Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 14 Mencoba Berubah
Bara tersentak bangun dengan napas yang tertahan di kerongkongan. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja dihantam kenyataan pahit dari mimpinya Pandangannya nanar saat menatap ke atas, kemudian ia meraba sisi ranjangnya, mencari kepastian bahwa sosok asing itu tidak benar-benar ada. Kosong. Renata sudah tidak ada di sana.
Perlahan keringat dingin datang membasahi pelipisnya. Bara segera bangkit, mengabaikan pusing yang terus-terusan berdenyut di kepalanya, lalu melangkah keluar kamar dengan terburu-buru. Ia menuruni anak tangga satu per satu, persis seperti dalam mimpinya, namun kali ini dengan perasaan waswas, takut mimpinya menjadi kenyataan.
Aroma nasi goreng dan telur mata sapi menyeruak saat ia sampai di ruang makan. Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Ia terpaku, matanya menyisir setiap sudut ruangan. Tidak ada laki-laki asing. Tidak ada gadis kecil atau anak laki-laki disana. Hanya ada Renata seoarang diri yang sedang sibuk menata piring di atas meja panjang.
Renata menoleh, menyadari kehadiran suaminya. "Eh, sudah bangun, Mas? Tadi aku nggak mau bangunin, soalnya kamu tidurnya pulas banget, sampai ngorok gitu."
Bara masih diam. Ia berjalan mendekat, lalu menarik kursi yang biasa ia tempati—kursi yang dalam mimpinya diduduki oleh pria lain. Ia duduk dengan kaku, jemarinya meremas pinggiran meja seolah ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi.
"Kamu... kenapa, Mas? Kok mukanya pucat gitu?" Renata mendekat, meletakkan punggung tangannya di dahi Bara. "Masih pusing ya karena kejadian semalam?"
Bara menggeleng pelan, lalu meraih tangan Renata dan menggenggamnya erat. "Enggak. Cuma mimpi buruk."
"Mimpi apa sampai segitunya?" tanya Renata sambil menuangkan teh hangat ke gelas Bara.
"Aku lupa deh," jawab Bara pendek, suaranya parau. Ia tidak berani menatap mata istrinya.
Suasana meja makan itu mendadak terasa sangat asing bagi Bara. Meskipun semuanya tampak normal, namun rasa takut akan kehilangan posisi, harta, dan "hak milik" atas Renata yang tergambar dalam mimpinya tadi terus menghantuinya. Ia mulai menyuap nasi gorengnya, saat nasi goreng itu datang di lidahnya. Tepat banget ponsel Bara yang ia letakkan di samping piring bergetar hebat.
Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat tanpa nama pengirim, namun Bara tahu persis siapa pemilik nomor itu. “Kamu tega ninggalin aku gitu aja di hotel? Aku tunggu penjelasan kamu sekarang, atau aku yang datang ke rumah kamu.”
Bara terdiam, sendok di tangannya menggantung di udara. Matanya terpaku pada baris kalimat di layar ponsel yang masih menyala itu. Pesan dari Maya benar-benar ketus, menuntut penjelasan kenapa dia ditinggal sendirian di hotel tadi malam. Ancaman Maya yang bilang mau menyusul ke rumah bikin jakun Bara naik-turun.
Ia melirik Renata. Istrinya itu sedang tenang mengupas jeruk, jemarinya lincah membuang serat-serat putih buah itu. Suasana meja makan yang tenang ini terasa sangat kontras dengan isi kepalanya yang mulai berisik.
"Kenapa, Mas? Kok nggak dimakan?" tanya Renata tanpa mendongak.
Bara buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah, menaruhnya di atas meja dengan gerakan setenang mungkin. "Enggak, ini... ada pesan dari kantor. Biasa, anak-anak gudang nanya stok yang belum sinkron di sistem."
Renata hanya mengangguk pelan, jemarinya masih sibuk dengan mengupas jeruk. Bara menatap istrinya itu sejenak, lalu berdehem untuk memecah kecanggungan yang akan terjadi.
"Ngerasa aneh nggak? Baru kali ini lo manggil gue Mas?" tanya Bara sambil mencoba menyembunyikan getar gugup di suaranya.
Renata menaikkan alisnya, menatap Bara dengan tenang. "Ya nggak sih. Gue juga mau mencoba berubah, jadi gue biasain buat manggil lo begitu." Ia berhenti sebentar, lalu balik bertanya, "Emang lo nggak mau juga berubah?"
