Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Again
Enjoy gaya...
Penjelasan dari sang Dosen yang baru saja selesai menjadi akhir dari kelas Aurora hari ini. Merapikan semua barang-barangnya, Aurora keluar dari kelasnya bersama Audrey.
"Ara?" Panggil seseorang menghentikan langkah Aurora dan Audrey yang baru saja keluar dan hendak pergi.
"Luca?" Kaget Aurora saat menoleh ke belakang dan mendapati Luca yang tersenyum manis ke arahnya seraya berjalan mendekati mereka.
"Sweet banget masnya sampek nungguin istrinya selesai kuliah." Ucap Audrey tersenyum jahil menggoda keduanya.
"Harus dong.... Di jagain terus biar gak di gangguin sama cowok-cowok tengil kayak si Kenzo itu."
"Kok lo tiba-tiba ada di sini? Katanya ada kerjaan?" Tanya Aurora.
"Kelas gue udah selesai. Terus kliennya tiba-tiba batalin meeting karena ada situasi emergency katanya. Jadi, daripada gue nganggur dan bingung harus ngapain, ya gue tungguin lo aja sampek selesai kelas."
"Berapa lama lo nungguin kita?" Tanya Audrey penasaran.
"Hmm.... 2 jaman mungkin?"
"Huh?? Selama itu? Lo gak bosen emang?"
"Bosen sih... Tapi kan ada HP yang bisa dimainin, jadi gak terlalu." Memperlihatkan wajah menggemaskannya, Luca menggoyang-goyangkan handphone yang ada di tangannya di depan mereka.
"Mau langsung pulang atau gimana?" Tanya Luca pada Aurora setelahnya.
"Hari ini gue sama temen-temen ada kegiatan bulanan, lo mau ikut?"
"Kegiatan bulanan? Apa?"
"Nanti lo juga bakalan tahu. Jadi, mau ikut apa gak?" Sahut Audrey tak mau berbasa-basi.
"Kalo gue gak ganggu dan bermanfaat di sana, apa salahnya? Tapi, gue cowok sendiri dong nanti. Emang kalian gak masalah?"
"Harusnya pertanyaan itu buat lo. Lo gak apa-apa jalan bareng sama kita cewek-cewek?"
"Kan gue udah punya istri sekarang. Jadi santai aja."
"Bagus deh. Nanti lo tiba-tiba gengsi lagi."
"Gak akan...."
"Rion juga biasanya ikut kok, jadi lo gak sendirian." Ucap Aurora membuat Luca sedikit
"Kalo gue ajakin temen-temen yang lain gimana? Boleh gak?"
"Boleh. Makin banyak orang justru makin bagus." Sahut Alice memberi izin.
***
Awalnya Luca pikir kegiatan bulanan yang Aurora maksud adalah kegiatan cewek pada umumnya. Pergi jalan-jalan, belanja, atau nonton dan menghabiskan uang. Tapi ternyata, pemikiran itu salah besar. Ya, mereka tengah afa di salah satu panti asuhan sekarang.
"Bengong aja maseh. Kesambet lho entar." Tegur Alexa seraya melewati Luca begitu saja dan menyadarkannya dari lamunan.
"Mending bantuin kita pindahan itu ke dalem. Masih banyak tuh." Sahut Audrey dari arah belakang seraya menunjuk kardus-kardus yang ada di dalam bagasi mobil Luca.
Tak hanya sekedar memberi sumbangan sembako dan bahan pangan, Aurora dan teman-temannya juga ikut membantu pengurus panti di sana menyiapkan makan malam. Sementara Luca dan teman-temannya mengajak semua anak yang ada di panti untuk bermain bersama.
Dari Vino yang menyanyikan lagu dengan gitar, Leo yang mengajari mereka untuk bermain basket, Leon yang mengajarkan mereka menggambar, Rion yang belajar bahasa isyarat dengan anak-anak penyandang disabilitas, serta Luca yang sibuk membuat berbagai macam mainan dari barang bekas yang doa temukan dengan beberapa anak.
Kembali ke area dapur dan meja makan, Alice dan Aline terlihat tengah menata makanan mereka di atas meja makan, sementara Alexa tengah menyiapkan buah yang baru saja di potongnya ke dalam wada serta Audrey dan Aurora yang tengah membuat minuman segar sebagai pelengkap sajian makan malam mereka.
"Akhirnya.... Selesai juga." Ucap Alice menghembuskan nafasnya lega seraya tersenyum bangga menatap semua hidangan di atas meja.
"Panggil yang laen Lice." Sahut Audrey dari arah belakang memerintah lalu meletakkan minuman yang dia bawa di atas meja.
"Oke." Membentuk tangannya berbentuk oke dan tersenyum, Alice pun pergi dari meja makan untuk memanggil semua orang.
***
Suasana hangat yang tercipta bersama para anak panti itu membuat Luca yang sejak tadi berdiri memperhatikan dari ambang pintu dengan sendiri mengukir senyuman. Terlebih, saat dia melihat Aurora yang begitu menikmati waktunya bersama anak-anak itu.
Bahkan, Luca yang sebelumnya tak pernah melihat senyum dan tawa Aurora selepas itu pun kembali di buat jatuh cinta dengan Aurora. Tak salah rupanya dia menaruh hatinya pada sosok Aurora yang selalu berhasil membuatnya lagi dan lagi jatuh cinta dengan caranya.
"Gak usah di liatin terus.... Gak bakalan ilang juga istrinya." Ucap Rion yang tiba-tiba muncul dari belakang dan menepuk bahu Luca lalu berdiri di sebelahnya mengagetkan.
"Tau kok kalo istrinya emang cantik, gak cuma luarnya doang tapi hatinya. Tapi gak gitu juga natepnya.... Sampek gak kedip gitu." Ucapnya lagi seraya menatap Aurora dan Luca bergantian dengan senyuman.
"Kenapa lo? Terpesona lagi sama Aurora? Temen gue emang semengagumkan itu." Sahut Alice ikut mengejutkan karena tiba-tiba sudah ada di samping Luca.
Pasangan kekasih itu memang benar-benar kompak kalau untuk urusan membuat teman-teman mereka jantungan.
"Banyak tau cowok-cowok yang diem-diem suka sama dia,. Tapi anehnya dia lebih milih lo sebagai pasangnya yang notabennya lo itu termasuk orang baru yang dateng ke kehidupannya. Lo beruntung banget bisa dapetin Aurora di hidup lo, Ca. Gue jamin lo gak akan pernah nyesel." Ucap Rion setulus hati yang tak sekalipun melepas pandangannya pada Aurora yang tengah membantu anak-anak panti membersihkan bekas makan mereka.
"Gue tau kok kalo gue emang seberuntung itu bisa dapetin dia dan jadiin dia istri gue. Dari sejak awal gue jatuh cinta sama dia, gue udah janji sama diri gue sendiri buat selalu jagain dia apapun keadaannya nanti. Dan apapun masalahnya nanti, gue akan selalu utamain kebahagiaan dia dulu." Sahut Luca juga ikut tersenyum bahagia dan menatap kedua orang di sebelahnya bergantian juga dengan senyuman.
"Gue pegang janji lo. Aurora bukan orang yang gampang percaya apalagi jatuh cinta sama cowok. Dengan dia udah berani milih lo sebagai pasangannya aja, itu artinya dia emang nganggep lo lebih spesial dari pada yang lainnya. Lo ngerti kan?" Ucap Alice serius menepuk bahu Luca.
"Gue ngerti. Lo bisa pegang kata-kata gue."
"Udah ah, serius amat. Gabung sama yang lain yuk?" Ajak Alice melangkah lebih dulu dan ikut membantu Aurora yang tengah mencuci piring.
***
Di saat semua anak panti telah kembali ke kamar mereka untuk beristirahat, Aurora dan teman-temannya pun berpamitan dengan pengurus panti karena hari juga sudah malam.
"Langsung pulang kan?" Tanya Alexa entah pada siapa seraya menghentikan langkahnya di depan deretan motor milik teman-teman Luca.
"Ya iyalah. Emang mau kemana lagi?" Sahut Audrey yang sudah terlihat lelah dan tak bisa menahan rasa kantuknya lagi.
"Kirain kalian mau mampir ke mana gitu."
"Gak ah, capek gue. Pengen cepetan nyampek rumah terus tidur." Tolak Alice mentah-mentah. Dia juga sudah sangat lelah sekarang.
"Gue juga. Besok ada kuliah pagi, takut bangun kesiangan." Sahut Aurora.
"Ohh.... Ya udah."
"Lo pengen pergi?" Tanya Aline seakan memahami apa yang sebenarnya Alexa inginkan.
