"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang Perbandingan
POV Zhira
Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah jendela, tapi bagiku, pagi ini tidak terasa hangat sama sekali. Udara di rumah ini terasa begitu berat, seolah-olah ada tembok tak kasat mata yang memisahkan aku dengan mereka.
Aku bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena aku sudah cukup tidur, tapi karena pikiranku tak bisa berhenti berputar. Pertanyaan-pertanyaan yang sama terus menghantui kepalaku. Apa salahku? Apa dosaku sampai diperlakukan seperti ini?
Dengan langkah pelan, aku keluar dari kamar. Rumah sudah mulai ramai. Ibu sedang sibuk di dapur, aroma masakan pagi yang harum memenuhi ruangan. Biasanya, aroma itu akan membuat perut keroncongan, tapi hari ini rasanya seperti ada benjolan di tenggorokanku yang membuatku sulit menelan ludah.
"Zhira! Kenapa baru bangun? Sudah jam berapa ini? Anak perempuan kok malas sekali! Lihat tuh adikmu sudah mandi dan siap membantu," suara keras Ibu terdengar begitu saja, tanpa basa-basi, tanpa sapaan "selamat pagi".
Aku hanya menunduk, menggigit bibir bawahku hingga terasa perih. "Maaf, Bu. Zhira langsung mandi sekarang," jawabku pelan, nyaris tak terdengar.
Aku berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha menghindari tatapan itu. Saat melewati ruang tengah, aku melihat Bunda—begitu aku memanggilnya dalam hati saat melihat kelembutannya pada yang lain—sedang menyisir rambut adik perempuanku, Rara. Tangannya bergerak begitu lembut, wajahnya tersenyum manis sambil membisikkan sesuatu yang membuat Rara tertawa renyah.
Pemandangan itu begitu indah, namun begitu menyakitkan untukku saksikan.
Ingatanku melayang jauh ke masa lalu. Apakah aku pernah diperlakukan seperti itu? Apakah pernah ada masa di mana tangan itu membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang? Aku mencoba mengorek ingatan, tapi yang tersisa hanyalah bayangan samar dan rasa dingin yang membeku.
"Kak Zhira kok melamun? Buruan mandi, nanti telat lho," suara Rara memecah lamunanku. Dia tersenyum manis padaku, senyum yang tulus tanpa dosa.
Aku memaksakan senyum tipis, "Iya, Kakak mau mandi sekarang. Kamu cantik sekali hari ini, Ra."
"Kan Ibu yang nyisirnya," jawabnya bangga, lalu berlari kecil kembali ke pangkuan Ibu.
Dadaku terasa sesak. Aku masuk ke dalam kamar mandi dan memutar keran air. Air yang jatuh membasahi tubuhku seolah ingin menghapus semua rasa lelah dan sedih ini, tapi air itu tak pernah bisa membasuh luka di hati.
Setelah selesai mandi dan berpakaian seragam, aku duduk di meja makan. Ayah sudah duduk di sana, membaca koran dengan tenang. Aku menyayangi Ayah, tapi Ayah seringkali terlalu sibuk atau lebih sering membiarkan Ibu yang mengatur segalanya.
"Makan yang banyak, Nak. Kamu itu kurus sekali," kata Ayah pelan sambil menatapku. Itu saja. Kalimat sederhana yang membuat mataku sedikit panas. Setidaknya, ada satu orang yang masih peduli pada fisikku, meski tak tahu apa yang terjadi di hatiku.
"Makasih, Yah," jawabku singkat.
Tiba-tiba Ibu datang membawa piring besar berisi lauk pauk. Dia meletakkannya di meja, lalu langsung menyendokkan nasi dan lauk yang banyak ke piring Rara dan adik laki-lakiku, Bimo.
"Makan yang banyak ya, sayang. Biar cepat besar dan pintar," ucap Ibu lembut.
Kemudian dia menoleh ke arahku. Tatapannya kembali berubah dingin. "Kamu ambil sendiri. Sudah besar, jangan manja-manja. Anak pertama harus bisa mandiri. Lihat adikmu saja, mereka lebih kecil tapi lebih rajin dan pintar darimu."
Pisau dan garpu di tanganku terasa berat. Aku menyuapkan nasi ke mulut, tapi rasanya hambar. Setiap suapan terasa seperti batu yang harus kutelan paksa.
"Bu, kenapa Ibu selalu bandingkan Zhira sama mereka?" tanyaku akhirnya, dengan suara yang bergetar. Aku berani angkat suara hari ini, entah keberanian datang dari mana.
