Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - Sandiwara Dimulai
Pagi itu, kediaman keluarga Arutala masih diselimuti oleh aroma khas kopi hitam berpadu dengan roti panggang yang baru matang. Namun, ketenangan di meja makan mendadak terusik oleh dering nyaring ponsel milik Nala yang tergeletak di samping piringnya. Sebuah nama yang sangat ia kenal terpampang di layar: Hariyanto Lazuardi. Pria paruh baya pemilik Lazuardi Studio sekaligus sosok yang sudah dianggap Nala sebagai ayah kedua itu membawa sebuah kabar perubahan rencana yang cukup mendadak. Melalui sambungan telepon, Om Hari mengabarkan bahwa jadwal pemotretan Nala bersama Arya, Zara, dan beberapa model Bugenville Boutique lainnya sengaja diundur menjadi lusa.
Alasan yang diberikan sangat masuk akal dan profesional; Om Hari tidak ingin jadwal mereka tertumpuk dengan model-model lain hari ini, sehingga ia bisa mendedikasikan waktu penuh lusa nanti untuk mengambil sudut gambar terbaik bagi mahakarya pakaian terbaru mereka. Selain itu, ada beberapa wartawan yang berkerumun di depan studio, mereka harus menangani hal tersebut untuk kenyamanan.
Berita yang dikeluarkan Lumi’s Media telah menggemparkan dunia maya. Netizen tak menyangka akan kabar tersebut. Bagaimana tidak menggemparkan? Chemistry Nala dan Arya terlihat begitu nyata, yang ternyata adalah pasangan real life.
“Siapa dek?”
“Om Hari. Beliau memberitahu penundaan jadwal pemotretan kak. Alasannya agar tidak tertumpuk seperti kemarin dan alasan kedua adalah banyak wartawan yang berkumpul di depan studio.” Dipta mengangguk mengerti. Kemudian melihat berita di ponselnya. Sungguh kabar pemberitahuan hubungan Nala dengan Arya membuat kegemparan di internet. Di medsos banyak yang mempertanyakan kebenaran hal ini. Warganet ada yang mendukung karena visual yang setara, namun ada juga yang tak mendukung karena merasa mereka berdua tak setara dalam segi materi.
“Mereka pikir kita bakal menumpang hidup begitu dengan Wijaya? Nggak jelas banget. Kekayaan keluarga kita hampir setara dengan keluarga Wijaya. Tanpa Nala menikah kedepannya, dia masih bisa hidup berkecukupan.” cibir Dipta yang tak suka membaca komentar yang tak mengenakkan itu
“Tenang sayang, biarkan semuanya berkata semaunya. Kita hanya perlu memperhatikan kenyamanan Nala saja.” Maya melihat ke arah Nala yang terlihat santai. Dia tak mempermasalahkan dunia yang sedang membicarakannya.
“Nala, langkah apa yang kau ambil selanjutnya?” Dipta dan Maya begitu khawatir dengan Nala kini. Kemungkinan besar Nala tak akan bisa bergerak bebas mulai hari ini setelah berita itu disebar luaskan.
“Tak masalah, yang penting dia mau membantu mempromosikan kafe baruku dengan gratis. Selama dia membantu, aku juga akan membantu. Dia untung aku juga harus untung, kan?” ujar Nala santai sambil memakan roti panggangnya. Kesantaian Nala membuat kakak dan kakak iparnya menjadi pusing sendiri. Pasangan suami istri itu saling pandang, merasa lelah melihat sikap santai Nala yang tak pernah berubah.
Jika kedua kakaknya itu pusing, maka berbeda dengan Nala. Gadis itu menyembunyikan senyum geli di balik wajah polos andalannya yang tampak sangat tak berdosa, seolah-olah tidak ada skenario besar yang sedang ia tenun di dalam kepalanya.
...****************...
Dua hari kemudian
Brrrmmm
Brrrmmm
Terdengar suara mobil memasuki area rumah. Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terparkir dengan anggun di pelataran rumah. Nala yang awalnya duduk diam di ruang tengah setelah melaksanakan makan paginya, berdiri menyambut tamu.
“Kamu bersiap, biar Abang yang lihat siapa yang datang.” Nala yang diusir pun memilih mengikuti perintah kakak laki-lakinya yang protektif itu. Berjalan perlahan, menaiki tangga menuju kamarnya. “Abang, ingat jaga senyum. Jangan jutek ke orang lain, nanti cepat tua loh!!” teriaknya lalu berlari kabur. Dipta yang mendengar nada ejekan dari adiknya hanya bisa mendelik kesal, sedangkan Maya tertawa kecil melihat aksi kakak beradik yang selalu menghiburnya.
“Lihat papa dan aunty mu, selalu menghibur bukan?” bisik Maya pada putranya, Bayu yang ikut tertawa bersamanya.
Saat membuka pintu, Dipta melihat Arya datang dengan pakaian kasual dengan tatanan rambut sedikit acak. Penampilan yang ia kenakan hari ini sangat berbeda dengan penampilan dia sehari-hari sebelumnya. Jika sebelumnya dia tampak selalu rapi dengan pakaian formal, bahkan Dipta tak pernah melihat Arya memakai pakaian kasual seperti yang ia lihat kini.
