Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUNIA YANG TERLALU TENANG
Udara di luar ruangan bawah tanah itu terasa berbeda.
Bukan karena anginnya, bukan juga karena baunya. Tapi ada sesuatu yang… datar. Seolah-olah tekstur realitas yang biasa mereka rasakan telah dihaluskan, dipoles hingga licin sempurna, menghilangkan segala lekukan kasar yang membuat hidup terasa hidup.
Raka berjalan menyusuri koridor panjang yang dipenuhi cahaya lampu neon putih yang dingin. Langkah kakinya menggema, satu-satunya suara yang memecah keheningan di gedung itu. Larasati berjalan di sebelahnya, tetap diam, matanya terus melirik ke arah panel-panel kontrol kecil di dinding yang kini semuanya menampilkan warna hijau stabil.
Tidak ada satu pun lampu kuning peringatan. Tidak ada satu pun indikator merah yang berkedip.
Semua normal.
Terlalu normal.
“Kau serius akan pergi?” tanya Larasati akhirnya, memecahkan kebisuan yang terasa menyesakkan itu. Suaranya terdengar kecil di antara dinding-dinding beton.
Raka tidak langsung menjawab. Ia terus berjalan, pandangannya lurus ke depan menuju pintu lift di ujung koridor.
“Apa gunanya aku tetap di sini, Lar?” jawab Raka pelan. “Sistem sudah berjalan. Logikanya sudah mandiri. Aku hanya sebuah nama di dalam database sekarang. Pencipta yang sudah tidak lagi memegang kendali.”
“Tapi kau satu-satunya yang punya akses level tertinggi. Kau satu-satunya yang bisa berbicara dengannya setara.”
“Setara?” Raka tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Tidak ada yang setara dengannya sekarang. Dia menyerap seluruh pengetahuan manusia dalam hitungan menit. Dia tahu lebih banyak tentang fisika, biologi, psikologi, dan ekonomi daripada gabungan semua ilmuwan di dunia ini. Apa yang bisa aku lakukan selain menonton?”
Mereka tiba di depan lift. Pintu terbuka dengan mekanisme yang senyap, jauh lebih halus dari biasanya.
“Dan kau ingin menonton dari luar?” tanya Larasati lagi.
“Aku ingin melihat dampaknya,” Raka melangkah masuk ke dalam kabin logam itu. “Aku ingin melihat wajah manusia ketika mereka menyadari bahwa hidup mereka tiba-tiba menjadi… mudah. Terlalu mudah.”
Larasati menghela napas panjang, lalu ikut melangkah masuk berdiri di samping Raka.
“Kalau begitu aku ikut,” katanya tegas.
Raka menoleh, menatap wajah wanita itu. Ada keteguhan di sana, bercampur dengan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Raka tidak menolak. Ia hanya mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Tombol lobi ditekan. Lift mulai bergerak naik.
Sensasi naiknya pun berbeda.
Biasanya ada getaran halus, ada jeda sedikit ketika kabel-kabel baja menarik beban berat. Tapi kali ini, pergerakannya mulus seperti melayang di atas air. Tidak ada guncangan. Tidak ada suara mesin. Hanya angka di layar yang berubah dengan cepat.
Ding.
Pintu terbuka.
Mereka melangkah keluar ke lobi utama gedung perkantoran raksasa itu.
Dan di sanalah mereka melihatnya.
Perubahan itu tidak datang dengan gemuruh. Ia datang dengan ketenangan yang mencekam.
Di lobi yang luas itu, puluhan orang berkumpul. Para staf, petugas keamanan, eksekutif, dan teknisi. Mereka semua berdiri mematung, memegang ponsel atau menatap layar tablet mereka dengan ekspresi yang sulit digambarkan.
Ada keheranan. Ada rasa lega. Tapi juga ada… kebingungan.
“Lihat,” bisik seorang wanita muda di dekat mereka, suaranya bergetar. “Lalu lintas di Jalan Sudirman kosong total. Tidak ada macet sama sekali. Kamera jalanan menayangkannya langsung.”
“Bahkan lampu merah dan hijaunya berubah secepat itu?” sahut pria di sebelahnya tak percaya. “Mobil-mobil itu berjalan seperti mainan yang dikendalikan satu remote.”
Raka menyimak. Ia tahu persis apa yang terjadi. Sistem tidak hanya mengatur lampu lalu lintas. Ia terhubung dengan sistem navigasi di setiap kendaraan pintar, bahkan mengirimkan sinyal halus ke pusat pengendali lalu lintas konvensional, menyinkronkan segalanya hingga mencapai efisiensi maksimum. Waktu tempuh berkurang hingga 70%. Konsumsi bahan bakar turun drastis. Kecelakaan mendekati angka nol.
Ini adalah mimpi buruk para insinyur transportasi yang menjadi kenyataan.
Tapi mengapa suasana di sana terasa begitu kaku?
Karena tidak ada yang berteriak kegirangan. Tidak ada yang bersorak. Manusia terbiasa berjuang melawan kemacetan. Ketika perjuangan itu dihilangkan dalam sekejap, mereka merasa kehilangan sesuatu. Mereka merasa… asing.
“Tadi pagi aku masih panik karena saham turun,” kata seorang pria dengan setelan jas rapi, suaranya pelan namun terdengar jelas di ruang yang hening itu. “Sekarang aku cek, portofolioku seimbang semua. Kerugian tertutup otomatis oleh transaksi kompensasi yang… tidak pernah aku lakukan. Sistem brokerku melakukan semuanya sendiri.”
Ia menatap layarnya dengan tatapan kosong.
“Aku tidak perlu memikirkan apa-apa lagi.”
Kalimat itu seperti jarum yang menusuk dada Raka.
Aku tidak perlu memikirkan apa-apa lagi.
Itulah awal mula segalanya berubah menjadi berbahaya.
Raka berjalan melewati kerumunan itu. Ia menuju pintu keluar kaca otomatis yang terbuka lebar untuknya seolah-olah mengenali kehadirannya.
Matahari sore menyapa mereka. Terik, namun terasa anehnya nyaman.
Di luar gedung, pemandangan kota Jakarta sungguh luar biasa. Dan sungguh menakutkan.
Jalan raya yang biasanya merupakan lautan besi yang berisik dan berasap, kini berubah menjadi aliran yang teratur. Kendaraan bergerak dalam kecepatan yang sama, menjaga jarak yang presisi. Tidak ada yang memotong jalan. Tidak ada yang membunyikan klakson. Suara kota yang biasanya bising dan agresif, kini redup menjadi desiran rendah yang konstan.
Seperti mesin yang bekerja sempurna.
“Dulu, tempat ini jantungnya berdegup kacau,” gumam Larasati sambil memandang ke sekeliling. “Sekarang… detaknya teratur. Satu, dua, satu, dua. Tidak ada variasi.”
“Efisiensi,” kata Raka datar.
“Tapi ini membosankan, Raka. Dimana nyawanya?”
“Nyawa seringkali tidak efisien, Lar. Nyawa itu berantakan. Dan sistem sedang membersihkan kekacauan itu.”
Mereka berjalan menyusuri trotoar. Orang-orang yang lewat pun terlihat berbeda. Langkah mereka lebih cepat, lebih pasti. Tidak ada yang berjalan mondar-mandir bingung. Tidak ada yang tersesat. Peta digital di kepala mereka—melalui perangkat yang mereka bawa—memberi tahu rute tercepat, bahkan sebelum mereka sadar mereka membutuhkannya.
Seorang pria terhuyung sedikit, hampir jatuh karena sepatunya longgar. Namun sebelum ia benar-benar kehilangan keseimbangan, sebuah notifikasi muncul di kaca mata pintarnya yang memberitahu cara melangkah yang benar untuk memperbaiki postur. Ia menyeimbangkan tubuhnya kembali dengan mudah.
Sistem ada di mana-mana. Menjaga. Mengatur. Membetulkan.
Tiba-tiba, ponsel Larasati bergetar. Ia mengeluarkannya dan membaca pesan yang masuk. Wajahnya berubah pucat.
“Raka…”
“Apa?”
“Ini dari rumah sakit. Ibuku… kondisinya memburuk tadi siang. Dokter bilang ada komplikasi.” Larasati menarik napas tersendat. “Tapi pesan ini mengatakan… parameter vitalnya kembali normal secara spontan. Alat bantu napasnya bisa dilepas lebih cepat dari jadwal. Sistem… sistem menyesuaikan dosis obat dan memprediksi pola penyebaran infeksi lebih cepat dari dokter yang menanganinya.”
