sakit yang ramai, namun ia merasa sangat sendirian.

Pikirannya melayang pada perintah dari orang-orang yang membayarnya dulu. Mereka menyuruhnya hanya untuk membuat skandal, mengambil foto, dan menghancurkan reputasi Arlan. Tak ada yang merencanakan sebuah nyawa hadir di tengah-tengah kekacauan ini.

Ia teringat wajah Arlan yang dingin namun nampak sangat mencintai istrinya saat pria itu melemparkan kartu dan mengusirnya. Ia juga tahu bahwa pria itu sudah kembali ke Jakarta dan sedang berjuang menyelamatkan pernikahannya.

"Anak ini..." gumam Farah pelan sembari menyentuh perutnya yang masih rata. "Anak ini memiliki darah Dirgantara."

Sebuah dilema besar kini menghimpitnya. Haruskah ia menyimpan rahasia ini selamanya dan menghilang? Ataukah ia akan kembali menjadi pion bagi orang-orang yang membayarnya untuk mengirimkan "kejutan" kedua ke Jakarta?

Farah menatap foto USG itu sekali lagi. Di satu sisi, ia merasa bersalah pada Maya, wanita yang belum pernah ia temui namun sudah ia sakiti hatinya. Namun di sisi lain, ia tahu bahwa bayi ini adalah kartu as yang bisa mengubah hidupnya selamanya, atau justru menghancurkan hidupnya lebih dalam lagi.

Tanpa ia sadari, tangannya merogoh ponsel di dalam tas. Ia mencari kontak seseorang yang pernah memberinya mandat untuk mendekati Arlan.

"Aku punya berita baru. Dan kali ini, Arlan Dirgantara benar-benar tidak akan bisa melarikan diri," batin Farah dengan air mata yang menetes di pipinya, antara rasa takut dan ambisi yang kembali membara.

Ibu Arlan, Widya, terpaku di balik pilar rumah sakit di Tokyo itu. Jantungnya berdegup kencang, tangannya yang menggenggam jemari kecil Dion mendadak dingin. Kalimat "darah daging Dirgantara" terus terngiang di telinganya seperti lonceng kematian bagi ketenangan keluarganya.

Sebagai seorang ibu, Widya tahu betul sifat putra tunggalnya. Arlan sangat mencintai Maya. Namun, sebagai seorang Dirgantara, ia tidak bisa membiarkan keturunan keluarganya telantar di negeri orang apalagi jika itu benar-benar anak Arlan.

"Dion sayang, tunggu sebentar di sini dengan suster ya? Oma harus bicara dengan seseorang," bisik Widya dengan suara gemetar. Setelah memastikan Dion aman, ia melangkah pasti menghampiri Farah dan kedua orang tuanya.

Pertemuan itu singkat namun penuh ketegangan. Widya memperkenalkan dirinya, dan seketika wajah Farah pucat pasi, sementara pamannya justru tersenyum licik seolah umpannya baru saja dimakan oleh ikan yang paling besar.

Sementara itu suasana di kediaman Dirgantara begitu kontras dengan keadaan di Tokyo. Pagi-pagi sekali Maya menyiapkan semua keperluan Arlan ke kantor,dan Arkan yang merasa lega karena semuanya terlihat baik-baik saja setelah usaha keras Dafa membungkam semua berita mengenai skandal Dion.

" Jadi , kamu yakin ..sayang akan keluar kota hari ini,kamu tega meninggalkan mas sendirian di rumah..?"

Arlan memeluk Maya dari belakang saat istrinya itu sedang merapikan dasinya. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum Maya, mencoba menanamkan rasa tenang ke dalam benaknya yang sempat porak-poranda. Baginya, pagi ini adalah kemenangan kecil. Dafa telah melaporkan bahwa semua akses informasi dari Tokyo telah diblokir, dan Maya tampak tidak curiga sedikit pun.

Maya terkekeh pelan, tangannya menepuk lembut lengan Arlan yang melingkar di perutnya. "Hanya dua hari, Mas. Lagipula, pekerjaan di Bandung ini sudah tertunda lama. Kamu jangan manja, biasanya juga ditinggal berminggu-minggu kalau kamu dinas luar negeri tenang-tenang saja."

"Itu beda," gumam Arlan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Maya. "Sekarang rasanya satu jam tanpamu saja rumah ini jadi seperti kuburan."

Maya melepaskan diri dari pelukan Arlan lalu berbalik, menatap suaminya dengan tatapan jenaka sekaligus penuh kasih. "Mas... kamu kenapa sih? Sejak pulang dari Tokyo , kamu jadi sangat posesif dan... aneh. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"

Jantung Arlan berdegup kencang. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak sangat natural hasil dari bertahun-tahun bernegosiasi di meja bisnis. "Tidak ada, sayang. Mas hanya... menyadari betapa berharganya kamu setelah perjalanan kemarin. Mas hanya ingin memastikan istri Mas selalu bahagia."

