mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Darah dan Air Mata
Solo, pukul 16.30. Sore mulai merambat, tapi matahari masih cukup tinggi untuk menyinari halaman rumah joglo dengan cahaya keemasan.
Tapi Kalara tidak merasakan hangatnya.
Ia hanya berdiri terpaku di depan Nenek Siti, mencerna kata-kata yang baru saja didengar. "Seperti ibumu." Bukan "seperti mamamu", tapi "seperti ibu kandungmu". Ada perbedaan besar di sana.
"Nek..." suara Kalara bergetar. "Apa maksud Nenek?"
Nenek Siti menatapnya lama. Matanya yang tua tampak berkaca-kaca, penuh sesal dan kerinduan. Lalu ia beralih ke Arsya, yang berdiri diam di samping Kalara.
"Siapa ini?" tanya Nenek Siti.
"Teman saya, Nek. Arsya. Dia arsitek, bekerja sama dengan saya."
Nenek Siti mengamati Arsya dengan teliti. Terlalu teliti. Ada sesuatu di matanya—pengakuan? Atau mungkin kecurigaan?
"Mari masuk," katanya akhirnya. "Ini cerita panjang. Tidak baik didengar di luar."
Mereka masuk ke dalam rumah. Rumah joglo itu luas, dengan ruang tamu bergaya Jawa klasik—kursi jati ukir, meja rendah, hiasan wayang di dinding. Nenek Siti duduk di kursi utama, mempersilakan mereka duduk di kursi hadapan. Seorang pembantu tua muncul, menyajikan teh hangat dan kue tradisional, lalu pergi tanpa bicara.
Keheningan mengisi ruangan. Hanya suara detak jam dinding dan kicau burung di luar.
"Jadi," Nenek Siti memulai, "kamu ingin tahu tentang ayahmu."
"Dan tentang Rarasati," tambah Kalara hati-hati. "Kami... kami menemukan foto-foto lama. Ayah dengan seorang wanita. Namanya Rarasati."
Nama itu membuat Nenek Siti tersentak. Ia menatap Kalara, lalu Arsya, lalu kembali ke Kalara.
"Rarasati," bisiknya. "Kalian tahu Rarasati?"
"Saya," Arsya angkat bicara. "Rarasati adalah ibu saya."
Untuk ketiga kalinya hari itu, keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Nenek Siti menatap Arsya dengan ekspresi tidak percaya. Tangannya yang memegang cangkir teh gemetar.
"Ibumu?" ulangnya. "Kamu anaknya Rarasati?"
"Iya, Nek."
Nenek Siti meletakkan cangkirnya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Tangisnya tertahan, tapi nyata.
"Astaghfirullah," bisiknya. "Astaghfirullahaladzim."
Kalara dan Arsya bertukar pandang. Ada apa? Kenapa Nenek Siti bereaksi seperti ini?
"Nek," Kalara meraih tangan neneknya. "Nek, ada apa? Tolong katakan pada kami."
Nenek Siti mengangkat wajah. Matanya merah, pipinya basah. Ia menatap Kalara dan Arsya bergantian, lalu menggeleng pelan.
"Kalian tidak tahu," bisiknya. "Kalian benar-benar tidak tahu."
"Tahu apa, Nek?"
Nenek Siti menarik napas panjang, mengumpulkan kekuatan. Lalu ia mulai bicara, dengan suara serak yang berat.
"Asmara... ayahmu, Kara... dia bukan anakku satu-satunya. Dia punya kakak perempuan. Namanya Rarasati."
Dunia Kalara berhenti.
"Apa?"
"Rarasati adalah kakak kandung Asmara. Kakak tertua, anak pertama. Ia lahir tahun 1967, Asmara lahir tahun 1970. Mereka berdua anak-anakku."
Kalara merasakan dunianya berputar. Di sampingnya, Arsya juga pucat pasi.
"Tapi... tapi kalau Rarasati kakak ayahku," Kalara terbata-bata, "berarti... berarti ibunya Arsya dan ayahku..."
"Kakak beradik." Nenek Siti mengangguk pelan. "Sekandung. Satu ibu, satu ayah."
Darah dan air mata.
Kalara menoleh ke Arsya. Wajahnya putih seperti kertas. Tangannya yang di pangkuan gemetar hebat.