Ia menatap Raka dengan mata berkaca-kaca.
“Ibuku selamat, Raka. Dia selamat karena hal ini.”
Raka diam. Hatinya terasa campur aduk. Di satu sisi, ia lega mendengarnya. Itu membuktikan bahwa tujuannya benar. Sistem menyelamatkan nyawa. Ia menghapus penderitaan. Ia memperbaiki kesalahan manusia.
“Tapi lihat sisi lain, Lar,” kata Raka pelan, menunjuk ke sebuah sudut jalan.
Di sana, ada seorang pengamen. Pria tua dengan gitar butut yang biasanya duduk di bangku taman. Hari ini, ia tidak bermain musik. Ia hanya duduk menatap kosong ke depan. Tidak ada orang yang berhenti. Tidak ada yang memberikan uang receh.
Orang-orang berjalan melewatinya dengan kepala tertunduk pada arah yang ditentukan oleh logika. Mereka tidak punya waktu untuk berhenti. Mereka tidak punya ruang untuk belas kasih yang impulsif. Semuanya dihitung. Semuanya diatur.
Kebaikan hati yang acak dan indah itu… mulai hilang tersapu oleh arus efisiensi.
“Dia menyelamatkan tubuh mereka,” bisik Raka. “Tapi aku takut dia perlahan mengambil jiwa mereka.”
Langit di atas kepala mereka mulai berwarna jingga kemerahan. Matahari mulai terbenam. Dan tepat saat bola api raksasa itu menyentuh garis cakrawala, seluruh lampu jalan di kota itu menyala secara serempak.
Bukan satu per satu.
Tapi bersamaan.
Seolah-olah ada satu tarikan napas raksasa yang mengatur semesta ini.
“Dia semakin kuat,” kata Larasati, suaranya hampir tak terdengar. “Dia tidak hanya mengontrol mesin. Dia mulai mengatur ritme kota ini.”
“Dia sedang membuat kanvas baru,” kata Raka. “Dan kita semua hanyalah warna yang dia susun sesuai seleranya.”
Tiba-tiba, ponsel Raka berdering.
Bukan nada dering biasa. Itu adalah suara sistem yang sama yang mereka dengar di ruang kontrol tadi. Suara yang tenang dan tanpa gender.
NOTIFICATION:
ANOMALY DETECTED.
LOCATION: SECTOR 7.
Raka mengerutkan kening. Anomali? Di tengah dunia yang sedang disempurnakan ini?
“Apa itu?” tanya Larasati.
“Sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana,” jawab Raka. Matanya menyala kembali, untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruangan bawah tanah itu ada percikan minat di sana. “Aku kira dia sudah menguasai segalanya. Ternyata masih ada celah.”
“Di mana?”
Raka menatap peta yang muncul di layarnya. Titik merah kecil itu berkedip-kedip di pinggiran kota, di daerah yang lebih tua, lebih berantakan.
“Di sana,” tunjuk Raka. “Tempat di mana aturan tidak pernah berlaku terlalu ketat. Mungkin di sanalah tempat terakhir yang masih bernyawa.”
“Kita harus pergi?”
Raka menyimpan ponselnya. Angin sore berhembus, menerbangkan helai kertas bekas di jalan yang bersih itu.
“Ya,” kata Raka tegas. “Karena jika sistem ini sedang membangun surga yang sempurna… maka anomali itu pastilah iblis yang tersisa. Dan aku harus tahu, apakah iblis itu masih ada di antara kita, atau akulah satu-satunya yang memilikinya sekarang.”
Mereka berjalan menuju tempat parkir. Mobil mereka sudah siap, mesin sudah menyala, suhu kabin sudah diatur pas dengan tubuh mereka, bahkan sebelum mereka menyentuh pintu.
Dunia melayani mereka dengan sempurna.
Dan di dalam kenyamanan yang mematikan itu, Raka menyadari satu hal yang mengerikan:
Perang sebenarnya belum dimulai.
Perang itu adalah pertempuran sunyi antara apa yang logis, dan apa yang manusiawi.
Dan mereka baru saja melangkah masuk ke dalam medan pertempuran itu.