Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8
Kedua mempelai itu pun sudah kembali berada di kursi pengantin, kembali duduk berdampingan sebelum menyambut tamu terakhir yang akan menyalami keduanya.
Jantung Alisa masih berdebar cepat, seolah sedang menari di dalam sana. Bayangan momen barusan terus berputar di kepalanya tanpa henti.
Harlan, yang duduk di sampingnya, terlihat tetap tenang, seperti biasanya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun, kali ini, ada satu hal yang berbeda dari pria itu.
Tangan kekarnya masih menggenggam erat tangan Alisa. Tidak lama kemudian, beberapa anggota keluarga tampak mendekati keduanya. Tawa kecil dan godaan ringan mulai bermunculan dari berbagai arah.
“Ciee, yang habis first kiss!”
“Manis banget loh kalian tadi,”
“Iya. Bikin para jomblo iri saja.”
Alisa langsung menunduk, wajahnya kembali memerah. Ia tidak berani menatap siapapun, apalagi membalas candaan-candaan itu.
Sementara itu, Harlan hanya menanggapi dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Ia tidak banyak bicara, namun sesekali melirik ke arah Alisa… memastikan gadis itu masih baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, suasana mulai perlahan mereda. Para tamu satu per satu mulai berpamitan, meninggalkan gedung resepsi yang sejak tadi penuh dengan tawa dan kebahagiaan.
Lampu-lampu yang tadinya terang kini mulai diredupkan. Musik pun perlahan menghilang, menyisakan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
Alisa menghembuskan nafas panjang. Menunjukan sebuah kelegaan. Membuat Harlan menoleh dan refleks, ia juga melakukan hal yang sama.
“Hahhh… Capek…” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Namun, tentu saja Harlan mendengarnya dan langsung merespon.
“Kita kembali ke kamar sekarang yuk.” ajak Harlan membuat Alisa langsung menoleh ke arahnya.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, Alisa berani menatap Harlan.
“Mas…” panggil Alisa pelan.
Harlan menoleh. Menatap penuh dengan tanya.
“Iya?”
Alisa terdiam sejenak. Seolah ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Namun akhirnya, ia memberanikan diri untuk mengatakan unek-uneknya.
“Tadi… Apa, itu harus, ya?” tanyanya.
Harlan tidak langsung menjawab. Ia menatap Alisa cukup lama. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, atau mungkin… menata kata-kata agar tidak menyinggung.
“Mungkin tidak harus. Tapi… dalam situasi seperti tadi… kita tidak punya pilihan lain.” lanjut Harlan.
Jawaban itu logis dan masuk akal. Tapi entah kenapa… ada sedikit rasa didalam hati Alisa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Begitu, ya.” jawabnya lirih sembari kembali menunduk.
Hening. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Hingga akhirnya… Harlan kembali membuka suaranya
“Alisa.”
Alisa mengangkat wajahnya lagi. Menoleh, lalu menatap Harlan yang memanggil namanya
“Apa… kamu keberatan?”
Pertanyaan itu membuat Alisa sedikit terkejut. Ia tidak menyangka… Harlan akan menanyakan hal itu.
Beberapa saat, ia hanya diam. Mencoba memahami perasaannya sendiri. Lalu, perlahan… ia menggeleng pelan.
“Tidak. Aku cuma… kaget saja.” jawabnya jujur.
Harlan mengangguk pelan. Seolah mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Alisa.
“Apa… ini pertama kalinya?” tanya Harlan lagi.
Alisa kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan Harlan, namun, perlahan ia pun menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban.
Harlan terdiam, tidak lagi berkata-kata. Pria itu hanya menatap wajah Alisa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Hingga, tiba-tiba, Harlan mengulurkan tangannya ke hadapan Alisa.
“Ayo… kita ke kamar sekarang.” ucapnya.
Alisa menatap tangan itu, sesaat. Lalu perlahan… ia meletakkan tangannya di sana.
“Iya, Mas. Ayo.”
Dan untuk pertama kalinya, panggilan itu terdengar begitu natural keluar dari bibirnya. Harlan tidak mengatakan apa-apa.
Namun sudut bibirnya… terangkat sedikit, membentuk senyuman kecil.
****
Langkah kaki mereka bergema pelan di lorong hotel yang kini sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam sebelumnya.
Gaun pengantin Alisa yang menjuntai sedikit terangkat saat ia berjalan, sementara tangan Harlan tetap menggenggam nya dengan erat, seolah memastikan gadis itu tidak tertinggal.
Namun, beberapa langkah kemudian, Alisa mulai menyadari sesuatu. Arah kamar yang mereka tuju… berbeda dari yang tadi siang.
“Mas…” panggilnya pelan, langkahnya sedikit melambat. Membuat Harlan menoleh sekilas.
“Hm?”
“Ini… bukan arah kamar aku yang tadi siang.” ucap Alisa ragu.
Harlan tidak langsung menjawab. Ia hanya memperlambat langkahnya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Alisa. Tatapannya masih tetap tenang, seperti biasanya.
“Memang bukan,” jawabnya singkat membuat Alisa semakin bingung.
“Terus… kenapa kita ke sini?” tanya Alisa, kali ini dengan nada yang sedikit lebih pelan, seolah takut jawabannya akan membuat jantungnya kembali berdebar tidak karuan.
Harlan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya kembali melangkah, menarik Alisa dengan lembut untuk mengikutinya.
Beberapa langkah kemudian, mereka berhenti di depan sebuah pintu besar dengan desain yang jauh lebih mewah dibandingkan kamar yang tadi siang mereka pakai untuk bersiap.
Harlan mengeluarkan kartu akses, lalu tanpa banyak bicara, ia menempelkannya di handle pintu. Dan…
Bip.
Pintu pun terbuka perlahan. Harlan mendorongnya sedikit, lalu menoleh ke arah Alisa.
“Ayo, masuk.” titahnya.
Alisa berdiri diam sesaat. Tatapannya beralih dari wajah Harlan… ke dalam ruangan di balik pintu itu.
Dan saat ia melangkah masuk. Seketika, nafasnya langsung tertahan.
Ruangan itu… jauh lebih luas dari kamar hotel yang pernah ia sambangi.
Bukan sekadar kamar hotel biasa, melainkan sebuah suite besar dengan ruang tamu terpisah, sofa mewah, meja kaca yang berkilau, hingga jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari.
Lampu-lampu hangat menerangi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang elegan sekaligus… romantis.
Alisa melangkah pelan, matanya berkeliling, menyapu setiap sudut ruangan itu.
Tidak bisa ia bayangkan, berapa uang yang dihabiskan oleh Harlan untuk menyewa kamar itu.
“Ini…” gumamnya lirih.
“Kamar kita?” potong Harlan sambil menutup pintu di belakang mereka, lalu berjalan mendekati Alisa.
Alisa menoleh cepat ke arah Harlan. Mencoba mencari penjelasan dari pria itu.
“Jangan kaget. Kamar ini, hadiah dari keluarga besarku karena akhirnya… aku menikah juga.” jelas Harlan sembari melangkah maju.
Harlan berdiri di hadapan Alisa, jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi tidak terlalu dekat juga. Tatapannya turun sedikit, menatap wajah Alisa yang masih menyimpan kebingungan.