Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Ujian Sang Musafir
Fajar menyingsing di ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan yang menembus kabut tebal di pegunungan. Arjuna terbangun dengan tubuh yang terasa sangat ringan, seolah-olah beban ribuan ton yang selama ini ia pikul di pundaknya telah menguap bersama embun pagi.
.
Ia melangkah keluar dari kamar kecilnya. Di teras, Sang Guru sudah duduk tenang sambil menyeduh kopi pahit. Aroma kopi itu bercampur dengan harum tanah basah yang sangat menenangkan.
.
"Mpun siap, Juna? (Sudah siap, Juna?)" tanya Sang Guru tanpa menoleh.
.
Arjuna membungkuk hormat. "Nggih, Guru. Kulo sampun siap nindakake dhawuh. (Iya, Guru. Saya sudah siap menjalankan perintah.)"
.
"Eling-eling pesenku. Goleko omah sing paling mlarat, sing paling dihina wong akeh. Yen wis ketemu, rewangono tanpa njaluk opo-opo. (Ingat-ingat pesanku. Carilah rumah yang paling miskin, yang paling dihina orang banyak. Kalau sudah ketemu, bantulah tanpa meminta apa-apa.)" Sang Guru memberikan sepotong bambu kecil yang ujungnya runcing. "Iki gawanen, nggo nuntun langkahmu." (Ini bawalah, untuk menuntun langkahmu.)
.
Arjuna menerima bambu itu, mencium tangan Gurunya lama sekali, lalu melangkah menuruni jalan setapak yang licin. Sarung hijau pemberian gurunya kini ia lilitkan di pinggang dengan rapi, menutupi celana kainnya yang sudah mulai kusam.
.
Setelah berjalan sekitar dua jam, Arjuna sampai di sebuah desa yang terletak di lembah gunung. Desa itu cukup ramai, namun ada satu sudut yang terlihat sangat gersang dan terasing. Di sana, berdiri sebuah gubuk reot yang atap rumbianya sudah banyak yang bolong.
.
Di depan gubuk itu, terlihat seorang nenek tua renta sedang mencoba mengangkat sebuah kayu bakar yang besar, namun tubuhnya yang ringkih berkali-kali tersungkur ke tanah.
.
"Halah, Mbah Surip! Wis tuwo, mlarat, malah nambahi beban tonggo! (Halah, Mbah Surip! Sudah tua, miskin, malah nambah beban tetangga!)" teriak seorang pria tambun dari seberang jalan sambil tertawa mengejek.
.
"Iyo! Nek mati neng kono, sopo sing arep ngubur? Wong ra guno!" (Iya! Kalau mati di sana, siapa yang mau mengubur? Orang tidak berguna!) sahut ibu-ibu yang sedang mencuci baju, tanpa ada rasa iba sedikit pun.
.
Hati Arjuna berdenyut perih. Ia teringat bagaimana ayahnya dulu menghinanya sebagai "sampah". Ternyata di mana pun ia berada, kesombongan manusia selalu ada untuk menguji kesabaran.
.
Arjuna mempercepat langkahnya. Tanpa mempedulikan tatapan aneh dari warga sekitar, ia langsung memegang kayu besar itu dan mengangkatnya dengan satu tangan.
.
"Mbah, kulo rewang nggih. (Mbah, saya bantu ya,)" ucap Arjuna lembut sambil tersenyum tulus.
.
Nenek tua itu mendongak. Matanya yang sudah kabur menatap wajah Arjuna dengan heran. "Kowe sopo, Le? Kok gelem ngrewangi wong koyo simbah iki? (Kamu siapa, Nak? Kok mau membantu orang seperti nenek ini?)"
.
"Kulo Juna, Mbah. Kulo mung musafir sing mampir. (Saya Juna, Mbah. Saya cuma musafir yang mampir,)" jawab Arjuna singkat.
.
Arjuna membawa kayu-kayu itu ke belakang gubuk. Begitu ia menyentuh tanah di area gubuk tersebut, ia merasakan getaran aneh dari bambu pemberian Gurunya. Tiba-tiba, telinga Arjuna mendengar suara-suara bisikan gaib yang tidak didengar orang lain.
.
