NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT III

   Bicara meracau, Villy dengan sigap langsung menepuk kepala Ayaa. Sembari menarik lengan seragamnya untuk bangkit, ia berkata, “Bangun dan lihat..” 

   Ruang Kepala Administrasi tertulis di papan kayu pada pintu, bersebelahan tepat dengan tempat Karinn terjatuh. “Kau keluar dari sana?” tanya Ayaa. 

   Karinn tak menggubris, sadar bahwa rasa sakitnya tak seberapa bila dibandingkan dengan rasa panik dirinya saat terciduk oleh orang lain. Dia tahu alasan apa pun pasti akan menimbulkan sedikit kecurigaan, jadi menjawab ya atau tidak bukanlah solusi yang tepat.

   “Urusanmu sudah selesai?” Kini bergantian Villy yang bertanya. 

   Karinn mengangguk.

   “Tidak apa, tidak perlu khawatir. Setiap orang pasti punya permasalahan yang pelik.”

   “...Kenapa kau bilang begitu?”

   “Ini bukan pertama kalinya aku melihatmu keluar dari ruangan Pak Riyan.” Benar, dalam beberapa kesempatan saat Villy kabur ke lantai dua untuk membaca kiriman surat anonim itu, ia selalu melihat Karinn juga ada di sekitar koridor. Mulanya ia khawatir karena ada orang lain di sana, tetapi kemudian ia tahu bahwa mereka berdua nemiliki urusan yang berbeda.

   “....Aku harus pergi, kak. Sampai nanti.” Karinn melambaikan tangan, lalu berbalik badan dan memacu kakinya secepat kilat. 

...• • • • •...

   Di atas sana, matahari secara perlahan bergerak ke barat, meninggalkan jejak semburat jingga yang mulai bercampur dengan ungu tua. Bila sudah tiba pergantian warna langit seperti ini, gedung asrama akan jadi tempat yang paling banyak mengeluarkan suara. Para siswi yang sudah mandi dan berganti pakaian cenderung punya kebiasaan yang sama, yakni berkunjung ke kamar lain hanya untuk berbasa basi dengan teman sekamarnya dulu. Mulai dari makan camilan bersama, menonton film bersama, mengobrol, membicarakan si anu, sampai duduk melingkar di balkon dan mengusulkan berbagai macam tempat untuk pergi berlibur di akhir pekan. 

   “Irene tidak ada di sini?” Karinn berkacak pinggang di daun pintu, celingukan mencari seseorang yang sepertinya tidak tampak batang hidungnya di sekitar sana. 

   “Dia pergi ke luar, mungkin ke toilet,” jawab Erica yang sedang duduk di lantai dan melipat pakaiannya.

   Karinn mengangguk-angguk sembari melepas sepatunya dan meletakkannya ke rak. Pikirnya jawaban itu mungkin benar karena sebelumnya pun ia menemukan si gadis garang itu berada di dalam bilik toilet dalam keadaan kacau. 

   Erica menolehkan kepalanya ke ranjang di sebelah tubuhnya, tampak Karinn sedang berbaring dan menikmati sejuknya udara sore. “Soal obrolan kita di kantin, bisakah kau jadikan sebagai rahasia?”

   “Hu? Maksudmu tentang Irene?”

   Erica mengangguk. 

   “Tentu, akan kulakukan. Tapi dengan satu syarat.” Karinn beranjak bangkit, kemudian menurunkan kedua kakinya ke lantai bersebelahan dengan tubuh Erica. 

   “Syarat apa?”

   “Hmm, tidak banyak. Aku hanya mau kau menjawab pertanyaanku.”

   “Baiklah, apa itu?”

   “Saat keributan terjadi di kelasmu, apa kau ada di sana?”

   “...Ya, aku duduk di kursi paling belakang, paling sudut. Sementara Irene duduk di kursi depan. Itu hasil pertukaran tempat duduk minggu ini.” 

   “Tentu, karena itu kau.” Karinn menyilangkan kedua tangannya ke dada, kemudian beralih ke pertanyaan kedua. “Itu artinya kau melihat dengan jelas bagaimana Giselle merundung Irene?”

   Erica mengangguk. 

   “Tentu, mustahil kau tidak melihatnya.” Karinn membungkukkan badan, mempertemukan kedua matanya dengan mata Erica. “Kenapa kau tidak menghentikannya? Kupikir kalian sudah berteman dekat.”

   Erica menundukkan kepalanya, membisu.

   “Erica?” 

   Itu ketiga kali namanya dipanggil, dan si pemilik nama tetap tidak menggubris walau daun telinganya bergoyang pelan karena merespons gelombang suara di dekatnya. 

   “Kenapa kau ingin tahu soal itu?”

   “Karena kebetulan aku ada di sana dan mengetahuinya.”

   Erica menelan ludah, masih menimbang-nimbang keputusan dalam kepalanya. 

   “Baiklah, tidak perlu dijawab. Akan kujadikan rahasia soal Irene.”

   Baru juga Karinn menaikkan kaki untuk kembali berbaring, Erica bangkit dari tempat duduknya sambil berkata, “Itu karena Giselle bukan urusanku.”

   “Apa katamu?”

   Setahun lalu, tepatnya saat naik ke jenjang SMA di gedung tempat terjadinya kasus itu, Erica untuk pertama kalinya bertemu Irene. Kala itu kelasnya heboh karena kedatangan siswi pindahan dari tingkat kelas satu dan dikenal sebagai siswi bertalenta dalam bidang akademik. Tak heran semua orang bergunjing bahwa tingkat kelasnya diturunkan karena mendapatkan poin minus dari perilakunya. 

   Mungkin mulanya tampak seperti obrolan biasa ketika membicarakan seseorang, tapi tak lama kemudian hal itu berubah saat Giselle memanfaatkan situasi untuk mengganggunya. Bila melihat Irene sedang menulis catatan, menikmati makan siangnya, atau istirahat di jam olahraga, bedebah itu selalu mendatanginya untuk mengisi kesendiriannya. Anehnya, Irene yang dikenal galak oleh teman-temannya justru memilih diam dan bersikap tak acuh. Walau sudah beberapa kali dirugikan atas tindakannya yang menjadikannya kambing hitam, ia tetap membisu seolah sedang dikendalikan dari dalam. 

   Banyaknya pertanyaan yang tak terjawab tentangnya, maka Erica pun tergerak untuk menjadi teman di sampingnya—mengisi kesendirian Irene yang hari-hari sebelumnya hanya dipenuhi oleh wajah Giselle. Tak disangka, hubungan yang terjalin karena rasa penasaran dan simpati, malah makin mempererat keduanya. Menjadikan titik balik bagi pandangan orang-orang di sekitarnya. 

   Begitulah seterusnya mereka berjalan melewati waktu. Sampai kemudian tiba saat di mana Erica mengetahui ada banyak luka lebam di beberapa bagian tubuh Irene. Tentu dengan diselimuti amarah, dia mendatangi Giselle. Dia mencengkeram kerahnya dan melayangkan pukulan bertubi-tubi. Kalau saja Irene tidak segera datang dan menghentikannya, mungkin Erica benar-benar akan menghabisinya—persis seperti yang Karinn rasakan saat berhadapan langsung dengan gadis itu. 

   Namun, yang membedakan dari kedua kasus itu hanyalah perasaan kecewa, perasaan dikhianati, dan perasaan sedih sebagai teman yang selalu ada hampir di setiap waktu kosongnya. 

   “Sehari setelah kejadian itu, Irene absen,” ujar Erica, kepalanya masih tertunduk demi mengalihkan kontak mata. “Seberapa keras pun aku mencarinya, aku tetap tidak bisa menemukannya.” 

   Dari seluruh tempat yang telah didatanginya satu per satu, ia teringat bahwa ada satu tempat yang belum diperiksanya. Maka bergegaslah ia lari menaiki tangga menuju atap gedung sekolah. 

   “Irene!” serunya. 

   Si pemilik nama yang tahu ada seseorang di dekatnya, perlahan-lahan membuka matanya, mendapati Erica dengan wajah penuh keringat telah gemetaran mengangkat tubuhnya ke pangkuannya. 

