NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: MUTIARA YANG MELAWAN

​Udara di dalam gudang raksasa itu terasa semakin pekat, seolah oksigen perlahan-lahan diisap habis oleh aura kematian yang memancar dari moncong pistol Sultan. Suara deru angin laut yang menabrak dinding seng berpadu dengan suara desis mesin ventilator Kyai Abdullah, menciptakan sebuah irama yang menyiksa saraf Aaliyah Humaira.

​Sultan tersenyum lebar. Matanya yang memancarkan kegilaan menatap lekat-lekat pada sosok wanita berbalut gamis hitam di depannya. Ia sangat menikmati detik-detik ini; detik di mana ia merasa menjadi tuhan atas harga diri keluarga Al-Azhar.

​"Satu," Sultan mulai menghitung, jarinya perlahan menekan pelatuk pistol yang menempel di pelipis Kyai Abdullah. "Dua..."

​Batin Aaliyah berteriak: Ya Allah! Waktuku hampir habis! Jika aku menurutinya, dia tetap akan membunuh kami setelah puas merendahkanku. Pembunuh sosiopat tidak pernah menepati janji. Tapi jika aku menolak, peluru itu akan menembus tengkorak Ayah detik ini juga. Aku harus memberinya apa yang dia inginkan... setidaknya sebuah ilusi dari apa yang dia inginkan, untuk membeli waktu tiga detik.

​"Tunggu!" teriak Aaliyah, suaranya sengaja dibuat bergetar dan parau, menampilkan sosok wanita yang benar-benar hancur dan menyerah.

​Aaliyah perlahan menjatuhkan kedua lututnya ke lantai beton yang dingin dan berdebu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur ketundukan yang mutlak.

​Sultan tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggema memantul di dinding gudang. "Bagus! Teruslah merendah, Aaliyah! Bersujudlah pada anak dari pria yang kalian hancurkan! Sekarang, buka kain sialan itu!"

​Aaliyah perlahan mengangkat tangan kanannya menuju simpul niqab di belakang kepalanya. Namun, apa yang tidak Sultan lihat adalah tangan kiri Aaliyah yang tersembunyi di balik lipatan gamis lebarnya. Tangan kiri itu telah masuk ke dalam saku rahasia ranselnya, meraba permukaan ponsel pintarnya yang telah disinkronisasikan secara nirkabel dengan laptop.

​Batin Aaliyah: Sultan menggunakan remote frekuensi radio standar untuk meledakkan C4 itu. Aku sudah menyalakan 'Signal Jammer' di laptopku, tapi butuh tiga detik untuk melakukan 'brute-force' dan mengunci frekuensinya. Bersamaan dengan itu, aku harus menciptakan gangguan visual. Gudang tua ini menggunakan sistem panel listrik sentral yang rentan... ayo, H_Zero... eksekusi naskahnya sekarang!

​Jemari kiri Aaliyah menekan tombol pintas di layar ponselnya tanpa melihat.

​Satu detik. Tangan kanan Aaliyah perlahan menarik ujung niqabnya.

​Dua detik. Sultan menyeringai, matanya tidak berkedip menatap wajah Aaliyah yang akan segera terbuka.

​Tiga detik. Niqab Aaliyah terlepas dari pengaitnya, siap untuk jatuh menampakkan wajahnya.

​EXECUTE OVERLOAD.

​BAM! BAM! BAM!

​Seluruh lampu halogen bertegangan tinggi di langit-langit gudang meledak secara serentak. Suara pecahan kaca raksasa menghujani lantai beton. Dalam sepersekian detik, gudang itu terjerembap ke dalam kegelapan yang sangat pekat, segelap dasar lautan.

​Sultan tersentak kaget. Refleks tubuhnya yang terkejut membuatnya menarik pelatuk secara membabi buta.

​DOR! DOR!

​Dua tembakan meletus menembus kegelapan. Kilatan api dari laras pistol menyinari gudang selama sekedipan mata.

​Aaliyah tidak membuang sedetik pun untuk diam. Sejak lampu meledak, ia sudah menerjang maju seperti macan tutul yang terdesak. Namun, ia bukanlah petarung terlatih. Salah satu peluru yang ditembakkan Sultan secara acak itu menyerempet bahu kirinya dengan sangat keras.

​Rasa panas dan perih yang luar biasa seolah merobek daging Aaliyah. Ia terjerembap ke depan, meringis menahan jeritan yang tertahan di kerongkongannya.

