Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Yang Tertinggal
Dunia seolah berhenti berputar di dalam kamar mandi apartemen medis di Singapura itu. Cahaya lampu neon yang putih pucat memantul pada benda plastik kecil di tangan Alya. Dua garis merah. Begitu tegas, begitu nyata, seolah sedang meneriakkan sebuah kenyataan yang ingin Alya sangkal dengan seluruh sisa tenaganya.
Alya menyandarkan punggungnya pada pintu kamar mandi yang dingin. Napasnya tersengal. Ingatannya melayang pada malam-malam kelam di mansion Dirgantara—malam di mana Arka memperlakukannya dengan kasar, namun juga malam-malam di mana pria itu mencari pelarian dalam tubuhnya. Malam yang ia kira hanya meninggalkan luka batin, ternyata meninggalkan sesuatu yang jauh lebih permanen.
"Kenapa sekarang?" isaknya pelan. "Di saat aku baru saja melepaskanmu, Arka..."
Ia teringat surat cerai yang baru saja ia tandatangani. Ia teringat tatapan kosong Arka di bandara. Dan ia teringat bagaimana pria itu telah menghancurkan martabatnya. Alya menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia seharusnya bahagia karena telah bebas, namun kehadiran nyawa baru ini terasa seperti rantai tak kasat mata yang kembali menariknya ke arah pria yang ingin ia lupakan.
Di Jakarta, Arka sedang berada di sebuah bar eksklusif yang sepi. Ia tidak sedang minum untuk merayakan kebebasannya, melainkan untuk menenggelamkan rasa sakitnya. Di depannya tergeletak salinan surat cerai yang sudah sah. Ia bukan lagi suami Alya. Secara hukum, wanita itu sudah menjadi orang asing baginya.
"Tuan, Anda sudah minum terlalu banyak," ujar Bayu yang setia berdiri di belakangnya.
Arka tidak menghiraukan. Ia menatap gelas wiskinya. "Kau tahu, Bayu? Aku selalu berpikir bahwa kemenangan adalah saat aku melihat musuhku hancur. Tapi sekarang, aku melihat Alya pergi, dan aku merasa akulah yang paling hancur di sini."
Arka mengeluarkan ponselnya, membuka folder tersembunyi berisi foto-foto Alya yang ia ambil secara diam-diam melalui kamera pengawas rumah atau saat Alya sedang tertidur. Ia menatap wajah istrinya yang tampak damai saat tidur—satu-satunya momen di mana Alya tidak terlihat ketakutan padanya.
"Aku akan mencarinya lagi, Bayu," gumam Arka, suaranya parau karena alkohol.
"Tuan, bukankah Anda sudah berjanji untuk melepaskannya? Tuan Reno tidak akan membiarkan Anda mendekat."
"Aku tidak akan mendekat untuk menyakitinya," potong Arka tajam. "Aku hanya ingin memastikan dia makan dengan benar. Aku ingin tahu apakah dia masih menangis setiap malam. Aku... aku hanya ingin tahu bahwa dia baik-baik saja."
Arka bangkit, namun tubuhnya goyah. Bayu segera menahannya. "Kita pulang sekarang, Tuan."
Satu minggu kemudian, Singapura.
Alya keluar dari ruang dokter kandungan dengan wajah yang masih pucat. Reno sudah menunggunya di lobi rumah sakit dengan segelas jus buah segar. Pria itu menyadari ada yang berbeda dari Alya sejak beberapa hari terakhir—Alya lebih pendiam, sering melamun, dan tidak menyentuh makanan beraroma tajam.
"Apa kata dokter, Al? Kau bilang kau hanya merasa tidak enak badan karena kelelahan menjaga Ibu," tanya Reno penuh selidik.
Alya menatap Reno dengan bimbang. Reno telah melakukan banyak hal untuknya. Pria itu telah mempertaruhkan reputasinya untuk menyelamatkan Alya dari Arka. Haruskah ia membebani Reno dengan kenyataan ini?
"Reno... aku..." Alya ragu, namun ia tahu ia tidak bisa menyembunyikannya selamanya. "Aku hamil."
Langkah Reno terhenti. Gelas jus di tangannya hampir saja terlepas. Ia menatap perut Alya yang masih rata, lalu menatap mata Alya yang berkaca-kaca.
