NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Sekar lalu menatap keduanya bergantian, sebelum akhirnya berkata dengan nada yang lebih ringan, seolah memberi jalan keluar yang tidak menyakitkan. “Gimana kalau Sea aku bawa ke rumahku saja dulu?” ucapnya. “Biar aku yang rawat sampai sembuh.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Ibu sama Mila bisa pulang naik taksi. Nanti aku yang bayarin.”

Kali ini, tidak ada penolakan langsung. Mila terlihat ragu. Ibu Aji tampak berpikir. Tapi ketakutan yang tadi sempat muncul tentang kondisi Mila, tentang biaya, tentang ketidakhadiran Aji, perlahan bekerja di dalam kepala mereka.

Sekar tidak mendesak lagi. Ia hanya menunggu. Beberapa detik kemudian, ibu Aji menghela napas panjang. “Ya sudah… kalau itu memang lebih baik…” ucapnya pelan.

Mila menoleh, seperti ingin membantah, tapi tidak benar-benar punya alasan kuat lagi. Akhirnya ia hanya diam. Dan itu… cukup.

Sekar menahan napasnya sejenak, lalu mengangguk pelan. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang menghangat, bukan kemenangan, bukan juga kelegaan penuh. Tapi satu langkah kecil… yang terasa sangat berarti. Ia kembali menatap Sea yang masih tertidur. Tangannya menggenggam jemari kecil itu lebih erat. Kali ini ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

***

Pagi itu belum benar-benar tenang ketika ketukan keras terdengar di pintu rumah Sekar. Ia yang sedang duduk di samping tempat tidur Sea, memastikan putrinya yang masih lemah itu minum obat, langsung menoleh. Ada firasat tidak enak yang datang begitu saja, dan benar saja, ketika pintu dibuka, Aji sudah berdiri di sana dengan wajah kusut, napas sedikit terengah, dan mata yang jelas menunjukkan kepanikan.

“Kar… aku butuh uang lagi,” ucapnya tanpa salam, tanpa basa-basi.

Sekar terdiam sejenak. Tatapannya lurus, tenang, tidak lagi kaget seperti dulu. “Untuk apa?” tanyanya singkat.

Aji mengusap wajahnya kasar. “Buat kebutuhan… penting.”

Sekar hampir ingin tertawa pahit, tapi ia menahannya. “Penting itu apa?”

Aji mulai tidak sabar. “Kamu nggak usah tanya detailnya, Kar. Aku lagi butuh banget.”

Sekar menatapnya lebih dalam. Dulu, nada seperti itu cukup untuk membuatnya luluh. Dulu, ia akan langsung membantu tanpa banyak berpikir. Tapi sekarang… tidak.

“Dulu kamu juga nggak apa-apa aku biayai,” tambah Aji, kali ini nadanya mulai menekan. “Sekarang giliran kamu bantu aku.”

Kalimat itu seperti sengaja ditarik dari masa lalu untuk mengikat Sekar kembali ke posisi lamanya—posisi yang selalu memberi, selalu mengalah. Dan untuk sepersekian detik, emosi itu hampir naik. Hampir. Tapi Sekar menarik napas panjang. Ia menahan dirinya. Ia tidak mau kembali ke titik itu lagi. “Dulu kita suami istri,” jawabnya akhirnya, suaranya tenang tapi tegas. “Dan itu tanggung jawab.” Ia berhenti sejenak, menatap Aji tanpa gentar. “Sekarang kita bukan apa-apa.”

Aji terdiam, jelas tidak menyangka jawaban setegas itu.

Sekar melanjutkan, masih dengan nada yang sama, tidak tinggi, tapi tidak bisa dibantah. “Aku juga lagi pakai uangku buat Sea.”

Aji mengernyit. “Sea?”

“Dia sakit,” lanjut Sekar. “Radang paru-paru. Aku bawa ke dokter spesialis.”

Wajah Aji berubah. “Sea… di sini?”

Sekar mengangguk pelan.

“Aku rawat dia.”

Keheningan jatuh di antara mereka. Dari raut wajah Aji, jelas terlihat ia baru tahu. Dan dari situ pula, Sekar menyadari sesuatu yang menyesakkan Aji bahkan tidak tahu anaknya ada di mana. Karena… ia tidak pulang. Sekar menelan pahit itu sendiri. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan dari fakta itu.

