Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Kelinci
“Tahukah kau? Seorang penyihir hebat bisa melakukan apa saja.”
Iago menatap tulisan itu, huruf demi huruf. Apa maksudnya? Ancaman yang terselubung? Petunjuk yang samar? Atau hanya lelucon busuk dari seorang pengganggu? Api amarah yang berwarna merah tua mulai menyala di dadanya, membuat napasnya menjadi pendek dan tersengal.
Sial. Ada yang sedang bermain-main denganku! Dan siapapun itu, pasti sedang mengawasi dari suatu tempat.
"Iago?" Suara Yuki memecah konsentrasinya yang berpusar.
Iago tersentak, seolah terbangun dari lamunan yang gelap. Ia masih berdiri kaku di depan meja kayu, merasakan tatapan penuh tanya dari Yuki dan Edward yang mengikis pertahanannya. Dengan usaha keras yang membuat rahangnya berdenyut, ia meregangkan otot-otot wajahnya yang tegang menjadi sebuah senyuman.
"Ada apa dengan kalian?" tanyanya, berusaha membuat suaranya terdengar ringan.
"Kami yang harusnya bertanya," kata Yuki. “Kenapa tiba-tiba kau melonjak seperti itu? Ekspresimu tadi... Dan tanganmu—lihat, masih gemetar.”
Iago menoleh ke tangannya yang memang bergetar halus di atas meja. Ia segera menariknya ke pangkuan. “Oh, tidak apa-apa. Hanya... kaget.”
“Benarkah? Kaget karena sebuah catatan?”
"...Tidak juga…" Ia berusaha mempertahankan kontak mata.
Yuki menghela napas pelan, lalu mengambil cangkir tehnya yang sudah setengah dingin. Uap herbal yang hangat mengepul tipis, membasahi ujung bulu matanya yang panjang. "Baiklah kalau begitu," ucapnya, lalu menyeruputnya.
Iago perlahan duduk kembali. Kursi berderit keras di bawah beratnya, protes. Di bawah meja, di pangkuannya, tangannya yang tersembunyi meremas kertas itu dengan kuat, sekuat tenaga. Lipatan-lipatan tajamnya menusuk telapak tangannya seolah ia ingin menghancurkan bukan hanya kertas dan tinta itu, tetapi juga pesan misterius yang dibawanya, segala rasa takut, dan belenggu masa lalu yang mulai merayap keluar.
"Iago..." Yuki memanggil lagi.
Iago merasakan detak jantungnya yang baru mulai tenang kembali berdesakan di telinganya, berdebar kencang dan panik. Ia menarik napas dalam melalui hidung, menahannya sejenak, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut, memaksakan ketenangan palsu itu meresap ke setiap serat otot, setiap ujung saraf. Kemudian, ia menatap balik mata hijau Yuki. “Ada apa, Yuki?”
"Apakah catatan itu... ada hubungannya dengan pembunuhan tadi malam? Yang di losmen dan di gang?"
"Tidak. Kenapa kau berpikir begitu?" Iago membalas.
"Hmm..." Yuki meletakkan cangkirnya dengan lembut di atas taplak meja. “Kau mulai panik tepat setelah aku menyebutkan si pria tua yang mencurigakan. Kau memeriksa sakumu dengan gugup, menemukan catatan, lalu wajahmu semakin berkerut, seperti membaca sesuatu yang... mengancam.”
Sudut bibir Iago perlahan terangkat, membentuk senyuman tanpa sukacita, hanya sebuah lengkungan kosong. "Sebenarnya," katanya, suaranya datar, “tas dan mantelku dicuri seseorang saat aku tidur nyenyak di pinggir jalan tadi. Catatan ini... semacam tanda tangan si pencuri. Isinya... provokasi.”
"Benarkah?" Yuki mengerutkan kening, garis halus yang anggun muncul di antara alisnya yang tipis. “Kita harus segera melaporkannya ke penjaga distrik. Barang-barangmu bisa saja masih di sekitar sini.”
"Iya. Nanti akan kulakukan."
"Oh ya... boleh tahu apa sebenarnya isi catatannya?" tanya Yuki lagi, polos namun menusuk.
