NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Bayangan yang Menghimpit

​Pagi itu, lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara tidak lagi terasa seperti sebuah kantor. Bagi Kanaya Larasati, tempat itu telah bertransformasi menjadi sebuah arena gladiator modern yang dilapisi kaca dan baja. Kursi kosong milik Siska di barisan depan menjadi sebuah monumen kesunyian yang menyeramkan—sebuah pengingat bagi siapa pun yang berniat bermain api dengan integritas perusahaan.

​Naya duduk di meja barunya, meja yang sebelumnya ditempati oleh desainer senior lain yang kini dipindahkan ke proyek cabang. Posisi barunya sebagai Senior Designer pengawas membawa beban yang jauh lebih berat dari sekadar tumpukan fail digital. Setiap mata yang melirik ke arahnya seolah-olah membawa timbangan yang sedang menilai: apakah dia memang layak, atau dia hanyalah pion favorit sang CEO yang sedang berkuasa?

​'Jangan hiraukan mereka, Naya. Mereka hanya bisa melihat permukaannya, tapi mereka tidak tahu seberapa banyak darah dan keringat yang kau tuangkan di atas beton Gianyar,' batin Naya, jemarinya bergerak cepat di atas permukaan tetikus, melakukan verifikasi akhir pada simulasi struktur pilar keempat.

​Kelopak mata Naya terasa seberat timah, denyut di pelipisnya seirama dengan detak jarum jam dinding yang kaku. Efek kafein dari kopi hitam ketiga yang ia minum pagi ini mulai memudar, meninggalkan rasa hampa di lambungnya. Namun, setiap kali ia merasa lelah, bayangan Arjuna yang berdiri di tengah kegelapan kantor semalam kembali muncul, memberikan dorongan adrenalin yang tidak ia inginkan.

​'Dia melindungiku dengan cara yang paling menyakitkan,' Naya merenung, matanya terpaku pada layar monitor namun pikirannya mengembara ke balik pintu mahoni lantai tiga puluh. 'Dia menyebutku sebagai target ayahnya. Dia mematahkan penanya hanya karena aku menyebut nama Bastian. Kenapa pria itu harus begitu rumit? Kenapa dia tidak bisa membiarkanku membencinya dengan tenang?'

​Di lantai tiga puluh, Arjuna Dirgantara sedang berdiri di depan dinding kacanya, membelakangi kemewahan ruang kerjanya. Tangan kanannya yang terbungkus perban tipis akibat luka goresan pena yang patah kemarin, terasa berdenyut nyeri. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya setiap kali ia melihat laporan pemantauan area site yang masuk ke iPad-nya.

​Ia melihat nama Bastian muncul berulang kali di dalam log aktivitas vendor baja.

​Juna memejamkan matanya rapat-rapat, merapatkan rahangnya hingga otot lehernya menonjol tajam. Ia merasa seperti seorang jenderal yang sedang kehilangan kendali atas bentengnya sendiri. Bastian bukan hanya seorang vendor; pria itu adalah personifikasi dari kehangatan yang tidak bisa Juna berikan pada Naya. Bastian adalah masa lalu yang bersih, sementara Juna adalah masa kini yang penuh dengan noda dan tekanan keluarga.

​'Kau harus menariknya kembali ke orbitmu, Arjuna. Tapi semakin dekat kau menariknya, semakin besar risiko Ayah akan menyadari bahwa dia adalah jantung dari seluruh operasimu,' batin Juna, jemarinya meremas kain jas yang tersampir di lengannya.

​Riko masuk dengan langkah yang sangat hati-hati, seolah takut akan memicu ledakan emosional bosnya lagi. "Pak, draf presentasi untuk Dewan Direksi lusa sudah siap. Nona Kanaya sudah menyelesaikan simulasi integrasi pilar kelima."

​Juna berbalik perlahan. "Panggil dia ke sini. Bawa seluruh tim inti. Saya ingin melakukan simulasi presentasi di ruang rapat tertutup."

​"Sekarang, Pak? Nona Kanaya baru saja mulai meninjau ulang draf Siska yang terbengkalai—"

​"Sekarang, Riko. Dan pastikan tidak ada interupsi dari pihak luar. Termasuk panggilan telepon pribadi," perintah Juna, suaranya mengandung otoritas yang dingin dan tidak bisa dibantah.

