Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Jejak yang Hilang
23 Oktober 2024. Pukul 14.00 WIB.
Kantor Arsip Digital, Museum Sejarah Jakarta.
Dua hari. Empat puluh delapan jam.
Itulah rekor Alina menahan diri untuk tidak turun ke Ruang Konservasi. Dia berusaha menjalani hidup normal selayaknya manusia abad ke-21. Dia membalas pesan WhatsApp dari ibunya, makan siang dengan rekan kerja, dan fokus mempersiapkan pameran Sumpah Pemuda.
Tapi "normal" terasa hambar. Hampa.
Siang ini, Alina sedang melakukan verifikasi akhir untuk katalog pameran. Di layar komputernya, terbuka draf biografi tokoh-tokoh pemuda yang akan ditampilkan.
"Oke, Sugondo Djojopuspito sudah, Yamin sudah, Amir Sjarifuddin sudah..." gumam Alina sambil mencentang daftar.
Tangannya bergerak ke folder bertuliskan "Tokoh Lokal/Pendukung". Dia ingin mengecek profil Raden Mas Arya.
Setelah intervensinya beberapa hari lalu, Alina ingat betul biografi Arya di Wikipedia dan database museum sudah berubah menjadi "Sekretaris II Jong Java" yang gagah berani. Alina ingin memastikan data itu masih ada, sekadar untuk mengobati rasa rindunya tanpa harus menyentuh mesin tik.
Klik.
Folder terbuka.
Alina mengerjap.
File bernama Bio_RadenMasArya.pdf tidak ada.
"Lho? Kok hilang?" Alina mengernyit. Mungkin dia salah simpan. Dia mengetik nama "Arya" di kolom pencarian database museum.
No Results Found.
Jantung Alina mulai berdetak tidak nyaman. Dia segera membuka browser, mengetik alamat Wikipedia.
Laman Wikipedia "Raden Mas Arya" yang kemarin masih dia baca dengan bangga... kini kosong.
> Halaman ini belum ada. Anda bisa membuatnya.
>
"Nggak mungkin," desis Alina. "Nggak mungkin!"
Dia beralih ke arsip foto digital. Dia mencari foto "Rapat Jong Java 1930" yang fenomenal itu. Foto di mana Arya tersenyum tampan menatap kamera sebagai Sekretaris II.
Foto itu muncul di layar.
Darah Alina surut dari wajahnya.
Meja pimpinan di foto itu hanya diisi lima orang. Kursi keenam—kursi di ujung kanan tempat Arya seharusnya duduk dengan blangkon Jogja-nya—kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Lebih parah lagi, Alina melihat tanggal metadata foto itu.
Diambil: 21 Oktober 1930.
"Dua puluh satu Oktober..." bisik Alina. "Itu kemarin."
Di timeline sebelumnya, Arya difoto pada tanggal 20 Oktober. Kenapa sekarang fotonya tanggal 21? Dan kenapa dia tidak ada di sana?
Alina berlari keluar dari kantornya. Dia tidak peduli lagi pada tatapan bingung rekan-rekannya. Dia berlari menuju Sayap Barat, tempat foto fisik dipajang.
Sesampainya di sana, Alina melihat Pak Jono sedang menurunkan bingkai foto tersebut.
"Pak Jono! Kenapa diturunkan?" tanya Alina ngos-ngosan.
"Eh, Mbak Alina. Ini, Kepala Museum bilang fotonya kurang estetik. Komposisinya aneh, masa di ujung meja kosong melompong gitu. Jadi mau diganti sama foto Gedung STOVIA aja," jelas Pak Jono santai.
Alina menatap foto di tangan Pak Jono. Kursi kosong itu seolah mengejeknya.
Arya bukan hanya "turun pangkat" kembali menjadi anggota biasa. Dia terhapus. Dia tidak datang ke rapat itu. Dia menghilang dari sejarah yang baru saja ditulis.
"Kenapa..." suara Alina bergetar. "Apa yang terjadi padamu, Arya?"
