NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Dua Lawan, Satu Pedang

"Tradisi apa yang menyuruh dua lawan satu?" Aditya menggerutu, kedua tangannya mencengkeram pedang kayu yang nyala jingganya mulai redup—kelelahan mulai menggerogoti energinya.

"Tradisi yang mengajarkan bahwa hidup tidak pernah adil," jawab Kakek Seno sambil melempar biji-bijian ke mulutnya. "Lagipula, kau sudah naik ke level 6 dalam satu hari. Jangan manja."

Prajurit keenam dan ketujuh bergerak bersamaan. Satu bersenjata pedang cahaya ganda—pendek di tangan kiri, panjang di tangan kanan. Satunya lagi tanpa senjata, tapi kedua lengannya berbalut energi yang berputar seperti bor.

Prajurit Matahari #6: Level 9. Kekuatan: 110. Kecepatan: 82.

Prajurit Matahari #7: Level 10. Kekuatan: 130. Kecepatan: 95.

Aditya menelan ludah. Level 9 dan 10. Bahkan Pemimpin Kartel yang membuatnya hampir mati hanya level 9—dan itu sendirian. Sekarang ada dua, dan yang satu lebih kuat.

"Menyerah?" tanya Kakek Seno.

Aditya tidak menjawab. Ia malah memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam.

Jurus Surya, Level 3.

Energi di sekelilingnya—yang emas dari tiang batu, yang hangat dari liontin—mengalir masuk ke pori-porinya. Bukan hanya memulihkan stamina, tapi juga memperkuat setiap serat otot. Ketika ia membuka mata, pupilnya berpendar jingga—seperti matahari kecil.

"Tidak," katanya.

Kedua prajurit menyerang.

---

Prajurit keenam memimpin dengan pedang panjang. Tebasannya cepat—Aditya hanya bisa menghindar, bukan menangkis. Ia melompat mundur, tapi Prajurit ketujuh sudah menunggu. Tinju berlapis energi itu menghantam tanah di depan kakinya, menciptakan lubang selebar satu meter.

Bisa mati beneran, pikir Aditya.

Ia mengaktifkan Silent Step Level 2—85% peredaman suara, 20 detik durasi. Tubuhnya menghilang dari pendengaran, meski tidak dari penglihatan. Ia bergerak zigzag, mencoba memisahkan kedua lawan.

Pecah konsentrasi mereka.

Prajurit keenam mengikutinya dengan kecepatan 82. Prajurit ketujuh memotong jalur dari samping. Mereka terlatih—mungkin sudah dilatih selama 400 tahun—dan tahu cara memburu mangsa yang lebih lemah.

Tapi Aditya bukan mangsa.

Ia berhenti mendadak, berputar, dan mengayunkan pedang kayunya ke arah Prajurit keenam yang melesat ke arahnya. Bukan untuk menusuk—tapi untuk mengalihkan. Pedang panjang lawan menangkis dengan mudah, tapi itu yang Aditya inginkan.

Sekarang!

Ia melepaskan satu tangan dari pedang, lalu menghantamkan tinju kosong ke arah rusuk Prajurit keenam. Basic Combat Mastery membisikkan titik lemah: Tepat di bawah tulang rusuk ketiga, tempat energi bertemu.

Duk!

Prajurit keenam terhuyung. Cahayanya berkedip.

Tapi Prajurit ketujuh sudah di atasnya. Tinju berbor energi meluncur ke arah punggung Aditya.

Tidak bisa dihindari.

BRAK!

Aditya terpental lima meter, jatuh berguling di lantai batu. Punggungnya seperti terbakar. Panel sistem menunjukkan:

Stamina: 42%. Luka sedang di punggung.

Level Prajurit #7: Tekanan energi 130. Kerusakan per pukulan: Sangat tinggi.

"KAU MASIH HIDUP?" teriak Kakek Seno dari pojokannya—kali ini dengan nada sedikit khawatir.

Aditya bangkit dengan susah payah. Darah menetes dari sudut bibirnya—darah asli, bukan ilusi. Ia menyentuh liontin di dadanya. Batu merahnya berdenyut seperti jantung yang marah.

Bantu aku, bisiknya dalam hati.

Liontin itu menyala.

---

Skill Tersembunyi Terbuka: Jurus Matahari Terbit.

Syarat: Level 6+, kemauan bertarung meski hampir kalah.

Efek: Meningkatkan semua atribut sebesar 50% selama 60 detik. Cooldown: 24 jam.

Aditya merasakan kekuatan baru mengalir. Bukan dari luar—tapi dari dalam, dari inti dirinya yang selama ini tertidur. Matanya berpijar. Pedang kayunya menyala terang seperti obor.

Kekuatan: 27 → 40 (sementara).

Kecepatan: 24 → 36 (sementara).

"Wah," Kakek Seno berseru dari pojokannya, "sudah lama aku tidak lihat jurus itu."

Aditya tidak mendengar. Ia sudah melesat ke arah kedua prajurit.

Prajurit keenam menebas dengan pedang panjangnya. Kali ini Aditya tidak menghindar—ia menangkis. Benturan dua pedang menciptakan percikan cahaya yang memenuhi gua.

Kekuatanku masih lebih rendah. Tapi...

Ia mendorong pedang lawan dengan sekuat tenaga, lalu menusuk ke depan. Pedang kayunya menembus dada cahaya Prajurit keenam.

Prajurit #6 dikalahkan. +1200 Koin.

Level naik: 6 → 7.

Tinggal satu.

Prajurit ketujuh—yang terkuat—tidak mundur. Ia malah memutar lengannya lebih cepat, menciptakan suara seperti bor raksasa. Serangannya kali ini dari atas—tinju berenergi yang menghantam lantai.

Aditya melompat ke samping. Bukan menjauh, tapi mendekat. Ia merangsek masuk ke ruang kosong di bawah lengan lawan yang terangkat. Pedang kayunya menusuk ke atas—ke arah ketiak, tempat energi Prajurit terpusat.

Sst!

Prajurit ketujuh membeku. Bor di lengannya berhenti. Cahaya di tubuhnya berkedip—sekali, dua kali—lalu padam.

Prajurit #7 dikalahkan. +2000 Koin.

Level naik: 7 → 9.

Kekuatan: 35. Kecepatan: 33. Stamina: 55.

Total Koin: 8210.

---

Aditya ambruk berlutut. Pedang kayunya jatuh di sampingnya. Seluruh tubuhnya gemetar—campuran antara kelelahan dan adrenalin yang mulai surut.

Kakek Seno berjalan mendekat, langkahnya pelan. "Kau selesai lebih cepat dari yang kukira."

"Berapa... lama aku di sini?"

"Di dalam gua? Lima jam." Kakek Seno tersenyum. "Di luar? Lima puluh jam. Lebih dari dua hari."

Mata Aditya membelalak. "Dua hari?! Maya dan Alesha—mereka pasti—"

"Tenang." Kakek Seno menunjuk ke arah mulut gua. "Lihat ke sana."

Aditya menoleh. Di balik tirai air terjun, samar-samar ia melihat dua bayangan berusaha menembus air. Satu tinggi dan atletis. Satu lagi lebih kecil, dengan sesuatu yang menyala kebiruan di tangannya.

Maya dan Alesha.

Mereka datang menjemputnya.

"Teman-temanmu setia," Kakek Seno berkomentar. "Itu langka. Jangan disia-siakan."

Aditya tersenyum—senyum paling lelah dan paling tulus yang pernah ia buat.

"Aku tidak akan."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!