​Ruang rapat tertutup di lantai tiga puluh adalah sebuah ruangan steril yang didesain untuk menekan nyali siapa pun yang masuk ke dalamnya. Cahaya lampu yang tersembunyi di balik plafon memberikan pendaran yang merata, menghilangkan bayangan namun justru menambah ketegangan.

​Naya masuk bersama tiga desainer junior lainnya. Ia membawa tabletnya dengan langkah yang dipaksakan untuk tetap stabil. Saat matanya bertabrakan dengan mata hitam Juna yang duduk di kepala meja, Naya merasakan sengatan listrik statis yang membuat bulu kuduknya meremang.

​Juna hari ini mengenakan kemeja berwarna abu-abu arang dengan dasi yang simetris sempurna. Penampilannya adalah definisi mutlak dari kesempurnaan korporat. Tidak ada jejak kelemahan dari kejadian tinta pecah kemarin, kecuali perban kecil di tangannya yang sengaja ia sembunyikan di bawah meja.

​"Silakan, Kanaya. Tunjukkan pada saya kenapa Dewan Direksi harus tetap mempertahankan anggaran serat karbon ini setelah insiden keterlambatan logistik kemarin," ucap Juna datar.

​Naya melangkah maju ke depan layar proyektor raksasa. Ia mulai memaparkan data dengan kefasihan seorang ahli. Ia bicara soal tegangan geser, soal distribusi beban pada sudut empat puluh tujuh derajat, dan bagaimana pencahayaan amber akan menutupi sambungan struktural hingga terlihat seperti satu kesatuan pualam yang utuh.

​Sepanjang presentasi, Juna tidak melepaskan pandangannya dari Naya. Ia tidak melihat angka-angka di layar; ia melihat bagaimana bibir Naya bergerak, bagaimana alisnya bertaut saat ia menjelaskan hal teknis yang rumit, dan bagaimana jemarinya yang lentur menari di atas layar iPad.

​'Dia bukan sekadar Senior Designer. Dia adalah nyawa dari proyek ini,' batin Juna, merasakan kekaguman yang bercampur dengan rasa posesif yang semakin liar. 'Jika Ayah menghancurkannya, hotel ini hanyalah tumpukan beton tanpa jiwa. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Bahkan jika aku harus menjadi iblis di matanya setiap hari.'

​"Simulasi beban pada pilar ketujuh menunjukkan deviasi nol koma tiga milimeter saat terpapar angin kencang seperti badai kemarin," Naya menyelesaikan penjelasannya, menatap Juna dengan tatapan menantang. "Ini jauh di bawah batas toleransi keselamatan. Secara teknis, desain ini sudah mencapai titik final."

​Juna menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan dada. "Nol koma tiga milimeter bagi Anda mungkin kecil, Kanaya. Tapi bagi Dirgantara Group, itu adalah potensi gugatan hukum jika terjadi fraktur rambut pada pualam dalam waktu sepuluh tahun ke depan. Saya ingin angka itu menjadi nol koma satu."

​"Itu tidak mungkin secara fisik tanpa menambah berat struktur!" seru Naya, amarahnya mulai terpancing. "Anda menuntut sesuatu yang melawan hukum fisika material!"

​"Maka temukan cara untuk membengkokkan hukum fisika itu, Senior Designer," sahut Juna, menekan kata 'Senior Designer' sebagai pengingat akan otoritasnya. "Gunakan komposit polimer tambahan pada sambungan inti. Saya tidak menerima kata 'tidak mungkin' di ruangan ini."

​Rapat berlanjut dengan debat teknis yang panas. Tim junior lainnya hanya bisa terdiam melihat dua raksasa intelektual itu saling menghantamkan argumen. Bagi orang luar, itu terlihat seperti permusuhan profesional yang sengit. Namun bagi Riko yang mengawasi dari sudut ruangan, itu adalah tarian emosional yang sangat berbahaya.

​Pukul tujuh malam. Ruang rapat sudah kosong, menyisakan Naya dan Juna yang masih duduk di posisi masing-masing. Staf lainnya sudah keluar atas perintah Juna untuk melakukan pemeriksaan ulang di gudang teknis.