"Tertulis kalau si pencuri adalah orang yang akan melampaui 'Sang Bayangan'," bohong Iago dengan lancar. Keringat dingin mulai merembes di sepanjang tulang punggungnya, meski udara pagi di dalam rumah itu sejuk—dingin, lengket, membuat kain bajunya yang sederhana menempel tidak nyaman di kulit. “Mungkin dia terobsesi dengan pencuri terkenal itu.”
"Hah? Jangan-jangan dia juga yang membunuh orang di losmen dan gang sempit itu. Maling yang berubah jadi pembunuh."
"Iya, mungkin saja," gumam Iago, mengangguk pelan.
Sarapan pun berakhir tanpa mereka sadari, seperti pasir yang mengalir dari jari. Piring-piring tanah liat sudah bersih, hanya tersisa remah-remah roti yang keras dan gelap.
"Mmm... meski rotinya keras, rasanya lumayan," komentar Edward sambil mengusap perutnya yang sedikit buncit dengan puas, senyum lebar terpampang.
Iago dan Yuki hanya saling bertukar senyum kecil, tipis, tapi ketegangan yang tak terucap di antara mereka masih menggantung di udara.
"Jadi, kita mau ngapain sekarang, Kak Iago dan Kak Yuki?" tanya Edward, memecah keheningan yang mulai awkward dengan polosnya, mengayun-ayunkan kaki kecilnya yang belum menyentuh lantai.
Mata hijau Yuki menatap Iago. Iago merasakan pandangan itu—berat, penuh pertanyaan yang belum diucapkan dan rasa ingin tahu yang membara—dan membalasnya dengan tatapan yang mencoba netral.
"Kau mau ngapain sekarang, Iago?" tanya Yuki, senyum lembutnya kembali muncul. “Apa kau punya tempat untuk pergi? Atau... rencana?”
...****************...
Di kejauhan, di puncak Gunung Penyihir yang diselimuti kabut pagi yang dingin dan basah, Eliana berdiri tegak di tepi tebing, memandang Kota Citywon yang terbentang di lembah di bawahnya. Kota itu seperti permadani hidup yang ditenun dengan benang emas dan perak—sungai Shiverwind berkelok seperti ular perak, atap-atap bata merah di distrik perumahan, kilau kaca dan baja pabrik di distrik industri, dan menara Gereja Cahaya yang menjulang putih murni bagai taring raksasa yang menusuk langit biru. Asap tipis dan kelabu mengepul dari ratusan cerobong, membentuk awan kecil yang melayang perlahan, menari di angin pagi.
"Hmm... kota ini masih sangat cantik," gumamnya, suaranya hampir hilang ditebarkan angin gunung yang menusuk dan berdesir. "Terlalu cantik untuk tidak dikuasai."
Ia mengenakan jubah perjalanan cokelat tua yang lusuh dan berdebu, dengan sulaman benang hitam yang pudar membentuk pola rumit di tepiannya. Tudungnya yang lebar menutupi sebagian besar wajahnya, hanya menyisakan dagu dan bibir tipis yang terkatup rapat.
Di belakangnya, dengan langkah senyap yang sempurna, seorang lelaki bertopeng muncul dari balik batang pohon pinus yang besar. Topengnya berbentuk wajah kelinci, putih porselen murni dengan retakan-retakan halus. Rambut peraknya yang cukup lebat terlihat sedikit dari balik penutup kepala hitam. "Eliana," suaranya datar, terdistorsi oleh rongga dalam topeng. “Benarkah dia sudah kembali? Sang Master yang asli? Bukan sekadar rumor atau tipuan musuh?”
"Iya. Aku yang menemuinya sendiri, di gang yang sama di mana aku membersihkan sampah," jawab Eliana tanpa menoleh, pandangannya masih terkunci pada pemandangan kota di bawah. "Meski ingatannya masih... terpecah-pecah. Tapi itu dia."
“Sulit dipercaya. Setelah bertahun-tahun menghilang tanpa jejak, kini ia muncul kembali di ibu kota.”
“Ada masalah dengan itu?”
"Tidak. Hanya saja..." suara di balik topeng itu terdengar hampir seperti bisikan. "Seharusnya aku yang pertama memulihkan ingatannya. Aku yang berhak mengembalikan kejayaannya."