"Juna... ning omah iki ono pusaka sing dipendem... (Juna... di rumah ini ada pusaka yang dikubur...)" suara itu mirip geraman harimau, itulah Kyai Loreng yang memberikan isyarat.
.
Arjuna tertegun. Ternyata nenek yang dihina warga ini bukan orang sembarangan. Ia adalah pewaris sesuatu yang besar, namun hidupnya sengaja dibuat menderita oleh "kiriman" hitam dari orang-orang yang iri.
.
"Mbah, kulo badhe nyapu latar nggih. (Mbah, saya mau menyapu halaman ya,)" Arjuna mengambil sapu lidi yang sudah patah-patah.
.
Sambil menyapu, Arjuna mulai membacakan zikir sirri-nya dalam hati. Setiap kali sapunya menyentuh tanah, sebuah asap hitam yang tipis tampak keluar dari dalam tanah dan menghilang seketika.
.
"Heh! Cah bagus! Kowe lapo neng kono? Melu-melu dadi gembel?!" (Heh! Pemuda tampan! Kamu ngapain di sana? Ikut-ikutan jadi gembel?!) teriak pria tambun tadi, kini ia mendekat dengan wajah garang.
.
Arjuna berhenti menyapu. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang sangat tenang, namun matanya memancarkan kilatan kuning keemasan sesaat. "Kulo mung ngrewangi wong tuwo, Pak. Menawi Bapak mboten seneng, nggih mboten nopo-nopo. (Saya cuma membantu orang tua, Pak. Kalau Bapak tidak suka, ya tidak apa-apa.)"
.
"Wani kowe karo aku?!" (Berani kamu sama aku?!) Pria itu mengangkat tangannya hendak memukul Arjuna.
.
Namun, sebelum tangan itu menyentuh wajah Arjuna, tiba-tiba terdengar suara geraman harimau yang sangat keras dari udara kosong di sekitar mereka. Angin kencang mendadak bertiup, membuat pria tambun itu terpental jatuh ke tanah seolah-olah ada tangan raksasa yang mendorongnya.
.
"Astagfirullah! Ono macan! Ono macan!" (Astagfirullah! Ada harimau! Ada harimau!) teriak pria itu ketakutan, padahal tidak ada wujud harimau satu pun di sana. Ia lari terbirit-birit sambil terkencing-kencing di celana.
.
Arjuna hanya tersenyum tipis. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara warga desa mulai berbisik-bisik ketakutan. Mereka mulai sadar, musafir bersarung hijau yang datang ini bukan orang sembarangan.
.
Di dalam gubuk, Mbah Surip menatap Arjuna dengan air mata berlinang. Ia tahu, masa penderitaannya akan segera berakhir dengan datangnya sang pewaris rahasia.
Setelah pria tambun itu lari terbirit-birit, suasana di depan gubuk Mbah Surip mendadak sunyi. Warga desa yang tadinya mencibir, kini hanya berani mengintip dari balik jendela rumah mereka dengan perasaan ngeri. Mereka melihat Arjuna tetap tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
.
"Le, kowe mboten nopo-nopo? (Nak, kamu tidak apa-apa?)" tanya Mbah Surip dengan suara bergetar. Beliau mendekat sambil membawa segelas air putih yang wadahnya sudah retak di pinggirnya.
.
Arjuna menerima gelas itu dengan kedua tangan, lalu meminumnya sedikit. "Mboten nopo-nohm Mbah. Sampun tenang mawon. (Tidak apa-apa, Mbah. Sudah tenang saja.)"
.
"Mbah kaget, kok mau ono suoro macan banget... (Mbah kaget, kok tadi ada suara harimau keras sekali...)" Mbah Surip mengusap dadanya yang sesak.
.
Arjuna tersenyum tipis, matanya melirik ke sudut halaman gubuk yang tertutup tumpukan sampah tua. Di mata batin Arjuna, tempat itu memancarkan asap hitam pekat yang berbau busuk—bau bangkai yang tidak tercium oleh hidung manusia biasa.
.
"Mbah, kulo pareng mbedah lemah niku nggih? (Mbah, saya boleh menggali tanah itu ya?)" tanya Arjuna sambil menunjuk sudut halaman tersebut.
.
