Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Sore itu, ketika langit mulai meredup dan warna jingga perlahan memudar di balik gedung-gedung tinggi, Erlan akhirnya kembali ke apartemen. Hari yang panjang di kantor terasa melelahkan, namun langkahnya terasa lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dulu, setiap kali ia pulang, yang menyambutnya hanyalah kesunyian. Tidak ada suara, tidak ada tawa, hanya ruang kosong yang terasa dingin dan asing.
Kini semuanya berbeda.
Begitu pintu apartemen terbuka, suara langkah kecil langsung menyambutnya. Kirana, putrinya, berjalan dengan langkah yang masih sedikit goyah, namun penuh semangat, menuju ke arahnya.
“Kirana…” suara Erlan melembut tanpa ia sadari.
Tanpa ragu, ia langsung mengangkat putrinya tinggi-tinggi. Tawa kecil Kirana pecah, jernih dan tulus, mengisi ruangan yang dulu sunyi. Erlan mengangkatnya sekali lagi, membuat Kirana tertawa lebih keras, tangannya meraih udara seolah sedang terbang.
“Pelan-pelan, nanti dia pusing,” suara Linda terdengar dari dalam.
Erlan menoleh. Linda berdiri di dekat meja makan, memperhatikan mereka dengan tatapan lembut yang sulit disembunyikan.
“Dia suka,” jawab Erlan singkat, masih menggendong Kirana.
Kirana memegang kerah baju Erlan, matanya berbinar, seolah belum puas dengan permainan itu. Erlan tersenyum kecil sebelum akhirnya menurunkannya perlahan.
Linda berjalan mendekat. “Sudah, sekarang mandi dulu. Habis itu makan malam.”
Nada suaranya terdengar biasa, namun ada kehangatan yang tidak bisa disembunyikan. Erlan mengangguk tanpa banyak protes. Ia menepuk kepala Kirana pelan sebelum berjalan menuju kamar.
Air hangat yang mengalir di tubuhnya seakan meluruhkan sisa-sisa lelah dari pekerjaan. Untuk sesaat, ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan yang berbeda dari dulu. Kini, kesunyian itu bukan lagi kosong, melainkan jeda yang ia butuhkan sebelum kembali ke dunia kecil yang menunggunya di luar.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai, Erlan keluar dari kamar. Aroma makanan langsung menyambutnya, membuat perutnya yang sejak siang belum terisi dengan baik mulai terasa lapar.
Namun seperti biasanya, waktu sudah terlalu malam.
Linda dan Kirana sudah lebih dulu makan.
Erlan duduk di meja makan sendirian. Ia menatap piring di hadapannya sejenak sebelum mulai makan perlahan. Ada rasa yang sulit dijelaskan setiap kali ia makan sendirian seperti ini. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi karena ada sesuatu yang terasa kurang.
Langkah kecil kembali terdengar.
Erlan menoleh.
Kirana berjalan ke arahnya, pelan namun pasti, seolah tahu persis ke mana ia harus pergi.
Erlan tersenyum kecil. “Ke sini, ya?”
Tanpa menunggu, ia mengangkat Kirana dan mendudukkannya di pangkuannya. Kirana langsung bersandar dengan nyaman, tangannya bermain dengan ujung sendok yang dipegang Erlan.
Linda yang melihat itu langsung berdiri. “Kirana, jangan ganggu Papa makan.”
Ia hendak mengambil Kirana, namun Erlan menahan.
“Tidak apa-apa,” kata Erlan tenang. “Aku tidak terganggu.”
Linda berhenti, menatapnya sejenak.
Erlan melanjutkan, “Justru… lebih enak kalau ditemani.”
Kirana tersenyum kecil, seolah mengerti bahwa dirinya memang diinginkan di sana. Ia menepuk-nepuk paha Erlan dengan tangan kecilnya.
Linda akhirnya menghela napas pelan, lalu kembali duduk di kursinya.
Ia tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya memperhatikan Erlan yang makan sambil sesekali memperhatikan Kirana.
“Kerjaan… bagaimana?” akhirnya Linda membuka percakapan.
Erlan menelan makanannya sebelum menjawab. “Seperti biasa. Banyak yang harus diurus.”
“Masih sesibuk itu?”
Erlan mengangguk pelan. “Mengatur perusahaan tidak sesederhana kelihatannya.”
Linda terdiam sejenak. Ia menunduk, jemarinya saling bertaut di atas meja.
“Berarti… dulu kamu juga seperti ini?”
Erlan meliriknya sekilas. “Lebih parah.”
Linda mengangkat pandangannya.
“Aku belum terbiasa waktu itu,” lanjut Erlan. “Tekanannya besar. Banyak hal yang harus dipelajari dalam waktu singkat. Jujur saja… waktu itu aku cukup tertekan.”
Linda terdiam. Ada sesuatu di matanya yang berubah.
“Depresi?” tanyanya pelan.
Erlan tidak langsung menjawab. Ia mengusap punggung Kirana yang mulai bersandar lebih nyaman.
“Bisa dibilang begitu,” jawabnya akhirnya.
Ruangan kembali hening.
Linda menunduk. Rasa bersalah perlahan muncul di wajahnya.
