Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XV—Kepercayaan
Suasana di dalam kafe malam itu perlahan berubah.
Jika sebelumnya hanya diisi oleh obrolan ringan yang masih menyisakan sisa-sisa ketegangan setelah keluar dari dungeon, kini suasana itu mulai mencair. Tawa mulai terdengar lebih lepas, suara percakapan saling bertabrakan tanpa arahnya ke mana, dan meja yang tadinya tertata rapi kini berubah berantakan oleh bungkus makanan yang terbuka di mana-mana.
Beberapa dari mereka bahkan sudah tidak lagi duduk dengan tenang. Ada yang setengah berdiri sambil meraih makanan di tengah meja, ada yang menahan tangan temannya sendiri agar tidak mengambil bagian yang sedang ia incar, dan ada pula yang hanya tertawa melihat kekacauan kecil itu tanpa benar-benar ikut terlibat.
Suara protes, candaan, dan tawa bercampur menjadi satu.
Rendra yang berada di tengah-tengah itu hanya bisa menggeleng pelan. Ia sebenarnya ingin menenangkan mereka, namun pada akhirnya ia membiarkan saja. Tidak ada yang benar-benar salah dari apa yang telah mereka lakukan saat ini, hanya untuk mencairkan suasana moment ini sangat dibutuhkan. Setelah apa yang mereka lewati di dungeon, mungkin ini satu-satunya cara mereka melepaskan ketegangan yang masih tersisa.
Dan untuk beberapa saat, semuanya benar-benar terasa tampak normal. Seolah dunia di luar sana tidak sedang berubah. Seolah dungeon, outbreak, sistem dan monster tidak pernah muncul di muka bumi dan seolah kematian bukan sesuatu yang baru saja mereka hadapi. Namun, tidak semua orang tenggelam dalam suasana itu.
Dari sisi pojok meja yang sedikit terpisah dari keramaian, Jayendra duduk dengan posisi yang sama sejak tadi. Punggungnya bersandar santai, satu tangannya memegang cangkir kopi yang masih mengeluarkan uap tipis, sementara tangan lainnya memainkan korek kecil yang sebelumnya ia pakai untuk menyalakan rokoknya.
Tatapan dari Jayendra tidak benar-benar tertuju pada siapa pun. Sesekali ia melirik ke arah mereka yang tertawa, memperhatikan bagaimana mereka berebut makanan seolah itu adalah hal paling penting saat ini, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke cangkir kopi di tangannya.
Ia mengangkat cangkir itu perlahan dan menyeruput isinya. Rasa pahit langsung menyerang lidahnya, hangatnya turun pelan sampai tenggorokan. Tidak ada gula, tidak ada campuran, hanya kopi hitam yang sederhana. Tapi justru itulah seleranya. Pahit yang jujur. Tanpa tambahan apa pun.
Di tengah suara tawa yang terus berulang, Jay mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Gerakannya tenang, tidak tergesa, seolah semua yang terjadi di sekitarnya tidak memiliki urgensi apa pun baginya.
Bunyi kecil dari korek api terdengar saat ia menyalakannya. Nyala api itu memantul sesaat di matanya sebelum akhirnya ia dekatkan ke ujung rokoknya. Asap pertama keluar perlahan dari mulutnya, tipis, naik ke udara dan menghilang tanpa bekas.
Ini rokok ketiganya.
Dan seperti dua sebelumnya, ia menghisapnya tanpa banyak pikiran. Di dalam kepalanya, suasana di sekitarnya terasa jauh. Suara tawa, candaan, bahkan percakapan yang cukup keras… semuanya hanya seperti latar belakang yang samar baginya. Tidak mengganggu, tapi juga tidak benar-benar menarik perhatiannya.
Baginya, semua itu hanya sementara. Manusia memang seperti itu. Mereka bisa tertawa… bahkan setelah hampir mati Atau mungkin justru karena itu. Jay tidak tahu pasti, dan ia juga tidak terlalu peduli. Meskipun begitu, di antara semuanya ada satu tatapan yang tidak ikut tenggelam dalam keramaian.
Divya Anindita.
Sejak beberapa saat yang lalu, ia memperhatikan Jay dari tempatnya duduk. Awalnya hanya sekilas, namun lama-kelamaan perhatiannya tidak benar-benar berpindah ke yang lain. Di tengah semua orang yang tertawa dan saling bercanda, Jay terlihat terlalu diam di tempatnya.
Bukan diam karena canggung. Tapi memang memilih untuk tetap diam dan menikmati suasana.
Divya menarik napas pelan sebelum akhirnya berdiri. Langkahnya tidak terburu-buru saat ia berjalan mendekat. Ia sempat berhenti sebentar di sisi meja, seolah memastikan dirinya benar-benar ingin melakukan ini, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya hingga berhenti di samping Jay.
“Kak…” panggilnya lirih.
Suara itu pelan, namun cukup untuk membuat Jay menyadari kehadirannya.
Jayendra tidak langsung menoleh. Hanya menghembuskan asap rokoknya lebih dulu sebelum akhirnya menjawab singkat.
“Iya?”
Divya melirik ke arah keramaian sejenak, lalu kembali menatap Jay. “Kakak kenapa diam saja?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup jelas maksudnya. Jay tidak langsung menjawab. Ia kembali menyeruput kopinya, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya menggeleng pelan. “Aku hanya ingin menikmati suasana. Beginilah caraku meikmati suasana, berdiam diri dan mengamati.”
Divya tidak langsung membalas. Ia hanya menarik kursi di samping Jay dan duduk dengan perlahan. Suasana di antara mereka sempat hening, meskipun suara tawa dari arah lain tetap terdengar keras.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Divya kembali berbicara. “…kak kau beneran mau pergi?.” Tanyanya keluar dengan nada yang lebih pelan dari sebelumnya.
Jay tetap tenang. Ia memutar sedikit cangkir di tangannya sebelum menjawab. “Iya.”
Divya menunduk sedikit. Jarinya saling bertaut di atas meja.
“Kemana?”
“Aku tak bisa memberitahumu, karena aku juga tak tahu akan ke mana.”
Kali ini, Divya mengernyit kecil. “Belum tahu… tapi bilang mau pergi?”
Jay mengangguk pelan. “Aku cuma tahu satu hal,” ucapnya datar. “Aku akan pergi sementara waktu.”
Divya menatapnya. Ada sesuatu di wajahnya, antara tidak setuju dan tidak mengerti. “Sendirian?”
“Tentu, sendirian.”Ungkapnya pendek
Divya mengangkat kedua alisnya dan kembali bertanya “Kenapa harus sendiri?”
Pertanyaan itu membuat Jay akhirnya menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Divya, tenang seperti biasa, tanpa gelombang emosi yang jelas. “Karena aku sudah tak memiliki kepercayaan pada siapapun.”
Divya menghela napas pelan. Pandangannya sempat turun ke meja sebelum kembali naik. “Gak semua harus sendiri, Kak…” lirihnya “dan selain itu kau harus memiliki sedikit kepercayaan pada sesama manusia.”
Jay tersenyum tipis. Bukan karena setuju. Tapi karena ia sudah sering mendengar hal seperti itu saat masih kecil. Kalimat yang sering ia dengarkan dari seorang perempuan yang telah melahirkannya.
“Bagiku sekarang sendiri lebih baik,” ujarnya pelan, “soal kepercayaan itu sudah musnah dalam kamusku.”
Divya terdiam. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Di belakang mereka, suara tawa masih terus terdengar. Kontras yang terlalu jelas untuk diabaikan.
Divya kembali bicara, kali ini lebih pelan.
“…okei… tapi berapa lama?”
Jay tidak langsung menjawab. Ia menghisap rokoknya sekali lagi yang hampir habis, lalu mematikannya di asbak. Gerakannya tetap tenang, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.
“Aku juga tak tahu tentang hal itu.” Jawabnya jujur. “Bisa lama. Bisa juga… gak balik.”
Divya langsung menatapnya dengan serius.
“Jika memang ada kemungkinan untuk tak kembali maka jangan lah pergi.”
Jay hanya mengangkat bahu kecil. “Aku akan tetap pergi.”
Kali ini, Divya benar-benar terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk bertanya lagi.
“…kak sebenarnya apa yang telah kau lalui selama ini?”
Jay sedikit mengernyit “kenapa kau bertanya seperti itu?”
Divya menatapnya, lebih serius dari sebelumnya. “Dari awal… kakak kayak gak peduli sama diri sendiri.” Lirihnya “Masuk dungeon sendirian, menyelamatkan kelompok kami, melawan monster tanpa rasa takut sedikitpun… sekarang juga mau pergi sendiri…”
Ia berhenti sejenak “…kakak sudah gak takut yang namanya kematian?”
Pertanyaan itu membuat Jay diam. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Ia menatap cangkir kopinya, memperhatikan permukaan hitam yang tenang tanpa riak. Lalu, perlahan, ia tersenyum tipis. “Takut?” ia menggeleng pelan “…aku dulu malah menunggu momen itu datang.”
Divya tidak bergerak.
Jay melanjutkan dengan nada yang sama. “Tapi sekarang…” ia berhenti sejenak, seolah memilih kata “…aku jadi penasaran.”
Divya mengernyit. “Penasaran apa?”
Jay berdiri perlahan dari kursinya. “Seberapa jauh kegilaan dunia ini sebelum kematianku datang menghampiri.”
Ia mengambil jaketnya tanpa tergesa. “Aku pulang terlebih dulu, kau tak perlu khawatir, dari awal memang kita tak saling mengenal.”
Divya ikut berdiri, sedikit terburu. “Kak…”
Jay menoleh sedikit. Tatapannya tenanglalu berkata dengan senyuman tipis “…jaga diri kalian. Mungkin aku masih memiliki secercah harapan pada kalian semua.”
Setelah itu, ia melangkah pergi. Meninggalkan suara tawa yang masih berlangsung. Meninggalkan kehangatan yang mungkin tidak akan bertahan lama.
Jayendra pergi tanpa menoleh kembali…ia tetap melangkah pergi hingga punggungnya sudah tak terlihat lagi.