​Keheningan di ruangan itu terasa begitu padat, hampir bisa disentuh. Suara deru AC sentral menjadi satu-satunya latar belakang bagi perang batin mereka.

​"Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Naya tiba-tiba, suaranya parau. Ia tidak menatap Juna, melainkan menatap pantulan dirinya di meja kaca yang gelap.

​Juna tidak bergerak. "Melakukan apa?"

​"Menekan saya ke titik nadir. Memberikan jabatan Senior Designer saat semua orang membenci saya karena kedekatan... anomali kita. Dan sekarang menuntut nol koma satu milimeter yang mustahil," Naya menoleh, matanya berkaca-kaca karena kelelahan yang luar biasa. "Anda sedang menghukum saya karena saya membalas ciuman Anda di Bali, bukan? Atau Anda sedang menghukum saya karena saya memiliki masa lalu dengan Bastian?"

​Juna memejamkan matanya, merasakan denyut di perban tangannya semakin kuat. "Saya sedang memastikan Anda menjadi yang terbaik, Kanaya. Agar saat badai yang sebenarnya datang dari Ayah saya, Anda memiliki fondasi yang cukup kuat untuk tidak runtuh."

​"Saya bukan pilar Grand Azure, Arjuna! Saya manusia!" Naya berdiri, suaranya bergetar hebat. "Anda bicara soal fondasi, tapi Anda sendiri yang terus-menerus meruntuhkan mental saya! Anda bilang Anda mencintai saya dengan cara yang protektif, tapi yang saya rasakan hanyalah intimidasi yang mencekik!"

​Juna berdiri, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpisah oleh sudut meja. Ia meraih tangan Naya—tangan yang masih memiliki luka lecet kecil dari site konstruksi.

​"Kau pikir aku menikmati ini?" bisik Juna, suaranya terdengar sangat hancur. "Setiap kali aku melihatmu kelelahan, setiap kali aku melihatmu menahan tangis karena tuntutanku, aku merasa ingin menghancurkan seluruh gedung ini. Tapi jika aku melunak, Ayah akan melihat celah itu. Dan dia akan menarikmu dari hidupku dengan cara yang jauh lebih kejam daripada sekadar tuntutan milimeter."

​Juna mengangkat tangan Naya, mencium telapak tangannya yang kasar dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kata-katanya tadi. "Bastian... dia adalah masa depan yang normal bagimu, Naya. Tapi aku? Aku adalah labirin yang mungkin tidak akan pernah memberimu jalan keluar. Dan aku cukup egois untuk tidak membiarkanmu memilih masa depan yang normal itu selama aku masih bernapas."

​Naya tertegun. Ia merasakan kehangatan bibir Juna di telapak tangannya, merambat hingga ke jantungnya. Rasa benci dan cinta berperang begitu hebat di dadanya hingga ia merasa sesak napas.

​"Anda gila, Arjuna," gumam Naya, namun ia tidak menarik tangannya.

​"Memang," sahut Juna, menatap mata Naya dengan tatapan yang penuh dengan obsesi dan kepedihan. "Dan kau adalah satu-satunya kegilaan yang membuat hidupku terasa nyata."

​Tiba-tiba, ponsel Juna di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal: “Foto-foto di warung tenda SCBD sudah sampai di meja Chairman. Selamat bermain dengan api, Tuan CEO.”

​Wajah Juna seketika pucat pasi. Ia melepaskan tangan Naya dengan kasar, seolah-olah tangan itu baru saja berubah menjadi bara api yang membakar kulitnya. Ia menyambar ponselnya, matanya membelalak menatap layar.

​'Siska. Dia belum benar-benar pergi. Dia meninggalkan bom waktu sebelum dia keluar dari gedung ini,' batin Juna, seluruh tubuhnya menegang.

​"Ada apa, Pak?" tanya Naya, menyadari perubahan drastis pada aura Juna.

​Juna tidak menjawab. Ia segera mengambil jasnya, memasang kembali topeng esnya dalam waktu kurang dari satu detik. Wajahnya kembali menjadi dinding marmer yang tidak berpenghuni.

