Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6
Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada lagi ilusi kebebasan yang tersisa. Yvone menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Ia memilih mengenakan setelan celana bahan berwarna navy dan blus sutra sederhana berwarna putih salju kompromi antara tuntutan elegan Tara dan identitas profesionalnya sendiri.
Saat ia keluar menuju ruang makan tepat pukul 06.30, Dylan sudah berada di sana, seperti mesin yang memiliki presisi waktu mutlak. Pria itu mengenakan kemeja biru gelap tanpa jas, lengan kemejanya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat kokoh di lengan bawahnya. Ia sedang fokus pada layar laptop yang menampilkan grafik bursa saham.
Yvone duduk di seberangnya dalam diam. Asisten rumah tangga menyajikan sarapan dan segera menyingkir.
Hening. Hanya ada suara ketikan keyboard yang cepat dan ritmis. Yvone mengiris omelette-nya, mencoba mengabaikan hawa dingin yang selalu menguar dari pria di hadapannya. Pertengkaran di balkon semalam masih menyisakan ketegangan yang pekat di udara.
Tiba-tiba, Dylan menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tajam. Ia merogoh saku dalam jasnya yang tersampir di kursi, mengeluarkan sebuah kotak hitam pipih, dan mendorongnya melintasi meja marmer hingga berhenti tepat di depan piring Yvone.
Yvone mengerutkan kening, menatap kotak itu lalu menatap Dylan. "Apa ini?"
"Ponsel baru," jawab Dylan datar, mengambil cangkir kopinya. "Nomor lamamu sudah dialihkan ke ponsel itu. Sistem keamanannya sudah dienkripsi oleh tim siber Alexander Group. Ponsel lamamu terlalu rentan disadap."
Yvone membuka kotak itu. Sebuah smartphone keluaran terbaru berwarna hitam solid tergeletak di sana. Tidak ada logo merek, menandakan ini adalah perangkat pesanan khusus.
"Apakah ada pelacak GPS di dalamnya?" tanya Yvone curiga, matanya menyipit.
"Tentu saja," jawab Dylan tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Itu untuk memastikan aku tahu posisi mu kapan pun."
"Saya bukan aset, Tuan Hartono," desis Yvone, merasakan amarahnya kembali memanas.
"Di atas kertas kontrak yang kau tanda tangani kemarin, kau adalah aset berharganya perusahaanku," Dylan membalas dengan nada bosan, meletakkan cangkirnya. Pria itu menatap lurus ke arah Yvone. "Hari ini kau ada jadwal bertemu klien?"
Yvone menegakkan dagunya. "Ya. Pukul sepuluh di sebuah kafe di Kemang. Marco sudah melakukan background check kemarin malam dan menyetujuinya. Klien saya adalah seorang pemilik bakery lokal, tidak ada hubungannya dengan partai politik mana pun."
"Bagus," Dylan berdiri, merapikan kerah kemejanya. "Pak Joko sudah menunggumu di lobi. Jangan pulang lewat dari jam empat sore. Ada fitting gaun lanjutan dengan Tara untuk acara Sabtu nanti."
Tanpa menunggu persetujuan Yvone, Dylan berbalik menuju lift pribadinya.
"Apakah Anda selalu memerintah orang seperti itu?" seru Yvone sebelum pintu lift terbuka. "Apakah tidak ada kata 'tolong' di kamus Anda?"
Langkah Dylan terhenti. Ia menoleh perlahan melalui bahunya. Sorot matanya gelap dan tidak terbaca. "Di duniaku, kata 'tolong' adalah tanda kelemahan, Yvone. Dan kelemahan adalah hal pertama yang akan membunuhmu."
Lift terbuka, dan pria itu menghilang ke dalamnya, meninggalkan Yvone dengan rasa dingin yang menjalar di tengkuknya.
Perjalanan menuju Kemang memakan waktu empat puluh lima menit karena kemacetan Jakarta. Yvone duduk di kursi belakang Rolls-Royce, memandangi jalanan melalui kaca film yang gelap.
Saat mobil berbelok di persimpangan, Yvone melirik ke kaca spion samping. Ia menyadari ada sebuah mobil SUV hitam besar yang terus berada tepat di belakang mereka sejak keluar dari basement Menara Alexander.
"Pak Joko," panggil Yvone ragu. "Mobil di belakang kita itu... apakah mereka mengikuti kita?"
Pak Joko menatap kaca spion tengah dan mengangguk pelan. "Benar, Nyonya. Itu adalah tim pengamanan eksekutif lapis dua."
"Pengawal? Untuk saya?" Yvone membelalak. "Tapi saya hanya akan menemui klien untuk membahas desain interior toko kuenya! Saya tidak butuh pengawal!"
"Bapak Hartono yang memerintahkannya, Nyonya," ucap Pak Joko dengan nada tenang yang mencoba menenangkan. "Sejak Bapak Budi dipindahkan dari rutan kejahatan umum ke fasilitas VIP, kubu Menteri Hadi sangat marah. Mereka kehilangan sandera utama mereka. Bapak Hartono khawatir mereka akan menggunakan Anda sebagai titik lemah yang baru."
Yvone terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat. Realitas dari perang politik ini kembali menghantamnya. Ia bukan lagi sekadar desainer interior biasa; ia adalah target.
Tiba di kafe di bilangan Kemang, Yvone turun dari mobil. Benar saja, dua pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi dan earpiece di telinga kiri keluar dari SUV hitam tersebut. Mereka berdiri di depan pintu kafe dengan wajah tanpa ekspresi, sementara satu orang lagi menyisir area dalam sebelum mengizinkan Yvone masuk.
Yvone merasa wajahnya memanas karena malu. Beberapa pengunjung kafe menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, mengira ia adalah selebritas atau anak pejabat.
Kliennya, Bu Ratna seorang wanita paruh baya yang ramah sudah duduk di sudut ruangan. Namun, senyum Bu Ratna memudar ketika melihat Yvone dikawal oleh pria-pria berwajah seram.
"M-Mbak Yvone?" Bu Ratna bangkit sedikit dengan ragu saat Yvone menghampirinya. Matanya melirik gugup ke arah pengawal yang mengambil posisi berdiri dua meja dari mereka. "Apakah... apakah ada masalah? Mbak sedang diancam debt collector?"
"Oh! Bukan, Bu Ratna. Sama sekali bukan!" Yvone buru-buru duduk, wajahnya memerah padam. Ia mencoba tersenyum senatural mungkin. "Ini... fasilitas keamanan dari suami saya. Beliau terlalu protektif."
"Suami? Saya kira Mbak Yvone belum menikah," Bu Ratna tampak terkejut, namun bahunya sedikit rileks. "Wah, suami Mbak pasti orang penting sekali sampai dikawal begitu. Agak menakutkan ya, rasanya seperti sedang diawasi polisi."
Yvone tertawa hambar. "Mari kita abaikan saja mereka, Bu. Bagaimana dengan revisi sketsa area display rotinya? Apakah Ibu sudah melihat draf yang saya kirimkan semalam?"
Selama satu jam ke depan, Yvone berusaha sekuat tenaga mengembalikan fokusnya pada pekerjaan. Ia menjelaskan tentang pencahayaan warm white yang cocok untuk bakery, pemilihan material kayu oak, dan tata letak etalase. Ini adalah satu-satunya momen di mana ia merasa menjadi dirinya sendiri, bukan pion dalam permainan catur Dylan.
Namun, setiap kali ia melihat Bu Ratna melirik gugup ke arah para pengawal, hati Yvone mencelos. Sangkarnya mungkin tidak memiliki jeruji besi, tetapi ia membawanya ke mana pun ia pergi.
Pukul tiga sore, Yvone kembali ke penthouse. Kepalanya berdenyut. Pertemuannya dengan Bu Ratna memang berakhir dengan kesepakatan desain, namun Yvone tahu kliennya merasa sangat terintimidasi.
Saat melangkah masuk, ia melihat Dylan sedang berdiri di dekat mini bar di ruang tengah, menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal. Pria itu sudah pulang lebih awal dari biasanya. Jasnya dilempar sembarangan ke sofa.
Melihat pria itu, rasa frustrasi Yvone yang menumpuk seharian meledak.
Ia berjalan cepat menghampiri Dylan, mengabaikan aturan tak tertulis untuk tidak memicu pertengkaran.
"Anda menghancurkan pekerjaan saya," desis Yvone tepat saat Dylan mengangkat gelasnya.
Dylan berhenti, menoleh menatap Yvone dengan sebelah alis terangkat. "Klienmu membatalkan kontrak?"
"Tidak. Tapi dia ketakutan!" suara Yvone meninggi. "Pengawal berjas Anda berdiri di sana seperti algojo! Bagaimana saya bisa bekerja normal jika semua orang di sekitar saya merasa terancam? Tarik mereka kembali. Saya tidak butuh diawasi setiap detik!"
Dylan menyesap whiskey-nya dengan tenang, matanya menatap tajam di atas tepi gelas. "Aku sudah bilang, itu bukan pengawasan. Itu perlindungan."
"Dari apa?! Dari penjual roti?!"
PRAK!
Dylan meletakkan gelas kristalnya ke atas meja kaca dengan hentakan yang cukup keras hingga membuat Yvone terlonjak mundur selangkah. Pria itu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Yvone, aura intimidasinya menguar tebal, menyedot habis oksigen di sekitarnya.
"Dari orang-orang yang bisa saja memasukkan racun ke dalam minumanmu saat kau lengah. Dari orang-orang yang bisa saja menabrakkan truk ke mobilmu saat kau pulang!" Suara Dylan tidak berteriak, namun nadanya begitu rendah, mematikan, dan penuh penekanan.
Pria itu melangkah maju, memaksa Yvone mendongak. "Kau pikir dunia yang kau masuki sekarang ini adalah tempat bermain? Kau pikir Pak Hadi akan melepaskan mangsanya begitu saja setelah aku mengambil ayahmu dari tangannya? Jangan naif, Yvone."
Mata kelam Dylan menatap lurus ke dalam mata Yvone yang mulai memancarkan ketakutan yang nyata. Jarak mereka begitu dekat hingga Yvone bisa mencium aroma whiskey yang maskulin dari napas pria itu.
"Tadi siang, sebuah paket tanpa nama dikirimkan ke kantorku," ucap Dylan lambat-lambat. "Isinya adalah foto-foto apartemen lamamu, tempat adikmu tinggal sekarang. Difoto dari jarak dekat."
Wajah Yvone seketika pias. Darahnya seakan berhenti mengalir. "Lia..." bisiknya ngeri.
"Adikmu aman," Dylan memotong cepat. "Aku sudah memindahkan sepuluh orang keamananku ke area apartemennya. Mereka menyamar menjadi warga sekitar. Selama dia tidak keluar dari radar, tidak ada yang bisa menyentuhnya."
Yvone merasa kakinya lemas. Ia berpegangan pada tepi meja bar untuk menopang tubuhnya. Dunia politik ini lebih kotor dan mengerikan daripada yang ia bayangkan. Mereka benar-benar mengincar keluarganya.
Melihat wajah pucat Yvone, rahang Dylan yang mengeras sedikit mengendur. Tangannya bergerak sedikit, seakan ingin menahan bahu Yvone, namun ia menariknya kembali.
"Dengarkan aku," ucap Dylan, suaranya kembali ke nada datar nan dinginnya yang biasa. "Selama kau menyandang nama Hartono, kau adalah target. Pengawal itu akan tetap ada di sana. Jangan berdebat denganku soal keamanan keluargamu. Mengerti?"
Yvone tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat oleh rasa takut yang luar biasa. Ia hanya bisa mengangguk pelan, air mata keputusasaan menggenang di pelupuk matanya.
Dylan menatap Yvone sejenak, lalu mengambil jasnya dari sofa. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, ia melangkah menuju ruang kerjanya di lantai dua, meninggalkan Yvone yang terpaku di dekat meja bar.
Sore itu, Yvone akhirnya menyadari satu kenyataan pahit. Dylan Alexander Hartono adalah pria yang mengurungnya di dalam sangkar emas. Tapi di luar sangkar itu, ada monster-monster yang sedang menunggu untuk mencabik-cabiknya.
Dan untuk pertama kalinya, Yvone merasa bahwa perlindungan pria es itu adalah satu-satunya hal yang menahan hidupnya dari kehancuran total.