   “Ini bukan hal besar. Aku akan segera sembuh dalam beberapa hari.” 

   “Jangan tersenyum! Dasar bodoh!” Erica mulai menangis, merasakan otot di perutnya memberi sinyal nyeri akibat irama tangisnya tak beraturan. Suara yang keluar dari kerongkongannya pun bergetar karena di waktu yang bersamaan ia mengutuk dirinya dalam hati, menumpahkan segala macam ujaran perasaannya yang kalut. “Katakan padaku, siapa yang membuatmu seperti ini?! Siapa yang melakukan ini padamu?! Irene, beritahu aku! Katakan padaku!”

   Irene mengangkat tangannya, menyeka air mata di pipi Erica. “Sudah kubilang ini bukan urusanmu. Kau tidak perlu ikut campur. Aku bisa menanganinya.”

   “Oi, kau gila?! Aku berhak ikut campur karena kau adalah temanku, Irene! Kau .... Bagaimana bisa kau berkata begitu? Aku mencarimu ke mana-mana. Aku ... Aku mencarimu bukan untuk melihat ini ... Aku...” 

   Dengan sekali tarikan, Irene membawa bahu Erica kepadanya, mendekapnya sejenak. 

   Saat itulah semua bayang-bayang berputar secara abstrak. Irene, si gadis garang dengan matanya yang selalu melotot, kala itu berkata dengan lirih di dekat telinga Erica, memintanya untuk tidak melibatkan diri dengan urusannya. Berkali-kali ia tekankan bahwa semuanya akan baik-baik saja selama dia percaya padanya. 

   “Ini bukan pertama kalinya,” kata Erica lagi. 

   Sebelum Irene datang mengisi hari-harinya, ada gadis lain yang juga mengalami nasib serupa. Dia dipukuli, disiram susu, dikunci di dalam toilet, diambil uangnya, dan berbagai macam tindakan buruk lainnya. Saat itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menatapnya dari kejauhan, persis saat ia hanya bisa melihat Giselle mengganggu Irene dari tempatnya duduk. 

   Benar, semua itu terjadi sebelum malam mengambilnya dari dunia. 

   Fatal. Kesalahan yang sangat fatal. Usahanya untuk membalikkan keadaan secara diam-diam malah sirna dalam sekejap. Tak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa malam mengerikan itu akan tiba.   

   Maka saat ia bertemu Irene, ia memanfaatkan sistem pembagian tingkat kelas baru untuk melawan perundungan juga melindunginya demi membayar kegagalannya dahulu—pada gadis yang berjuang di atas ketinggian malam.

   “Walau aku tidak pernah tahu ada apa di antara mereka, aku selalu berpikir mungkin dengan aku tidak melibatkan diri adalah jalan terbaik satu-satunya. Dengan begitu, aku akan bisa mendengar suaranya lebih lama.” 

   Saat Erica berlari menuju atap dan menemukan Irene, hatinya amat hancur. Segala bayangan buruk tentang gadis yang dulu tewas di sini tampak terasa nyata di depannya. Maka dengan hati-hati, ia menghampirinya. Ternyata ... ia masih diberi kesempatan untuk melihat matanya terbuka, dan mendengar suaranya yang memintanya untuk tidak ikut campur dalam urusannya. 

   “Karinn, kau berhak menilaiku sebagai sosok yang jahat. Tapi sebelum itu, ketahuilah satu hal ini. Aku tidak berkata ... bahwa aku tidak bisa mencegah perundungan itu. Aku tidak berkata bahwa percuma menolongnya. Aku juga tidak sungguh-sungguh berkata Giselle bukan urusanku. Aku hanya ingin mengatakan padamu, Karinn ... Tidak mudah menjadi diriku. Aku sangat kesulitan, dan banyak hal yang kutakutkan.”

...• • • • •...

   Di setiap lantai gedung sekolah, terdapat pintu kaca yang dapat digunakan sebagai akses keluar masuk ke gedung asrama. Jadi pada waktu wawancara tiba, para gadis yang bukan merupakan lulusan SMP Endley bisa dipersilakan untuk pergi terlebih dulu, menyisakan teman-temannya di antrean untuk dipanggil namanya sesuai urutan. 