"Jadi..." suara Arsya pecah. "Ibu saya... dan ayah Kalara... mereka kakak adik?"
"Iya." Nenek Siti menunduk. "Dosa besar. Dosa yang tidak bisa diampuni."
Udara di ruangan itu terasa menipis. Kalara sulit bernapas. Ia merasakan dadanya sesak, kepalanya pusing. Semua yang ia kira selama ini—hubungan terlarang, cinta segitiga, kabur bersama—semuanya runtuh. Gantinya, kebenaran yang lebih mengerikan muncul.
Asmara dan Rarasati. Kakak beradik.
"Tapi... tapi di foto-foto itu..." Kalara berusaha mencerna. "Mereka terlihat seperti... seperti..."
"Seperti pasangan kekasih?" Nenek Siti menghela napas berat. "Iya. Karena mereka memang... saling mencinta. Bukan cinta kakak adik. Tapi cinta laki-laki dan perempuan. Cinta terlarang."
Arsya merasakan mual. Ia ingat foto-foto itu—ibunya tersenyum bahagia di samping Asmara, tangan mereka bergandengan, tulisan "untuk selamanya" di belakang foto. Dan sekarang ia tahu, pria itu adalah pamannya. Kakak ibunya sendiri.
"Bagaimana bisa?" bisiknya. "Bagaimana bisa mereka...?"
Nenek Siti menutup mata, seolah ingin menghindari kenangan. Tapi ia tahu, tidak ada jalan mundur. Kebenaran harus keluar.
"Mereka tumbuh bersama," mulai Nenek Siti. "Rarasati dan Asmara. Hanya berjarak tiga tahun. Sejak kecil mereka sangat dekat. Terlalu dekat. Waktu remaja, saya mulai curiga ada yang tidak beres. Tapi suami saya—kakek kalian—tidak mau percaya. Katanya, wajar kakak adik akrab."
"Lalu?"
"Lalu Rarasati hamil." Nenek Siti membuka mata, air mata mengalir. "Hamil di usia 19 tahun. Dan ayah anak itu... adalah adiknya sendiri. Asmara."
Kalara merasakan dunianya runtuh. Hamil. Usia 19. Asmara, yang saat itu baru 16 tahun.
"Anak itu...?" tanyanya, meskipun sudah tahu jawabannya.
Nenek Siti menatapnya langsung. "Kamu, Kara. Kamu anak dari hubungan terlarang itu."
Dunia Kalara gelap.
Arsya bergerak cepat. Ia menangkap Kalara yang hampir jatuh dari kursi, tubuhnya lemas seperti tak bertulang.
"Kara! Kara!"
Kalara tidak menjawab. Matanya kosong, menatap ke mana-mana tapi tidak melihat apa-apa. Napasnya tersengal, pendek-pendek.
"Kara, napas. Perlahan." Arsya memegang bahunya, mencoba menstabilkan. "Ikuti napasku. Tarik... lepaskan. Tarik... lepaskan."
Perlahan, Kalara mulai bisa mengatur napas. Tapi air matanya mengalir deras, tidak terbendung.
"Aku... aku anak... anak hasil...?" ia tidak bisa menyelesaikan kalimat.
Nenek Siti menangis di kursinya. "Maafkan Nenek, Nak. Maafkan kami. Kami terlalu sibuk menutupi aib, sampai lupa bahwa kamu juga korban."
"Tapi Mama..." Kalara berusaha mencerna. "Mama yang membesarkanku... siapa dia?"
"Ibumu—maksudku, ibu yang membesarkanmu—adalah istri Asmara. Wanita baik yang dinikahi Asmara setelah... setelah semuanya terjadi. Keluarga besar memaksa Asmara menikah, supaya tidak malu. Dan dia dinikahkan dengan gadis pilihan keluarga. Wanita itu tidak tahu apa-apa tentang masa lalu suaminya. Ia hanya tahu bahwa suaminya punya anak dari hubungan sebelumnya—katanya dengan mantan pacar. Tidak pernah diberi tahu bahwa mantan pacar itu adalah kakak kandungnya sendiri."
Kalara merasakan iba yang aneh untuk Mama. Selama ini Mama hidup dengan suami yang mencintai orang lain, membesarkan anak dari hubungan terlarang suaminya, dan tidak pernah tahu kebenaran yang sebenarnya.
"Lalu... Rarasati?" tanya Arsya, suaranya berat. "Apa yang terjadi padanya?"