Suasana di meja makan seketika hening. Ayah menurunkan korannya, menatapku dengan kaget. Ibu menatapku tajam, matanya membelalak seolah tidak percaya aku berani menanya seperti itu.
"Maksud kamu apa? Ibu mendidik kamu supaya kamu jadi orang yang berguna! Kamu anak sulung, kakak tertua, harusnya jadi contoh yang baik! Tapi apa yang kamu lakukan? Hanya membuat masalah dan membuat Ibu kecewa!" bentak Ibu, suaranya meninggi.
"Zhira cuma mau tahu, apa Zhira bukan anak Ibu juga? Kenapa kasih sayang Ibu terasa beda sekali? Zhira juga butuh didengar, Bu! Zhira juga butuh pelukan..." air mataku jatuh menetes ke atas piring, membasahi nasi di depannya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Ibu sudah membesarkanmu dengan susah payah, makan minumkan kamu, tapi balasannya kamu menuduh Ibu tidak sayang? Cih, memang benar kata orang, anak pertama itu pembawa sial. Kalau tidak ada kamu, mungkin Ibu tidak akan sesibuk dan secapek ini!"
Kata-kata itu... pembawa sial. Kata yang paling kutakuti, kata yang paling menyakitkan.
Dada rasaka sesak sekali, seolah-olah paru-paruku tak bisa menarik udara. Aku berdiri dengan kasar, kursi bergeser keras menabrak lantai.
"Sudah cukup! Zhira dengar cukup!" teriakku, suaraku pecah. "Zhira pergi dari sini! Zhira nggak mau makan lagi!"
Aku berlari keluar dari rumah, meninggalkan sarapan yang belum tersentuh, meninggalkan tatapan kaget Ayah dan tangisan adik-adikku, serta tatapan tajam Ibu yang tak pernah berubah.
Aku berlari tanpa tujuan yang jelas. Kaki ini membawaku ke taman kecil di dekat rumah, tempat yang biasa aku kunjungi jika ingin menyendiri. Aku duduk di bawah pohon besar yang rindang, memeluk lututku dan akhirnya menangis sejadi-jadinya.
Kenapa semuanya harus sesakit ini? Apa salahku hanya karena aku lahir pertama? Apa dosaku sehingga cinta seorang ibu terasa begitu mustahil untuk kudapatkan?
Di tengah tangisku yang tersedu-sedu, aku merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh bahuku. Aku mendongak, terlihat seorang bibi tetangga yang biasa lewat di sini.
"Nak Zhira... kenapa menangis sendirian di sini?" tanyanya lembut.
Aku menggeleng, tak mampu berkata apa-apa. Bibi itu duduk di sampingku, lalu perlahan memeluk bahuku. Pelukan itu... hangat. Sangat hangat.
"Nak, tidak ada orang tua yang tidak sayang anaknya. Mungkin caranya saja yang berbeda. Tapi ingat ya Nak, perasaan kamu itu valid. Kamu berhak merasa sedih, kamu berhak merasa lelah," bisik Bibi itu.
Kata-kata itu seperti balsem yang menenangkan lukaku. Untuk pertama kalinya, ada orang yang mengerti, ada orang yang mendengarkan tanpa menghakimi.
"Tapi Bu... Ibu bilang aku pembawa sial, Bibi. Ibu bilang kalau tidak ada aku, Ibu akan bahagia," rintihku.
Bibi itu mengelus punggungku perlahan. "Jangan dipikirkan kata-kata yang keluar saat emosi ya, Nak. Kadang orang tua berkata kasar karena mereka juga sedang lelah atau bingung, meski itu tidak benar. Tapi kamu harus tahu, kamu itu berharga, Zhira. Kamu anak yang baik, kamu kuat."
Aku memandang wajah Bibi itu. Senyumnya tulus. Di sini, di bawah pohon ini, di pelukan orang asing yang baik hati, aku merasa sedikit lebih hidup.
Tapi saat aku menoleh ke arah rumahku yang terlihat dari kejauhan, rasa takut dan sedih itu kembali datang.
Aku harus pulang nanti. Aku harus kembali ke tempat itu. Tapi bisakah aku bertahan lebih lama lagi? Bisakah hati kecil ini terus menerima perlakuan itu tanpa hancur berkeping-keping?
Matahari mulai naik lebih tinggi, menyinari bumi, tapi hatiku masih tertutup awan gelap yang tak kunjung reda. Aku tahu, perjuanganku untuk mendapatkan sepotong kasih sayang itu masih sangat panjang, dan jalannya pun tak akan mudah.
POV End