   “Maaf, pak. Tidak ada yang kutahu lagi tentangnya,” ujar gadis berambut gelombang sembari memainkan jemarinya di bawah meja. Dia menundukkan kepalanya, menatap permukaan lantai yang dingin dengan raut gelisah. “Mungkin kedengarannya sulit dipercaya, namun itu benar, bahkan namanya pun aku tidak ingat.”

   Seorang detektif pria menyilangkan kedua tangannya ke dada, mencari sepasang mata gadis bernama Lucy yang sedari tadi terus mengalihkan kontak mata dari pertanyaan pertama sampai pertanyaan kelima. Tak satupun ada yang terjawab selain kalimat serupa mengenai ketidaktahuannya terhadap gadis tersebut.

   “Aku berkata jujur. Kami sebagai teman sekelasnya memang tidak dekat dengannya. Dia ... Dia gadis pendiam yang sangat misterius.”

   Noah memijat pangkal hidungnya, mendesah berat. Lalu sembari ia membalik halaman baru buku catatannya, ia mengajukan pertanyaan berikutnya. “Kau pindah ke SD Putri Endley pada kenaikan kelas enam, kan?”

   Lucy mengangguk.

   “Artinya kau tahu tentang perundungan yang terjadi di sana.”

   Lucy mengangguk lagi.

   “Ceritakan semua yang kau tahu. Jangan coba-coba berbohong, atau kau akan mendapatkan masalah.”

   “Pak detektif, bukankah kau tidak bisa memaksa kami untuk memberi pernyataan? Kau melanggar—”

   “Kau salah satu dari mereka yang merundung korban?” Noah menyela, membuat Lucy langsung membisu dan mengalihkan kontak mata.

   “Itu tidak benar. Kami sebagai teman sekelasnya tidak melakukan apa pun kepadanya ... kecuali mengucilkannya.”

   “Kenapa dia dikucilkan?”

   “Aku tidak tahu. Semua orang melakukannya, jadi kupikir dia gadis berbahaya.” Lucy menelan ludah sesaat ia menjawab lalu menemukan sepasang mata Noah menatap ke arah dirinya dengan tidak bersahabat. Dia menundukkan kepalanya, kembali melanjutkan ucapannya. “Biasanya, mereka yang jadi target perundungan adalah mereka yang jelek, miskin, dan bodoh. Tetapi pada saat itu, para gadis pindahan memecah kubu menjadi dua—mereka yang aktif dalam bersosialisasi, dan mereka yang sulit dalam bersosialisasi.” 

   Noah menunjukkan wajah bingung, sesuai dugaan Lucy yang mana fenomena ini memang agak berbeda dari kebanyakan yang terjadi.

   “Para gadis hanya merundung mereka yang berkarakter pendiam. Alasannya karena mereka bahkan tidak memiliki teman untuk membelanya—tentu juga diancam untuk tidak melapor kepada guru dan orang tua. Gadis itu ... Dia salah satunya.” Menuju akhir penjelasannya, Lucy kini memberanikan diri mengangkat kepalanya, menemukan sepasang mata Noah yang juga sedang menatapnya dengan lekat. “Aku berkata jujur. Teman seangkatanku, juga teman sekelasnya sama sekali tidak merundungnya. Sungguh, pak. Kami hanya mengucilkannya karena dia pendiam. Para gadis pindahan tidak membiarkan kami berteman dengannya.”

   “Jadi, kau bermaksud mengatakan kalau tidak adil bila gadis pendiam mendapatkan perlakuan yang sama dengan para gadis yang mudah berteman, begitu?”

   Lucy mengangguk.

   “Itu sungguh tidak masuk akal. Baiklah, terima kasih atas pernyataanmu.” Noah mengangkat telapak tangannya ke udara, isyarat agar Lucy meninggalkan ruangan wawancara. “Selanjutnya, Karina!” 

   Si pemilik nama melesat cepat mendapatkan kursi, lalu tanpa membiarkan sang detektif mengajukan pertanyaan, dia lebih dulu berkata, “Pak, kau melakukan wawancara ini untuk mengulur waktu, kan?”