Namun sebelum suasana benar-benar mereda, ponsel Aji tiba-tiba berdering. Ia menjauh sedikit, mengangkatnya dengan wajah yang langsung berubah tegang. “Apa?!” suaranya meninggi.

Sekar hanya bisa melihat dari kejauhan.

“Iya… iya aku ke sana sekarang!”

Aji menutup telepon dengan tangan gemetar, lalu menatap Sekar dengan panik yang jauh lebih besar dari sebelumnya. “Mila… dilarikan ke rumah sakit,” katanya cepat. “Dia harus lahiran sekarang… tapi nggak ada biaya.”

Sekar diam.

“Kar, tolong…” suara Aji melemah, hampir seperti memohon. “Aku nggak punya siapa-siapa lagi.”

Kalimat itu menggantung di udara. Dulu, itu cukup untuk membuat Sekar menyerah. Tapi tidak hari ini. Sekar menggeleng pelan. “Aku nggak bisa.”

Aji menatapnya tidak percaya. “Kar, ini nyawa!”

“Dan Sea juga nyawa,” jawab Sekar cepat, tetap tenang. “Dia lagi sakit di dalam.”

Aji mulai frustrasi. “Kamu kan punya uang sekarang! Mobil aja bisa beli,”

“Uangku ada prioritasnya,” potong Sekar. "Lagian justru karena sudah beli mobil uangnya habis. Beberapa hari ini aku juga nggak jualan karena ngurus Sea."

“Kalau gitu… gadaikan mobil kamu!” desak Aji, hampir tanpa berpikir.

Kalimat itu membuat Sekar terdiam sesaat. Bukan karena ia ragu, tapi karena ia benar-benar tidak menyangka. Ia menatap Aji lama. Lalu untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang benar-benar putus di dalam dirinya. “Gadaikan rumah orang tua kamu saja,” balasnya dingin.

Aji terdiam.

Sekar melangkah mendekat satu langkah, matanya tajam tapi tetap terkendali. “Itu tanggung jawab kamu, Ji,” lanjutnya. “Bukan aku.”

Sunyi. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Sekar berbalik, membuka pintu, memberi isyarat yang jelas percakapan ini selesai.

Aji berdiri beberapa detik, seperti tidak percaya semuanya benar-benar berubah. Tapi memang sudah berubah. Sekar bukan lagi perempuan yang bisa ia tekan dengan masa lalu. Bukan lagi seseorang yang akan selalu ada setiap kali ia butuh. Sekar sekarang punya batas. Dan untuk pertama kalinya ia tidak takut untuk mempertahankannya.

***

Sore itu datang dengan suasana yang tidak biasa. Langit mendung menggantung rendah, seolah ikut menekan udara di sekitar rumah Sekar. Di dalam, Sekar sedang duduk di samping Sea yang masih terbaring, meski kondisinya mulai membaik. Ia baru saja selesai memberikan obat ketika suara pagar dibuka dengan keras, disusul langkah kaki tergesa yang tidak asing.

Sekar sudah tahu. Bahkan sebelum pintu diketuk, atau lebih tepatnya, digedor. “SEKAR!”

Suara itu meledak dari luar. Sekar menarik napas panjang, mengelus pelan kepala Sea. “Ibu keluar sebentar ya…” bisiknya lembut.

Sea mengangguk lemah.

Sekar berdiri, melangkah keluar dengan langkah tenang, meski ia tahu badai apa yang sedang menunggunya. Begitu pintu dibuka, Aji sudah berdiri di sana, wajahnya merah padam, matanya penuh amarah yang tidak lagi ia sembunyikan.

Tanpa menunggu, Aji langsung menyodorkan selembar surat ke arah Sekar. “Apa ini?!” bentaknya.

Sekar melirik sekilas. Ia tahu persis itu apa. Surat panggilan. Dari pengadilan. Tentang hak asuh Sea. Sekar tidak terlihat kaget. Ia hanya mengangkat wajahnya, menatap Aji dengan tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Itu proses hukum,” jawabnya singkat.

“Proses hukum?!” Aji hampir tertawa sarkastik. “Kamu gugat aku? Kamu mau ambil anakku?!” Nada suaranya meninggi, emosinya meluap tanpa kontrol.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!