Maya yang melihat penampilan baru Arya. Maya terkejut, namun juga terpesona. Tatanan rambut yang biasa ia lihat dari Arya adalah tatanan rambut formal. Jika biasanya dia terlihat tampan, maka dengan keras Maya akan berkata bahwa kali ini Arya terlihat lebih tampan. Bahkan Maya mengakui, ketampanan Dipta suaminya kalah jauh dari Arya.
“Mau apa lo kesini?” tanya Dipta setelah menilai penampilan Arya
Dipta sungguh tak menyukai kehadiran Arya. Sikap waspada sangat terlihat jelas di wajah Dipta, seolah Arya adalah seorang pencuri yang siap kapan saja akan membawa lari adik kesayangannya. Dan itu tak akan dia biarkan terjadi.
“Tentu saja, aku ingin menjemput tuan putri dari keluarga Arutala.” Jawaban santai, tanpa tau bahwa kalimat itu telah membangunkan aura penjaga yang kental.
“Nala biar gue yang antar, anda bisa pergi berangkat sendiri tuan Wijaya.”
“Tapi kami sudah ada janji kak,” Nala turun dengan pakaiannya yang lebih rapi. Arya yang melihat kehadiran Nala, terpesona dengan penampilan Nala. Mata tajam Arya melihat pakaian yang Nala kenakan. Tanpa sengaja, mereka berdua menggunakan pakaian yang senada, sama-sama menggunakan pakaian berwarna coklat susu.
“Janji?”
“Ehem, kakak tau kan di studio pasti masih ada kawanan media. Jadi sebagai pembuktian hubungan, kami harus terlihat disana secara bersamaan. Jadi, ya...”
“Jadi kalian harus berangkat bersama, gitu?” Nala mengangguk mengiyakan, tak lupa senyum manis ia keluarkan. Bagi Nala, senyum milikinya adalah senjata yang paling ampuh dalam membujuk kakak laki-laki satu-satunya itu.
Maya yang berdiri di samping Dipta hanya bisa tersenyum simpul, menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang selalu bersikap seperti singa penjaga. Dia mewajarkan sikap Dipta yang begitu protektif pada Nala. Nala cantik dan terlihat lugu, sebagai kakak pasti akan melindungi adiknya kan. Jika Nala adalah adik kandungnya, mungkin dia akan bersikap hal yang sama pada Nala seperti yang kini dilakukan oleh Dipta. Namun, sebagai perempuan Maya dapat melihat bahwa Arya tak terlihat main-main, dia terlihat bersungguh-sungguh. Maya merasa Arya akan menjaga Nala dengan baik, ia yakin akan hal itu.
“Tenanglah Mas, biarkan mereka berangkat bersama. Bukankah kau akan mengantarku hari ini? Kita harus ke daycare lalu ke rumah sakit, aku bisa terlambat sayang.” Maya ikut membujuk Dipta setelah melihat kode Nala yang meminta bantuan. Maya tau ide di dalam otak Nala. Lagipula, langkah ini memang diperlukan untuk membuktikan berita yang ada.
“Baiklah, kalian bisa berangkat bersama. Tapi ada syaratnya!” Dipta tak ingin terlalu keras. Apalagi, drama ini juga sudah dijalankan. Bukti berita itu juga harus dijalankan, mau tidak mau. Jalan berdua, adalah pembuktian bahwa berita itu benar adanya.
“Apa?”
“Kalian harus tetap jaga jarak...” Dipta melihat posisi Nala yang terlalu dekat dengan Arya segera menarik Nala menjauh. “... setidaknya 1 meter. Itu batas minimum. Jadi kurang dari itu tidak boleh. Oh iya, kalian harus lapor setiap 1 jam sekali kalau bisa. Pokoknya harus ada laporan kemanapun kalian pergi!”
“Kalau soal lapor, mungkin masih terdengar masuk akal. Tapi jarak 1 meter? Ayolah bang, masuk akal dikit dong!” protes Nala
“Iya atau tidak sama sekali.”
“Baiklah, terserah. Lagipula Abang kan mungkin lihat apa yang gue lakuin,” Nala melanjutkan kalimat terakhirnya dalam hati. Lalu kabur, menarik Arya untuk berangkat.
Di dalam mobil, mereka saling diam. Kevin yang berada di depan bersama Lila hanya bisa melihat majikan mereka yang terlihat canggung. Selama perjalanan hanya suara musik yang menemani. “Nona, kita sudah sampai!” Suara Lila memecah keheningan.
Kevin, asisten setia Arya yang duduk di kursi kemudi, dengan sigap mematikan pelan musik di dasbor dan melirik melalui kaca spion tengah. “Tuan, Nona... di depan ada pergerakan yang tidak biasa. Beberapa kamera media dan paparazzi sudah bersiap mengintai dari seberang jalan.” lapor Kevin dengan nada suara yang tenang namun waspada.
Nala melirik keluar jendela, melihat beberapa orang dengan lensa kamera panjang yang bersembunyi di balik tiang dan pohon. Dengan senyumnya, Nala memperhatikan segalanya.
“Siap bersandiwara tuan?”
“Tentu saja!”