   Tanpa mengangkat kepala untuk bertemu mata dengan gadis tersebut, Noah membalasnya dengan balik bertanya, “Kenapa kau bicara begitu?”

   “Yah, baru-baru ini tersebar sebuah berita. Para gadis banyak mempercayainya, maka itu mereka tidak mau memberi kesaksian kepada polisi.”

   Noah mendesah berat. Pantas saja hampir setengah gadis yang dipanggilnya mengatakan kalimat serupa—seperti dalam kasus gadis sebelumnya yang bernama Lucy. Ternyata ada rumor baru yang muncul bahkan setelah rumor lama terbantah. Benar-benar melelahkan. “Kau ketua kelas 11-2, kan?” tanyanya sembari memeriksa buku absen. 

   Karina mengangguk. 

   Lantas Noah pun mencondongkan tubuhnya sedikit guna mendekatkan jarak di antara mereka sebelum kemudian berkata, “Benar.”

   “..Hu?”

   “Kami sudah tahu siapa pelakunya.”

   Karina menegak ludah, tersentak. Mendadak bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri, memberikan sensasi ngeri. “J-jika begitu, kenapa wawancara ... juga penyelidikan...”

   “Sesuai tebakanmu. Untuk mengulur waktu.”

   “T-tapi, kenapa? Kenapa...”

   “Dengar. Ada banyak tahap yang harus dilalui dalam Drama.”

   “Drama?”

   “Kami hanyalah pemeran pendamping. Yang berperan besar dalam menggerakkan Drama tentunya adalah mereka yang merupakan pemain utama,” ujarnya lagi. “Sepertinya wajahmu mengatakan kau sedang tidak baik-baik saja. Baiklah, kau boleh pergi. Ingat, jadikan rahasia.”

   Begitu bangkit dari kursi, pandangan Karina perlahan memudar. Langkahnya pun tidak beraturan lantaran perasaan aneh bersemayam di kepalanya bagaikan asap rokok yang menekan paru-parunya. “Sherlock!” Dia berseru memanggil seorang gadis yang kebetulan juga baru selesai diwawancarai di ruangan sebelah. 

   “Ada apa?” tanyanya.

   “Kau ... Kau, kan yang pertama kali mengatakan kalau kasus itu berkaitan dengan Drama. Apa kau ... mengetahuinya dari polisi?”

   Tahu mengarah ke mana maksud ucapannya itu, Karinn lantas menoleh ke ruangan tempat Detektif Noah mewawancarai. “Astaga, dia memang bermulut besar.”

   “Oi, jawab aku. Apa sejak awal kau mengetahuinya? Kasus kematian gadis di atap ... dan Drama ... Apa benar keduanya saling berkaitan?”

   Tanpa banyak memberikan dalih, Karinn pun langsung mengangguk, membuat Karina secara spontan menutup mulutnya sembari tubuhnya berangsur-angsur merosot ke lantai—perasaannya kacau. “Apa itu artinya ... kau juga tahu siapa pelakunya?” 

   Tiga menit kemudian pun berlalu, waktu yang tepat untuk tingkat kematangan mi instan cup. Begitu penutupnya dibuka, asap tipis lantas menyeruak keluar bersama dengan aroma rempah-rempah yang menggiurkan—sangatlah cocok dinikmati di kala cuaca malam yang dingin. 

   “Sudah lama kita tidak makan berhadapan begini. Kira-kira kapan terakhir kali, ya?”

   Karina memicingkan mata, menatap sinis gadis di seberangnya yang tampak tak acuh pada wajahnya yang jelas-jelas menunjukkan semburat tidak bersahabat. “Oi, jawab aku. Jangan coba-coba kau mengalihkan topik.” 

   “Kita bicarakan nanti. Sekarang makanlah dulu,” kata Karinn sembari menyodorkan mi instan cup yang sudah diseduhnya pertama kali. Setelah itu dia bangkit dari tempat duduknya menuju rak makanan deretan ketiga, mengambil dua sosis besar sebagai tambahan lauk. 