Nenek Siti menghela napas. "Setelah melahirkan, Rarasati tidak bisa tinggal di rumah. Aib terlalu besar. Kami kirim dia ke Jakarta, bekerja sebagai pembantu di rumah kenalan keluarga. Dia tidak boleh pulang, tidak boleh bertemu siapa pun. Termasuk anaknya sendiri."
"Dia tinggal di rumah Menteng," bisik Arsya. "Tempat aku menemukan fotonya."
Nenek Siti menatapnya. "Kamu anak Rarasati? Lalu siapa ayahmu?"
Arsya menggelung. "Saya tidak tahu. Ayah yang membesarkan saya bukan ayah kandung. Dia menikahi Ibu setelah Ibu pindah ke Jakarta."
Nenek Siti diam, mencerna. Lalu matanya membelalak.
"Astaghfirullah," bisiknya lagi. "Mungkin... mungkin Asmara juga ayahmu."
Kali ini Arsya yang merasa dunianya berhenti.
"Apa?"
"Asmara dan Rarasati. Mereka terpisah setelah kau lahir, Kara. Tapi mungkin mereka tetap berhubungan diam-diam. Mungkin ketika Rarasati di Jakarta, Asmara sering mengunjunginya. Dan mungkin..."
"Tidak." Arsya menggeleng keras. "Tidak mungkin. Saya lahir tahun 1992. Ibu saya pergi tahun 1999. Artinya, saya sudah tujuh tahun saat Ibu masih di Jakarta. Kalau Asmara ayah saya, berarti mereka masih..."
"Berkali-kali berbuat dosa." Nenek Siti menunduk. "Maaf, Nak. Tapi itu mungkin."
Arsya merasakan pusing. Dunianya yang selama ini ia pahami—tentang identitas, tentang keluarga—runtuh dalam beberapa menit.
"Tapi ayah saya..." ia berusaha mengingat. "Ayah yang membesarkan saya, dia orang baik. Dia tidak pernah..."
"Dia mungkin tidak tahu." Nenek Siti menatapnya dengan iba. "Atau dia tahu, tapi memilih diam."
Ruangan itu hening untuk waktu yang lama.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mengirimkan semburat jingga melalui jendela-jendela kaca rumah joglo. Tiga orang di dalamnya duduk terpaku, masing-masing memproses kebenaran yang baru terungkap.
Kalara adalah yang pertama bicara.
"Jadi," suaranya serak, "aku dan Arsya..."
"Kakak beradik." Nenek Siti mengangguk pelan. "Satu ayah, satu ibu. Asmara dan Rarasati adalah orang tuamu berdua."
Kalara menoleh ke Arsya. Laki-laki yang selama ini ia kira hanya rekan kerja, yang dingin dan menyebalkan, yang kemudian menjadi teman seperjuangan mencari kebenaran—adalah kakaknya. Kakak kandungnya.
Arsya menatap balik. Matanya kosong, tapi ada sesuatu di sana. Mungkin kelegaan? Mungkin juga kekecewaan?
"Kita... kita keluarga," bisiknya.
Kalara tidak bisa menahan tangis. Ia memeluk Arsya erat, memeluk kakak yang baru ditemukannya di tengah pencarian yang menyakitkan. Arsya kaku beberapa detik, lalu balas memeluk. Pelukan canggung dua orang asing yang tiba-tiba terhubung oleh darah.
Nenek Siti menyaksikan mereka dengan air mata. "Maafkan kami," bisiknya lagi. "Maafkan kami yang terlalu pengecut untuk jujur."
Setelah tangis reda, Kalara melepas pelukan. Ia menatap Nenek Siti.
"Nek, tolong ceritakan semuanya. Dari awal. Apa yang sebenarnya terjadi pada 15 November 1999? Kenapa mereka pergi? Dan ke mana?"
Nenek Siti menghela napas panjang. Ini cerita yang paling berat.
"Mereka bertemu diam-diam di Jakarta. Asmara sering berkunjung ke rumah tempat Rarasati bekerja, dengan alasan urusan bisnis. Mereka tidak bisa menahan diri. Dosa terus berulang. Dan pada tahun 1999, Rarasati hamil lagi."
Hamil lagi.
Arsya merasakan jantungnya berdebar. Adik? Ia punya adik?
