Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi itu, sinar matahari lembut menembus jendela besar rumah Pratama, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan dinginnya percakapan yang terjadi malam sebelumnya. Rumah masih terasa sunyi ketika Arsyi telah terbangun sejak subuh, memulai hari barunya dengan tekad yang kuat.
Meskipun Harsa telah dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak perlu memasak dan cukup fokus pada Melodi, Arsyi tetap memilih untuk menyiapkan sarapan. Bukan karena ia berharap Harsa akan menyantapnya, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab yang ingin ia jalani dengan sepenuh hati.
Di dapur, Arsyi tampak sibuk dengan bantuan Mbak Sari. Ia menyiapkan menu sederhana namun hangat, nasi goreng, telur dadar, serta secangkir teh hangat. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh ketelatenan.
“Bu Arsyi, sebenarnya Ibu tidak perlu repot-repot memasak,” ujar Mbak Sari dengan hati-hati. “Pak Harsa biasanya tidak sempat sarapan di rumah, kecuali Bu Nadin membuatkan bekal untuknya,"
Arsyi tersenyum lembut tanpa menghentikan kegiatannya. “Tidak apa-apa, Mbak. Saya hanya ingin menyiapkannya. Kalau pun tidak dimakan, setidaknya sudah ada yang siap.”
Mbak Sari mengangguk mengerti, kagum dengan ketulusan wanita muda itu.
Setelah memastikan semua hidangan tertata rapi di meja makan, Arsyi mencuci tangannya dan segera menuju kamar Melodi. Bayi kecil yang baru berusia sepuluh hari itu mulai terbangun, mengeluarkan suara rengekan kecil yang lembut.
Arsyi mendekat dengan senyum penuh kasih. “Selamat pagi, Sayang,” bisiknya.
Dengan gerakan hati-hati, ia mengangkat Melodi dari boks bayi dan membawanya ke meja ganti. Sambil menggantikan popok, Arsyi mulai menyanyikan lagu nina bobo dengan suara lembut yang menenangkan.
“Nina bobo … oh nina bobo … kalau tidak bobo digigit nyamuk…” Suara merdunya memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat yang sarat dengan kasih sayang. Melodi tampak tenang, bahkan sesekali menggerakkan tangannya seolah merespons sentuhan lembut Arsyi.
Di saat yang bersamaan, Harsa yang telah bersiap untuk berangkat ke kantor berjalan melewati lorong menuju tangga. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya masih menyiratkan kelelahan, namun sikapnya tetap tegas seperti biasa. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara nyanyian lembut dari dalam kamar Melodi.
Tanpa sadar, ia mendekat dan berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka. Dari sana, ia melihat Arsyi yang tengah merawat Melodi dengan penuh kelembutan. Gerakan wanita itu begitu hati-hati, seolah Melodi adalah bagian dari dirinya sendiri, Harsa terdiam.
Pemandangan itu menghadirkan perasaan yang sulit ia jelaskan. Untuk sesaat, bayangan Nadin kembali muncul di benaknya, kenangan tentang bagaimana istrinya dahulu membayangkan momen-momen seperti ini. Namun, yang ia lihat sekarang bukanlah Nadin, melainkan Arsyi, yang dengan tulus menjalankan peran tersebut tanpa sedikit pun keluhan.
Arsyi yang telah selesai mengganti popok, kemudian menggendong Melodi dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Tanpa sengaja, ia menoleh ke arah pintu dan terkejut saat mendapati Harsa berdiri di sana.
“Kak Harsa?” ucapnya pelan, sedikit terkejut.
Harsa tersadar dari lamunannya. Ia segera memperbaiki ekspresinya yang kembali datar. “Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya singkat.
Arsyi tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Melodi baru saja bangun.”
Harsa mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada bayi dalam pelukan Arsyi. “Dia terlihat nyaman,” ujarnya tanpa sadar.
Arsyi menatap Melodi dengan penuh kasih. “Iya, dia anak yang sangat baik.”
Suasana hening sejenak sebelum Arsyi kembali berbicara. “Sarapan sudah saya siapkan di meja makan. Tapi kalau Kak Harsa tidak sempat, tidak apa-apa.”
Harsa terdiam sejenak. Ia teringat ucapannya semalam yang meminta Arsyi untuk tidak memasak. Namun, melihat usaha yang telah dilakukan wanita itu, ia merasa sulit untuk mengabaikannya begitu saja.
“Aku hanya punya sedikit waktu,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku akan mencoba.”
Arsyi tampak sedikit terkejut, namun ia segera mengangguk dengan senyum lembut. “Baik, Kak. Saya akan menyusul setelah ini.”
Harsa tidak langsung pergi. Ia masih berdiri beberapa detik, memperhatikan bagaimana Arsyi menenangkan Melodi. Ada kehangatan yang perlahan meresap ke dalam hatinya, meskipun ia berusaha untuk menolaknya.
“Aku berangkat dulu,” katanya akhirnya, mencoba menjaga jarak emosional.