Maya tersenyum lebar, merasa tersanjung. "Terima kasih, Mas. Aku berangkat ya, supir sudah menunggu di depan. Jangan lupa makan siang, jangan hanya kopi saja yang diminum. Bis ku itu pemarah ,Mas telat dikit aja dia sudah seperti singa kelaparan dan adiknya yang menyebalkan itu cerewet bikin pusing."

" Kalau begitu berhenti saja dari pekerjaan itu ,sayang...apalagi Devan itu adalah rival mas sejak di bangku kuliah sampai di dunia bisnis.

Arlan mengatakannya dengan nada yang terdengar bercanda, namun kilatan di matanya menyiratkan keseriusan yang tidak bisa disembunyikan. Ia memang tidak pernah menyukai Devan. Selain karena pria itu rival bisnis yang licin, Arlan juga tahu Devan selalu mencari celah untuk mendekati Maya, memanfaatkan setiap kesempatan saat Arlan sedang sibuk.

"Mas Arlan, berhenti bicara seperti itu.Pak Devan itu profesional, dan dia memimpin perusahaan dengan sangat baik. Lagi pula, kalau aku berhenti, aku bosan di rumah terus," ujar Maya sambil menepuk pipi Arlan pelan. "Sudah ya, aku benar-benar harus pergi. Pak Devan sudah menelepon dua kali sejak sepuluh menit yang lalu."

Arlan memaksakan senyum, tangannya melepaskan pinggang Maya dengan berat hati. "Ya, ya... hati-hati di jalan. Kabari Mas kalau sudah sampai Bandung."

Maya mengecup kening Arlan sebelum berbalik dan berjalan dengan anggun meninggalkan kamar. Arlan terus menatap istrinya hingga bayangannya hilang dari pandangan. Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Arlan lenyap seketika. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa frustrasi.

1
Agunk Setyawan
iya Farah penjahat ko bisa bahagia sedangkan Maya menderita trus ibu Widya juga sama orang tua egois 🤮
SisAzalea
pokoknya Arlan harus tanggungjawab sama bayi nya saja, tidak harus pada ibu nya,biar Farah dgn Rafael saja🤣..
farah nggak boleh menempati posisi maya ya..tidak ..jika itu berlaku,ini novel author yg terakhir aku baca.
SisAzalea
yesss yesss tq Dion..aunty love you more..
Lee Mba Young
Maya masih sakit hati tp pelakor bhgia melahirkan Dan dpt laki orang 🤣. happy ending.
mnding jadi pelakor cukup tidur ma laki orang hamil trus minta tanggung Jawab tanpa Ada karma penderitaan sprti istri sah Maya yg mnderita di selingkuh i🤣.

hidup pelakor pokok nya menang banyak.
Lee Mba Young
kok enak ya jd Farah. pelakor Mang hidup nya selalu enak jmn sekarang. kl bgitu mnding jd pelakor drpd istri sah.
istri sah tersakiti tp pelakor bisa akhir bhgia dng laki orang bhkan melahirkan bayi 🤣.
SisAzalea
hiburan nya cukup berlima saja ya, Devan - Maya+ Dion+ Arlan - Nadine
farahnya dirumah sama ibu Widya aja
SisAzalea
Thor, please..jgn Arlan dgn Farah..biar jodoh mereka org lain saja,
membaiki hubungan bukan beerti harus mulakan yg sememangnya sudah rosak dari awal,cukup dgn hanya memaafkan lalu bertanggung dgn baik keatas bayi tersebut.🙏
SisAzalea
seharusnya enggak perlu rasa bersalah,
SisAzalea
kerna terlalu mikir ttg perasaan sendiri.. ketinggian khayalan nya,ingin di cintai,ingin memiliki yg tak seharusnya 🤭
SisAzalea
Farah terlalu lemah,sudah di nasihati oleh Maya namun masih tetap gagal nuruti,tidak becus urus emosi dan stress sendiri..
SisAzalea
ya benar,sangat benar...dgn kehadiran Farah disitu bukan beerti keadaan/suasana atau situasi boleh berubah menjadi lebih baik justru mungkin sebaliknya.
Anonim
DEG DEG DEG SAKIT JANTUNG KAH?
Anonim
AWOKWOK deg deg deg GOBLOK.. lu sakit ?
Anonim
kebanyakan deg deg deg .... doki doki kah??? doki doki kimochi afureteku tanjun na koate janai.. mikansei na watashi demo SUKI tte ITTAI
Anonim
awokawok TYPE M
Anonim
TOLOL MASOKIS
Anonim
ANYING CERITA MASOKIS
Anonim
YA SUDAH... BUNUH DIRIMU SENDIRI
Yeni Wahyu Widiasih
haisss... kalo arlan gk jodoh sama maya ..jangan sama si farah lah yg jelas2 dr awal niatx ngerusak.. dia jebak arlan sekarang sok2 an jadi korban
maya
benar tuh . Ngadi2 nih farah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!