Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Kotak Pandemi Di Volkstadt
Pukul sembilan pagi tepat, Zurich menyambut Arga dengan langit abu-abu yang suram. Di depan gedung Bank Volkstadt yang megah—sebuah bangunan batu tua yang terlihat lebih mirip benteng daripada institusi keuangan—sebuah Mercedes hitam berhenti dengan suara rem yang halus. Arga turun, membenahi kerah overcoat-nya yang diterjang angin kencang. Dani menyusul di belakang, membawa tas kulit berisi dokumen-dokumen legal PT Cakrawala.
Mereka disambut oleh seorang pria paruh baya bernama Herr Schmidt. Pria itu memiliki wajah setajam silet dan senyum formal yang tidak sampai ke mata. Begitu Arga menunjukkan koin perak itu, Schmidt membungkuk sedikit lebih dalam.
"Tuan Adriansyah. Kami sudah menunggu kehadiran keturunan Pak Broto selama lebih dari satu dekade. Mari, ikuti saya," ucap Schmidt dalam bahasa Inggris yang nyaris sempurna.
Mereka turun ke lantai bawah tanah menggunakan lift khusus yang membutuhkan pemindaian biometrik dan kunci fisik dari Schmidt. Semakin dalam mereka turun, udara terasa semakin dingin dan kedap suara. Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan baja raksasa dengan ribuan kotak kecil yang tertanam di dinding.
"Kotak 712," Schmidt menunjuk sebuah kotak logam yang terletak di sudut paling tenang. "Kakek Anda meninggalkan instruksi khusus. Kotak ini hanya bisa dibuka dengan koin perak sebagai kunci fisik, dan sampel darah dari keturunan langsungnya."
Arga menelan ludah. Dia tidak menyangka kakeknya akan menggunakan sistem keamanan secanggih ini. Schmidt mengeluarkan sebuah alat kecil dengan jarum halus. Arga memberikan ujung jari telunjuknya. Klik. Rasa perih kecil menusuk kulitnya, dan setetes darah merah segar diserap oleh mesin tersebut.
Beep.
Lampu indikator berubah menjadi hijau. Arga memasukkan koin perak itu ke lubang yang tersedia dan memutarnya. Dengan suara mekanis yang berat, pintu kecil itu terbuka. Di dalamnya, terdapat sebuah koper kulit tua yang tampak sangat kontras dengan kemewahan bank tersebut.
"Saya akan meninggalkan Anda sendirian, Tuan," ucap Schmidt sambil melangkah mundur.
Arga membawa koper itu ke meja kayu di tengah ruangan. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kunci koper tersebut. Isinya bukan tumpukan uang tunai atau emas batangan seperti yang dia bayangkan. Di dalam koper itu terdapat sebuah buku agenda kulit hitam, beberapa sertifikat saham lama dari perusahaan energi di Eropa Timur, dan sebuah flash drive terenkripsi.
Namun, yang paling menarik perhatian Arga adalah sebuah foto tua yang sudah agak pudar. Foto itu memperlihatkan kakeknya berdiri bersama seorang pria asing yang sangat mirip dengan... Hendrawan. Tapi Hendrawan di foto itu terlihat jauh lebih muda, dan mereka berdua berdiri di depan sebuah gudang militer.
Arga membuka buku agenda tersebut. Halaman pertamanya tertulis:
Uang adalah rantai, Arga. Semakin banyak yang kau miliki, semakin pendek jarakmu dengan maut. Apa yang ada di koper ini bukan sekadar harta, tapi bukti kejahatan konsorsium internasional yang dulu aku bantu bangun. Mereka menyebutnya 'The Iron Circle'. Jika kau menggunakan aset ini, kau resmi menjadi target mereka. Tapi jika kau tidak menggunakannya, kau tidak akan pernah bisa melindungi gadismu dari jangkauan mereka.
Arga terduduk lemas di kursi baja. Selama ini dia mengira kakeknya hanyalah orang kaya yang dermawan. Ternyata, Pak Broto adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih gelap. Kekayaan yang kini dimiliki Arga melalui PT Cakrawala hanyalah sebagian kecil dari "uang tebusan" yang dicuri kakeknya dari organisasi berbahaya tersebut.
Tiba-tiba, ponsel satelitnya bergetar. Sebuah pesan video masuk.
Arga membukanya, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Video itu menunjukkan Elina sedang berjalan keluar dari apartemennya di Praha, hendak menuju kampus. Dari sudut kamera yang tersembunyi, terlihat seorang pria dengan tato kalajengking di lehernya sedang mengikuti Elina dari jarak sepuluh meter. Pria itu memegang sebuah amplop cokelat.
Pesan teks menyusul di bawah video itu:
Koper itu milik kami, Arga. Berikan koper itu di Jembatan Charles, Praha, besok malam. Atau nona cantik ini akan kehilangan senyumnya selamanya. Jangan coba-kali membawa pengawal, atau kami akan meledakkan apartemennya saat dia sedang tidur.
"Bajingan!" umpat Arga, memukul meja hingga tangannya memar.
Jarak. Jarak yang dia ciptakan untuk melindungi Elina justru menjadi celah bagi musuhnya untuk menyerang. Arga baru sadar, lari ke Zurich adalah kesalahan fatal. Dia meninggalkan Elina dalam keadaan rapuh dan tanpa perlindungan yang cukup kuat untuk menghadapi organisasi sekaliber 'The Iron Circle'.
"Dani!" panggil Arga dengan suara yang menggelegar di ruang bawah tanah itu.
Dani segera masuk. "Ya, Tuan?"
"Siapkan pesawat ke Praha. Sekarang juga!" Arga menutup koper itu dengan kasar. "Hubungi tim keamanan kita. Bilang pada mereka untuk tidak bertindak gegabah, tapi jangan biarkan pria bertato kalajengking itu mendekati Elina lebih dari lima meter. Jika dia menyentuh kulit Elina sedikit saja, habisi dia di tempat."
"Tapi Tuan, ancaman mereka soal apartemen—"
"Aku tahu!" Arga menatap Dani dengan mata yang menyala karena amarah dan ketakutan. "Makanya aku yang akan turun tangan sendiri. Mereka mau koper ini? Aku akan berikan... bersama dengan neraka yang mereka cari."
Arga melangkah keluar dari bank dengan koper di tangan kanannya. Zurich yang tadinya terasa dingin kini terasa membara di matanya. Dia tidak peduli lagi soal harta atau warisan kakeknya. Dia hanya peduli pada Elina.
Jarak antara Zurich dan Praha hanya butuh waktu satu jam penerbangan, tapi bagi Arga, itu adalah perjalanan hidup dan mati. Dia harus bertaruh dengan waktu. Jika dia terlambat sedikit saja, jarak di antara dia dan Elina tidak akan lagi berupa kilometer, tapi berupa nisan.
Di dalam mobil menuju bandara, Arga membuka flash drive itu menggunakan laptopnya. Layar menampilkan ribuan transaksi gelap, nama-nama pejabat tinggi di Eropa, dan... daftar target pembunuhan. Di urutan paling bawah, tertulis sebuah nama yang membuat napas Arga tertahan.
Target 09: Elina Pramesti. Status: Monitoring.
Ternyata, Elina sudah menjadi target sejak lama, bahkan sebelum Arga sampai di Praha. Organisasi ini tidak mengincar Arga karena dia kaya; mereka mengincar Arga karena dia adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan apa yang mereka inginkan melalui Elina sebagai sandera.
"Kakek... apa yang sebenarnya kau berikan padaku?" bisik Arga perih.
Mobil melaju kencang menembus salju Zurich yang mulai turun lebat. Arga menggenggam koin peraknya kuat-kuat sampai telapak tangannya berdarah. Dia sudah selesai menjadi korban. Dia sudah selesai menjadi pria yang hanya bisa lari.
Jika dunia ingin mengambil Elina darinya, maka Arga akan memastikan dunia itu runtuh terlebih dahulu.