“Iya, Kak. Hati-hati di jalan,” jawab Arsyi dengan tulus.
Harsa mengangguk dan melangkah pergi, namun sebelum benar-benar meninggalkan rumah, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah kamar tersebut. Pemandangan Arsyi yang menggendong Melodi dengan penuh kasih sayang meninggalkan kesan mendalam di benaknya.
Langit Jakarta pagi itu tampak cerah ketika mobil Harsa memasuki area parkir gedung perkantoran tempatnya bekerja. Seperti biasa, langkahnya mantap dan penuh wibawa saat memasuki lobi, menyapa para karyawan dengan anggukan singkat. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda, Harsa tetaplah sosok pemimpin yang tegas dan profesional.
Namun, di balik ketenangan itu, pikirannya terus dipenuhi bayangan yang sulit ia singkirkan.
Adegan pagi tadi kembali terlintas dalam benaknya, Arsyi yang dengan lembut menyanyikan lagu nina bobo sambil menggantikan popok Melodi. Sentuhan keibuan yang tulus itu meninggalkan kesan mendalam, meskipun ia berusaha keras untuk tidak memikirkannya.
Sesampainya di ruang kerjanya, Harsa meletakkan tas kerja di atas meja dan duduk perlahan di kursi kebesarannya. Ia menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk kota Jakarta. Namun, alih-alih fokus pada pekerjaan, pikirannya justru melayang jauh ke masa lalu. Dengan gerakan refleks, ia membuka laci meja kerjanya.
Di dalamnya, tersimpan sebuah bingkai foto yang selama ini ia jaga dengan penuh kehati-hatian. Harsa mengambilnya dan menatap gambar tersebut dengan tatapan yang sarat emosi. Foto itu menampilkan dirinya bersama Nadin.
Nadin tampak begitu cantik dengan senyum lembutnya, mengenakan gaun hamil yang sederhana namun anggun. Tangan Harsa terlihat melingkari bahu istrinya, sementara tangan Nadin dengan penuh kasih menyentuh perutnya yang tengah mengandung Melodi pada usia tujuh bulan. Kebahagiaan yang terpancar dari foto itu terasa begitu nyata dan sebuah momen yang kini hanya tersisa sebagai kenangan. Jemari Harsa perlahan menyusuri permukaan kaca bingkai foto tersebut.
“Nadin…” bisiknya lirih.
Dadanya terasa sesak. Kerinduan yang selama ini ia pendam kembali menyeruak tanpa bisa ia bendung. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kenangan-kenangan indah bersama istrinya mengalir begitu saja.
“Aku sangat merindukanmu,” lanjutnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Baginya, Nadin bukan sekadar istri. Ia adalah sahabat, tempat berbagi mimpi, dan bagian terpenting dalam hidupnya. Kehilangan Nadin telah meninggalkan luka yang begitu dalam, luka yang belum mampu ia sembuhkan hingga saat ini.
Harsa menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak emosinya. Namun, bayangan Arsyi yang merawat Melodi pagi tadi kembali muncul di benaknya. Hal itu membuat perasaannya semakin rumit.
“Aku tahu ini adalah keinginanmu,” gumamnya pelan, seolah berbicara kepada sosok dalam foto tersebut. “Tapi aku belum siap, Nadin … Aku belum bisa menggantikan posisimu dengan siapa pun.”
Ia menundukkan kepala, menggenggam erat bingkai foto itu.
“Arsyi wanita yang baik. Dia merawat Melodi dengan tulus,” lanjutnya. “Tapi setiap kali aku melihatnya, yang terlintas di pikiranku justru dirimu. Aku takut … takut mengkhianati kenangan kita.”
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh perlahan. Dengan cepat, ia mengusapnya, berusaha mengembalikan ketegaran yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan di pintu.
“Masuk,” ujar Harsa dengan suara yang kembali tegas, meskipun sedikit serak.
Sekretarisnya, Rina, masuk dengan membawa beberapa berkas. “Selamat pagi, Pak. Rapat akan dimulai dalam lima belas menit.”
Harsa segera meletakkan kembali foto tersebut ke dalam laci, menutupnya dengan hati-hati seolah menyimpan kembali perasaannya yang paling dalam.
“Baik, saya akan segera ke ruang rapat,” jawabnya singkat.
Rina mengangguk dan keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup, Harsa menarik napas dalam-dalam dan merapikan jasnya. Ia kembali menjadi sosok pemimpin yang kuat dan profesional, menyembunyikan seluruh luka dan kerinduan yang masih membekas di hatinya.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia sempat melirik kembali ke arah laci tempat foto itu disimpan.
“Doakan aku, Nadin,” bisiknya pelan. “Agar aku bisa menjalani semua ini dengan baik … tanpa melupakanmu.”
Dengan langkah mantap, Harsa kemudian keluar dari ruangannya, siap menghadapi dunia luar. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa kerinduan terhadap Nadin tidak akan pernah benar-benar hilang.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