“Seharusnya… waktu itu aku ada di sampingmu,” katanya lirih. “Aku malah panik dan… membuat semuanya semakin sulit.”
Erlan menghentikan gerakan makannya. Ia menatap Linda dengan tenang.
“Itu sudah lewat.”
Linda menggeleng pelan. “Tapi tetap saja…”
“Linda,” potong Erlan lembut, “kita tidak bisa mengubah masa lalu.”
Linda terdiam.
Erlan melanjutkan, “Sekarang aku sudah terbiasa. Sudah bisa menghadapinya. Dan… sejak ada Kirana…”
Ia menatap putrinya yang kini hampir tertidur di pangkuannya.
“…semua rasa lelah itu hilang begitu saja.”
Linda mengikuti arah pandangannya.
Wajahnya melunak.
Namun di balik itu, masih ada sesuatu yang mengganjal.
“Kamu… sudah menyiapkan rumah, ya?” tanyanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Erlan mengangguk. “Sudah.”
“Untuk kami?”
“Iya.”
Linda menarik napas pelan. “Kamu akan… sering ke sana?”
Erlan menjawab tanpa ragu. “Tentu.”
Namun jawaban itu justru membuat Linda semakin diam.
Ada keheningan yang aneh.
Erlan menyadarinya.
“Kamu tidak suka?” tanyanya langsung.
Linda tersentak kecil. “Bukan begitu.”
“Lalu?”
Linda menggigit bibirnya sejenak sebelum menjawab.
“Aku hanya… berpikir…”
Ia berhenti.
Erlan menunggu.
“…akan lebih baik kalau kamu juga tinggal di sana.”
Kalimat itu keluar lebih pelan dari yang ia kira.
Erlan menatapnya cukup lama.
Linda segera mengalihkan pandangan. “Maksudku… supaya kamu tidak jauh dari Kirana.”
Erlan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kamu tidak keberatan kalau aku tinggal di sana?”
Linda terdiam sebentar, lalu menjawab, “Itu rumah yang kamu beli. Kamu berhak tinggal di sana.”
Erlan menggeleng pelan.
“Itu rumah untuk kamu dan Kirana.”
Linda menatapnya lagi.
“Aku hanya ingin memastikan kalian punya tempat yang nyaman,” lanjut Erlan. “Tanpa harus khawatir soal apa pun.”
“Lalu kamu?”
“Aku akan datang.”
“Seberapa sering?”
“Sesering yang aku bisa.”
Jawaban itu terdengar pasti, namun tidak sepenuhnya menenangkan.
Linda menunduk lagi.
Erlan memperhatikannya.
“Aku juga akan menunggu,” tambah Erlan tiba-tiba.
Linda mengangkat kepala.
“Menunggu?”
Erlan mengangguk. “Sampai kamu mau kembali.”
Degup jantung Linda terasa lebih cepat.
“Kembali… seperti dulu?”
“Iya.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Linda tampak ragu.
“Perasaanmu…” katanya pelan, “tidak berubah?”
Erlan langsung menjawab, “Tidak.”
“Sedikit pun?”
“Tidak.”
Linda menatapnya dalam.
“Apa itu benar-benar perasaan yang sama… atau hanya tanggung jawab karena Kirana?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Erlan terdiam sejenak.
Ia menatap Kirana yang kini sudah benar-benar tertidur di pangkuannya.
“Aku bertanggung jawab pada Kirana,” katanya pelan.
Linda menahan napas.
“Tapi…” Erlan mengangkat pandangannya, menatap langsung ke arah Linda.
“…aku juga masih mencintaimu.”
Kalimat itu sederhana, namun terasa berat.
Linda tidak langsung menjawab.
Ia mencoba mencari sesuatu di wajah Erlan. Keraguan, kebohongan, atau sekadar formalitas.
Namun yang ia lihat hanya ketenangan.
“Tidak ada penyesalan?” tanyanya lagi.
Erlan menggeleng.
“Tidak ada.”
Linda menggigit bibirnya.
Semua terasa terlalu mudah untuk dipercaya.
“Tapi aku yang pergi,” katanya. “Aku yang memilih untuk berpisah.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tetap…”
“Iya.”
Linda menunduk.
Pikirannya kacau.
Perasaannya bercampur.
Ia ingin percaya, namun takut jika semua ini hanya ilusi yang akan hancur lagi.
Erlan tidak memaksanya.
Ia hanya diam, membiarkan waktu berjalan.
Kirana bergerak kecil dalam tidurnya. Erlan langsung menepuk punggungnya pelan, refleks yang kini sudah menjadi kebiasaan.
Linda memperhatikan itu.
Ada sesuatu yang berubah dari Erlan.
Bukan hanya sebagai seorang ayah, tapi juga sebagai seseorang yang lebih tenang, lebih matang.
Malam semakin larut.
Namun percakapan itu masih terasa menggantung.
Di antara mereka, ada masa lalu yang belum sepenuhnya selesai, dan masa depan yang masih belum jelas arahnya.
Namun untuk saat ini, setidaknya mereka berada di tempat yang sama.
Duduk dalam satu meja.
Dengan satu tujuan yang mulai terasa sejalan.
Dan mungkin, perlahan, mereka akan menemukan kembali apa yang pernah hilang.