​Ya Allah... sakit! Darah... lenganku berdarah. Tapi aku tidak boleh berhenti! Jika aku berhenti, Ayah akan mati!

​Dengan menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang, Aaliyah merayap ke arah kursi roda ayahnya. Ia berhasil meraih gagang kursi roda tersebut dan menariknya mundur ke balik sebuah pilar beton besar, tepat sebelum Sultan menyalakan lampu senter dari ponselnya.

​Cahaya senter Sultan menyapu tempat Aaliyah berlutut tadi, namun tempat itu sudah kosong.

​"Aaliyah!" raung Sultan dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia tahu ia baru saja dipermainkan. "Kau pikir kau bisa bersembunyi di kegelapan ini?! Aku memegang remotenya, jalang! Aku akan meledakkan kalian berdua sekarang juga!"

​Di balik pilar, Aaliyah mendekap ayahnya. Ia menggigit bibirnya keras-keras untuk meredam rintihan sakit dari bahunya yang terus mengeluarkan darah.

​Terdengar suara klik dari remote di tangan Sultan. Pria itu menekannya dengan penuh amarah.

​Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

​Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada ledakan.

​"Apa yang terjadi?!" teriak Sultan panik. Ia menekan tombol itu berkali-kali dengan kalap. "Kenapa tidak meledak?!"

​Batin Aaliyah: Jammer-ku berhasil! Laptop di ranselku sedang memancarkan gelombang 'white noise' yang sangat kuat, memblokir sinyal dari remotemu. Selama aku berada dalam radius lima meter dari mesin bom itu, sinyalmu tidak akan pernah sampai. Tapi... baterai laptopku merosot sangat cepat karena memancarkan gelombang sekuat ini! Aku hanya punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum jammer itu mati.

​Sultan menyadari bahwa ini adalah ulah Aaliyah. Ia membuang remote yang tidak berguna itu dan kembali mengangkat pistolnya. Cahaya senternya menyapu setiap sudut gudang dengan cepat.

​"Kau memblokir sinyalnya, ya? Kau benar-benar wanita penyihir, H_Zero!" teriak Sultan, langkah kakinya terdengar perlahan mendekat ke arah pilar-pilar beton. "Tapi kau lupa, jammer tidak bisa memblokir timah panas! Keluarlah! Kau tidak akan bisa membawa kursi roda itu keluar dari gudang ini tanpa aku mendengarnya!"

​Aaliyah tahu Sultan benar. Kursi roda medis itu terlalu berat dan berderit jika didorong. Ia terjebak. Bahu kirinya mati rasa, darah membasahi lengan gamisnya.

​Aku harus melumpuhkannya secara fisik. Tapi bagaimana? Aku tidak punya senjata, aku tidak punya keahlian bela diri. Jika aku keluar, dia akan langsung menembakku.

​Mata Aaliyah menyapu sekelilingnya dalam kegelapan. Ia meraba mesin ventilator mobile di samping ayahnya. Tabung oksigen cadangan. Oksigen murni bertekanan tinggi.

​Sebuah rencana gila dan nekat terbentuk di otak logisnya. Rencana yang sangat berisiko, namun ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki.

​Aaliyah melepas ranselnya perlahan, meletakkannya di dekat ayahnya agar jammer tetap bekerja. Ia kemudian memutar katup tabung oksigen cadangan itu hingga batas maksimal, namun ia menahan selangnya dengan tekukan yang sangat kuat agar gasnya belum keluar.

​Ia mengambil sebuah batu sisa pecahan lampu halogen dari lantai. Dengan sisa tenaga di tangan kanannya, Aaliyah melemparkan batu itu ke arah sudut gudang yang berlawanan.

​PRANG!

​Batu itu menghantam tumpukan kaleng berkarat. Sultan seketika menoleh dan mengarahkan senter serta pistolnya ke sumber suara. "Kena kau!"

​Di saat perhatian Sultan teralih, Aaliyah keluar dari balik pilar beton. Ia berlari senyap dari arah titik buta Sultan. Jarak mereka hanya tiga meter. Dua meter. Satu meter.

​Sultan menyadari pergerakan dari sudut matanya. Ia berbalik dengan cepat, mengarahkan pistolnya tepat ke dada Aaliyah.

​Namun Aaliyah lebih cepat. Ia melepaskan tekukan selang oksigen di tangannya.