Eliana akhirnya menoleh, tubuhnya berputar pelan. Matanya yang merah seperti batu delima menyipit, memancarkan cahaya berbahaya. "Kenapa? Apa hak khususmu?"
“Karena kenanganku bersamanya lebih bernilai daripada kenangan sentimentalmu. Aku yang paling paham visi aslinya. Bukan kau."
Bibir Eliana meregang, membentuk senyuman tipis. "Benarkah? Aku adalah Tangan Kiri Master Iago, ditunjuk langsung olehnya setelah mengalahkanmu dalam Ujian Darah. Aku telah melayani di sisinya, melaksanakan perintahnya. Lebih lama darimu."
"Lama melayani tak berarti apa-apa, Eliana. Itu hanya bukti ketekunan, bukan nilai. Ingatan Master yang akan kembali... kebanyakan adalah rentetan kegagalanmu, momen-momen di mana kau hampir meruntuhkan segalanya karena hati lemahmu."
Eliana mengerutkan kening, kerutan halus muncul di dahinya yang biasanya mulus. Tangannya di dalam jubah mengepal erat—kukunya yang tajam menancap ke telapak tangannya, meninggalkan lekukan dalam. “Apa katamu? Ulangi.”
“Aku bilang, ingatan dari masa bersamamu itu sampah. Kenangan sentimental yang hanya akan memperlambatnya, membebani pikirannya. Dia butuh visinya yang tajam dan kejam, bukan kenangan pahit akan pengorbanan dan penyesalan.”
Amarah memancar dari mata Eliana. Ia melangkah mendekat, langkahnya ringan namun penuh ancaman, senyum sinisnya semakin lebar, memperlihatkan gigi-giginya. “Tarik kembali ucapanmu, Otto. Tarik sekarang. Atau kubelah tenggorokanmu di tempat ini.”
Dua bilah belati hitam pekat, sepanjang lengan bawah, sudah berada di tangannya, seolah muncul dari bayangan sendiri. Bahan obsidian Shadowfell itu menelan cahaya matahari pagi yang menyelinap melalui daun pinus, hanya meninggalkan kilauan bahaya yang tumpul dan mematikan.
"Ingatan yang akan didapatnya mungkin saat kau menggoda dia di malam-malam sepi, atau saat kau hampir menggagalkan misi pencurian relik hanya karena merasa kasihan pada penjaga tua itu," provokasi Otto terus berlanjut, suaranya tetap tenang, datar, tanpa sedikitpun rasa takut yang terdeteksi. “Itu kan yang kau simpan untuknya? Kenangan kelemahan.”
Eliana melesat.
Gerakannya adalah ledakan kecepatan dan kemarahan yang terlatih, sebuah tusukan langsung ke titik di antara mata di balik topeng. Tapi Otto hanya menundukkan kepala dengan tenang, dengan selisih milimeter—begitu dekat hingga mata pisau yang dingin menggesek rambut peraknya.
Saat lengan Eliana masih melayang di udara, momentum membawanya sedikit ke depan, Otto menangkap pergelangan tangannya yang ramping dengan cengkeraman seperti besi. Cengkeramannya kuat, tak terduga dari tubuhnya yang ramping dan tampak ringkih.
"Argh..." Eliana mendesis, merasakan tekanan yang menusuk di tulang pergelangannya.
“Inikah yang terbaik dari Tangan Kiri Sang Master? Kau bahkan tak bisa menyentuhku.”
Otto melepasnya dengan gerakan mendorong yang halus. Eliana mundur selangkah, memijat pergelangan tangannya yang sudah memerah dan mulai bengkak, wajahnya berkerut dalam rasa sakit dan kemarahan yang meluap.
Lalu, dengan ledakan amarah yang tak terbendung, Eliana melancarkan tendangan berputar setinggi kepala—gerakan terlatih yang mematikan, sepatu botnya yang keras membentuk busur sempurna di udara, mengoyak angin. “Jangan pernah meremehkanku, bajingan!”
Tapi tendangan itu berhenti di udara, tertahan oleh sebuah tangan besar yang muncul tiba-tiba. Seorang lelaki berotot dengan kumis tebal hitam yang melintang dan tatapan sangar seperti beruang telah berdiri di antara mereka, menahan serangan itu dengan mudah.
