NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH PERTAMA DI LEMBAH

Angin di Lembah Angin Selatan berembus tipis, tetapi membawa bau besi yang samar—bau yang hanya dikenali oleh orang-orang yang pernah melihat darah tumpah.

Liang Chen berdiri tegak, tangan kanannya masih menggenggam gagang pedang. Di hadapannya, pria berwajah pucat itu melangkah turun dari beranda kayu dengan tenang, seolah sedang menyambut tamu, bukan calon lawan.

“Aku kira kau akan kabur lebih jauh,” kata pria itu ringan.

“Aku tidak suka dikejar,” jawab Liang Chen. “Lebih baik datang sendiri.”

Beberapa orang di lembah mulai mundur, memberi ruang di tengah tanah lapang. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang mencoba melerai. Mereka seperti penonton yang sudah lama menunggu tontonan.

Pria pucat itu mencabut pedangnya.

Benar seperti yang diingat Liang Chen—bilahnya tipis, panjang, dan mengilat seperti jarum raksasa.

“Aku tidak berniat membunuhmu malam itu,” katanya. “Aku hanya ingin memastikan kau layak.”

“Layak untuk apa?”

“Untuk tetap hidup.”

Kalimat itu selesai bersamaan dengan gerakan pertama.

Pria pucat itu melesat maju tanpa aba-aba.

Cepat.

Terlalu cepat bagi orang biasa.

Namun Liang Chen bukan orang biasa.

Ia memutar tubuh setengah langkah, membiarkan ujung pedang tipis itu menyapu udara kosong di samping lehernya. Ujung bilah menyentuh sedikit kulit, meninggalkan garis merah tipis.

Hangat.

Liang Chen membalas.

Pedangnya tidak secepat lawannya, tetapi lebih berat. Ia tidak mengincar leher atau jantung. Ia mengincar tangan.

Benturan pertama terdengar tajam—besi melawan besi.

Pria pucat itu tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia memutar pergelangan tangan, menggeser pedangnya menyusuri bilah Liang Chen, lalu menusuk ke bawah dengan sudut tak terduga.

Liang Chen melompat mundur, tetapi ujung pedang itu tetap mengenai paha kirinya.

Darah menyembur tipis.

Rasa panas menjalar, tetapi ia tidak menoleh ke bawah.

Di lembah itu, bau darah mulai jelas.

Penonton bergeser sedikit lebih dekat.

Pria pucat itu menyerang lagi, kali ini bertubi-tubi.

Tebasan horizontal. Tusukan cepat. Ayunan balik dari bawah.

Setiap gerakan seperti dirancang untuk menguji reaksi.

Liang Chen tidak melawan dengan kekuatan penuh. Ia bertahan, membaca pola. Ia memperhatikan napas lawan, langkah kaki, arah bahu sebelum serangan datang.

Pada serangan keenam, ia menemukan celah.

Saat pria itu menusuk lurus ke dada, Liang Chen memutar tubuh, menjepit bilah tipis itu dengan bagian belakang pedangnya, lalu menghantamkan lututnya ke perut lawan.

Benturan keras.

Pria pucat itu mundur setengah langkah—cukup untuk membuka jarak.

Liang Chen tidak memberi waktu.

Ia maju.

Tebasan pertama mengenai lengan kanan lawan.

Kain robek.

Darah menyembur lebih deras kali ini.

Beberapa penonton berseru pelan.

Namun pria pucat itu tidak berteriak. Ia justru tertawa kecil.

“Ya… seperti ini.”

Ia menggenggam pedangnya lebih erat, membiarkan darah mengalir dari lengannya.

Serangan berikutnya tidak lagi sekadar uji coba.

Ia bergerak lebih liar.

Pedangnya berubah seperti bayangan putih yang tak terduga arah. Liang Chen terpaksa mundur dua langkah. Ujung bilah tipis itu menggores pipinya. Darah menetes ke dagu.

Lalu—

Satu tusukan menembus.

Bukan jantung.

Bukan leher.

Tetapi bahu kiri Liang Chen.

Bilah tipis itu masuk setengah ruas jari sebelum ditarik keluar.

Darah memancar lebih deras.

Rasa nyeri datang terlambat, seperti petir yang menyusul kilat.

Liang Chen menggeram pelan.

Ia tahu jika pertarungan ini berlarut, ia akan kalah karena kehilangan darah.

Maka ia mengubah ritme.

Alih-alih mundur, ia menerjang.

Pedangnya menghantam lurus ke depan dengan seluruh berat tubuhnya. Bukan teknik indah. Bukan jurus rumit. Hanya kekuatan mentah yang diarahkan tepat ke tengah dada.

Pria pucat itu mencoba menghindar, tetapi terlambat setengah detik.

Bilah Liang Chen menembus sisi rusuknya.

Suara daging terbelah terdengar jelas.

Keduanya membeku sesaat.

Wajah pria pucat itu berubah, bukan karena takut—melainkan karena puas.

“Bagus…” bisiknya.

Liang Chen menarik pedangnya keluar.

Darah mengucur deras, membasahi tanah.

Pria itu terhuyung, lalu jatuh berlutut.

Tidak ada yang bergerak menolongnya.

Ia menatap Liang Chen untuk terakhir kalinya.

“Sekarang… mereka akan datang,” katanya pelan.

Lalu tubuhnya roboh.

Lembah hening.

Liang Chen berdiri terengah, darah menetes dari bahu dan pahanya. Tangannya gemetar, bukan karena takut—karena kehilangan tenaga.

Beberapa orang di lembah mulai mendekat.

Bukan untuk menyerang.

Untuk memastikan siapa yang kini berdiri paling kuat di tengah mereka.

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!