"Gak juga sih... Tapi gue cuma belum pengen pulang aja. Di rumah gak ada orang."
"Nyokap lo belum balik dari Australi?" Tanya Audrey.
"Belum, gak tau tuh mau balik kapan."
"Ya udah, nginep di rumah gue aja gimana?" Tanya Alice memberi tawaran.
"Bener tuh, daripada lo kesepian." Sahut Audrey setuju.
"Tenang aja... Banyak makanan kok di rumah gue." Balas Aline seraya merangkul pundak Alexa dam tersenyum.
"Oke." Ucap Alexa setuju.
"Ya udah, gays, kita duluan ya?" Pamit Luca lebih dulu. Karena jarak rumah mereka yang lebih jauh daripada yang lainnya.
"Oke. Hati-hati di jalan." Ucap Vino.
"Bye semua." Pamit Aurora juga lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
"Ya udah yuk." Ajak Rion juga untuk pergi dari sana.
Di awali dari mobil Luca yang lebih dulu pergi, lalu di susul mobil Audrey, kemudian Alice dan yang terakhir Vino dan teman-temannya.
***
Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan yang tercipta diantara keduanya. Luca yang memilih untuk diam dan Aurora yang fokus ke jalanan di luar.
Terhenti karena lampu merah, Luca menatap Aurora yang tampak tengah menahan rasa kantuknya.
"Tidur aja Ra, lo pasti capek." Ucap Luca tak tega.
"Nanti lo gak ada yang nemenin."
"Gak papa......Daripada lo nahan ngantuk kayak gitu." Lebih baik dia tak ada yang menemani jika harus melihat Aurora yang berkali-kali terkantuk-kantuk kaca mobil karena rasa kantuknya.
"Gue masih bisa nahan."
Tak ingin memaksa, Luca kembali menjalankan mobilnya karena lampu sudah berubah warna jadi hijau.
"Gue boleh nanya gak?" Tanya Luca membuka obrolan seraya melirik sekilas Aurora. Mungkin dengan adanya obrolan bisa mengurangi sedikit rasa kantuk yang Aurora rasa.
"Apa?"
"Lo sama teman-teman lo udah berapa lama lakuin kegiatan kayak tadi?"
"Udah hampir satu tahun ini."
"Lumayan lama juga ya. Di satu panti asuhan yang sama atau ganti-ganti?"
"Satu panti asuhan yang sama."
"Kok tiba-tiba bisa kepikiran buat lakuin itu? Kan biasanya kebanyakan anak muda jaman sekarang terutama cewek, jarang banget mikir ke arah sana."
Memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman sebelum bercerita, Aurora melirik sekilas Luca yang tampak tertarik dengan kegiatan mereka tadi.
"Waktu itu awalnya Audrey yang punya idenya. Dia gak sengaja ketemu sama salah satu anak panti di sana. Setelah ngobrol banyak hal dan Audrey tahu tentang panti asuhan itu lebih banyak, Audrey ngajakin kita buat jadi donatur tetap di sama. Ya karena itu kegiatan positif dan bermanfaat juga, ya kita semua setuju."
"Emang ya, cerminan seseorang itu di lihat dari lingkungan pertemanannya. Kalo dia baik pasti teman-temannya juga baik, kayak lo sama temen-temen lo. Gue salut sama kalian. Masih muda tapi udah punya jiwa sosial yang tinggi."
"Makasih."
"Next time, ajakin gue sama temen-temen gue juga ya kalo kalian lakuin kegiatan kayak gitu lagi?"
"Pasti. Kalo lo gak sibuk kerja."
Obrolan singkat yang Luca buat rupanya berhasil membuat Aurora tak lagi merasakan kantuk. Dalam hati dia bahagia juga bangga karena Luca rupanya bukanlah sosok pria pada umumnya yang hanya mementingkan kesenangan dirinya sendiri tanpa peduli lingkungan di sekitarnya.
"Mau mampir beli martabak gak?" Tanya Luca memberi tawaran.
"Boleh."
Menghentikan mobilnya di bahu jalan, Luca melepas seatbelt yang dia pakai.
"Mau ikut turun apa disini aja?" Tanyanya lagi sebelum turun.
"Disini aja."
"Oke."
Turun dari mobilnya, Luca langsung memesan martabak telor spesial yang menjadi kesukaan Aurora. Sedangkan Aurora yang melihatnya dari dalam mobil hanya tersenyum tipis menatap Luca.