Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Dramatis
Dengan cepat dan brutal, Aris mengikat tangan kedua orang tua itu menggunakan kabel telepon yang ia putus. Ia menyeret mereka menuju mobil SUV cadangan milik villa yang kuncinya ia rampas dari meja. Di bawah sinar bulan yang tertutup awan, Aris memasukkan mereka ke dalam bagasi dan kursi belakang seperti barang dagangan yang tak berharga.
Aris duduk di kursi kemudi, memandang pantulan wajahnya di spion. Ia tertawa—sebuah tawa melengking yang pecah menjadi sedu-sedan kegilaan.
"Dua umpan untuk satu ratu kuliner," gumamnya sambil mengelus pistolnya. "Gavin boleh saja menyelamatkan si wanita tua itu, tapi dia tidak akan pernah bisa menyelamatkan orang tua Devina jika Devina tidak bertekuk lutut di depanku."
Aris memacu mobil itu meninggalkan villa, menuju sebuah bangunan gudang pendingin daging yang terbengkalai di pinggiran kota—tempat yang dingin, terisolasi, dan tidak terdeteksi. Ia merasa telah memiliki kartu as yang mutlak. Baginya, ini bukan lagi soal pelarian, tapi soal penaklukan total.
Di dalam mobil, Bu Ines menangis tanpa suara, air matanya membasahi ikatan tali di tangannya. Ia melihat Pak Pamuji yang pingsan dengan luka di kepala di sampingnya. Ia teringat wajah Devina dan hanya bisa berharap putrinya tidak pernah datang menyerahkan diri ke pelukan monster ini.
****
Gavin baru saja selesai membantu tim medis mengangkat tandu Bu Imroh ke dalam ambulans saat ponselnya bergetar. Sebuah video masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Devina yang berdiri di sampingnya ikut melihat layar ponsel itu. Di dalam video berdurasi sepuluh detik itu, nampak Bu Ines dan Pak Pamuji terikat di sebuah ruangan beton yang gelap. Aris muncul di depan kamera, menyeringai tajam sambil memegang pistolnya.
"Devina sayang... Papa dan Mama merindukanmu. Datanglah sendirian ke lokasi yang akan kukirimkan dalam satu jam. Jika aku melihat Gavin atau polisi dalam jarak satu kilometer... mereka akan menyusul Salsa ke alam baka. Pilihan ada di tanganmu, Calon Istriku."
Video itu berakhir dengan tawa Aris yang menggema mengerikan.
Devina jatuh terduduk di atas aspal yang dingin. Dunia seolah runtuh menimpanya. Di satu sisi, Bu Imroh sedang berjuang antara hidup dan mati di ambulans, dan di sisi lain, kedua orang tuanya kini berada di tangan iblis yang tidak lagi punya rasa takut.
Gavin mengepalkan tangannya hingga berdarah terkena sisa serpihan batu jurang. Matanya berkilat penuh dendam. "Dia ingin bermain dengan nyawa, Devina. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan dia memenangkan satu langkah pun."
****
Gudang pendingin daging yang terbengkalai itu berdiri kokoh di pinggiran industri yang mati, sebuah monumen beton yang memancarkan aura kematian. Udara di sekitarnya terasa beberapa derajat lebih dingin, bukan karena mesin pendingin yang sudah lama mati, melainkan karena kegelapan yang bersemayam di dalamnya. Devina Maharani berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan kerikil tajam. Langkah kakinya terdengar gemetar, namun matanya menatap lurus ke arah pintu besi besar yang setengah terbuka.
Di tangannya, ia meremas selembar kain putih—tanda penyerahan diri yang diminta Aris. Di balik punggungnya, dunia seolah berhenti bernapas. Ia tahu, di balik reruntuhan pabrik dan bayangan kontainer tua, Gavin dan tim taktis kepolisian sedang mengintai dengan napas tertahan, namun jarak mereka terlalu jauh untuk bisa menjangkau jika Aris menarik pelatuknya sekarang.
"Aris! Aku sudah di sini! Lepaskan Mama dan Papa!" teriak Devina. Suaranya bergema di antara dinding-dinding seng yang berkarat, terdengar rapuh namun penuh determinasi.