​"Keluar dari sini, Kanaya. Sekarang juga. Pulang ke apartemenmu, kunci pintumu, dan jangan hubungi siapa pun. Terutama Bastian," perintah Juna dengan nada yang sangat tajam dan penuh kepanikan yang tertahan.

​"Tapi laporan milimeter itu—"

​"Lupakan laporan itu! Pergi!" bentak Juna, suaranya menggelegar di ruang rapat yang sunyi.

​Naya tersentak, rasa takut mulai merayap di hatinya. Tanpa banyak bicara, ia segera menyambar tasnya dan berlari keluar menuju lift. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia tahu bahwa badai yang Juna bicarakan baru saja tiba di depan pintu mereka.

​Juna berdiri sendirian di ruang rapat, mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol. Ia menatap layar ponselnya lagi. Foto-foto itu... foto saat Bastian menyentuh wajah Naya di site. Foto itu akan menjadi alasan sempurna bagi ayahnya untuk melenyapkan Naya demi menjaga integritas nama besar Dirgantara.

​'Akan kuserahkan segalanya, Ayah. Jabatanku, sahamku, harga diriku. Tapi jangan pernah sentuh dia,' geram Juna di dalam hatinya yang hancur.

​Ia segera menelepon tim keamanan pribadinya. "Pastikan apartemen Kanaya Larasati dalam pengawasan dua puluh empat jam. Jika ada orang asing yang mendekat, amankan. Dan cari Siska Wiryawan. Saya ingin dia tahu apa artinya benar-benar kehilangan segalanya."

​Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras lagi. Di dalam mobilnya yang melaju kencang menuju kediaman ayahnya, Arjuna Dirgantara menyadari bahwa ia baru saja memulai perang paling berbahaya dalam hidupnya—perang di mana musuh terbesarnya adalah darahnya sendiri, dan taruhannya adalah nyawa dari satu-satunya wanita yang ia cintai.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri koridor sebuah rumah mewah di kawasan Menteng. Suasana sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang megah.

​Delapan tahun yang lalu.

​Arjuna yang baru berusia dua puluh tahun sedang berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya. Ia baru saja kembali dari kuliahnya di London untuk liburan semester. Di tangannya, ia memegang sebuah medali emas dari kompetisi desain internasional yang ia menangkan.

​Pintu terbuka. Ayahnya, Chairman Dirgantara, sedang duduk di balik mejanya, menatap sebuah laporan di tabletnya. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Juna.

​"Ayah... aku menang. Desainku terpilih untuk menjadi konsep dasar museum di Berlin," ucap Juna muda dengan nada penuh harap.

​Ayahnya akhirnya mendongak, namun tatapannya sangat dingin. "Berapa margin keuntungannya jika desain itu direalisasikan?"

​"Ini soal estetika dan sejarah, Yah, bukan soal profit—"

​"Maka itu tidak ada harganya," potong Ayahnya, ia mengambil medali emas dari tangan Juna dan meletakkannya begitu saja di atas asbak. "Keberhasilan sejati seorang Dirgantara bukan diukur dari medali yang dipajang di dinding, tapi dari seberapa banyak orang yang berlutut karena kau menguasai ekonomi mereka. Jika kau terus mengejar idealisme sampah ini, kau hanya akan berakhir seperti pamanmu yang mati miskin di luar negeri."

​Ayahnya kemudian merobek draf desain Juna yang ada di atas meja. "Jangan pernah membawa sampah sentimental ini ke ruanganku lagi. Besok, kau akan mulai magang di divisi keuangan. Lupakan soal menggambar garis-garis indah."

​Kamera melakukan close-up pada wajah Juna muda yang hancur. Harapannya untuk mendapatkan pengakuan sebagai arsitek baru saja dibunuh oleh ayahnya sendiri. Di detik itu, Juna menyadari bahwa untuk bertahan hidup di rumah ini, ia harus membunuh sisi kreatif dan emosionalnya, dan menjadi mesin yang hanya mengenal angka dan kekuasaan—hingga ia bertemu dengan seorang gadis bernama Kanaya yang secara paksa menghidupkan kembali sisi yang telah ia bunuh itu.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!