Mbah Surip tertegun. "Ono opo neng kono, Le? Ket biyen lemah niku mboten nate saged ditanduri opo-opo. (Ada apa di sana, Nak? Dari dulu tanah itu tidak pernah bisa ditanami apa-apa.)"
.
Arjuna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah menuju tempat itu, bambu runcing pemberian gurunya ia genggam erat. Ia mulai duduk bersila di depan tumpukan sampah itu, memejamkan mata, dan meresapi setiap detak jantungnya.
.
Allah... Allah... Allah...
.
Zikir Sirri Arjuna mulai beresonansi. Seketika, angin puyuh kecil berputar di sekeliling tubuhnya. Sarung hijau yang ia kenakan berkibar hebat. Di telinga Arjuna, suara geraman Kyai Loreng makin jelas, seolah memberi petunjuk di mana "penyakit" itu ditanam.
.
"Metu kowe! Ojo ngganggu wong mlarat! (Keluar kamu! Jangan mengganggu orang miskin!)" bentak Arjuna dengan suara batin yang menggelegar.
.
Tancap!
.
Arjuna menghujamkan bambu runcing itu ke dalam tanah sedalam tiga puluh sentimeter. Tiba-tiba, terdengar suara ledakan kecil dari dalam tanah. Blar!
.
Tanah itu merekah, dan dari dalamnya Arjuna menarik sebuah bungkusan kain kafan hitam yang sudah mulai hancur. Di dalamnya terdapat potongan kuku, rambut, dan sebilah keris kecil yang sudah berkarat namun memancarkan hawa dingin yang jahat.
.
"Iki sing nggarai Mbah Surip loro-loron lan mboten nggadhahi rejeki. (Ini yang membuat Mbah Surip sakit-sakitan dan tidak punya rezeki.)" gumam Arjuna pelan.
.
Mbah Surip yang melihat benda itu langsung lemas dan terduduk di tanah. "Astagfirullah... sapa sing tego nanam barang koyo ngono neng omahku, Le? (Astagfirullah... siapa yang tega menanam barang seperti itu di rumahku, Nak?)"
.
Arjuna memegang keris kecil itu. Dengan sekali sentuhan zikirnya, keris itu patah menjadi dua bagian dan seketika berubah menjadi abu di tangannya. Hawa panas yang menyesakkan di gubuk itu mendadak lenyap, berganti dengan hawa sejuk yang sangat segar.
.
"Mbah, niki sampun resik. Jenengan badhe sehat malih. (Mbah, ini sudah bersih. Nenek akan sehat kembali.)" Arjuna membantu Mbah Surip berdiri.
.
Tiba-tiba, dari arah jalan desa, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan gubuk reot itu. Sesuatu yang tidak terduga terjadi. Seorang pria paruh baya berpakaian rapi turun dari mobil dengan wajah panik.
.
Pria itu melihat Arjuna, lalu melihat ke arah tanah yang baru saja digali. Wajahnya pucat pasi, seolah rahasia besarnya baru saja terbongkar.
.
"Kowe... kowe sopo?! Wani-wanine ngerusak pager ayuku?!" (Kamu... kamu siapa?! Berani-beraninya merusak pagar gaibku?!) teriak pria itu dengan suara gemetar.
.
Arjuna berdiri tegak, sarung hijaunya memancarkan wibawa yang luar biasa. Ia menatap pria kaya itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Drajat mboten saged dituku ngangge tumbal, Pak. (Derajat tidak bisa dibeli dengan tumbal, Pak.)"
.
Pria itu tersentak. Kalimat Arjuna persis seperti apa yang pernah Arjuna katakan pada Guntur tempo hari. Sebuah kebetulan yang sangat mengerikan bagi pria yang ternyata adalah salah satu rekan bisnis Pak Wijaya itu.
Pria kaya yang baru turun dari mobil itu adalah Pak Darmawan, salah satu kolega bisnis Pak Wijaya yang selama ini menggunakan jasa dukun untuk melancarkan usahanya. Ia menatap Arjuna dengan penuh kebencian sekaligus ketakutan.
.