​WHUSSSHH!

​Semburan oksigen bertekanan sangat tinggi menyemprot tepat ke wajah dan mata Sultan seperti cambuk tak kasatmata. Sultan menjerit kesakitan saat gas bertekanan itu menghantam korneanya, membuatnya buta sementara dan kehilangan keseimbangan.

​Pistol di tangannya meletus tak tentu arah, pelurunya menghantam atap seng.

​Aaliyah tidak menyia-nyiakan momen itu. Ia mengayunkan tabung oksigen besi berbobot lima kilogram itu dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tangan kanannya.

​PRAK!

​Tabung besi itu menghantam keras rahang Sultan. Pria sosiopat itu terpelanting ke belakang, tubuhnya menghantam tumpukan palet kayu hingga hancur. Pistolnya terlempar jauh ke dalam kegelapan. Sultan mengerang sejenak sebelum akhirnya terdiam, kehilangan kesadaran sepenuhnya.

​Aaliyah berdiri terengah-engah. Oksigen di paru-parunya terasa habis. Bahu kirinya berdenyut dengan rasa sakit yang mengancam akan merenggut kesadarannya kapan saja. Ia menjatuhkan tabung oksigen itu dan jatuh bertumpu pada kedua lututnya.

​Batin Aaliyah: Alhamdulillah... Alhamdulillah... dia lumpuh. Aku berhasil. Zayn... aku berhasil melindungiku dan ayahku dengan caraku sendiri.

​Namun, kemenangan itu hanya bertahan selama beberapa detik.

​Suara alarm melengking panjang tiba-tiba berbunyi dari arah kursi roda Kyai Abdullah.

​Aaliyah memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan berlari kembali ke balik pilar. Ia menatap ranselnya dengan ngeri. Layar laptop di dalamnya berkedip merah.

​CRITICAL BATTERY. JAMMER PROTOCOL SHUTTING DOWN IN 30 SECONDS.

​Darah Aaliyah kembali membeku. Jika jammer mati, sisa sinyal radio dari luar yang terpantul secara acak bisa saja memicu receiver pada bom tersebut, atau lebih buruk lagi, bom tersebut dipasangi sistem fail-safe jika kehilangan sinyal jammer.

​Aaliyah menatap rompi bom C4 yang melilit dada ayahnya. Ada sebuah modul timer digital kecil yang menempel di sana. Angkanya saat ini membeku, namun lampu indikatornya mulai berkedip kuning, menandakan bom itu sedang mencari sinyal.

​25 detik.

​Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah! Aku tidak bisa meretas ini! Ini perangkat keras (hardware), bukan perangkat lunak! Jika baterai laptopku mati, bom ini akan meledak! Aku harus memutus kabel pemicunya secara manual!

​Aaliyah berlutut di depan ayahnya. Tangannya yang gemetar dan berlumuran darah sendiri mencoba meraba kabel-kabel yang saling menyilang di atas tumpukan bahan peledak plastisin itu. Ada puluhan kabel yang sengaja dibuat rumit oleh perakitnya.

​20 detik.

​"Ayah... kumohon, bangunlah. Aaliyah takut..." bisik Aaliyah di tengah isak tangisnya. Namun Kyai Abdullah tetap terpejam dalam koma medisnya.

​15 detik.

​Aaliyah melihat tiga kabel utama yang terhubung langsung ke detonator: Merah, Biru, dan Hitam. Ini bukan film aksi di mana pahlawan tahu kabel mana yang harus dipotong berkat keajaiban. Ini adalah dunia nyata yang brutal. Jika ia memotong kabel yang salah, gudang ini akan rata dengan tanah.

​10 detik.

​Aaliyah teringat sebuah buku panduan siber-fisik yang pernah ia baca. Rangkaian bom rakitan amatir biasanya menggunakan kabel hitam sebagai ground (pentanahan). Memotong ground justru akan memicu sirkuit cadangan. Kabel merah biasanya adalah kabel pemicu.

​Atau... perakitnya sengaja membalik warnanya untuk menjebak?!

​5 detik.

​Layar laptop Aaliyah mati total.

​Angka di timer bom seketika berubah menjadi hijau.

​00:00:03...

​Aaliyah memejamkan mata, menyebut Asma Allah. Ia menarik salah satu kabel dengan kedua tangannya secara paksa, bersiap menyambut panasnya api neraka dunia.

​00:00:01...

1
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!