"Anak Arka?" tanya Reno pelan.
Alya hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban. Air matanya jatuh. "Aku takut, Ren. Jika Arka tahu, dia tidak akan pernah melepaskanku. Dia akan mengambil anak ini dariku."
Kemarahan melintas di wajah Reno, namun ia segera menekannya. Ia mendekat dan memegang bahu Alya dengan protektif. "Dia tidak akan tahu, Al. Aku tidak akan membiarkannya tahu. Di atas kertas, kau sudah bercerai. Anak ini... anak ini adalah anakmu. Hanya anakmu."
"Tapi bagaimana jika dia mencariku?"
"Aku sudah menyiapkan segalanya. Kita tidak akan tinggal di Singapura lebih lama lagi. Ibumu sudah pulih dan bisa melakukan perjalanan udara. Kita akan pergi ke London. Di sana, aku punya keluarga dan jaringan yang tidak bisa ditembus oleh Arka Dirgantara."
Reno menatap Alya dengan intens. "Ikutlah denganku, Alya. Biarkan aku menjadi ayah bagi anak itu. Biarkan aku melindungimu dengan cara yang benar."
Alya tertegun. "Reno, aku tidak bisa memintamu melakukan itu. Ini bukan tanggung jawabmu."
"Ini pilihanku, Al. Karena sejak dulu, aku sudah mencintaimu. Jauh sebelum Arka masuk ke hidupmu dan menghancurkannya."
Sementara itu, Arka benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Ia menyewa detektif internasional terbaik untuk melacak keberadaan Alya tanpa membuat kegaduhan. Namun, pencariannya menemui jalan buntu. Reno sangat lihai dalam menghilangkan jejak.
Hingga suatu hari, sebuah paket tiba di kantor Arka. Tanpa nama pengirim.
Arka membuka paket itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah kotak perhiasan. Saat ia membukanya, ia menemukan cincin pernikahan yang dulu ia paksakan ke jari Alya. Di bawah cincin itu, ada selembar foto hasil ultrasonografi (USG) yang sudah agak buram.
Di bagian belakang foto itu tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal:
*"Dia tidak akan pernah memanggilmu Ayah. Jangan cari kami lagi."*
Dunia Arka runtuh seketika. Ia menatap foto kecil yang menunjukkan bintik kecil kehidupan di dalamnya. Darah dagingnya. Buah cintanya yang ia hancurkan sendiri dengan kebencian.
"Alya..." Arka meraung, memukul meja kerjanya dengan frustrasi.
Ia baru saja menyadari bahwa hukumannya belum berakhir. Kehilangan istri adalah satu hal, tetapi mengetahui bahwa ia memiliki anak yang kini berada di tangan musuhnya adalah jenis siksaan yang jauh lebih mengerikan.
"Bayu! Siapkan jet pribadi! Sekarang juga!" teriak Arka.
"Kita mau ke mana, Tuan?"
"Cari setiap rumah sakit kandungan di Singapura, Malaysia, London, di mana pun! Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus kukeluarkan! Aku ingin menemukan istri dan anakku!"
Arka berdiri di depan jendela kantornya, menatap awan yang berarak. Matanya yang dulu penuh kebencian kini hanya menyisakan kegilaan dan kerinduan yang mendalam. Ia sadar, ia telah menjadi monster yang kini harus memohon pada korban yang telah ia sakiti.
Namun di ribuan mil jauhnya, Alya sedang duduk di dalam pesawat jet bersama Reno, menatap awan yang sama. Ia memegang perutnya, berjanji di dalam hati bahwa anaknya tidak akan pernah merasakan dinginnya mansion Dirgantara dan tajamnya dendam seorang Arka.
"Kita mulai dari awal, Nak," bisik Alya lirih.
Pintu masa lalu telah tertutup, namun benih yang tertinggal memastikan bahwa cerita ini belum benar-benar berakhir. Perang antara benci, cinta, dan penebusan baru saja memasuki babak yang paling emosional. Arka Dirgantara mungkin memiliki segalanya, tapi untuk mendapatkan kembali apa yang paling berharga, ia harus belajar menjadi manusia seutuhnya—sesuatu yang mungkin sudah terlambat untuk ia lakukan.