Bara tertegun sebentar, lalu mengangguk kaku. "Iya, ini gue lagi usahain buat berubah."
Renata tersenyum tipis, jenis senyuman yang bikin Bara merasa makin bersalah. "Tapi semalam gue liat-liat nih lo udah berubah. Terus tiba-tiba meluk gue sambil bilang 'maafin aku ya sayang'."
Bara nyaris tersedak tehnya sendiri. Matanya membelalak kaget. "Kapan gue meluk lo? Semalam... what the fuck... tapi itu nggak wajar sih, tiba-tiba meluk gitu."
Renata tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat kontras dengan ketegangan yang Bara rasakan. "Mata lo nggak wajar! Lo kalau nggak wajar, ngapain semalem mau remas-remas itu gue?"
Bara hanya terkekeh, mencoba menutupi rasa malunya yang membuncah. Ia mengusap tengkuknya yang tidak gatal, sementara bayangan pergulatan emosinya semalam kembali muncul. Ternyata, sandiwara ketakutannya karena mimpi perjanjian nikah itu benar-benar membekas di ingatan Renata.
"Ya namanya juga lagi capek banget, Ren. Refleks kali," kilah Bara sambil terus terkekeh, meski dalam hati ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja.
Bara berdehem, lalu menatap Renata yang masih tersenyum tipis, ia menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk memulai sesuatu yang bisa merubah segalanya.
"Ren," panggil Bara pelan. "Gue rasa... mulai sekarang jangan manggil 'gue' atau 'lo' lagi deh. Nggak enak didengar aja kalau di rumah."
Renata menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan piring. Ia menatap Bara lekat-lekat, alisnya bertaut heran. "Tumben banget? Lagi kesambet apa lo?"
Bara mendengus pelan, mencoba tetap terlihat tenang meski jantungnya masih berpacu karena teror pesan dari Maya yang sengaja ia abaikan di saku celananya. "Enggak sih. Ya kan... gue mau berubah. Katanya tadi mau sama-sama belajar?"
Renata terdiam sejenak, menimbang-nimbang raut wajah suaminya yang tampak serius namun menyimpan kegelisahan. Perlahan, senyum tulus mengembang di bibirnya. "Ya sudah, kalau itu maunya kamu."
Mendengar kata 'kamu' keluar dari mulut Renata, Bara merasa ada sesuatu yang aneh berdesir di dadanya, rasa bersalah yang makin menyesakkan. Sementara itu, Renata benar-benar terheran-heran dengan suaminya hari ini, bahkan detik ini juga. Perubahan Bara yang tiba-tiba meluk, memanggil sayang, hingga mengatur gaya bicara terasa seperti mimpi di siang bolong.
Syukurlah kalau dia memang beneran mau berubah, batin Renata dalam hati, mencoba menekan segala prasangka buruk yang sempat menghantuinya semalam.
Bara kembali menyuap sarapannya, pura-pura fokus pada nasi di piringnya agar tidak perlu beradu pandang lebih lama dengan Renata. Di balik sikap manisnya yang mendadak ini, ia hanya sedang berusaha membangun benteng setinggi mungkin agar Renata tidak akan pernah curiga, apa pun yang akan dilakukan mereka setelah ini.
Bara baru tersadar kalau rumah terasa terlalu sepi dari biasanya. Padahal jam segini, suara Papah Baskoro atau mamanya biasanya sudah lebih dulu ruang makan, belum lagi Siska yang selalu sibuk sama ponselnya.
"Oh iya, kok Papa sama Mama nggak kelihatan? Siska juga ke mana?" tanya Bara sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Renata menepuk jidatnya pelan, teringat sesuatu. "Untung diingetin, aku sampai lupa kasih tahu kamu. Itu mereka dadakan banget sih berangkatnya. Jam empat subuh tadi udah jalan, bilangnya mau ke luar kota lagi ada urusan mendadak."
Renata bangkit dari posisinya, lalu menarik kursi tepat di samping suaminya dan duduk di sana. Ia menatap Bara dengan raut wajah yang lebih santai.
"Bagus dong," sahut Bara spontan, ada nada lega yang tidak bisa ia sembunyikan.
Renata mengernyitkan dahi, menatap suaminya heran. "Kok kamu jawabnya begitu?"