"Cih, kau menghalangi!" geram Eliana, menarik kembali kakinya dengan kasar.
Lelaki berotot itu tidak sendirian. Di belakangnya, sekitar lima belas orang berseragam gelap dengan lambang ular melingkar di dada berdiri dengan postur siap siaga—tubuh tegang, tangan di dekat pedang pendek atau pentungan yang tersembunyi. Ia melepaskan kaki Eliana dengan gerakan kasar, hampir melemparkannya.
"Apa maumu, Eldric?" tanya Otto, suaranya terdengar kesal.
“Aku baru saja menyelamatkan nyawamu, Otto. Seharusnya kau bisa menghormati bosmu. Meski hanya sementara. Panggil aku Tuan Eldric!”
“Menyelamatkanku? Aku tak ingat meminta tolong. Dan aku bisa menangani Tangan Kiri yang sudah tumpul ini sendiri.”
Wajah Eldric memerah karena kesal, pembuluh darah kecil muncul dan berdenyut di pelipis dan dahinya yang lebar. Tetapi dengan usaha yang terlihat, ia cepat meredakannya—napas dalam yang terdengar keras, keluar perlahan seperti semburan uap. Ia tahu reputasi Otto sebagai individu yang tak bisa diatur, berbahaya, dan setia hanya pada satu orang. “Sudah kukatakan, panggil aku Tuan Eldric! Itu perintah dari pemimpinmu!”
"Eldric," kata Otto, nadanya tak berubah, “satu-satunya orang yang kuhormati adalah Master Iago. Hanya dia yang layak mendapat kesetiaanku. Kau hanyalah penjaga tempat yang kosong.”
Eldric menarik napas dalam sekali lagi, mengumpulkan kesabaran yang sudah tipis seperti kertas. “Jadi, kau tidak menghormatiku? Tidak mengakui kepemimpinanku?”
“Tepat.”
Otot rahang Eldric mengeras seperti batu, garisnya tajam. Tangannya yang besar mengepal, buku-buku jarinya memutih. “Baik. Sepertinya aku harus memberimu pelajaran, Otto.”
“Aku tidak takut, Eldric. Malah, aku menyambutnya. Mari kita lihat apakah otot-ototmu bisa berguna.”
Eldric, tanpa peringatan lebih lanjut, melancarkan tendangan rendah yang cepat dan brutal. Angin yang dihasilkannya terdengar mendesis di udara pagi yang dingin. Otto menangkis dengan tangannya yang diangkat, namun kekuatan serangan itu, yang berasal dari tubuh seberat dua kali lipatnya, membuatnya terhuyung mundur dua langkah—sepatu botnya menggesek batu dengan bunyi keras yang berderit. Kedua tangannya bergetar hebat, memerah di bagian yang terkena. Dengan cepat, hampir tak kasat mata, ia menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggung, jari-jarinya bergetar.
Eldric tak memberi waktu untuk pulih. Ia maju lagi, tubuhnya besar namun bergerak cepat, tinjunya yang seperti palu mengarah ke solar plexus Otto—pukulan yang bisa menghentikan napas dan melumpuhkan.
"Cukup!" teriak Eliana, suaranya memotong ketegangan. Ia melesat lagi di antara mereka, tubuhnya yang kecil mengisi ruang antara dua lelaki itu. “Kita punya misi. Prioritas tertinggi Organisasi IV adalah menemukan Master Iago dan memastikan keselamatannya!”
Ia menatap mereka bergantian. “Mau buang-buang waktu di sini? Setiap detik yang terbuang memberi kesempatan pada siapa pun untuk menemukannya lebih dulu.”
Eldric menghela napas berat lalu mengangguk pelan, wajahnya masih merah tapi amarahnya mereda. Logika Eliana tak terbantahkan, dan misi itu memang segalanya. "Eliana benar," geramnya, memalingkan wajah besar berkerut dari Otto. “Kalian semua, dengarkan! Misi ini adalah prioritas tertinggi, mengatasi segalanya! Ikuti aku! Jangan ada lagi percekcokan!”
Ia berbalik, mantel kulitnya yang tebal berkibar, dan mulai berjalan menuruni lereng gunung yang berbatu, langkahnya berat, pasti, meninggalkan jejak dalam di tanah lembap. Anak buahnya yang berseragam gelap, dengan patuh segera mengikuti, membentuk formasi rapi di belakangnya. Bunyi sepatu bot mereka yang keras berderak serempak di bebatuan.
"Dengarkan baik-baik!" teriak Eldric tanpa menoleh, suaranya bergema di lembah sempit di bawah—memantul dari dinding batu, mengganda menjadi banyak suara. “Tugas kita jelas: temukan Master Iago, dan kembalikan dia ke takhtanya yang sah! Organisasi IV akan bangkit lagi dari abu, lebih kuat, lebih ditakuti! Untuk Iago! Untuk kebangkitan!”
"Untuk Iago! Untuk kebangkitan!" teriak lima belas suara serentak, menggema penuh semangat dan keyakinan—bunyi yang membuat burung-burung gagak berterbangan dari pohon-pohon pinus di sekeliling dengan kerkah panik.
Otto tetap berdiri di tempat untuk beberapa saat, memperhatikan punggung mereka yang menjauh, formasi mereka yang rapi. Tangan kanannya yang tersembunyi di belakang punggung masih menggenggam erat—bukan tinjunya, tetapi sebuah pisau lempar bermata dua, kecil, dan tipis. Logamnya yang dingin terasa menusuk di telapak tangannya. Ia berniat menyayat urat leher Eldric saat serangan tadi, mengakhiri pertikaian dengan cepat dan sunyi. Tapi Eliana menghentikannya, dan mungkin itu untuk yang terbaik—untuk sekarang.
Dengan gerakan halus yang hampir tak terlihat, ia menyelipkan kembali pisaunya ke dalam saku tersembunyi di balik paha celananya, lalu mulai berjalan mengikuti barisan. Wajah topeng kelincinya yang putih porselen tetap tak terbaca, tanpa ekspresi, hanya retakan-retakan halus.
Eliana, yang berjalan di samping Eldric di depan, perlahan melambat langkahnya. Ia membiarkan barisan melewatinya satu per satu, hingga akhirnya sampai di samping Otto yang berjalan paling belakang.
"Hei, kau," bisik Eliana.
"Apa?" Otto membalas, tanpa menoleh.
“Kenapa tadi kau berniat membunuhnya? Kau tahu itu akan memecah organisasi.”
Otto tertawa pendek, suaranya terdengar aneh dan terdistorsi di balik topeng. “Haha... mana mungkin aku bisa membunuhnya. Kau tahu sendiri kekuatan fisik Eldric, kekuatan binatang buas itu. Dan kenapa kau berpikir begitu? Mulai berhalusinasi melihat niat, Eliana?”
"Entah kau merendah atau apa. Tapi satu hal," Eliana mendekatkan kepalanya. “Kenapa kau jarang sekali membuka topeng itu? Bahkan di antara kita?”
"Oh, ini?" Otto mengangkat bahu, gerakan ringan. “Aku hanya suka memakainya. Memberikan... ketegangan. Dan melindungi dari angin gunung yang menusuk ini.”
"Hmm... terserah." Eliana menghela napas. “Ingat. Misi kita adalah menemukan Master Iago dan membawanya kembali, dengan selamat, ke pangkuan organisasi. Dunia yang sedang tidur ini menanti kembalinya Sang Master. Jangan buat kekacauan yang tidak perlu. Kita tak butuh perhatian lebih dari Gereja Cahaya atau faksi-faksi lain.”
"Baik, baik..." jawab Otto, nadanya terdengar bosan. “Aku paham. Jangan khawatir.”
Mereka terus berjalan, menyusuri jalan setapak berbatu yang berkelok-kelok menuruni gunung, meninggalkan ketinggian, kabut, dan dinginnya puncak menuju keramaian, bau, dan panasnya kehidupan Kota Citywon di bawah. Dan di sana, di tengah denyut kota itu, tanpa menyadari gelombang yang bergerak menuju dirinya, seorang pria dengan ingatan yang terpecah duduk di meja makan keluarga sederhana, memegang secarik kertas yang bisa mengubah segalanya.