Firasat buruk mencekik leher Alina. Dua malam lalu, dia meninggalkan Arya dengan ucapan selamat tinggal yang dingin karena cemburu pada Sarsinah. Dia mengabaikan Arya yang memohon agar dia tinggal.
Manusia mati seketika tanpa harapan.
Kalimat Arya itu terngiang di telinga Alina.
Alina berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menuju tangga darurat. Persetan dengan logika. Persetan dengan cemburu. Persetan dengan Sarsinah.
Dia harus menyelamatkan Arya. Lagi.
23 Oktober 1930. Pukul 02.00 dini hari waktu Batavia.
Sebuah Rumah Candu (Opium Den) ilegal di kawasan Glodok.
Udara di ruangan sempit itu pengap, penuh asap candu yang manis memualkan dan bau arak murah. Laki-laki dengan mata cekung tergeletak di balai-balai bambu, terhanyut dalam mimpi palsu.
Di sudut ruangan yang remang, Raden Mas Arya duduk sendirian di meja kayu yang lengket. Di hadapannya ada botol arak yang sudah setengah kosong.
Penampilannya berantakan. Kemejanya yang dua hari lalu disetrika licin kini kusut dan kancing atasnya terbuka. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah, tapi bukan karena candu—karena kurang tidur dan putus asa.
Arya menatap gelas kecil di tangannya.
"Gila," gumam Arya, tertawa getir. "Saya benar-benar gila."
Dua hari ini, dia menunggu di depan mesin tik. Menunggu "Nona Masa Depan"-nya menyapa. Tapi kertas itu tetap putih. Tuas itu tetap diam.
Akhirnya, logika Arya yang rasional mengambil alih. Dia menyimpulkan bahwa semua itu—percakapan soal 2024, soal Indonesia Merdeka, soal dansa imajiner—hanyalah halusinasi.
Mungkin dia terlalu stres dikejar PID. Mungkin dia menderita skizofrenia.
Tidak ada Alina. Tidak ada masa depan.
Dan jika tidak ada masa depan... untuk apa dia berjuang?
Arya merasa dibohongi oleh otaknya sendiri. Rasa kecewa itu begitu dalam hingga melumpuhkan semangatnya. Dia membolos rapat Jong Java kemarin. Dia membiarkan kursi sekretaris itu kosong. Dia malah berjalan kaki ke Glodok, masuk ke sarang penyamun ini, dan menenggak arak untuk membunuh suara-suara di kepalanya.
Seorang pelayan tua bermata sipit mendekat. "Tuan Muda, sudah mau tutup. Mau tambah lagi atau pulang?"
"Pulang ke mana?" racau Arya. "Saya tidak punya rumah. Masa depan saya bohong."
Arya merogoh sakunya, melempar beberapa koin gulden terakhirnya ke meja.
Saat itulah, dia merasakan getaran aneh di tas kulit lusuh yang dia letakkan di bawah meja.
Tas itu berisi mesin tik Remington-nya. Benda berat itu dia bawa ke mana-mana karena dia takut meninggalkannya, sekaligus benci melihatnya.
TAK.
Suara logam beradu terdengar dari dalam tas.
Arya terdiam. Dia melirik tas itu.
TAK. TAK. TAK.
Suara itu jelas. Bukan halusinasi.
Dengan tangan gemetar, Arya menarik tas itu ke pangkuannya. Dia membuka resletingnya sedikit.
Di dalam keremangan rumah candu, tuas mesin tik itu bergerak sendiri, menghantam pita, mencetak huruf di kertas yang terlipat di roller.
> A r y a .
> T o l o n g j a w a b .
Arya terbelalak. Dia mengusap matanya kasar, memastikan dia tidak mabuk.
> K a m u d i m a n a ?
Arya menahan napas. Dia mengeluarkan mesin tik itu ke meja, tidak peduli tatapan aneh si pelayan.
Dengan jari telunjuk yang gemetar, Arya mengetik.
> Alina?
> Kau nyata?
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera