NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Jarum jam di dinding kamar mess menunjukkan pukul lima sore saat cahaya oranye kemerahan mulai menyusup tajam dari balik jendela.

Prita mengerjap-ngerjap, kesadarannya perlahan pulih.

Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma maskulin yang sangat familiar dari bantal dan selimut yang membungkus tubuhnya.

Ia terlonjak duduk saat menyadari dirinya tertidur di ranjang Abraham.

Di sudut ruangan, Abraham yang sedang merapikan beberapa berkas kerja langsung menoleh.

"Sudah bangun, Tuan Putri? Perutnya masih perih?" tanya Abraham dengan nada jenaka namun perhatian.

"Sudah mendingan, Mas. Duh, maaf ya aku malah kebablasan tidur di sini," jawab Prita dengan wajah merona merah.

"Nggak apa-apa. Ayo, kita pulang sekarang. Takutnya jalanan mulai ramai orang pulang kerja," ajak Abraham sambil menyambar kunci mobil double cabin yang tadi ia bersihkan.

Kini, mereka sudah berada di dalam kabin mobil yang tinggi dan kokoh.

Deru mesin diesel yang halus menjadi latar belakang perjalanan mereka menuju arah kota.

Suasana di dalam mobil terasa jauh lebih intim daripada saat mereka berboncengan motor tadi pagi.

Prita duduk menyandar, sesekali ia melirik ke arah samping.

Ia memperhatikan profil wajah Abraham dari samping.

Cahaya senja yang masuk dari kaca depan menonjolkan garis rahang Abraham yang tegas.

Hidung mancungnya yang proporsional serta brewok tipis yang tertata rapi di sekitar dagunya memberikan kesan maskulin yang sangat kuat—tipe ketampanan yang matang dan berwibawa.

Setiap kali Abraham memutar kemudi dengan satu tangan atau memindahkan gigi persneling,

Prita merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya.

Jantungnya berdetak kencang, jauh lebih liar daripada saat mereka di pantai tadi.

"Dia benar-benar bukan tipeku. Harusnya aku suka pria yang rapi, yang wangi parfum mahal, bukan yang tangannya kapalan dan beraroma matahari begini," batin Prita memberontak.

Namun, matanya seolah sulit untuk berpaling. Abraham yang sedang fokus menembus kemacetan sore itu tampak begitu memesona di mata Prita.

Tanpa sadar, Prita menggenggam erat sabuk pengamannya, mencoba meredam debaran jantungnya yang kian tak karuan.

"Prit? Kok diam saja? Masih sakit perutnya?" tanya Abraham tiba-tiba tanpa menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis seolah ia tahu sedang diperhatikan.

Prita tersentak, langsung membuang muka ke arah jendela samping.

"Eh... enggak kok, Mas. Cuma lagi lihat pemandangan saja."

Mobil double cabin putih itu akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah.

Suara mesin dieselnya yang berat memecah kesunyian sore di perumahan yang mulai diselimuti hawa dingin Malang.

Prita turun dengan gerakan pelan, masih sedikit memegangi perutnya yang kini sudah jauh lebih nyaman.

Pramesti sudah menunggu di teras, wajahnya tampak lega sekaligus penuh selidik melihat adiknya turun dari mobil kantor, bukan dari motor besar Abraham seperti keberangkatan tadi pagi.

"Lho, kok ganti mobil, Ham?" tanya Pramesti sambil menghampiri mereka.

Abraham turun dan menutup pintu mobil dengan mantap.

"Tadi maag Prita kumat di pantai, Pram. Aku nggak tega kalau dia harus kena angin motor lagi sepanjang jalan pulang. Makanya aku ambil mobil kantor sebentar."

Pramesti langsung menoleh ke arah adiknya dengan tatapan khawatir.

"Duh, dasar kamu itu! Makanya jangan telat makan kalau mau jalan jauh."

Abraham tersenyum tipis, lalu menatap Prita yang berdiri di samping kakaknya.

Sorot matanya tampak lebih lembut dari biasanya.

"Pram, aku pamit dulu ya. Mobil harus segera aku kembalikan ke mess. Prit, kamu langsung istirahat. Jangan lupa minum obatnya lagi nanti sebelum tidur."

Prita hanya mengangguk pelan, lidahnya terasa kelu untuk sekadar mengucap terima kasih yang lebih panjang.

Ia hanya menatap punggung tegap Abraham yang kembali masuk ke mobil dan perlahan menghilang di tikungan blok perumahan.

Tak berselang lama setelah kepergian Abraham, sebuah mobil sedan hitam memasuki halaman rumah.

Kepulangan orang tua mereka yang lebih cepat dari jadwal membuat suasana rumah yang tadinya tenang mendadak sibuk.

Papa dan Mama turun dengan wajah cerah, membawa beberapa tas belanja berisi oleh-oleh dari perjalanan dinas mereka.

"Prita, Pram, sini! Mama bawakan kain cantik dan makanan buat kalian," seru Mama sambil menaruh tas-tas itu di meja ruang tamu.

Namun, suasana hangat itu tiba-tiba berubah saat Papa meletakkan tas kerjanya dan duduk di sofa tunggal dengan raut wajah yang mendadak serius.

Ia melonggarkan dasinya, lalu menatap Prita yang baru saja hendak beranjak ke kamar.

"Prita, duduk di sini sebentar. Ada yang mau Papa bicarakan," ujar Papa dengan nada suara yang berwibawa namun menuntut.

Prita mengurungkan niatnya. Ia duduk di hadapan Papanya dengan perasaan yang tiba-tiba tidak enak.

"Ada apa, Pa?"

Papa berdehem sejenak, melirik Mama yang kini duduk di sampingnya, memberikan dukungan tanpa kata.

"Berhubung kamu masih menunggu panggilan kerja di Jakarta dan belum ada kepastian sampai sekarang, Papa dan Mama sudah berdiskusi," Papa menjeda kalimatnya, menatap lurus ke mata Prita.

"Papa ingin kamu bertunangan dengan Imran, putra Om David. Kalian sudah saling kenal sejak kecil, dan Imran sekarang sudah punya posisi bagus di perusahaan ayahnya."

Dunia Prita seolah berhenti berputar. Rasa perih yang tadi sempat hilang di perutnya kini berpindah ke dadanya, terasa lebih sesak dan menyakitkan.

Bayangan wajah Abraham dengan brewok tipis dan tatapan tulusnya di pantai tadi mendadak melintas, berbenturan keras dengan kenyataan yang baru saja dijatuhkan oleh sang Papa.

Suasana ruang tamu yang tadinya hangat seketika berubah mencekam.

Pernyataan Papa barusan terasa seperti petir di siang bolong bagi Prita.

Ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan, mencoba menahan getaran hebat yang merambat dari ujung jari hingga ke dadanya.

Prita menoleh ke arah Pramesti, matanya menyiratkan permohonan tolong yang luar biasa. Namun, kakaknya itu hanya bisa menunduk dalam, tak berani membantah wibawa Papa yang begitu dominan di rumah ini.

"Papa sudah mengatur semuanya. Imran pria yang mapan, Prita. Dia bisa menjamin masa depanmu di Jakarta nanti," lanjut Papa dengan nada datar, seolah sedang membicarakan kontrak bisnis, bukan masa depan putrinya.

"Tapi aku tidak mencintainya, Pa! Papa tidak bisa memutuskan hidupku begitu saja!" suara Prita meninggi, kristal bening mulai menggenang di sudut matanya.

Papa berdiri, wajahnya mengeras. "Cinta bisa tumbuh belakangan. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Sekarang, kamu punya dua pilihan: tetap tinggal di rumah ini dan bertunangan dengan Imran, atau kamu silakan keluar dari rumah ini dan cari jalan hidupmu sendiri!"

Mama tersentak, mencoba memegang lengan Papa.

"Pa, jangan keras-keras..."

"Tidak, Ma! Dia harus belajar tanggung jawab," potong Papa tegas.

Prita merasa dadanya sesak luar biasa. Rasa perih di lambungnya tadi seolah tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit hati karena dianggap sebagai pion dalam rencana orang tuanya.

Ia berdiri dengan kaki yang gemetar, menatap lurus ke arah pria yang selama ini ia hormati namun selalu gagal memahaminya.

"Papa selalu memaksakan kehendak," ucap Prita, suaranya parau namun penuh penekanan.

"Papa tidak pernah bertanya apakah putri Papa bahagia atau tidak. Bagi Papa, kebanggaan dan relasi bisnis jauh lebih penting daripada perasaan Prita!"

Keheningan yang dingin menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.

"Baiklah," Prita menyeka air matanya dengan kasar, kepalanya terangkat tinggi meski hatinya hancur.

"Kalau itu pilihan yang Papa berikan, Prita akan keluar dari rumah ini. Malam ini juga."

Pramesti tersentak berdiri. "Prita! Jangan nekat! Kamu mau ke mana malam-malam begini?"

Prita tidak menjawab. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya, mengabaikan panggilan Mama yang mulai terisak.

Di dalam kamar, sambil memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tas dengan tangan gemetar, pikiran Prita hanya tertuju pada satu orang. Seseorang yang tadi sore menjaganya dengan begitu tulus meski baru mengenalnya sebentar.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!