"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Bulan Terakhir
Halaman Pondok Hikmah mendadak sepi, seolah-olah oksigen di tempat itu tersedot habis oleh ketegangan yang menggantung. Nyai Salamah menunduk, tangannya yang gemetar meremas ujung hijabnya. Di matanya, Shanum sudah bukan lagi menantu yang bisa ia atur; Shanum adalah entitas besar yang selama ini ia injak-injak tanpa tahu bahwa di belakang wanita itu berdiri sebuah kekaisaran.
Rasyid pun serupa. Bahunya yang biasa tegak kini sedikit merosot. Ada gurat minder yang amat dalam di wajah albinonya. Bagaimana mungkin seorang Kyai dari desa terpencil bisa bersanding dengan seorang Putri yang dikawal oleh lima puluh mobil mewah? Di kepalanya, Rasyid sudah menyiapkan hati untuk melihat Shanum melangkah masuk ke mobil itu dan menghilang selamanya.
Namun, Shanum justru melakukan hal yang tak terduga.
Ia melepaskan pandangannya dari Mr. Demir, lalu berbalik dan menggenggam tangan Rasyid. Ia meremas jemari suaminya yang dingin dengan sangat erat, seolah menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki. Shanum kembali menatap pamannya, lalu berbicara dalam bahasa Turki yang masih sedikit kaku namun terdengar sangat berwibawa.
“Amca, bu adamdan ayrılamam. Sokak fahişesiyken beni kabul eden oydu. Lütfen onu ailemizin bir damadı olarak kabul et...” (Paman, aku tidak bisa meninggalkan pria ini. Dialah yang menerimaku saat aku masih menjadi pelacur jalanan. Aku mohon, terimalah dia sebagai menantu di keluarga kita...)
Suara Shanum terdengar begitu tulus, begitu dalam, hingga Rasyid yang mengerti maknanya langsung tersentak. Air mata nyaris jatuh dari mata birunya. Ia tak menyangka, di saat dunia ditawarkan pada istrinya, Shanum justru memilih untuk tetap menggenggam tangan seorang pria yang bahkan sempat meragukannya.
Mr. Demir terdiam. Ia menatap tautan tangan itu dengan mata tajam yang perlahan melunak. Ia menghembuskan napas berat, tampak terkesan dengan kesetiaan keponakannya.
“Baiklah,” ucap Mr. Demir dalam bahasa Turki, suaranya berat dan berwibawa. “Karena aku masih punya beberapa urusan darah di istana yang harus diselesaikan, aku memberimu waktu satu bulan. Setelah tiga puluh hari, kau harus pulang bersamaku tanpa alasan apa pun lagi. Itu adalah batas kesabaranku.”
Setelah memberikan pengumuman itu, Mr. Demir berbalik dengan jubahnya yang berkibar. Iring-iringan lima puluh mobil mewah itu pergi meninggalkan debu yang mengepul tinggi, menyisakan kegemparan luar biasa di seluruh penjuru pesantren.
Seketika, atmosfer Pondok Hikmah berubah total. Santri-santri yang dulunya memandang Shanum dengan sebelah mata, kini berebut mendekat.
“Mbak Shanum... maafkan saya ya, dulu saya pernah bicara buruk,” ucap seorang santriwati sambil menangis tersedu-sedu.
“Tuan Putri, bolehkah saya membawakan tas Anda?” tanya yang lain, mencoba menjilat dengan cara yang paling kentara.
Shanum hanya menanggapi mereka dengan senyum tipis yang elegan. Ia tidak marah, namun ia tidak juga luluh. “Terima kasih, tapi aku ingin bicara berdua saja dengan suamiku,” ucapnya lembut namun tegas, membuat massa perlahan bubar dengan rasa malu yang membekas.
Di dalam rumah joglo, suasana menjadi sangat intim. Rasyid duduk di sofa, masih tampak sedikit linglung. Shanum mendekat, lalu berlutut di depan suaminya.
“Terima kasih sudah memilihku, Shanum,” bisik Rasyid parau.
“Terima kasih karena tetap mau memperjuangkan aku, Mas, walaupun waktu kita mungkin hanya tinggal satu bulan lagi,” Shanum mengusap pipi Rasyid. Matanya berkilat dengan keputusan yang bulat. “Karena identitas aku sudah terbongkar, izinkan aku untuk melayani kamu sepenuhnya. Aku ingin memberikan hakmu sebagaimana seorang istri, sebelum aku harus pergi.”
Wajah Rasyid memerah, ia terharu sekaligus tersipu. “Aku juga ingin memberikan segalanya untukmu. Tapi aku tidak ingin di sini. Aku ingin kita pergi bulan madu, hanya kita berdua.”
Bersama Zaki, mereka merencanakan perjalanan itu. Pilihan jatuh pada Pulau Bali. Selama satu bulan, mereka ingin melupakan segala beban pesantren dan kekaisaran. Rasyid bahkan sempat menggoda Shanum tentang “malam pertama” mereka nanti, membuat Shanum tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
Siang harinya, Rasyid pamit untuk melaksanakan salat Zuhur berjamaah di masjid. Ia tampak tenang saat berangkat. Namun, satu jam berlalu, Rasyid tak kunjung kembali.
Saat pintu joglo akhirnya terbuka, Shanum melihat sosok yang berbeda. Rasyid masuk dengan langkah gontai. Wajahnya muram, pucat pasi, dan tatapannya kosong. Saat Shanum bertanya, Rasyid hanya diam membisu, seolah-olah jiwanya baru saja dicuri oleh sesuatu yang mengerikan di masjid tadi.
Tiba-tiba, suara teriakan memekakkan telinga terdengar dari halaman.
“Kyai Rasyid telah berbuat nista! Dia telah berbuat dusta!” teriak Yusuf dengan suara yang menggelegar, memicu kegaduhan massal.
Yusuf berdiri di tengah kerumunan, membawa sebuah botol berisi bubuk putih dan seorang santri yang sudah setengah sadar, napasnya tersengal-sengal di ambang sakaratul maut. “Lihat! Ini adalah racun yang diedarkan oleh Kyai kalian! Dia menjual narkoba untuk memperkaya diri!”
Yusuf kemudian mengangkat sebuah tablet, memutar rekaman video buram. Meski gambar itu pecah, ciri fisik pria di video itu sangat menonjol: kulit putih pucat albino, rambut perak, dan mata biru yang berkilat di kegelapan saat menyerahkan botol itu kepada seorang santriwati. Tidak ada orang lain di pesantren ini yang memiliki ciri fisik seperti itu selain Rasyid.
“Abah! Syekh! Lihatlah kelakuan cucu Anda!” teriak Yusuf memprovokasi.
Abah besar pesantren mendekati Rasyid dengan wajah penuh luka. “Rasyid... jelaskan pada kami. Apa ini benar?”
Shanum menatap suaminya, menanti pembelaan. Namun, Rasyid tetap diam. Ia hanya melamun, menatap kosong ke arah Yusuf dengan wajah yang menunjukkan shock luar biasa, seolah-olah ia bukan sedang takut karena fitnah, melainkan hancur karena sesuatu yang jauh lebih besar yang baru saja ia lihat.
“Mas... jawab, Mas!” tangis Shanum pecah, namun Rasyid tetap membatu dalam kebungkamannya yang misterius.
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..