"Iya... biar aku nggak diomelin terus sama Papa," jawab Bara membela diri, meski dalam hati ia merasa aman karena tidak ada yang akan mengawasi gerak-geriknya selama beberapa hari ke depan.
Renata mendengus geli sambil menopang dagu dengan tangannya. "Ehmm, bagus ya... Kan sekarang ada aku yang bakal ngomelin kamu."
Bara hanya melirik sekilas dengan tatapan mengejek yang khas. "Dih, aku bodo amat sih. Emang kamu siapanya aku?"
Jawaban Bara yang terdengar sok cuek itu membuat Renata langsung mengubah taktiknya. Ia memasang wajah serius dan memalingkan muka ke arah dapur.
"Oh... gitu?" Renata berteriak sedikit kencang ke arah belakang. "Bi Sumi! Bi... kalau sudah beres nyucinya, tolong ke kamar saya ya. Beresin semua barang-barang suami saya, masukin ke koper!"
Bara langsung tersentak, hampir tersedak sisa teh di mulutnya. Matanya membelalak panik melihat keberanian istrinya yang mendadak itu.
"Eh, eh! Jangan dong! Ren, apaan sih!" seru Bara sambil memegang lengan Renata, berusaha menghentikan sandiwara istrinya yang bisa berakhir bencana bagi kenyamanannya di rumah ini.
Renata menoleh, menatap suaminya dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Kok kamu panik banget sih? Tumben banget. Ada apa sih? Ada yang disembunyiin ya?"
Jantung Bara berdegup kencang. Ia segera mengatur raut wajahnya agar terlihat sesantai mungkin, meski keringat dingin mulai terasa di tengkuknya. "Enggak kok. Emang kenapa kalau aku begini? Kamu nggak suka?" Bara perlahan melepaskan pegangan tangannya di lengan Renata, mencoba bersikap acuh.
Renata menyandarkan punggung ke kursi, masih tidak melepas pandangannya dari wajah suaminya. "Bukan begitu, lho. Biasanya kalau orang tiba-tiba aneh kayak kamu gitu, pasti ada yang disembunyiin. Kayak lagi nutupin kesalahan aja."
Bara mendengus pelan, berusaha tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Ah... percaya sama begituan nggak bagus. Kebanyakan nonton aplikasi bodoh gitu sih."
Renata akhirnya menghela napas panjang, tampak menyerah untuk mendebat lebih jauh. "Yaudah, terserah... Sana mandi! Kamu belum mandi kan?"
Bara langsung berdiri, merasa lega karena interogasi kecil ini berakhir. "Yaudah, aku mandi dulu," ucapnya sambil melangkah santai menuju kamar mandi bawah.
Baru beberapa langkah, sahut Renata terdengar dari balik punggungnya. "Mandi dulu mah? Bukannya kamu tadi subuh sudah mandi, Mas?"
Langkah Bara mendadak kaku. Ia teringat kejadian beberapa jam lalu saat ia mengunci diri di kamar mandi atas untuk menghilangkan aroma Maya dari tubuhnya. Ia menoleh sedikit, memberikan cengiran kaku yang dipaksakan.
"Hahaha... lucu..." balas Bara singkat sambil mempercepat langkahnya masuk ke kamar mandi, tidak ingin memberi celah Renata untuk terus berbicara.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara kucuran air mulai terdengar, Renata masih terpaku di kursinya. Ia menyandarkan punggung, menatap ke arah pintu kamar mandi dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya. Ada rasa hangat yang asing menjalar di hatinya melihat perubahan sikap suaminya, namun di sisi lain, ia tidak bisa menampik rasa heran yang terus mengusik logikanya. Sebenarnya ada apa dengan suamiku sendiri? batinnya bertanya-tanya.
Pandangan Renata kemudian beralih ke atas meja makan. Matanya otomatis menangkap sebuah ponsel yang tergeletak begitu aja di dekat piring kosong bekas sarapan Bara. Ponsel itu bukan miliknya, melainkan punya suaminya.
Dengan kesempatan yang ada dan jantung yang berdebu kencang, saat Renata meraih ponsel itu. Ia merasa sedikit bersalah, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia menekan tombol daya, membuat layar itu menyala terang di hadapannya. Nihil. Sama sekali tidak ada notifikasi dari siapapun entah itu dari klien, rekan kerja, atau pesan rahasia yang mungkin selama ini Bara sembunyikan dengan diam-diam. Layarnya bersih seolah Bara sudah lebih dulu menghapusnya.
Renata menghela napas pendek, merasa sedikit lega sekaligus masih menyimpan ganjalan. Mungkin benar, pikirnya, suaminya memang hanya sedang lelah dan ingin berubah menjadi lebih baik untuk pernikahan mereka.
Namun, tepat di saat ia hendak meletakkan kembali ponsel itu ke tempat asalnya agar tidak menimbulkan kecurigaan, tiba-tiba sebuah panggilan suara masuk. Getaran ponsel itu terasa sangat nyata di telapak tangan Renata, sementara sebuah nomor tanpa nama muncul di layar, seolah sedang menantang kejujuran yang baru saja ia percayai. Panik menyergapnya; dengan gerakan serabutan, ia buru-buru menaruh kembali ponsel itu ke posisi semula, tepat saat suara pintu kamar mandi terbuka.
Bara keluar dengan handuk kecil yang tersampir di leher dan rambut yang masih meneteskan air. Alih-alih ia tidak langsung naik ke lantai atas untuk berganti pakaian, malah melangkah mendekat ke arah meja makan. Renata yang tertangkap basah sedang mematung, langsung berpura-pura sibuk. Renata mendadak bangkit berdiri sambil menyambar piring kotor bekas sarapan Bara, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Eh, sudah selesai mandinya?" tanya Renata ketus, matanya melirik-lirik ke arah ponsel yang masih tergeletak di sana.
Bara tidak menjawab. Tangannya terulur mengambil ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan panggilan yang masih berlangsung, namun Bara hanya menatapnya dengan wajah datar. Tanpa ekspresi, ia membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya tanpa niat untuk mengangkatnya.
"Ren," panggil Bara tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit berat. "Ikut aku ke kamar sebentar."
Renata tersentak. Langkahnya yang hendak menuju dapur terhenti seketika. Ia menoleh dengan mata membelalak, wajahnya mendadak panas. "Ngapain, Mas? Masih pagi loh... kamu jangan aneh-aneh deh."
Bara menghentikan langkahnya, menatap istrinya dengan dahi berkerut heran melihat reaksi berlebihan itu. "Aku cuma minta tolong keringin rambut aku. Pakai hairdryer kamu, tanganku lagi males gerak nih."
Seketika, rasa malu menjalar hingga ke ujung telinga Renata. Ia merutuki pikirannya yang baru saja melantur entah kemana. "Oh... aku kira mau... itu," gumamnya sangat pelan, nyaris tak terdengar.
"Dih, masih pagi udah ngelantur aja, emang kamu maunya apa?" sahut Bara dengan nada mengejek, meski ada secuil senyum tipis yang tertahan di sudut bibirnya melihat tingkah salah tingkah istrinya.
Renata berdehem keras, mencoba mengembalikan wajahnya yang baru saja jatuh di depan meja makan. "Enggak, Mas! Maksud aku... ya udah ayo, mumpung aku lagi baik," ajaknya sambil berjalan mendahului Bara menuju tangga, mencoba menutupi debaran jantungnya yang masih belum mau tenang.
Di dalam kamar, Renata berdiri di belakang suaminya, jemarinya bergerak luwes mengarahkan corong hairdryer yang menderu halus. Pada sela-sela embusan angin hangat itu, sesekali ia mengelus lembut rambut Bara, merapikan helai demi helai yang mulai mengering dengan penuh perasaan. Dari pantulan cermin besar di hadapan mereka, mata keduanya bertemu, sebuah tatapan yang kini tak lagi dihalangi tembok dingin seperti biasanya.
Bara sesekali melontarkan candaan kecil tentang tangan Renata yang masih terasa kaku, memicu tawa renyah yang pecah dan mengisi sudut-sudut kamar yang selama ini sunyi. Di depan cermin itu, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang baru saja menemukan kembali kebahagiaan yang sama, tertawa lepas seolah beban dari masing-masing mereka perlahan menghilang bersama sisa air di rambut Bara.
Namun, di sela-sela keromantisan itu, tiba sebuah panggilan suara kembali berbunyi. Tapi kali ini panggilan itu berasal dari sepupunya yang jarang sekali menghubungi di jam pada dini hari. Pasti ada Sesuatu yang mendesak, entah apa yang akan terjadi saat panggilan suara itu ia terima.