INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah memberikan laporan pada Hanna lewat tab----Hanna segera meresponnya dengan mengirimkan para Mafia kesana.
Urusan yang sudah beres, Nayla dan Gani segera pergi bersenang-senang.
Gani dan Nayla berjalan menyusuri jalan desa menuju deretan ruko sederhana yang juga di bawah pengawasan Suradinata.
Di balik sikap santai keduanya, mereka tahu misi kali ini tak bisa di anggap remeh.
Para polisi memang sedang mengincar jaringan dari geng jekbla, kecuali geng Keihn.
Jaringan di desa ini bukan pemain kecil, mereka terhubung ke jalur lintas negara.
Dan jika sampai aparat mengetahuinya, maka hancur sudah bisnis Aditya yang terhubung pada judi dan penjualan Narkotika.
"Abis tato, malam ini interogasi tuh si cowok yang mau nusuk lu," ucap Gani berjalan.
Nayla hanya menganggukkan wajahnya kembali serius.
Di salah satu ruko tempat langganan para mafia membuat tato, Nayla masuk di susul Gani.
Lampu neon kecil di dalam ruko itu berkedip pelan.
Aroma tinta, alkohol, dan sedikit aroma rokok bercampur di udara.
Tempat yang terlihat sederhana dindingnya di penuhi desain tato, tengkorak, mawar, kaligrafi, hingga potret wajah realistis.
Di sinilah para pemain dunia gelap seperti Mafia, preman, dan lainnya biasa menoreh cerita di kulit mereka.
Nayla duduk di kursi hitam lengan kanannya terentang di atas sandaran.
Pemilik studio menatap Nayla dan Gani sekilas, lalu tersenyum tipis seolah jelas mengenali tipe pelanggan seperti mereka ini.
Datang tanpa banyak bicara, tatapannya tajam, dengan aura berbahaya.
Pemilik Studio menatap wajah Nayla agak aneh, dirinya menatap heran----bagaimana mungkin bisa gadis berwajah Arab menjadi begini.
Nayla duduk di kursi hitam, lengan kanannya terentang di atas sandaran.
Lengan kanannya terbuka, kulitnya masih bersih. Namun menyimpan bekas luka samar dengan jejak masa lalu yang semua orang tak tahu.
"Tato apa, teh?" tanya seniman tato, yang bertubuh kurus dengan sarung tangan hitam.
Nayla menyerahkan gambar sketsa yang di dapatnya lewat internet, seorang ibu yang membelakangi anak kecil.
Tangan si ibu terulur bukan untuk memeluk, tapi seolah membuangnya.
Di latar belakang, ada garis menyerupai pintu yang tertutup perlahan.
"Warnanya hitam abu-abu realistis, detail ekspresi anaknya," ucap Nayla tenang.
Mesin tato mulai berdengung, jarum pertama menyentuh kulit Nayla.
Rasanya saat jarum pertama menyentuh kulit Nayla untuk pertama kalinya, sangat sakit.
Tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan derita yang sudah di berikan oleh orangtua biologisnya.
Sang ayah pergi entah kemana, dan tak hadir sejak kecil.
Sedangkan ibunya malah menjualnya hanya demi uang kepada seorang mafia.
Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit di tato, seolah sudah kebal---Nayla tak meringis atau kesakitan lagi.
Setelah selesai Nayla berdiri, dan hanya diam tanpa ekspresi.
Giliran Gani yang duduk di sofa menyerahkan betisnya.
“Mau desain apa, Bang?” tanya sang seniman.
Gani menatap ke depan, suaranya datar.
Berbeda dari Nayla yang menunjukkan foto lewat internet, justru Gani hanya dari ucapan saja.
“Anak kecil berdiri di tengah hujan. Di belakangnya bayangan pria-pria bersenjata. Tapi di depan… ada cahaya. Kecil aja, tapi terang.”
Seniman itu mengangguk mulai bekerja.
Gani masih terduduk menggulung celana hingga lutut batas kirinya terlihat.
Kulitnya sudah penuh tinta, tapi ada ruang kosong yang sengaja di sisakan.
Gani diam duduk di sofa menatap tanpa suara, dirinya tahu itu bukan sekedar gambar.
Ini adalah gambar dari masa lalunya, dan masa lalu Nayla.
Setiap garis yang di tarik seperti membuka luka lama, tentang ibunya yang seorang gundik membuangnya.
Sementara Nayla merasakan rasanya sakit hati kepada sang ibu, untuk hinaan warga dirinya sudah tak ambil pusing.
Toh, dendamnya sudah terbalaskan.
Tapi jika sang ibu dan ayahnya---Ratna dan Khaled masih mengincar atau memaksa membawanya maka Nayla tak segan melakukan hal nekat.
Beberapa jam setelah selesai, gambar itu pun juga selesai---di lengan kanan Nayla kini terukir gambar yang kelam.
Sementara Gani masih berproses membuat tato, menahan rasa sakit.
Gadis berwajah Arab dan Indonesia itu, berdiri menatap Gani yang sedang di tato.
Tato di lengan kanan Nayla adalah gambar sang ibu yang berjalan menjauh dari seorang anak kecil yang berdiri sendiri, dengan bayangan yang lebih besar.
Bayangan yang lebih besar dari tubuhnya, seakan memaksa tumbuh sebelum waktunya.
Jarum itu menari di kulit bagian betis Gani, gambar perlahan terbentuk.
Gani memejamkan matanya mengingat akan masa lalunya, sang ibu yang memukulnya.
Lalu terlintas kembali sang nenek yang meninggal dunia, kenangan sedih itu terbayang saat jarum tato kembali menari di kulitnya.
Gambar itu sudah terbentuk.
Seorang anak kurus berdiri sendirian, air hujan membasahi tubuhnya.
Dari belakang, siluet-siluet gelap seperti tangan yang membentuknya menjadi senjata. Namun di kejauhan, ada satu garis cahaya tipis yakni harapan.
Itu tentang dirinya-----dirinya yang terusir oleh ibu kandungnya, bagaimana hidupnya yang di beli oleh Mafia.
Bagaimana dirinya di latih menjadi eksekutor, tentang masa kecil yang tak benar-benar ada dalam hidupnya.
Gani menambahkan cahaya karena tak ingin selamanya menjadi bayangan gelap, wanita gundik itu.
Mesin berhenti berdengung saat dua tato sudah terbentuk.
Tato yang terbentuk, sekaligus gambar tato yang penuh luka di hatinya.
Nayla berdiri kembali.
"Bang ini bayarannya," ucap Nayla menyerahkan amplop berisi uang.
"Terima kasih Teh," ucapnya.
"Iya bang," jawabnya.
Gani menurunkan celananya dan tersenyum tips, Nayla membisikan sesuatu.
"Ayo kita interogasi tuh orang, apa tujuannya mau nusuk gua," ujar Nayla.
"Wait gua benerin celana dulu," kata Gani membenarkan gulungan celananya.
Setelah selesai membenarkan celana, Gani berdiri dan mengajak Nayla pergi dari tempat tato itu.
Keduanya yang sudah selesai, akan menuju ke sebuah gudang dimana pria itu diikat dan di tahan.
Gani dan Nayla berjalan beriringan di antara malam yang kelam, keduanya akan melakukan suatu hal.
Apakah ada satu nyawa melayang malam ini, atau apa yang kedua mafia muda itu rencanakan.
*
*
*