   “Apa itu benar?” Karina bertanya lagi, masih dalam pembahasan yang sama sebelum Karinn membawa dirinya ke Fe-Mart.

   “Ini varian pedas terbaru, lebih enak kalau dinikmati selagi panas.”

   “Karinn!”

   “Ya? Itu namaku. Kenapa? Kau haus? Mau kubelikan air?”

  “Oi! Sherlock brengsek!”

   Manik mata Karinn membulat besar, sedikit tak menyangka apa yang telah didengar oleh telinganya. “Wah, kau sudah pandai berteriak sekarang.”

   Karina tidak mengubris, sorot matanya masih sama seperti sebelumnya; melotot. 

   “Apa sekarang suara kencang sudah tidak jadi masalah bagimu? Kurasa kau sudah mahir dalam berteriak. Pasti tidak instan, kan?”

   “Apa maksudmu? Kau mengalihkan topik lagi.” Karina membelah sumpit kayunya dengan agak kasar, cemberut. 

   Sebulan yang lalu, mereka adalah teman sekamar. Dan di salah satu malam pada akhir pekan, Karina bercerita pada anggotanya tentang telinganya yang mengalami masalah dan trauma pada bunyi kencang akibat ledakan gas saat karyawisata. Katanya, ketika itu dia masih duduk di bangku SD, jadi rasa takut yang dialaminya cukup besar sampai kadang-kadang dia merasa nyaris mati. 

   Karinn terdiam sesaat, sadar akan sesuatu. “Rina, kau ... Jadi gadis itu adalah kau?”

   “Hu?”

   “Aih, pantas aku tidak menyadarinya. Kupikir kalian adalah dua orang yang berbeda.”

   Karina masih tetap mengunyah, tidak menggubris karena pertanyaanya pun juga diberi reaksi tak acuh. 

   “Apa dulu kau pernah dipanggil dengan nama Karin?” tanyanya lagi. 

   Karin? Nama itu sukses menarik perhatiannya. Secara spontan Karina mengangkat kepalanya, menatap lawan bicaranya dengan sorot mata agak ganjil. “Apa katamu?”

   “Ah, ternyata benar. Aku hanya salah paham.” Karinn tersenyum tipis, lega karena akhirnya menemukan gadis yang dimaksud Bu Kaila. 

   “Karinn, jawab aku! Bagaimana kau bisa tahu itu?” Reaksi Karina di luar dugaan, dia bangkit dari kursinya sambil menepuk meja dan berkata dengan nada yang terdengar tidak bersahabat. 

   “Oi, apa yang salah denganmu? Kenapa kau terlihat begitu marah?”

   “Jangan alihkan topik dan jawab aku!”

   Karinn menegak ludah, situasi yang tidak dimengertinya ini sukses membuatnya terintimidasi. “....Seseorang mengenalmu dengan sangat baik. Tapi dia mengira itu adalah aku karena kita punya nama yang mirip.”

   Karina menutup mulutnya, merasakan sesuatu yang aneh dari dalam perutnya. Dia mual, reaksi yang selalu muncul setiap kali ingatan abstrak dari masa lalunya kembali membayangi pikirannya. Lantas ia pun segera pergi meninggalkan Fe-Mart, berjalan dengan terburu-buru ke toilet asrama untuk mengeluarkan isi perutnya yang menyiksa.

...• • • • •...

   Angin dingin menyapu pinggiran kota, tenang dan sunyi saat menembus gelapnya malam. Bulan separuh menggantung rendah di cakrawala, cahaya peraknya memantulkan bayangan pohon-pohon yang bergoyang pelan. Sementara itu bintang-bintang yang berkelip secara samar perlahan mulai menghilang, meledak kemudian lenyap di luar angkasa. 

   Karinn mendongakkan kepalanya, membiarkan angin menyapu wajahnya sejenak. Hari ini ... terasa cukup berat. Banyak hal yang terjadi dan tampaknya semua itu berada di luar kendalinya. 

   Dari balik pintu kaca balkon, di ranjang paling atas tepatnya, seonggok sosok hitam tampak sedang duduk dalam gelap. 

...• • • • •...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!