Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resimen kerja serabutan dan bau keringat perjuangan
Dunia akademis memang kejam, tapi birokrasi yang dipicu dendam jauh lebih mengerikan. Kabar tentang evaluasi beasiswa itu menghantam mereka lebih keras daripada skripsi mana pun. Sore itu, alih-alih merayakan kemenangan atas Pak Gunawan, mereka duduk melingkar di teras rumah Dewi Laras dengan tumpukan brosur lowongan kerja dan koran bekas di tengah-tengah mereka.
"Jadi," Gia Kirana membuka suara sambil mencoret daftar biaya kuliah mereka di buku catatannya. "Kalau beasiswa kita beneran diputus bulan depan, kita butuh total sekitar lima puluh juta buat nutupin UKT kita berenam. Itu belum termasuk biaya makan dan bensin buat Eno yang borosnya minta ampun."
"Gue bakal puasa makan enak demi persahabatan kita, Gi! Sumpah!" seru Eno Surya, meski tangannya tetap meraih rempeyek di toples Laras.
"Puasa makan tapi rempeyek orang abis satu toples itu namanya penipuan, No," sahut Juna Pratama yang tampak sangat stres, tangannya gemetar menghitung kalkulator. "Gue udah hitung, kalau kita cuma ngandelin kiriman orang tua, kita bakal tumbang di tengah jalan."
Bagas Putra menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di tiang teras. "Kita nggak bisa cuma diem nunggu keajaiban. Gue udah mutusin. Gue bakal ambil part-time jadi pelatih basket anak-anak SD di klub deket sini tiap sore. Gajinya lumayan, dan gue bisa dapet bonus kalau mereka menang turnamen."
"Gue ikut!" Rhea Amara mengangkat tangan dengan semangat. "Gue punya temen yang punya usaha catering. Dia butuh tenaga tambahan buat bungkusin nasi kotak tiap jam empat pagi. Gue bisa ambil itu."
"Jam empat pagi, Rhe? Bangun subuh aja lo sering nungguin iqomah dulu baru melek," ledek Eno, yang langsung dibalas lemparan tisu oleh Rhea.
Laras menatap teman-temannya satu per satu. Hatinya perih. Mereka semua terancam kehilangan masa depan karena masalah keluarganya. "Guys, gue bener-bener minta maaf. Gara-gara bokap gue, kalian jadi..."
"Sst!" Bagas memotong kalimat Laras, menatapnya dengan intens. "Nggak ada yang perlu dimaafin. Kita ini satu unit, Ras. Ingat kan? Satu ban kempes, kita semua berhenti."
"Oke, kalau gitu gue bakal cari kerjaan juga," kata Laras mantap. "Gue jago bikin konten desain. Gue bakal buka jasa freelance buat UMKM. Kita bakal kumpulin uang itu bareng-bareng."
"Nah, gitu dong!" Eno berdiri dengan penuh drama. "Dan gue, Eno Surya, akan mengambil pekerjaan paling mulia di muka bumi ini. Gue dapet tawaran jadi badut pesta ulang tahun anak-anak setiap akhir pekan. Bayarannya gede, asal gue tahan nggak emosi kalau ditarik-tarik kupingnya sama bocah."
Tawa kecil akhirnya pecah di tengah suasana tegang itu. Mereka pun mulai membagi tugas. Operasi "Cari Cuan Demi Kuliah" resmi dimulai.
Seminggu kemudian, realita menghantam mereka tanpa ampun.
Laras mendapati dirinya duduk di depan laptop hingga jam dua pagi, mengerjakan revisi logo yang diminta klien cerewet yang ingin warna "merah tapi ada kesan birunya". Di sisi lain kota, Rhea sedang bertarung dengan uap nasi panas di dapur catering, matanya perih karena bawang tapi tangannya terus bergerak membungkus nasi.
Momen paling konyol terjadi di sebuah mal pada hari Sabtu. Laras dan Bagas yang baru saja selesai urusan masing-masing, tidak sengaja melewati sebuah acara ulang tahun anak di food court. Di sana, mereka melihat seekor jerapah raksasa berwarna ungu yang sedang berjoget dengan gerakan yang sangat familiar—gerakan "ayam strok" khas Eno.
"No? Itu lo?" tanya Bagas sambil menahan tawa hebat di depan jerapah itu.
Jerapah itu berhenti berjoget, lalu dari balik mulut jerapah, terdengar suara megap-megap. "Bagas? Laras? Tolongin gue... ini ada bocah ingusan lagi nyoba gelantungan di ekor gue! Pinggang gue mau copot!"
Laras tertawa sampai mengeluarkan air mata. Dia segera membantu Eno melepaskan diri dari kerumunan anak-anak, sementara Bagas membelikan air mineral dingin. Mereka bertiga duduk di pojokan mal, Eno masih mengenakan badan jerapahnya tapi kepalanya sudah dilepas, wajahnya berminyak dan penuh keringat.
"Ternyata cari duit susah ya," gumam Eno sambil meneguk air. "Dulu gue pikir kuliah itu beban terberat. Ternyata jadi jerapah ungu di hari Sabtu jauh lebih menantang maut."
Di tengah tawa itu, Bagas tiba-tiba terdiam melihat ke arah pintu masuk mal. Di sana, dia melihat Gia Kirana sedang berjalan dengan seorang pria yang jauh lebih tua, berpakaian sangat mewah. Mereka tampak sedang berdebat serius, dan Gia terlihat sangat ketakutan—sebuah ekspresi yang tidak pernah Gia tunjukkan pada mereka.
"Eh, itu Gia kan?" bisik Laras, mengikuti arah pandang Bagas.
"Sama siapa dia? Itu bukan saudaranya yang pengacara kan?" tanya Eno, wajah lawaknya mendadak hilang.
Pria itu tiba-tiba mencengkeram lengan Gia, dan Gia mencoba melepaskannya dengan kasar sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah menunggu.
Plot twist baru terbuka. Ternyata bukan cuma Laras yang punya rahasia keluarga yang kelam. Gia, si "Sersan Kepala" yang selalu kuat, sepertinya sedang menyembunyikan badai yang jauh lebih besar dari apa yang mereka kira.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...