"Anak itu...?"
"Meninggal." Nenek Siti menunduk. "Atau begitulah yang mereka kira. Waktu melahirkan, bayinya lahir premature, tidak bernyawa. Atau setidaknya itu yang dikatakan dokter. Tapi kemudian kami curiga..."
"Curiga apa?"
"Keluarga besar panik. Ini aib kedua, lebih besar dari yang pertama. Mereka takut hubungan terlarang ini terbongkar. Maka mereka... mereka mengambil keputusan."
Nenek Siti berhenti, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
"Apa keputusan itu, Nek?" desak Kalara.
"Mereka memisahkan Rarasati dan Asmara untuk selamanya. Tidak hanya memisahkan, tapi... membuat mereka tidak bisa kembali."
Arsya merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. "Maksud Nenek?"
Nenek Siti menatap mereka dengan mata penuh sesal.
"Mereka dibunuh."
Dunia berhenti.
Kalara dan Arsya hanya bisa terpaku, mencerna kata-kata yang baru saja mereka dengar.
"Dibunuh?" bisik Kalara. "Oleh siapa?"
"Keluarga besar. Atas perintah kakekmu—ayah saya sendiri." Nenek Siti menangis. "Saya tidak tahu, saya tidak diberi tahu. Tapi setelah mereka hilang, saya curiga. Ada keheningan yang aneh. Ada pembicaraan tertutup. Dan uang yang dikeluarkan untuk 'menyelesaikan masalah'."
Arsya merasakan amarah yang membara di dadanya. "Di mana mereka dikubur? Apa yang dilakukan dengan mayat mereka?"
"Saya tidak tahu. Saya tidak pernah tahu." Nenek Siti meraih tangan mereka. "Saya hanya bisa menduga. Tapi saya tahu satu tempat yang mungkin menyimpan jawaban."
"Tempat apa?"
"Rumah di Menteng itu. Kata kakekmu, sebelum mereka pergi—atau sebelum mereka diambil—mereka sempat mengirim sesuatu. Mungkin surat, mungkin barang bukti. Kakekmu menyimpannya di suatu tempat di rumah itu. Tapi saya tidak tahu di mana."
Rumah Menteng. Tempat semuanya dimulai.
Kotak kayu. Foto-foto. Surat.
Mungkin masih ada lagi. Mungkin masih ada petunjuk lain yang tersembunyi.
Arsya dan Kalara bertukar pandang. Mereka harus kembali. Dan kali ini, mereka akan membongkar rumah itu sampai ke fondasinya jika perlu.
Malam turun di Solo. Bintang-bintang mulai muncul di langit, satu per satu.
Kalara dan Arsya duduk di teras rumah joglo, ditemani teh hangat dan keheningan yang berbeda. Mereka tidak bicara banyak. Tidak perlu. Keduanya sedang memproses luka baru yang hari ini mereka terima.
"Kakak," bisik Kalara, mencicipi kata itu.
Arsya menoleh. "Adik."
Senyum tipis muncul di wajah mereka. Senyum yang pahit, tapi juga hangat. Di tengah semua kebusukan ini, setidaknya mereka punya satu sama lain.
"Aku punya saudara," kata Kalara. "Selama ini aku kira aku anak tunggal."
"Aku juga." Arsya menatap langit. "Dan saudaraku ternyata kamu."
"Menyebalkan, ya? Kakakku orangnya sedingin es batu."
Arsya tertawa kecil. Pertama kalinya Kalara mendengar Arsya tertawa. Suaranya dalam, hangat—sangat berbeda dari biasanya.
"Adikku rese, suka ngompol, dan nggak bisa diem."
"Aku nggak ngompol!"
"Kata siapa?"
Mereka tertawa bersama. Tawa yang melegakan, di tengah nestapa.
Tapi di balik tawa itu, ada pertanyaan besar yang belum terjawab. Di mana orang tua mereka dikubur? Siapa yang bertanggung jawab? Dan akankah mereka bisa mendapat keadilan?
"Malam ini kita istirahat," kata Arsya akhirnya. "Besok kita kembali ke Jakarta. Dan kita cari jawaban terakhir."
"Di rumah itu."
"Di rumah itu."
Mereka menatap langit malam bersama. Dua saudara yang baru bertemu, diikat oleh darah dan air mata, siap menghadapi badai terakhir.
Bersambung...