"Kowe bocah wingi sore, ojo melu-melu urusanku! Iki lemahe Mbah Surip wis dadi jaminanku! (Kamu bocah kemarin sore, jangan ikut campur urusanku! Tanah Mbah Surip ini sudah jadi jaminanku!)" bentak Pak Darmawan sambil menunjuk-nunjuk wajah Arjuna.
.
Arjuna melangkah maju, sangat tenang. Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakinya seolah bergetar halus. "Mbah Surip mboten nggadhahi utang menopo-menopo kaliyan Bapak. Bapak sing nanem sesajen neng mriki nggo tumbal pesugihan, nggih? (Mbah Surip tidak punya utang apa-apa sama Bapak. Bapak yang menanam sesajen di sini untuk tumbal pesugihan, kan?)"
.
Wajah Pak Darmawan memucat. Rahasia paling gelapnya dibongkar begitu saja oleh musafir muda di depannya. "Kurang ajar! Sopo kowe?! (Kurang ajar! Siapa kamu?!)"
.
"Kulo? Kulo mung tiyang sing mboten nggadhahi asmo. (Saya? Saya hanya orang yang tidak punya nama.)" jawab Arjuna dingin.
.
Tiba-tiba, Pak Darmawan memegang dadanya. Ia merasa jantungnya seperti diremas oleh tangan raksasa. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya yang tadinya garang mendadak membiru. Di mata batin Arjuna, ia melihat Kyai Loreng sedang berdiri tepat di belakang Pak Darmawan, menekan pundak pria serakah itu.
.
"Ampun... ampun... (Ampun... ampun...)" rintih Pak Darmawan sambil tersungkur di tanah yang becek.
.
Arjuna membungkuk, menatap mata Pak Darmawan yang melotot ketakutan. "Pulihaken kabeh hak-hak Mbah Surip. Menawi mboten, urusan Bapak mboten namung kaliyan kulo, tapi kaliyan Sing Kagungan Jagad. (Kembalikan semua hak-hak Mbah Surip. Kalau tidak, urusan Bapak bukan cuma dengan saya, tapi dengan Yang Memiliki Semesta.)"
.
Dengan gemetar, Pak Darmawan mengambil sebuah map dari dalam mobilnya. Ia melemparkan surat tanah milik Mbah Surip yang selama ini ia sita secara ilegal. "Iki... jupuk! Aku ra arep urusan meneh! (Ini... ambil! Aku tidak mau urusan lagi!)"
.
Setelah itu, Pak Darmawan lari masuk ke mobilnya dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang beterbangan.
.
Mbah Surip menangis sesenggukan sambil memeluk surat tanahnya. "Matur nuwun, Le Juna... matur nuwun Gusti... (Terima kasih, Nak Juna... terima kasih Tuhan...)"
.
Arjuna membantu Mbah Surip masuk ke dalam gubuk. Ajaibnya, sesaat setelah bungkusan kain kafan itu dihancurkan, tubuh Mbah Surip yang tadinya bungkuk dan lemah mendadak terasa segar bugar. Aura kemiskinan dan kesialan di gubuk itu kini sirna, berganti dengan cahaya ketenangan.
.
Di tempat lain, di kediaman mewah keluarga Wijaya, suasana mendadak kacau. Pak Wijaya tiba-tiba pingsan saat sedang memimpin rapat, sementara Guntur mendadak diberhentikan dari jabatannya karena skandal yang muncul secara tiba-tiba.
.
Mereka tidak sadar, sejak nama Arjuna dicoret dari Kartu Keluarga, keberuntungan dan perlindungan yang selama ini dibawa oleh "anak sulung" itu ikut pergi meninggalkan rumah tersebut.
.
Arjuna duduk di teras gubuk Mbah Surip, menatap langit sore yang mulai memerah. Ia mengambil laptop bututnya, membukanya perlahan, lalu mengetik satu kalimat di layar yang retak:
.
"Drajat mboten saged dituku ngangge jabatan, nanging saged diukir ngangge pengabdian." (Derajat tidak bisa dibeli dengan jabatan, tapi bisa diukir dengan pengabdian.)
.
Zikir sirri-nya kembali berdenyut. Perjalanan pertamanya telah usai, namun tantangan yang lebih besar sudah menanti di depan mata. Guru Mursyid benar, macan itu kini benar-benar telah keluar dari kandangnya.