NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07

Nadia berdiri di bawah pancuran kamar mandi kosnya yang sempit. Air dingin mengalir membasahi kepala hingga ke ujung kaki, membawa serta sisa-sisa lengket yang masih menempel di rambut dan kulitnya. Ia menggosok rambutnya berulang kali, seolah ingin menghapus bukan hanya rasa lengket itu, tetapi juga semua kejadian pahit yang menimpanya dalam beberapa hari terakhir. Setiap tetes air yang jatuh ke lantai kamar mandi terdengar seperti hitungan waktu yang terus berjalan, mengingatkannya bahwa hidupnya tidak berhenti hanya karena ia ingin berhenti sejenak.

Ia memejamkan mata, mengingat wajah ayahnya, ingatan tentang pemakaman yang masih terlalu segar, dan kontrak pernikahan yang terpaksa ia tanda tangani dengan tangan gemetar. Semua itu bercampur menjadi satu rasa sesak yang sulit diuraikan. Air mata bercampur dengan air mandi, mengalir tanpa suara. Nadia membiarkannya. Ia terlalu lelah untuk menahan apa pun lagi.

Setelah merasa cukup bersih, Nadia mematikan pancuran. Ia meraih handuk tipis yang tergantung di dinding, membungkus tubuhnya dengan gerakan otomatis. Rambut panjangnya ia peras seadanya, lalu ia lilitkan sebagian dengan ujung handuk. Kamar mandi kecil itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara lain selain napasnya sendiri.

Nadia melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamar kosnya. Begitu pintu kamar mandi terbuka, ia langsung menyadari ada yang berbeda. Ruangan itu gelap. Lampu yang biasanya menyala temaram kini mati total.

“Lampunya kenapa mati?” gumamnya pelan.

Ia berdiri sejenak, mencoba memahami situasi. Mungkin listriknya padam. Di kos-kosan seperti ini, pemadaman listrik bukanlah hal yang aneh, tapi kenapa lampu kamar mandi menyala? Nadia menghela napas dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia sudah terlalu lelah untuk panik.

Dengan langkah hati-hati, Nadia berjalan menuju lemari pakaiannya. Meski gelap, ia sudah sangat hafal tata letak kamar kecil itu. Setiap langkah ia hitung, setiap sudut ia kenali. Tangannya meraba sisi lemari, menemukan gagangnya, lalu membukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik.

Ia membungkuk sedikit, meraih pakaian yang biasa ia gunakan untuk tidur kaus panjang dan celana kain sederhana. Tangannya bergerak cepat, terlatih, seolah kegelapan tak lagi menjadi penghalang.

Namun Nadia tidak menyadari bahwa ia tidak sendirian.

Di sudut ruangan yang paling gelap, sepasang mata tajam memperhatikannya tanpa berkedip. Arya berdiri di sana, bersandar pada dinding dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya. Bayangan tubuhnya menyatu dengan kegelapan, membuat keberadaannya nyaris tak terdeteksi.

Sejak tadi Arya memperhatikan setiap gerakan Nadia. Cara perempuan itu berjalan tanpa ragu di tengah gelap, cara ia membungkuk, cara handuk tipis itu melilit tubuhnya. Ada ketegangan yang menjalar di tubuh Arya, sesuatu yang ia tahan dengan rahang mengeras dan napas yang dijaga agar tetap tenang.

Ia seharusnya tidak berada di sana. Ia tahu itu. Tapi kakinya seolah membawanya sendiri ke kamar kos ini, ke ruang sempit yang kini menjadi bagian dari hidup Nadia dan secara teknis, juga bagian dari hidupnya.

Ketika Nadia mulai mengangkat kaus yang akan ia kenakan, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.

“Kamu tahu, kamu sedang menggodaku sekarang.”

Nadia tersentak. Tangannya membeku di udara, napasnya terhenti sesaat. Jantungnya berdegup keras seolah hendak meloncat keluar dari dadanya. Refleks, ia segera mengeratkan handuk yang melilit tubuhnya, memastikan tidak ada bagian yang terbuka.

“Siapa—” suaranya tercekat sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.

“Arya…” ucapnya pelan, nyaris berbisik.

Arya melangkah keluar dari bayangan. Meski lampu masih mati, keberadaannya kini terasa begitu dekat, begitu nyata. Nadia bisa merasakan aura laki-laki itu, berat dan menekan, membuat ruang sempit itu terasa semakin menyempit.

“Apa kau selalu seperti ini?” tanya Arya, suaranya rendah namun jelas. “Sembarangan berpakaian tanpa memperhatikan sekitar. Bagaimana kalau ada orang lain yang tiba-tiba masuk?”

Nadia terpaku. Kakinya terasa lemas, seolah kekuatannya terkuras hanya dengan mendengar suara itu. Ia mundur satu langkah tanpa sadar, punggungnya hampir menyentuh lemari. Udara di paru-parunya terasa berat.

Ia baru saja membuka mulut untuk menjawab ketika ia merasakan kehadiran Arya semakin dekat. Terlalu dekat.

Sebuah tangan tiba-tiba menahan pinggangnya.

Tubuh Nadia menegang seketika. Jantungnya bergetar hebat, detaknya terasa di telinga. Ia tahu, ia sangat tahu isi pikiran laki-laki itu. Meski status mereka kini adalah suami istri, meski semua itu tertulis di atas kertas dengan tanda tangan yang sah, Nadia tidak pernah sekalipun memberikan persetujuan dalam hatinya.

Ia tidak mau memberikan apa pun kepada laki-laki arogan ini. Tidak sekarang. Tidak pernah, jika ia bisa memilih.

