Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sang Guru
Akhir Tahun 1935.
Barak Kesehatan.
Musim hujan datang membawa petaka. Malaria menyerang kamp dengan ganas.
Sjahrir jatuh sakit. Demam tinggi. Dia menggigil hebat di baraknya.
Arya yang merawatnya. Dia mengompres dahi Sjahrir, menyuapinya bubur, dan membacakan buku untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Miko..." racau Sjahrir dalam demamnya. "Kalau aku mati di sini... tolong bilang pada Hatta... jangan berhenti."
"Bung tidak akan mati," tegas Arya, memegang tangan Sjahrir yang panas. "Alina bilang Bung akan jadi Perdana Menteri pertama Indonesia."
"Siapa... Alina?" bisik Sjahrir lemah.
Arya tersadar dia keceplosan.
"Ibu saya. Alina itu nama ibu saya. Dia dukun kampung. Ramalannya selalu benar."
Sjahrir tersenyum lemah. "Semoga ibumu benar."
Malam itu, Arya begadang menjaga Sjahrir. Dia mengetik pesan panik ke Alina.
> Alina! Sjahrir kritis!
> Suhunya tinggi sekali. Obat kina habis.
> Sejarah bilang dia selamat kan? Tolong pastikan! Saya takut sekali.
>
> Tenang, Arya. Dia selamat.
> Dia memang sakit parah di Digoel, itu sebabnya Belanda nanti memindahkannya ke Banda Neira yang lebih sehat pada awal 1936.
> Jaga dia. Pastikan dia minum air yang banyak. Dehidrasi yang membunuhnya, bukan cuma malarianya.
>
Arya melakukan instruksi itu. Dia memaksa Sjahrir minum air rebusan, meski Sjahrir menolak.
Tiga hari kemudian, demam Sjahrir turun. Dia selamat.
"Kau penyelamatku, Miko," kata Sjahrir saat sudah bisa duduk. "Ibumu yang dukun itu... sampaikan terima kasihku padanya."
Arya tersenyum. "Akan saya sampaikan."
Januari 1936.
Dermaga Tanah Merah.
Setahun setelah kedatangan mereka, sebuah keputusan turun dari Batavia. Karena kondisi kesehatan Sjahrir yang memburuk dan tekanan internasional, Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke tempat pengasingan yang lebih layak: Banda Neira.
Arya berdiri lagi di dermaga. Kali ini untuk melepas kepergian gurunya.
Hati Arya hancur. Dia ingin ikut. Dia ingin keluar dari neraka Digoel ini. Tapi dia hanyalah "Bung Miko", tahanan kelas rendah. Dia tidak punya privilese untuk dipindahkan ke Banda yang indah.
Hatta menyalami Arya. "Jaga semangat kawan-kawan di sini, Bung Miko. Jangan biarkan Sekolah Liar bubar."
Sjahrir memeluk Arya singkat. "Terima kasih sudah jadi perawatku. Belajarlah bahasa Inggris terus. See you in freedom."
Kapal putih itu membawa mereka pergi.
Arya kembali tertinggal di hutan rimba. Sendirian lagi.
Dia berjalan gontai kembali ke barak. Dia merasa sepi yang luar biasa. Cahaya intelektual itu telah pergi.
Malamnya, dia mengetik pada Alina.
> Mereka sudah pergi, Alina.
> Ke Banda Neira.
> Saya ditinggal lagi.
> Sekarang tinggal saya, nyamuk, dan buaya.
> Kapan giliran saya keluar dari sini?
>
Alina membalas dengan nada yang menguatkan.
> Sabar, Arya.
> Enam tahun lagi.
> Tahun 1942.
> Jepang akan datang. Belanda akan panik.
> Saat itulah kau akan keluar.
> Gunakan 6 tahun ini untuk bersiap. Jadilah pemimpin bagi mereka yang tertinggal.
> Kau bukan lagi murid. Sekarang kau Gurunya.
>
Arya menatap tulisan itu. Enam tahun. Waktu yang sangat lama.
Tapi dia ingat wajah Hatta yang tenang. Dia ingat semangat Sjahrir.
"Baiklah," gumam Arya. "Akan kubuat enam tahun ini berarti."
Arya menutup mesin tiknya. Dia mengambil kapur tulis. Besok pagi, dia akan mengajar di Sekolah Liar. Dia akan mengajarkan apa yang dia dapat dari Hatta dan Sjahrir kepada kuli-kuli dan petani yang ada di kamp itu.
Dia adalah Bung Miko, Guru di Tengah Rimba. Dan dia sedang menyiapkan pasukan untuk masa depan.
...****************...
...Bersambung... ...
...Terima kasih telah membaca📖 ...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan