NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Hal-Hal yang Tertunda

---

Hari Minggu pagi mereka sempat normal—sangat normal sampai terasa seperti latihan. Pasarnya petani di Carlton penuh bunga matahari dan roti sourdough yang dijual nyaris habis pukul 09.00. Arka membeli sabun batang wangi kayu putih karena Alya pernah mengeluh apartemen mereka bau koper dan tas laptop. Alya memesan kopi dua shot, lalu menyesal karena tangannya gemetar waktu membayar. Di jalan pulang, Arka mengunci sepeda di rak besi tua, Alya memotret dia—helm miring, kantong kertas sabun tergantung di jari, matahari menyelinap di balik pohon plane—dan untuk tiga puluh detik itu mereka seperti pasangan dalam iklan, bukan dua orang yang seminggu lalu sepakat berbagi napas di lantai ketika suhu Arka naik.

Malamnya mereka menonton film tanpa subtitle lagi, hanya karena itu membuat mereka saling menjelaskan plot yang keliru. Arka menyandarkan kepala di bahu Alya, dan Alya menghirup sampo kayu putih di rambutnya. Ia berpikir: kalau besok lusa bukan Senin, ia ingin menunda semua kalender dunia.

Senin pukul 10.17 mengubah pikirannya.

Alya baru selesai presentasi internal di ruang lantai 12. Bosnya—regional head yang suka memanggilnya _chief_ dengan nada guyon tapi matanya tak pernah main-main—meminta dia tinggal. Ruangan kaca itu menghadap rel trem, jadi tiap kali Alya gugup, ia melacak grafiti di gerbong yang melintas. Pagi itu grafiti biru berbentuk burung, sayapnya seperti sedang menabrak dinding.

“Ada proyek baru,” kata bosnya. “Tim Jakarta butuh lead yang standby selama dua kuartal. Utamanya audit vendor karbon. Bolak-balik.”

Alya menelan ludah. “Aku baru tujuh minggu di sini.”

“Kamu paling cepat adapt. Dan mereka minta kamu—spesifik.”

Di luar, trem lewat, burung biru grafiti memotong pandangannya lagi. Alya ingat lamaran mendadak di Singapura, janji tidak lari saat berat, tidak diam waktu masalah. Ia mengangguk. “Aku butuh dua hari untuk atur.”

Bosnya tersenyum, mengira itu tanda kepatuhan.

Perjalanan pertama dijadwalkan Rabu. Tiga hari lagi.

Alya baru memberitahu Arka malam Selasa, setelah Arka selesai call investor yang molor dua jam. Mereka makan di meja lipat dekat jendela, sisa nasi goreng di piring, kecap di sudut bibir Arka. Arka mendengarkan, mengangguk, menuang air ke gelas. “Berapa lama?”

“Dua minggu tiap bulan, mungkin tiga bulan ke depan.”

Arka diam menelan nasi. Alya buru-buru menambah: “Kalau kamu keberatan, aku tolak.”

Arka menggeleng. “Bukan soal keberatan.” Matanya lelah, tapi hangat. “Ini memang risiko pakai alamat Melbourne, kan? Proyekmu Asia-Pasifik.”

“Kita janji nggak jalan masing-masing.”

“Sekarang kita tes itu,” kata Arka pelan. Bukan tuduhan. Hanya fakta.

Alya ingin memeluknya, tapi Arka berdiri, mengemas laptop. “Aku ada finalisasi term sheet. Maaf, Al. Aku senang kamu dipercaya.” Kata-kata itu tulus, tapi tubuhnya berjarak satu meter—jarak yang tadi siang belum ada.

Rabu subuh, di bandara, Arka mengantar. Mereka minum kopi mesin yang rasanya seperti karton basah. Alya memegang boarding pass, Arka memegang bagasi kabinnya seolah menimbang massa. “Aku akan telepon tiap malam,” kata Alya.

“Aku tahu.”

“Bukan buat laporan. Cuma… biar kita tetap satu ruang.”

Arka tersenyum, mencium keningnya. “Pulang selamat, chief.” Panggilan itu dulu enak. Sekarang terdengar seperti pengalihan.

Penerbangan empat jam. Alya menatap awan, ingat sore flu Arka waktu ia duduk di lantai menemani. Ia sadar bahwa menjaga janji “aku tidak akan biarin kamu merasa sendirian dalam mimpi kamu” bisa berarti ia harus sering pergi—dan itu juga bentuk kesepian.

Di Jakarta, hotelnya bersih dan harum disinfektan, jendela menghadap mal besar dengan spanduk diskon. Tim lokal menyambut hangat, tapi ada jarak halus: _expat yang datang untuk audit_. Alya dipanggil “Bu Alya” bahkan oleh insinyur yang lebih tua; ia membenci itu karena terdengar seperti pengawasan. Malam pertama, video call. Layar menampilkan Arka di sofa; meja lipat penuh catatan, kabel charger melingkar seperti ular. “Macet di jalan tol,” kata Arka cepat, “tapi aku senang kamu aman.” Alya rindu apartemen mereka: rak buku miring, karpet lelah, tanaman lidah mertua yang tak pernah ia siram cukup. Rindu itu tajam: ia menutup laptop, duduk di lantai hotel, menyandarkan kepala ke kaki ranjang. Sendiri.

Kamis malam, jam 22.42 waktu Melbourne, Arka mengirim pesan:

*Aku baru pulang. Investor mau pivot ke logistik terpakai ulang, berarti aku mungkin harus ke Sydney besok buat ketemu co-founder mereka.*

Alya membalas:

*Kita baru tes jalan masing-masing, ya?*

Arka membalas semenit kemudian:

*Tes yang nggak bisa kita tolak.*

Alya mematikan lampu utama, menyisakan lampu baca kuning. Ia menatap cincin di jarinya, mengingat suara Arka di bandara: _Pulang selamat, chief._ Ia sadar komitmen bukan hanya “aku nggak akan lari”. Kadang artinya _aku akan pergi, dan tetap pulang_. Tapi pulang bukan alamat; pulang adalah keberanian menyambung kalimat yang tertunda.

Alya di ranjang hotel, telepon di tangan. Ia ingin memanggil Arka, mendengar napas, bukan laporan. Tapi ia menunggu; Arka sedang mengejar mimpinya sendiri, dan malam itu, menahan rindu adalah cara Alya mengatakan: Aku masih memilih kita.

_

Izinn

Bang kapann bisa ajukan kontraaakkkk

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!