“Lepaskan aku,” ucap Nadia, suaranya bergetar namun tegas.

Arya tidak segera menjawab. Tangannya masih di sana, menahan pinggang Nadia seolah ingin memastikan perempuan itu tidak pergi ke mana pun. “Kau sudah menjadi istriku,” katanya pelan. “Apa yang kau takutkan?”

Nadia menggeleng, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Itu tidak memberimu hak,” balasnya cepat. “Aku tidak mau.”

Ia memberontak, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman itu. Namun kekuatannya tidak sebanding. Arya terlalu kuat, dan ruang sempit itu membuat geraknya terbatas. Nadia merasakan napas Arya semakin dekat, dan rasa panik menguasai pikirannya.

“Tenang saja,” suara Arya terdengar seperti ejekan. “Kau terlalu tegang.”

Nadia menutup mata sejenak, berusaha memaksa otaknya bekerja. Ia harus keluar dari situasi ini. Ia tidak boleh menyerah. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, Nadia mengangkat kakinya dan menendang sekuat tenaga ke arah pangkal paha Arya.

Serangan itu begitu tiba-tiba.

Arya mengumpat pelan dan refleks melepaskan cengkeramannya. Ia mundur satu langkah, menatap Nadia dengan sorot mata tajam, campuran antara terkejut dan marah.

Nadia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menjauh, langkahnya tergesa dan hampir tersandung. Tangannya meraih selimut tipis di atas ranjang kecilnya, lalu membungkus tubuhnya rapat-rapat, seolah kain itu bisa menjadi perisai dari tatapan Arya.

Arya mendengus keras. Amarahnya jelas terlihat. “Berani sekali kamu,” katanya dingin.

Nadia menatap balik, matanya basah namun penuh penolakan. “Aku sudah bilang. Aku tidak sudi disentuh olehmu.”

Kata-kata itu menusuk harga diri Arya. Ia tertawa pendek, tanpa humor. “Seharusnya kamu bersyukur,” balasnya. “Aku hanya mengajukan satu syarat menikah denganku untuk melunasi hutang ayahmu yang begitu banyak.”

Nadia terdiam. Kata-kata itu menghantamnya tepat di dada. Arya melanjutkan, tanpa belas kasihan.

“Kalau kamu menjual diri pun, kamu butuh waktu bertahun-tahun untuk melunasi hutang itu,” katanya datar. “Berapa pria yang harus kamu layani untuk mencapai jumlah sebesar itu, Nadia?”

Tubuh Nadia gemetar. Ia ingin membantah, ingin berteriak, namun lidahnya terasa kelu. Ada bagian dari dirinya yang tahu bahwa ucapan Arya, sekejam apa pun, mengandung kebenaran yang pahit. Itulah yang membuatnya semakin sakit.

Arya menghela napas panjang. Amarah di wajahnya perlahan mereda, digantikan ekspresi lelah. Ia melangkah menuju saklar di dinding dan menyalakan lampu kamar.

Cahaya kuning redup memenuhi ruangan, memperlihatkan kamar kos yang sederhana ranjang kecil, lemari tua, meja belajar yang catnya mulai mengelupas. Juga memperlihatkan Nadia yang berdiri memeluk selimut, wajahnya pucat dan mata sembab.

“Mau bagaimanapun,” ujar Arya dengan nada lebih rendah, “kita sudah suami istri. Rumahku adalah rumahmu. Dan tempat ini juga bagian dari hidupku sekarang.”

Ia melangkah mendekati Nadia. Kali ini, aura menyeramkan itu berubah, digantikan ketenangan yang membuat Nadia semakin bingung. Arya berhenti tepat di depannya, lalu dengan gerakan hati-hati, membenarkan letak selimut yang melorot sedikit dari bahu Nadia.

“Cepat pakai bajumu,” katanya pelan. “Sebelum aku berubah pikiran.”

Nadia menelan ludah. Tanpa berkata apa pun, ia mengangguk kecil dan berjalan cepat menuju lemari. Ia mengambil pakaian yang tadi sudah ia pegang, lalu masuk kembali ke kamar mandi untuk berganti baju. Tangannya gemetar saat mengenakan pakaian itu, namun ia berusaha setenang mungkin.

Beberapa menit kemudian, Nadia keluar. Kini ia sudah berpakaian lengkap, rambutnya masih sedikit basah namun sudah terurai rapi. Arya masih berada di kamar itu, duduk di tepi ranjang kecilnya, sikapnya tampak jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

“Ke sini,” ujar Arya singkat.

Nadia ragu sejenak, tapi tubuhnya terasa terlalu lelah untuk melawan lagi. Ia melangkah mendekat dengan langkah pelan. Arya menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang.

“Berbaring,” katanya.

Nadia menatapnya, mencari tanda-tanda niat buruk. Namun yang ia lihat hanyalah wajah datar, tanpa emosi berlebihan. Dengan hati-hati, ia berbaring di sisi ranjang, memunggungi Arya.

Arya mematikan lampu kembali, meninggalkan ruangan dalam kegelapan yang kali ini terasa berbeda. Tidak lagi mencekam, namun juga belum sepenuhnya aman.

“Aku tidak akan melakukan apa pun,” ucap Arya pelan di tengah gelap. “Tidurlah.”

Nadia memejamkan mata. Tubuhnya masih tegang, pikirannya masih berputar, namun kelelahan akhirnya menang. Di tengah konflik batin dan rasa takut yang belum sepenuhnya hilang, Nadia perlahan tertidur, menyadari bahwa hidupnya kini berada di persimpa

ngan yang tak pernah ia pilih bersama seorang suami kontrak yang penuh bahaya, namun juga penuh teka-teki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!