Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Persiapan Terakhir dan Kejutan dari Elysium
Hari-hari menjelang pernikahan berlalu dengan sangat cepat dan penuh kesibukan. Kota Lunaria kini berubah menjadi lautan bunga dan hiasan. Setiap sudut jalan dihiasi dengan lentera-lentera warna-warni dan pita-pita sutra yang berkibar tertiup angin. Suasana bahagia terasa begitu tebal hingga seolah bisa disentuh.
Elara dan Kael, meskipun memiliki kekuatan setara dewa, justru menikmati hal-hal sederhana ini dengan sangat antusias. Mereka berkeliling kota memantau persiapan, tertawa bersama warga, dan membantu menata dekorasi di mana pun diperlukan.
Namun, kemegahan perayaan ini bukan hanya untuk penduduk Lunaria saja. Seperti yang telah disepakati, utusan-utusan dari berbagai dunia dan dimensi mulai berdatangan satu per satu.
Suatu siang, di lapangan terbuka yang telah disiapkan khusus sebagai tempat pendaratan, ribuan warga berkumpul menyaksikan pemandangan yang luar biasa.
Satu per satu portal terbuka di langit. Dari dalam portal tersebut, keluar kendaraan-kendaraan aneh dan makhluk-makhluk dengan penampilan unik. Ada yang berbadan tinggi besar berkulit biru, ada yang bersayap seperti burung, ada pula yang tubuhnya terbuat dari kristal transparan.
Mereka semua datang dengan membawa hadiah-hadiah mewah dan ucapan selamat untuk Sang Kunci dan Gembok yang telah menyelamatkan alam semesta.
Namun, kedatangan yang paling ditunggu dan paling mengesankan tentu saja adalah rombongan dari Elysium.
WUUUUSSSSHHH...
Sebuah gerbang cahaya raksasa terbuka lebar. Dari sana, meluncur turun sebuah istana mengambang yang terbuat dari murni emas dan perak. Istana itu tidak berat, melainkan melayang lembut seperti awan, ditarik oleh dua ekor burung Phoenix raksasa yang bersinar terang.
Saat istana itu mendarat dengan lembut, pintunya terbuka, dan keluarlah ratusan orang Pengawas. Namun kali ini, mereka tidak lagi terlihat kaku dan dingin. Banyak di antara mereka yang tersenyum, memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu, dan bahkan ada yang berani menyapa warga Lunaria dengan sopan.
Di barisan paling depan, terlihat dua belas Hakim Agung yang dulu pernah ingin menghukum mati Elara dan Kael. Kini, mereka berjalan dengan kepala tertunduk hormat, membawa sebuah kotak besar yang dilapisi kain beludru merah.
Elara dan Kael maju menyambut mereka.
"Selamat datang di rumah kami," sapa Elara ramah.
Kepala Dewan Hakim, yang dulu paling keras suaranya, kini tersenyum ramah dan membungkuk dalam.
"Terima kasih telah menerima kami, Yang Mulia. Kami membawa hadiah kecil dari Sang Pencipta sebagai tanda persetujuan dan restu-Nya."
Ia membuka kotak itu.
Di dalamnya, terdapat sebuah gaun pengantin dan satu set jas serta jubah yang luar biasa indahnya.
Gaun untuk Elara terbuat dari bahan yang bukan kain, melainkan terbuat dari cahaya yang dipadatkan dan serat bintang. Warnanya putih bersih dengan aksen perak yang berkilau, dan jika dilihat baik-baik, pola pada gaun itu bergerak seperti awan yang berarak.
Sedangkan pakaian untuk Kael, berwarna hitam pekat namun memiliki benang emas yang menyala, memberikan kesan gagah, misterius, namun sangat elegan.
"Ini..." Kael ternganga. "Pakaian ini..."
"Ini adalah Jubah Kesatuan," jelas Kepala Dewan. "Selama kalian memakainya, kalian tidak hanya terlihat indah, tapi pertahanan diri kalian akan menjadi mutlak. Tidak ada sihir, tidak ada racun, tidak ada senjata apa pun yang bisa melukai kalian berdua selamanya."
Elara memegang gaun itu dengan hati berdebar. "Sangat indah... terima kasih banyak."
Malam sebelum hari pernikahan, suasana di Kedai Bintang Jatuh sangat hangat namun haru.
Elara berada di kamarnya, dikelilingi oleh Nenek Mara dan teman-teman wanitanya. Mereka sibuk merawat kulit, memijat, dan membicarakan hal-hal lucu tentang kehidupan rumah tangga nanti.
"Nenek tidak percaya akhirnya hari ini tiba," kata Nenek Mara sambil mengusap kepala Elara, matanya berkaca-kaca. "Dari gadis kecil yang suka lari-larian mengejar kupu-kupu, sekarang kau akan menjadi seorang istri yang bijaksana."
"Aku akan tetap menjadi cucu kesayangan Nenek selamanya, kan?" tanya Elara manja.
"Tentu saja sayang! Selamanya!"
Di sisi lain rumah, di ruang tamu, suasana lebih santai namun penuh makna. Darian sedang duduk berbincang dengan Kael.
"Kael," panggil Darian serius. "Aku tahu kau sangat kuat. Kau bisa melindungi Elara dari naga atau monster. Tapi ingatlah, melindungi hati seseorang dari rasa kesepian atau kecewa itu jauh lebih sulit daripada berperang."
Kael mengangguk paham. "Aku mengerti, Tuan. Aku berjanji akan membuat dia bahagia setiap hari. Tidak akan ada satu pun air mata kesedihan yang jatuh dari matanya."
"Bagus," Darian tersenyum lalu tertawa lepas. "Kalau begitu, istirahatlah yang cukup! Besok adalah hari terbesar dalam hidup kalian!"
Matahari terbit pada hari yang ditentukan.
Hari itu, langit Lunaria terlihat lebih biru dari biasanya, mataharinya bersinar lebih hangat, dan anginnya berhembus membawa aroma bunga-bunga termanis.
Seluruh kota ditutup untuk lalu lintas biasa. Jalan utama dari Kedai Bintang Jatuh menuju Kuil Agung di pusat kota ditaburi dengan kelopak bunga merah dan putih. Di kedua sisi jalan, ribuan orang dari berbagai dunia berbaris rapi, menanti kedatangan mempelai.
Tiba-tiba, suara musik terdengar. Bukan musik biasa, melainkan harmoni suara alam yang dimainkan oleh ratusan musisi terbaik.
Dari ujung jalan, tampaklah iring-iringan pengiring.
Dan di tengahnya, di atas sebuah kereta bunga raksasa yang ditarik oleh dua ekor kuda putih bersih, berdiri Elara dan Kael.
Penampilan mereka hari itu sungguh memukau hingga membuat semua orang terdiam dan berdecak kagum.
Elara mengenakan gaun pemberian Elysium itu. Ia terlihat seperti bidadari yang turun dari kayangan. Wajahnya bersinar lembut, senyumnya manja dan bahagia.
Di sebelahnya, Kael tampak sangat gagah dan tampan dengan jubah hitam keemasannya. Posturnya tegap, tatapannya penuh cinta dan bangga saat menatap istrinya.
Mereka tidak melayang atau menggunakan sihir cepat. Mereka berjalan perlahan (atau duduk di kereta) agar semua orang bisa melihat dan merayakan kebahagiaan mereka.
"ELARA! KAEL! HIDUP ELARA DAN KAEL!" teriak massa dengan bersemangat.
Bunga-bunga dilempar ke udara, confeti berwarna-warni berjatuhan seperti hujan kebahagiaan.
Saat mereka sampai di depan Kuil Agung, di sana sudah menunggu Sang Pendeta atau pemimpin upacara, serta Darian dan Nenek Mara yang sudah menunggu dengan wajah haru.
Di hadapan mereka, altar pernikahan terbuka lebar, menghadap langsung ke langit terbuka di mana semua bintang dan dewa-dewa bisa menyaksikan.
"Ini dia," bisik Kael pelan, hanya untuk didengar Elara. "Akhirnya."
"Ya," jawab Elara lembut, menggenggam tangan Kael erat-erat. "Selamanya dimulai sekarang."
Mereka melangkah maju menuju altar, memasuki babak baru dalam kehidupan mereka yang abadi.
(Bersambung ke Bab 25...)