Pintu besi itu berderit terbuka sepenuhnya. Aris Wicaksana muncul dari kegelapan, menyeret Bu Ines yang mulutnya dilakban dan Pak Pamuji yang wajahnya lebam kebiruan. Aris menodongkan moncong pistolnya ke pelipis Pak Pamuji, matanya berkilat penuh kemenangan yang sakit.
"Selamat datang, Sayang," desis Aris. Tawanya terdengar kering, merusak kesunyian malam. "Lihat betapa mereka merindukanmu. Mereka sangat ingin melihat kita bersatu kembali."
****
"Lepaskan mereka, Aris. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Aku di sini. Ambil aku, tapi biarkan mereka pergi!" Devina maju selangkah, air matanya jatuh membasahi pipinya yang pucat.
"Jangan bergerak!" bentak Aris, jemarinya mengencang di pelatuk. "Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu Gavin ada di luar sana, bersembunyi seperti tikus tanah! Tapi dia tidak akan berani bergerak selama moncong ini menempel di kepala ayahmu!"
Tiba-tiba, dari arah atap gudang, sebuah sinar laser merah kecil menari di dada Aris. Penembak jitu kepolisian telah mengunci target. Namun, Aris yang sudah kehilangan nalar justru menggunakan tubuh Pak Pamuji sebagai tameng hidup.
"Tembak! Ayo tembak!" tantang Aris dengan suara melengking. "Jika aku mati, pria tua ini akan ikut bersamaku!"
Dalam hitungan detik yang krusial, sebuah ledakan granat asap (flashbang) meledak di sisi kiri Aris, sebuah pengalihan yang dibuat oleh tim taktis Gavin. Cahaya putih yang menyilaukan dan suara dentuman dahsyat membuat Aris terperanjat. Cengkeramannya pada kedua orang tua Devina melonggar sesaat.
"SEKARANG!" teriak Gavin dari balik barikade.
Devina berlari sekuat tenaga, menarik ibunya sementara Pak Pamuji berusaha merangkak menjauh. Pasukan polisi menyerbu masuk dengan senapan laras panjang yang siap menyalak. Namun, Aris—dengan kelincahan seekor predator yang terpojok—melepaskan tembakan acak ke udara untuk menciptakan kekacauan, lalu melompat ke arah lubang ventilasi besar yang menuju ke saluran pembuangan bawah tanah.
"Jangan biarkan dia lolos!" perintah Komandan Polisi.
Namun, labirin bawah tanah gudang tua itu terlalu kompleks. Aris menghilang ke dalam kegelapan limbah, meninggalkan aroma mesiu dan kebencian yang masih menggantung di udara.
****
Di tengah kepulan asap sisa flashbang, Devina bersimpuh di atas lantai semen yang dingin, mendekap Bu Ines dan Pak Pamuji. Isak tangis pecah membelah ketegangan.
"Mama... Papa... maafkan Devina," raung Devina sambil melepaskan lakban di mulut ibunya.
Bu Ines tidak bisa berkata-kata, ia hanya memeluk putrinya dengan tenaga yang tersisa, seolah takut Devina akan menghilang lagi. Pak Pamuji, meski menahan sakit di kepalanya, mengusap punggung Devina dengan tangan yang gemetar.
"Papa bangga padamu, Nak... kamu sangat berani," bisik Pak Pamuji parau.
Gavin menghampiri mereka, wajahnya nampak lega namun sekaligus penuh amarah karena Aris berhasil meloloskan diri lagi. Ia berlutut di samping mereka, memberikan jaketnya untuk menutupi bahu Bu Ines yang menggigil.
"Mereka selamat, Devina. Itu yang terpenting sekarang," ucap Gavin lembut, meski matanya menatap tajam ke arah lubang pembuangan tempat Aris menghilang.
****
Sementara itu, di bangsal isolasi RSUD Sumedang, suasana sunyi hanya diisi oleh suara detak jantung dari monitor EKG. Bu Imroh terbaring lemah dengan berbagai selang yang menopang hidupnya. Perban melilit kepala dan sebagian tubuhnya yang mengalami patah tulang akibat jatuh ke jurang.
Perlahan, kelopak matanya yang keriput bergerak. Sebuah erangan lirih keluar dari sela bibirnya yang pucat.
"Azam... Salsa..." gumamnya sangat pelan.
Seorang perawat yang berjaga segera mendekat. "Ibu? Ibu sudah sadar?"